Alhamdulillah Pak Syahrion kalau di Sekkab. Ini akan memudahkan rencana
maju selangkah lagi.
Soal Penetapan Pahlawan Nasional, proses awalnya harus dari usulan Provinsi
dulu. Tidak bisa sekadar usulan individual. Dalam penetapan Mr. Sjafruddin
Prawiranegara, yang mengusulkan adalah 4 provinsi: Jawa Barat, Sumatra
Barat, Banten, dan Aceh.

Namun karena kita bukan ingin mengusulkan Pahlawan Nasional, melainkan
penetapan nama jalan dan hari besar nasional, bagaimana kalau menurut Pak
Syahrion kita buat forum terbuka dalam bentuk "Tim Ad Hoc Akselerator
Penetapan (TAHAP) Nama Pahlawan Nasional Asal Minang (Nampan Amin) Sebagai
Nama Jalan" (yang untuk mudahnya disebut Tim Nampan Amin? :)

Untuk penetapan nama jalan baru, yang saya tahu di era Foke adalah adanya
Badan Pertimbangan Penetapan Nama Jalan yang diketuai Wakil Gubernur,
dengan anggota para pejabat Balai Kota. Kalau model ini masih dilanjutkan
Jokowi, maka Ketua Badan Pertimbangan Penetapan Nama Jalan sekarang ini
kemungkinan besar menjadi wewenang dan tanggung jawab Ahok. Kalau betul
begitu, secara teoritis Fadli Zon sebagai Waketum Gerindra bisa memberikan
perspektif keminangan kepada Ahok yang kader Gerindra. Dan mengingat Ahok
juga orang Sumatra (Belitung) boleh saja sentimen kesumatraannya juga bisa
membantu akselerasi pengusulan.

Untuk penetapan hari besar (Hari PDRI 22 Desember), seharusnya dengan
posisi Mendagri masih dipegang Gamawan Fauzi, bukankah juga seharusnya
lebih mudah, Pak Syahrion?

Mungkin yang dibutuhkan orang-orang yang mau sedikit meluangkan waktu untuk
berkhidmat di Tim Nampan Amin ini, kerja lillahi ta'ala, pro-bono, namun
punya stamina untuk all-out yang tidak hanya 'sato sakaki'.

Kalau Pak Wannofri Samry mau bergabung, atau Suheng (kakak perguruan) saya
di FISIP UI, Uda Andrinof Chaniago yang juga pengamat kebijakan publik mau
bergabung, insya Allah akselerasinya lebih cepat.

Bukankah akan menyenangkan jika dari 4,Jalan Veteran antara Masjid
Istiqlal-Istana sekarang, nanti hanya tinggal 1 saja (Jl. Veteran Raya)
sementara Jalan Veteran I, II, III, sudah bersalin nama dengan Jalan
Mohammad Hatta dan Jalan Sjafruddin Prawiranegara? (Satu lagi harusnya Jl.
Ir. Soekarno).
Gelar Pahlawan Nasional yang sudah mereka bertiga terima bisa menjadi
konsideran yang kuat untuk legalitas.

Wassalam,

ANB
Cibubur

Pada Kamis, 03 Januari 2013, syahrion teridel menulis:

> Dunsanak Akmal, kebetulan ambo dinas di Sekretariat Kabinet. Penanganan
> Keppres dilakukan oleh Sekretariat Kabinet, akan tetapi mekanismenya
> diusulkan oleh Kementerian/Lembaga Suptansi Kepada Presiden melalui
> Sekretaris Kabinet. terkait Dengan Penetapan Pahlawan Nasional dari
> Kementerian Sosial, kalau usulan Nama Hari yang dari Kementerian Terkait
> (Misalnya Hari Bahari, dari Kementerian Kelautan) kalau hari Bela Negara
> kalau tidak salah dari Kementerian Dalam Negeri
>
>   ------------------------------
> *From:* Akmal Nasery Basral <[email protected] <javascript:_e({},
> 'cvml', '[email protected]');>>
> *To:* "[email protected] <javascript:_e({}, 'cvml',
> '[email protected]');>" 
> <[email protected]<javascript:_e({}, 'cvml', 
> '[email protected]');>>
>
> *Sent:* Thursday, January 3, 2013 10:21 AM
> *Subject:* Re: [R@ntau-Net] Jalan Hatta? Jalan Tan Malaka? Peringatan 22
> Desember?-"sia nnkompeten nn bisa memutuskan/mentapkannyo???"
>
> Wa'alaikumsalam Wr. Wb Buya JB.
> Penetapan hari besar negara dilakukan melalui Kepres, seperti Hari Bela
> Negara ditetapkan melalui Kepres No. 28 Tahun 2006 (ditetapkan Presiden
> SBY). Jadi penetapan Hari Deklarasi PDRI (Hari PDRI) pun ditetapkan menurut
> Kepres. Dan menurut ambo, justru ini peluang besar karena SBY akan
> mengakhiri masa jabatan, tentu akan banyak pulo menyemai kebaikan.
>
> Gunokanlah kemampuan lobi Rang Minang tu, baik dari sisi kepentingan
> kesinambungan sejarah, perspektif militer (Panglima Sudirman adalah
> Panglima APRI di Kabinet PDRI), pendidikan sosiokultural/sosiologis. Kalau
> dilakukan surang-surang ndak efektif, tapi kalau liwaik limbago akan jauah
> labiah batanago, termasuk lewat LKAAM, dll.
>
> Ini juga saatnya limbago-limbago Minang nan paranah "bacakak" di maso lalu
> (tamasuak dalam KKM) bajuang basamo baliak dalam program riil. Kalau
> sadonyo basatu, bukan ndak mungkin akhia tahun ko muncul Kepres tentang
> penetapan Hari PDRI ko.
>
> Tapi kalau limbago-limbago Minang, hanap-hanap sajo, ya insya Allah ambo
> tatok akan jalan surang lewat novel-novel sejarah, seperti alah ambo
> lakukan lewat novel "Presiden Prawiranegara" (Mizan, 2011) .
>
> Alhamdulillah masih banyak pihak non-Minang yang mendukung, mulai dari
> penerbit Mizan (bukan punyo urang Minang), 2 endorsement: ditulis Prof. Dr.
> Salim Said sebagai pengamat militer (bukan orang Minang) dan Anies
> Baswedan, Ph.D (pakar pendidikan, bukan orang Minang pulo), dukungan
> sosialisasi ke lembaga-lembaga Pemerintahan oleh A.M. Fatwa (bukan orang
> Minang pulo), dan diskusi terbatas "para tokoh" menggali teladan
> kepemimpinan Mr. Sjafruddin Prawiranegara yang dimotori Taufiqurrahman Ruki
> (Ketua KPK pertama, juga bukan orang Minang), Ahmad Mukhlis Yusuf (saat itu
> CEO Antara News Agency, bukan urang Minang), U. Saefudin Noer (VP CIMB
> Niaga Syariah, juga non-Minang), Mochtar Mandala, Benyamin Mangkoedilaga,
> dll nan sado alahe bukan rang Minang. Bahkan sampai diskusi-diskusi di TV
> pun dimotori sejarawan Prof. Nina Lubis (jaleh bana non-Minang), dan
> diskusi khusus tentang peran Pak Sjaf sebagai ekonom nan dimotori Dekan
> FE-UI Prof. "termuda di Indonesia" Firmanzah (nan juo bukan Rang Minang).
> Nan mengharukan, seorang dosen Untirta Banten memboyong mahasiswanyo (2
> kaleh Apresiasi Sastra, sekitar 70-an urang) ka Taman Bacaan Masyarakat
>  "Rumah Dunia" milik sastrawan Gola Gong di Serang Timur, untuk "kuliah
> outdoor" tentang Sjafruddin Prawiranegara nan ambo sampaikan. Ambo tanyakan
> ka para dosen dan mahasiswa nan datang, indak ciek pun ado badarah Minang.
>
> Kenapa faktor "urang-urang non-Minang" paralu disabuik? Karano ironisnya
> semua tampek PDRI adolah di Ranah Minang! Nagari nan BUKAN tampek kelahiran
> namo-namo di ateh tu, dan indak ado ikatan emosional langsung dengan
> mereka. Semua emosi hanya disatukan oleh fakta gamblang: ada sosok yang
> sudah berkorban begitu besar seperti Pak Sjaf, tapi dizalimi lebih dari
> setengah abad.
>
> (Padahal kalau Pak Sjaf diakui resmi sebagai Presiden Darurat seperti
> ditulis Bung Hatta dalam "Memoir", maka konsekuensi logisnya adalah semua
> tempat penting dalam perjalanan PDRI akan mendapatkan status sebagai
> ibukota pula, meski dengan tambahan "ibukota darurat". Kalau dikelola baik
> bisa menjadi wisata perjuangan, seperti di AS ada tur-tur untuk napak tilas
> Civil War. Satu lagi alternatif PAD yang potensial selain menanamkan
> nilai-nilai perjuangan bagi generasi muda lewat traveling).
>
> Dukungan nyato dari urang Minang nan paling jaleh dalam novel "Presiden
> Prawiranegara" adolah dari Pak Asvi Warman Adam, nan menjadi pembahas
> diskusi-diskusi novel ko dari Bandung sampai ke Medan, serta sanak Fadli
> Zon yang membuka banyak akses informasi (di luar materi utama nan ambo
> riset di Arsip Nasional).
>
> Dukungan organisasi Minang? Hemm, ado carito "lucu" Buya JB.
>
> Kiro-kiro bulan Mei 2011, seorang elit Minang nan juo pengurus sebuah
> organisasi Minang terkenal nan alah 2 dekade, mangundang ambo (jo istri)
> datang ka rumahnyo di wilayah elit Jakarta. Rumah liau ko iyo sabana rancak
> pulo.
>
> Mandapek kehormatan diundang surang namo gadang Minang, datanglah ambo,
> salah satunya dengan harapan di hati, "Alhamdulillah, akhianyo ado juo
> lembaga Minang nan MAMBACO karya ambo, meski agak talambek 2-3 bulan
> dibanding antusiasme pihak-pihak non-Minang lain. Mudah-mudahan paling
> indak ado juo diskusi novel ko nan akan mereka lakukan."
>
> Masuak ka dalam rumah, onde mandeh, alah banyak urang di dalam. Awalnyo
> ambo kiro pengurus inti organisasi Minang tu, tanyato bukan. Mereka adolah
> kakak adiak, ipar, dunsanak dari tuan rumah.
>
> Satalah basa-basi saketek, pembicaraan utamo dimulai: tuan rumah
> mananyokan peran urang tuo liau nan namonyo memang disabuik dalam novel ambo
>
> --
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. E-mail besar dari 200KB;
> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>
>
>
>

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke