Selaku Urang Minang, saya tentu sangat bangga kalau Kampung halaman yang kit 
acintai ini kembali ke tanah Asal. Bahkan kalau literatur Minangkabau yang kita 
pakai, maka tentu saja konteks kebudayaan ini akan menginakt beberapa daerah 
yang sudah kadung masuk propinsi tetangga, seperti Kerinci dan Bangkinang. 
Hanya saja, dalam daerah geografis dan qadministrasi Sumatera Barat, ada daerah 
yang bukan wilayah adat dan kebudayaan Minangakbaua, yakni KEpulauan Mentawai. 
Nah, dengan nama baru yang berbau "promordial" ini apa mereka tidak akan 
menjerit lagi untuk memisahkan diri dengan kita. PAdahal sebagai saudara tua 
dan terdekat merka di bumi Nusantara, orang Minang punya tanggung jawab moral 
menggandeng kepulauan cantik di sisi paling barat Nusantara ini untuk maju 
bersama. 
Nama Minangkabau mungkin lebih mendunia dan lebih memiliki kharisma dan wibawa 
yang dalam, terutama untuk masyarakat Minangkabau se antero kolong jagad ini. 
Akan tetapi, untuk menjadi nama sebuah propinsi yang tidak hanya dimiliki orang 
Minang saja...saya rasa orang Minang jauh lebih bijak memaknai semua itu.
Bagi saya, selama Gonjong masih menjadi kebanggan kita, selama talempong pacik, 
tasa dan gandang tambua masih menggema ke angkasa, slama saluang dan bansi 
bersanandung menyata hati, selama ini pula Minangkabau akan abadi di tanah 
surga di Barat Sumatra ini.


Salam

----- Original Message ----
From: kabaMinang OnLine <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, February 11, 2008 9:11:58 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Kalau Provinsi Minangkabau, Bagaimana?





 


 

 

 


<!--

 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
        {margin:0cm;margin-bottom:.0001pt;font-size:12.0pt;font-family:"Times 
New Roman";}
h1
        {margin-right:0cm;margin-left:0cm;font-size:24.0pt;font-family:"Times 
New Roman";font-weight:bold;}
a:link, span.MsoHyperlink
        {color:blue;text-decoration:underline;}
a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed
        {color:purple;text-decoration:underline;}
p
        {margin-right:0cm;margin-left:0cm;font-size:12.0pt;font-family:"Times 
New Roman";}
span.EmailStyle17
        {font-family:Arial;color:windowtext;}
p.style40, li.style40, div.style40
        {margin-right:0cm;margin-left:0cm;font-size:12.0pt;font-family:"Times 
New Roman";}
 _filtered {margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;}
div.Section1
        {}
-->






Oleh Alwi Karmena  

“ What is name ?” Apa
benarlah arti sebuah nama. Begitu kira kira orang Inggris bertanya. Jawabnya
macam-macam. Ada 
yang begini, ada yang begana. Sementara bagi orang awak, nama bukan sekadar
tanda, tapi adalah juga ‘tuah' berharga. Nama yang bersahaja, apabila
ditambah dengan gala (gelar)
yang tepat, akan naik stara­tanya. Sebaliknya, nama yang tidak cocok, berat,
atau malah tak menentu, banyak sedikitnya mempengaruhi kepribadian si empunya
nama. Si Udin Kuriak Letoy misalnya, bisa mirip seperti itu pula perangainya.
Letoy, lemah alias lepai. 
 

Sebagai misal, nama dari kata yang tadinya berbunyi sederhana, bila
diubah, ditambah dengan gelar yang pantas, nama sederhana itu akan menjelma
menjadi gagah. Kadang malah bisa mendapatkan tuah. Nama Udin Kuriak Letoy, yang
tadi bunyinya kurang bagus, akan membebani si pemakai nama dengan kata
“kuriak letoy,” di belakangnya. Namun , kalau diberi gala yang bagus, rancak 
atau manih , Udin Kuriak Letoy akan jadi Udin
rancak manih - yang benar-benar bagus dan manis kelakuannya. 
 

Apalagi kalau Udin tadi pakai gelar datuak misalnya, kemudian ada pula
embel-embel, Udin bisa langsung jadi Udin yang bermenta­gi. Sebutlah, Datuak
Rajo Batuah. Datuak Bandaro Basa, Sutan Mangkuto, Bagindo, Sidi, Sutan sampai
ke Marah. Ucapkanlah, dianya akan langsung terdengar berdegap. Nama dan gelar
seperti ikut menegakkan mentagi yang punya diri. Cobalah, kalau tidak percaya -
tanya pada Da Udin Datuak Nangkudun - Mamak sepesukuan saya. Sejak dia bergelar
dan berharta, entah kenapa, segan saja saya pada dia. Dulu, tidak. 
 

Demikian pula halnya dengan nama-nama daerah. Nama daerah yang tepat
dan pantas, segan orang mendengar dan menyebut, apalagi mempermain-mainkannya.
Nama yang tegap dan bagus akan terkesan jelas mewakili makna kultur budaya,
bahkan menegakkan kekokohan karakter masyarakatnya. 
 

Di Sumatra, ada beberapa nama provinsi yang terdengar berwibawa, gagah
dan bermentagi. Menyebut dan mendengar nama itu, langsung terkesan kultur 
masyarakat
beserta alamnya. Masyarakatnya bangga pula menyebut nama daerah kelahiran, atau
daerah yang dia diami. 
 

Baca, sebut dan dengarlah contoh nama-nama provinsi ini. Provinsi
Naggroe Aceh Darussalam, Provinsi Riau, Provinsi Lampung, Provin­si Jambi, 
Provinsi
Bengkulu, Provinsi Bangka Belitung dan sekian nama lagi yang setara. Dalam nama
itu menjulang kebanggaan kultur yang tak gampang ditara. Makna yang
dukung-mendukung, antara bunyi dan pesan yang dikandungnya, terasa lebih
berharga dan segan orang berlantasangan padanya. 
 

Tak dapat dipungkiri, kebanggaan budaya memang langsung mengang­kat
harkat masyarakat yang hidup di buminya. Sejarah dan butir informasi
antropologi, ikut tercantum bersama makna dari bunyi kata yang dipikulnya.
Inilah kami, kalian, tuan-tuan, di mana kini menyuruk? 
 

Dari sekian provisni yang ada di Sumatra, entah kenapa, hanya Sumatra
Utara, Sumatra Barat dan Sumatra Selatan saja yang nama provinsinya berbau
geografis. Nama yang sekadar bersandar pada sepotong kecil mata angin, ringan
saja bobotnya. Padahal, kultur dan budaya di tiga daerah ini, tak sesederhana
arti bunyi yang dilekatkan di pundak daerah tersebut. Namun, dari selentingan
kabar, provinsi Sumatra Selatan sedang siap-siap menjulangkan nama Provinsi
Sriwijaya bagi daerahnya. 
 

Maka, coba pikir dan inap-inapkan. Apa buruknya, kalau provinsi kita
Sumatra Barat ini, namanya agak bernilai budaya pula? Ya, untuk apa malu, kalau
kita ubah namanya menjadi lebih baik. Provinsi Minangkabau saja, apa salahnya?
Angkat salam kepada dunia - Inilah provinsi yang masyarakatnya menganut -
‘Adat ba­sandi syarak, syarak basandi Kitabbullah. Provinsi Minangkabau,
yang mewarnai keanekaragaman budaya paling penting di Asia .

 

Sumatra Barat, apalah itu Mak oii? Kalimat geografis biasa yang sekadar
menunjuk arah, tak mencerminkan apa apa. Sumatra Barat, hanya sebuah tanda
kecil, dari sesudut mata angin yang entah di mana. Di barat, tidak berbarat. Di
timur tidak bertimur. Di tengah tengah digirik kumbang. Ya, sekadar tanda saja
untuk posisi garis-garis alit di bentangan peta. Tak lebih! 
 

Sebenarnya, Sumatra Barat ini memang nama baru, yang sama sekali tak
berkesan sejarah, apalagi kesan budaya. Hambar kalau diden­gar. Mungkin
masaknya setengah matang. Agaknya, karena sedikit dipaksakan memberi nama. Tak
perlu benar indah, bagus, apalagi bertuah segala. Asal ada saja bunyinya,
sudahlah. Letaknya di pulau Sumatra , di bagian
agak ke barat, ya, Sumatra Barat saja­lah, habis perkara. Jangan mangecek juga 
lagi. 
 

Padahal, kalau memang Sumatra bagian barat, dari Lampung sampai ke
ujung pesisir Aceh, itu baru sebenar-benarnya Sumatra 
bagian barat. Ini, Sumatra sebagian agak di
tengah dekat ke barat, rencong ke tenggara. Sebelumnya, di awal kemerdekaan,
Sumatra Tengah pula namanya. Riau, Jambi, masuk pelukan kita. Ya, jadi jugalah,
ada ‘kontribusinya.' Rasa-rasa cocok posisi dengan luasnya. Mantap!
Ssst....(berbisik, terdengar oleh pusat nanti) Berlaba kita, kalau sampai kini
masih terus bersama mereka. 
 

Akan halnya nama Provinsi Sumatra Barat, kalau tak salah, dalam catatan
saya, nama ini dikarang di sekitar awal enam puluhan (?) Semasa daerah ini
habis terpukul dalam kalah perang saudara. Ya, tepatnya selepas padamnya
pemberontakan. Ketika itu, orang Minang banyak menekur (menunduk) karena merasa 
malu,
sehingga malas menegakkan muka. Apa saja nama atau gelar dilekatkan orang, awak
akan menekur menerima. Sambil menggeleng-mengangguk juga. Sambil
mengangguk-menggeleng juga. Orang diarak
perasaianlah namanya. Sebutlah sesuka hati awak. Awak bagak tentu iya. Tibalah 
apa yang akan
tiba. Jangankan Sumatra Barat, Sumatra Berat, Sumatra 
Berur­at-urat, mau juga kita. Asal tidak kena lapuk (tampar). Sudahlah! Kita 
tidak
akan bicara politik. Namun di era globalisasi dan keterbukaan ini - di masa
pembangunan yang bermartabat begini. Kita perlu bangkit, sambil menyapu lutut
berpasir dan air mata. Kita coba jajakan lagi apa yang bisa kita banggakan ke
seluruh penjuru Nusantara - ke pentas dunia. Satu dari sedikit kebanggaan kita,
adalah budaya. Nama Minangkabau jelas bernilai budaya. Kita angkat pesan dan
nilai yang membanggakan dari nenek moyang kita. Gelegak kultur budaya
Minangkabau diakui termasuk yang terunik di dunia. 
 

Tidak perlu pening memikirkan ke mana kita mendaftarkan nama gelar
bertuah ini ? LKAAM atau DPRD tinggal mengangguk dan meng­geleng saja agaknya.
Pikirlah! Kalau nama provinsi yang sekadar menyebut bagian mata angin kita
pertahankan, banyak orang yang akan salah masuk nanti. Asal di bagian barat
pulau Sumatra , boleh Sumatra Barat namanya.
Kita klaim seluruh Sumatra bagian barat ini
daerah kita, marah orang Sibolga, tersinggung orang Bengkulu, merentak orang
Aceh. Tapi, kalau kita ajak orang ke Minangkabau, saya percaya, banyak orang
yang membentangkan lapik, memberikan carano bersirih untuk dicabik. 
 

Bagaimana, kalau Provinsi Minagkabau saja nama
propinsi kita? * 
 

http://www.hariansinggalang.co.id/komentar.html
 











No virus found in this outgoing message.

Checked by AVG Free Edition.

Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.2/1270 - Release Date: 10/02/2008 
12:21

 









      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca dan dipahami! Lihat 
di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur dan Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG!!! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
- Anggota yg posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg 
bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen akan mengikuti peratiran yang 
berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahul
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke