Sementara satu baris dari Taufiq Ismail itu kita baca, > Aku berdiri di pekarangan, terpana menyaksikannya. bandingkan pulalah secarik berita dari Al Jazeera ini.
http://www.aljazeera.com/programmes/peopleandpower/2013/01/201313018313632585.html -- MakNgah --- In [email protected], "Dr Saafroedin Bahar" wrote: > > Pak Datuak, ambo raso makin banyak urang nan terharu taradok puisi bung > Taufiq iko, makin rancak. > Wassalam, > SB. > Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita. > > -----Original Message----- > From: mulyadi yuli > Sender: [email protected] > Date: Fri, 1 Feb 2013 16:00:12 > To: [email protected] > Reply-To: [email protected] > Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] "Mungkin Sekali Kita Sendiri Juga Maling" [*] > > Izin reposting ke FB, sangat menyentuh sekali. > > Wassalam, > HMDTMB > sedang di tanah Semenanjung.... > > ________________________________ > From: Dr Saafroedin Bahar > To: Rantau Net Rantau Net > Sent: Saturday, February 2, 2013 7:19 AM > Subject: Bls: [R@ntau-Net] "Mungkin Sekali Kita Sendiri Juga Maling" [*] > > > Sanak Darman Bahar, terima kasih atas reposting thread yang sangat menyentuh > ttg kondisi Bangsa dan Negara kita dewasa ini. Bung Taufiq Ismail telah > menuangkan kekesalan - mungkin juga keputusasaannya- ke dalam puisi ini. > Masalah selanjutnya adalah bagaimana cara menghentikan laju kebobrokan ini, > yang jika dibiarkan, jelas akan membawa kita semua ke jurang kehancuran ? > Menjawab masalah ini jelas bukan lagi merupakan porsi bung Taufiq sebagai > penyair, tetapi porsi kita semua, dalam bidang kita masing-masing, secara > terencana, terpadu, dan pro-aktif. Mari kita mulai, betapapun kecilnya peran > kita. > Wassalam, > SB. > Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita. > ________________________________ > > From: "Darwin Bahar" > Sender: [email protected] > Date: Sat, 2 Feb 2013 05:10:54 +0700 > To: Palanta Rantaunet > ReplyTo: [email protected] > Subject: [R@ntau-Net] "Mungkin Sekali Kita Sendiri Juga Maling" [*] > > Oleh Taufiq Ismail > Kita hampir paripurna menjadi bangsa porak-poranda, terbungkuk dibebani > hutang dan merayap melata sengsara di dunia. > Penganggur 40 juta orang, anak-anak tak bisa bersekolah 11 juta murid, > pecandu narkoba 6 juta anak muda, pengungsi perang saudara 1 juta orang, VCD > koitus beredar 20 juta keping, kriminalitas merebat disetiap tikungan jalan > ... dan beban hutang di bahu 1600 trilyun rupiah. > Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol diruang tamu Kantor Pegadaian > Jagat Raya, ... dan dipunggung kita dicap sablon besar-besar: Tahanan IMF dan > Penunggak Bank Dunia. > Kita sudah jadi bangsa kuli dan babu, menjual tenaga dengan upah paling murah > sejagat raya. > Ketika TKW-TKI itu pergi lihatlah mereka bersukacita antri penuh harapan dan > angan-angan di pelabuhan dan bandara, ketika pulang lihat mereka berdukacita > karena majikan mungkir tidak membayar gaji, banyak yang disiksa malah > diperkosa dan pada jam pertama mendarat di negeri sendiri diperas pula. > Negeri kita tidak merdeka lagi, kita sudah jadi negeri jajahan kembali. > Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku. > Dulu penjajah kita satu negara, kini penjajah multi kolonialis banyak bangsa. > Mereka berdasi sutra, ramah-tamah luar biasa dan banyak senyumnya. > Makin banyak kita meminjam uang, makin gembira karena leher kita makin mudah > dipatahkannya. > Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali.Berbagai format > perindustrian, sangat menjanjikan, begitu laporan penelitian. > Nomor satu paling wahid, sangat tinggi dalam evaluasi, dari depannya penuh > janji, adalah industri korupsi. > Apalagi di negeri kita lama sudah tidak jelas batas halal dan haram, ibarat > membentang benang hitam di hutan kelam jam satu malam. > Bergerak ke kiri ketabrak copet, bergerak ke kanan kesenggol jambret, jalan > di depan dikuasai maling, jalan di belakang penuh tukang peras, yang diatas > tukang tindas. > Untuk bisa bertahan berakal waras saja di Indonesia, sudah untung. Lihatlah > para maling itu kini mencuri secara berjamaah. > Mereka bersaf-saf berdiri rapat, teratur berdisiplin dan betapa khusyu'. > Begitu rapatnya mereka berdiri susah engkau menembusnya. > Begitu sistematiknya prosedurnya tak mungkin engkau menyabotnya. > Begitu khusyu'nya, engkau kira mereka beribadah. > Kemudian kita bertanya, mungkinkah ada maling yang istiqamah? > Lihatlah jumlah mereka, berpuluh tahun lamanya, membentang dari depan sampai > ke belakang, melimpah dari atas sampai ke bawah, tambah merambah panjang > deretan saf jamaah. > Jamaah ini lintas agama, lintas suku dan lintas jenis kelamin. > Bagaimana melawan maling yang mencuri secara berjamaah? > > Bagaimana menangkap maling yang prosedur pencuriannya malah dilindungi dari > tas sampai ke bawah? > Dan yang melindungi mereka, ternyata, bagian juga dari yang pegang senjata > dan yang memerintah. > Bagaimana ini ? ....... > Tangan kiri jamaah ini menandatangani disposisi MOU dan MUO (Mark Up > Operation), tangan kanannya membuat yayasan beasiswa, asrama yatim piatu dan > sekolahan. > Kaki kiri jamaah ini mengais-ngais upeti ke sana kemari, kaki kanannya > bersedekah, pergi umrah dan naik haji. > Otak kirinya merancang prosentasi komisi dan pemotongan anggaran, otak > kanannya berzakat harta, bertaubat nasuha dan memohon ampunan Tuhan. > Bagaimana caranya melawan maling begini yang mencuri secara berjamaah? > Jamaahnya kukuh seperti dinding keraton, tak mempan dihantam gempa dan banjir > bandang, malahan mereka juru tafsir peraturan dan merancang undang-undang, > penegak hukum sekaligus penggoyang hukum, berfungsi bergantian. > Bagaimana caranya memroses hukum maling-maling yang jumlahnya ratusan ribu, > barangkali sekitar satu juta orang ini, cukup jadi sebuah negara mini, > meliputi mereka yang pegang kendali perintah, eksekutif, legislatif, > yudikatif dan dunia bisnis, yang pegang pestol dan mengendalikan meriam, yang > berjas dan berdasi. > Bagaimana caranya mau diperiksa dan diusut secara hukum ? > Mau didudukkan di kursi tertuduh sidang pengadilan? > Mau didatangkan saksi-saksi yang bebas dari ancaman? > Hakim dan jaksa yang bersih dari penyuapan ? > Percuma > Seratus tahun pengadilan, setiap hari 8 jam dijadwalkan Insya Allah tak akan > terselesaikan. > Jadi, saudaraku, bagaimana caranya? > Bagaimana caranya supaya mereka mau dibujuk, dibujuk, dibujuk agar bersedia > mengembalikan jarahan yang berpuluh tahun dan turun-temurun sudah mereka > kumpulkan. > Kita doakan Allah membuka hati mereka, terutama karena terbanyak dari mereka > orang yang shalat juga, orang yang berpuasa juga, orang yang berhaji juga. > Kita bujuk baik-baik dan kita doakan mereka. > Celakanya, jika di antara jamaah maling itu ada keluarga kita, ada hubungan > darah atau teman sekolah, maka kita cenderung tutup mata, tak sampai hati > menegurnya. > Celakanya, bila di antara jamaah maling itu ada orang partai kita, orang > seagama atau sedaerah, Kita cenderung menutup-nutupi fakta, lalu > dimakruh-makruhkan dan diam-diam berharap semoga kita mendapatkan cipratan > harta tanpa ketahuan. > Maling-maling ini adalah kawanan anai-anai dan rayap sejati. > Dan lihat kini jendela dan pintu Rumah Indonesia dimakan rayap. > Kayu kosen, tiang, kasau, jeriau rumah Indonesia dimakan anai-anai. > Dinding dan langit-langit, lantai rumah Indonesia digerogoti rayap. Tempat > tidur dan lemari, meja kursi dan sofa, televisi rumah Indonesia dijarah > anai-anai. > Pagar pekarangan, bahkan fondasi dan atap rumah Indonesia sudah mulai habis > dikunyah-kunyah rayap. Rumah Indonesia menunggu waktu, masa rubuhnya yang > sempurna. > Aku berdiri di pekarangan, terpana menyaksikannya. > Tiba-tiba datang serombongan anak muda dari kampung sekitar. > "Ini dia rayapnya! Ini dia Anai-anainya!" teriak mereka. > "Bukan. Saya bukan Rayap, bukan!" bantahku. > Mereka berteriak dan mendekatiku dengan sikap mengancam. > Aku melarikan diri kencang-kencang. > Mereka mengejarkan lebih kencang lagi > Mereka menangkapku. > "Ambil bensin!" teriak seseorang. > "Bakar Rayap," teriak mereka bersama. > Bensin berserakan dituangkan ke kepala dan badanku. > Seseorang memantik korek api. > Aku dibakar. > Bau kawanan rayap hangus. > Membubung Ke udara. > Inikah akhir kehidupan rayap ? Semoga ! > [*] Reposting > Wassalam, HDB SBK (L, 69+), Padangpanjang, Depok -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
