Assalamualaikum Wr. Wb.,

 

Ondeh talombek ambo manyambuik makNgah yang jauah2 dari santa kuruih,
biasonyo santa tu gapuak ndak MakNgah........gadang hati ambo mambaco
garah2 liau ko.......

 

Dibawah ado tulisan pemimpin yang sempurna, tapi panuah
kakurangan.......he he paniang juo awak mamikiakannyo........, kalau
yang batua2 sempurna iyo Nabi SAW.

 

Manuruik kawan ambo........ado buku Strengths Finder buku dari Tom Rath,
katonyo yang penting kekuatan awak yang diasah.....lupokan
kekurangan....antah iyo antah indak..buliah juo dicek dek Apak2
kebenaran buku tu.........

 

Mudah2an manjadi good reading disiang hari ko.....

 

 

Wass, syb.

 


----------------------------------


Pemimpin yang Sempurna


 


Eileen Rachman & Sylvina Savitri

EXPERD

Personal Growth & Soft Skills Training

 

 

Ditayangkan di KOMPAS, 9 Februari 2008

 

 


Isu mengenai kepemimpinan selalu menarik. Baru-baru ini saya bertemu
dengan seorang pimpinan perusahaan yang oleh teman-temannya disebut
sebagai "orang besar". Beliau sangat berhasil, banyak teman, aktif dan
'terpandang' di kalangan organisasi profesinya dan sangat pandai
menggolkan proyek jutaan US dolar. Ketika beliau berkesempatan untuk
meninjau kembali gaya kepemimpinannya dan membandingkan kekuatan dan
kelemahan dengan koleganya, sesama pimpinan perusahaan tersebut, ada
yang berkomentar, "Bapak tuh rabun dekat, sementara teman Bapak rabun
jauh". Maksudnya, beliau sangat visioner, berpikiran jangka panjang,
sementara koleganya lebih memperhatikan detil yang ada di depan mata.
Lah, kalau para pemimpin di perusahaan itu 'rabun' semua, kok perusahaan
bisa sehebat itu? 


 


Harapan terhadap seorang pemimpin ideal memang banyak sekali. Saking
banyaknya sehingga bahkan bisa berbentuk mitos, karena hampir tak pernah
kita lihat terealisasi. Ada pemimpin yang pada tahap awal
kepemimpinannya memunculkan konsep-konsep baru dan cemerlang, tetapi
selanjutnya tidak mampu mengontrol situasi. Ada pemimpin yang kita tahu
sebagai "slow starter", sehingga setelah lama menjabat terasa tetap
tidak melakukan  "perbedaan" atau perbaikan keadaan. Tampaknya memang
jarang terealisasi ada pemimpin yang  mendekati  kriteria "sempurna";
"No one person could possibly stay on top of everything". 

 

Pemimpin juga Manusia

Kita tampaknya memang sudah perlu berganti "mindset" dan realistis
melihat bahwa kepemimpinan memang sulit. Adanya pemimpin akan memudahkan
situasi, karena si pemimpin sekedar sedikit lebih pintar, bijak, dan
ber-"power" untuk menemukan dan menggerakkan "expertise" anak buah,
menggambar dan menjual visi yang realistis, menggalang tim untuk
menghasilkan  ide dan solusi  baru,  serta menggerakkan teman - temannya
agar menjalankan upaya menuju sasaran bersama dengan penuh komitmen. 

 

Mau tidak mau, seorang pemimpin tidak bisa "menggarap" semua hal dengan
kongkrit. Di lain pihak, paling tidak ia bisa memberdayakan kekuatan,
memanfaatkan dan mengembangkan  sumberdaya yang ada di areanya. Pemimpin
adalah manusia biasa yang tidak sempurna, tetapi dengan "terpilihnya" ia
sebagai pemimpin, ia perlu menjadi manusia yang paling tidak bisa
mendobel kekuatan timnya  berdasarkan semua kekuatan dan sumberdaya yang
ada. Dalam keterbatasannya ia tetap perlu menjadi "the flawless person
at the top who's got it all figured out".

 

Mengakali Kekurangan dengan Menajamkan 'Sensemaking' 

Teman saya adalah seorang pebisnis sekaligus CEO yang "penuh
kekurangan". Ia, menurut anak buahnya, "hanya" mengurusi hal yang tidak
penting seperti kebersihan toilet dan "clean desk policy". Namun
kenyataannya, ia tidak tergantikan. Visi bisnisnya yang tidak mampu ia
deskripsikan sendiri dengan kata-kata, sudah  membuat perusahaan
berkembang terus selama 30 tahun, tidak pernah usang bahkan berkembang
secara drastis. 

 

Teman saya ini sering mengatakan  bahwa dirinya punya "Indera ke enam".
Ungkapan yang dinyatakan secara bergurau itu sebenarnya, kalau
dipikir-pikir sangat benar. Tepatnya, ia selalu bisa melihat apa yang
orang lain tidak lihat. Ia adalah seorang yang "super observant" dan
punya "radar" yang tajam dalam melihat peluang dan produk baru,  serta
melihat kesalahan operasional sehari-hari. Ketajaman "sensing" ini
disertai "sensemaking" yang sangat kuat. Dengan cara inilah ia mencari
kebenaran dan pemahaman tentang duduk perkara situasi sehari-hari secara
simpel namun tajam, memahami konteks sekaligus inti permasalahan dengan
tepat.  

 

Teman kita ini memang tidak pernah kehilangan "kerendahan hati" untuk
memahami situasi sekitar dengan kerajinannya mengajukan pertanyaan,
walaupun ia sangat sibuk. Tetapi, bukankah kita sama - sama bisa
membayangkan, betapa sulitnya pemimpin yang tidak mempunyai "sense"
tentang organisasinya, karena tidak berusaha mencari tahu, bahkan hanya
menerima laporan, dalam mengambil keputusan atau membuat kebijakan?
Bukankah pemahaman ini yang diperlukan seorang pemimpin untuk
menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, perubahan budaya,
lingkungan, kebijakan, politik dan globalisasi  yang sekarang sulit
ditebak?

 

Pentingnya Pemimpin Menjadi 'Konektor'

Konon, seluruh manajemen pemerintahan di Indonesia pun sekarang sudah
berkomunikasi dengan "blackberry", benda kecil yang menjamin "real time
communication" berbentuk apa saja, gambar, data, berita atau video
sekalipun. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa gejala komunikasi satu
arah, tidak adanya keseimbangan antara "memberi pengarahan" dan
"mendengar secara seksama", masih mewarnai gaya kepemimpinan di sekitar
kita. Bahkan, banyak kita dengar bahwa anggota tim sering seolah-olah
rukun satu sama lain, tetapi tidak "berbicara' dalam  proporsi sesuai
yang dibutuhkan. Padahal kita sama-sama sadar bahwa gaya kepemimpinan
yang tidak mengutamakan penggalangan spirit, optimisme,  dan konsensus
sudah tidak mempan di dunia yang sudah semakin  kompleks  dan
membutuhkan keputusan yang tajam dan cepat ini.  

 

Lee Iacocca, misalnya, menyatakan bahwa ketika mulai membenahi Chrysler,
perusahaan tersebut bagai sekumpulan kerajaan kecil yang tidak
berhubungan satu sama lain. Dan prioritas utamanya kemudian adalah
mempersatukan tim. Seorang pemimpin justru butuh menyadari kesenjangan
dan dengan cepat menghubungkan antara satu departemen dengan departemen
lain, antara masa lalu, sekarang dan masa depan, serta antara "concern"
internal organisasi  dengan pihak eksternal untuk memecahkan masalah ,
dan bahkan "menemukan" solusi yang unik . Ia pun perlu berani pasang
badan untuk menjadi konektor diantara koleganya, bukan saja dalam
masalah rasional tetapi juga emosional. Kreativitaslah yang menyebabkan
seorang pemimpin yang penuh kekurangan bisa "survive", baik dalam
memecahkan masalah dan juga pada cara berhubungan dan menghubungkan
orang di sekitarnya. 

 

Kepekaan, kemampuan menjadi konektor, "passion" dan kreativitas tidak
membutuhkan pendidikan khusus, setiap pemimpin dapat berlatih dan
meningkatkan kompetensi-kompetensi dasar ini asalkan ada keteguhan hati.


 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca dan dipahami! Lihat 
di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur dan Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG!!! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
- Anggota yg posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg 
bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen akan mengikuti peratiran yang 
berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahul
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke