Djufri, LKAAM dan MUI: Menutup Jam Gadang Sudah Final 

Bukittinggi, Singgalang
Kebijakan menutup Jam Gadang saat malam penyambutan tahun baru oleh Pemko
Bukittinggi, bukan sesuatu yang lucu. Tindakan itu dalam rangka
menyelamatkan masyarakat, terutama dari hal yang berakibat negatif.
“Kebijakan itu sudah final dan melalui musyawarah. Jangan dinilai sebagai
sesuatu yang lawak-lawak”, kata Masri Habib Dt. Pandak, Ketua Lembaga
Kerapatan Alam Minangkabau (LKAAM) Bukittinggi, Kamis (14/2). Datuak Pandak
mengungkapkan hal tersebut, sekaitan pandangan miring yang diapungkan
berbagai kalangan di tingkat provinsi, serta komentar yang ditulis Wisran
Hadi, menyusul dikeluarkannya statemen Walikota Drs. H. Djufri, perihal
rencana penutupan Jam Gadang pada malam tahun baru, sebagaimana diberitakan
Singgalang edisi Rabu 13 Pebruari 2008. 

Menurut Datuak Pandak, ditutupnya Jam Gadang pada malam penyambu­tan tahun
baru masehi itu, karena pada dasarnya pengunjung di pelataran Jam Gadang itu
sangat berjubel. Mereka hanya ingin menikmati detik-detik menjelang
berdempetnya jarum panjang dan jarum pendek Jam Gadang pukul 00.00 WIB.
“Adakah orang lain yang memikirkan nasib puluhan bahkan mungkin ratusan ribu
yang nyaris dalam kondisi berdempet di seputaran Jam Gadang itu,” kata Datuk
Pandak mempertanyakan. Dalam kondisi seperti ini, andai terjadi sedikit saja
keributan, akibatnya sangat fatal. Bisa menimbulkan korban jiwa. Karena
waktu itu tidak hanya orang dewasa yang berkumpul di sana , tetapi juga
anak-anak, bahkan perempuan hamil. Semuanya itu berlangsung pada malam hari.


Persoalannya akan semakin rumit lagi, bila timbul korban jiwa dalam kondisi
beramai-ramai itu. Contoh terakhir adalah konser musik di Bandung yang
menelan 11 korban jiwa. “Saya sudah berbicara langsung dengan Walikota
Djufri, dia sempat menangis ketika mendengar berita orang meninggal dunia di
Ban­dung , hanya karena menonton pagelaran musik. Potensi peristiwa seperti
itu juga ada di Bukittinggi, terutama pada penyambutan tahun baru,” katanya.
Kata Datuk Pandak, kalau korban sudah terjadi, yang disalahkan siapa? Pasti
Pemko pula yang jadi kambing hitamnya. Semua orang akan menuding tentang
kelalaian Pemko, ketidak-beresan walikota, ketidak-mampuan aparat keamanan
dan banyak lagi sumpah serapah yang muncul. Menurutnya, sekarang Pemko
tengah menyusun programnya agar ke­mungkinan terburuk itu tidak terjadi.
Artinya, Pemko jauh hari sudah mencari sebelum hilang, memintas sebelum
hanyut dan bakuli­mek sabalun abih atau lebih berhemat sebelum miskin. 

Datuak Pandak menambahkan, dalam nada guyon, “tak ada urusan tikus di sini,
dan tidak ada pula lumbung yang mesti dibakar”. Soal rencana kain penutupnya
yang merupakan warna marawa atau panji-panji Minangkabau, agaknya memang
belum banyak orang yang tahu, bahwa ketiga warna itu sudah merupakan
kesepakatan tidak resmi digunakan untuk warna marawa , dan hal ini berlaku
di Luak Nan Tigo. Entah kalau di luar ketiga luak itu. Kalau ketiga warna
itu adalah warna bendera Jerman, itu kebetulan saja. Dan, tidak ada pula
orang membantah bahwa warna hitam, merah dan kuning sebagai warna marawa
Minangkabau. 

Jangan sisi ekonomi saja
Sementara Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bukittinggi, DR. Zainuddin
Tanjung, MA., menyebut kebijakan Pemko menutup Jam Gadang pada malam
penyambutan tahun baru, jangan dilihat dari sisi ekonomi saja. Adalah
pemikiran yang sangat dangkal bila melihatnya dari segi untung rugi secara
finansial. Justru Pemko Bukittinggi mengambil kebijakan itu berdasarkan
kajian substansi yang sangat luas, terutama terhadap adat basandi syarak,
syarak basandi Kitabullah . Ditinjau dari segi budaya, kata Zainuddin,
jangan dilihat dari sudut yang sempit atau pengertian umum. Memperingati dan
meraya­kan datangnya tahun baru Masehi bukanlah budaya Minangkabau dan
islami. “Agama Islam tidak mengajarkan memperingati tahun baru, termasuk
tahun baru Islam sendiri yakni 1 Muharram. Bahkan lebih diperte­gaskan,
Islam tidak menggariskan baik dalam wajib maupun sunat untuk melaksanakan
acara ritual,” tambah Zainuddin. 

Menurutnya, kebetulan 1 Muharram dijadikan sebagai hari libur nasional.
Mumpung memanfaatkan hari libur, pada 1 Muharram terse­but sangat pantas
dilaksanakan kegiatan yang bernuansa agama, seperti wirid, tablig akbar dan
lain-lainnya. Tapi konteksnya tidak lari dari upaya untuk mensyiarkan ajaran
Islam. Zainuddin juga mengggarisbawahi, apa yang diambil oleh Pemko ini,
adalah sebuah kebijakan yang benar-benar menyentuh secara esen­sial
nilai-nilai keagamaan di negeri ini. Patut didukung, karena tujuannya sangat
mulia. Ia mengingatkan, bila pada malam penyambutan tahun baru, ratusan ribu
orang berkunjung ke Bukittinggi dan dominan terfokus ke kawasan Jam Gadang
sampai larut malam. Menjelang Subuh mereka bersebar, entah kemana. Ingat,
mereka itu tidak hanya satu ke­luarga, tetapi yang lebih banyak adalah kaum
muda. Ia juga tidak tahu, karena berasal dari luar kota , apakah mereka itu
suami isteri, atau hanya sekadar berpasangan dan memanfaatkan momentum tahun
baru untuk memadu kasih ke Bukittinggi. 

“Kalau itu memang benar terjadi, laknat Allah tentu akan turun. Kita tidak
ingin hal itu terjadi,” ulasnya. Zainuddin menegaskan, apa pun resikonya,
dan apapun yang bakal terjadi, MUI dan segenap ulama Bukittinggi mendukung
program yang dilaksanakan Pemko. 

Tak bergeming
Bergemingkah Walikota Djufri? Ternyata tidak. Usai membaca Sing­galang
tentang munculnya tanggapan yang bernada miring terhadap kebijaksanaan Pemko
Bukittinggi tersebut, Djufri terlihat tersen­yum. Tidak sedikit pun terkesan
di wajahnya rasa tidak senang. Kendati demikian, Djufri mengemukakan, bahwa
kebijakan menutup Jam Gadang menyambut pergantian tahun baru masehi itu
adalah prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar. Ini sudah merupakan
kese­pakatan antara Pemko dengan Muspida serta masyarakat Bukittinggi
sendiri. “Malahan dalam konteks pengembangan kepariwisataan Bukittinggi,
masyarakat sudah sepakat biarlah Bukittinggi sepi dari pengunjung daripada
ramai tapi penuh maksiat. Itu sudah komitmen warga kota ,” ulasnya. 

Penutupan Jam Gadang hanya sekitar 13 jam, pada malam pergantian tahun
Masehi. Bukan ditutup sepanjang masa. “Adalah sangat tidak pantas bila
kebijakan ini dilihat hanya dari satu sudut saja,” kata Djufri. Dalam lima
tahun terakhir, Pemko sudah mengantisipasi agar kera­maian di sekitar Jam
Gadang berkurang dengan mengadakan pentas terbuka di Lapangan Kantin, dan
kegiatan hiburan lainnya di berbagai tempat, termasuk di Ngarai Sianok.
Namun menjelang pukul 00.00 WIB pada malam pergantian tahun, secara serentak
orang menuju Jam Gadang. Tak bisa dihalangi, bahkan mengarahkannya saja
tidak bisa. Maklum, ratusan ribu orang bergerak dengan satu tujuan, yakni
melihat jarum Jam Gadang akan berdempet di pengujung tahun. Diakui banyak
yang diuntungkan bila pengunjung berjubel. Tapi dalam suasana yang sulit
diduga karena ramainya orang, dan terja­di keributan sehingga menimbulkan
korban jiwa. Djufri mengajak, agar jangan melihatnya dari segi bisnis saja,
tetapi harus dikaji secara lebih mendalam dan jalan pikiran yang jernih. o
202/203 


 


Kenapa Jam Gadang Ditutup? 


Padang , Singgalang
Penutupan Jam Gadang di malam pergantian tahun bisa berdampak pada dunia
pariwisata Sumbar dan akan membuat Bukittinggi buruk di mata dunia.
Pasalnya, selama ini jam tersebut merupakan simbol atau icon Sumbar dan
merupakan tempat tujuan wisata utama di daerah ini. Seharusnya Pemerintah
Kota Bukittinggi menurut Ketua ASITA Sum­bar, Asnawi Bahar, kepada
Singgalang , Kamis (14/2) di Padang, membuat kebijakan lebih baik dari hanya
sekadar menutup jam tersebut. “Kebijakannya harus dikaji secara konprehensif
dan tidak merugikan masyarakat. Juga jangan mengambil kebijakan dalam
kondisi emosi,” ujarnya. Bila kebijakan itu dimaksudnya untuk menghindarkan
kota wisata dari perbuatan maksiat, Asnawi tidak yakin. Karena, masih banyak
tempat yang disinyalir bisa digunakan untuk melakukan perbuatan-perbuatan
tersebut. “Tidak harus di bawah Jam Gadang dan di malam pergantian tahun.
Berbuat maksiat dapat saja dilakukan orang-orang di mana pun dan kapan pun,
tidak harus menunggu malam tahun baru,” sesalnya.

Terpenting, dalam pandangannya untuk menjaga kesucian di Jam Gadang dan
sekitarnya dari perbuatan maksiat atau perbuatan tidak senonoh lainnya,
Pemko Bukittinggi harus meningkatkan pengawasan. Agar, hal-hal yang tidak
diinginkan itu tidak lagi terjadi. Pada dasarnya, perayaan pergantian tahun
adalah sesuatu yang biasa. Hanya saja, gairah masyarakat untuk merayakan
itulah yang membuatnya menjadi terkesan seperti luar biasa. Dan, Jam Gadang
selama ini telah memberikan andil cukup besar dalam memberikan keindahan
malam pergantian tahun. “Masa ini harus dirusak dengan rencana tersebut,”
sesalnya lagi. Tidak hanya itu, imej pariwisata yang terus dibangun dengan
baik bisa pula rusak dengan hal tersebut. Pasalnya, Jam Gadang adalah ikon
wisata Sumbar. Walaupun diakuinya, tidak banyak wisatawan mancanegara yang
berkunjung ke sana , tapi rata-rata wisatawan nusantara dan lokal banyak
yang mendatangi bangunan di areal terbuka hijau Kota Bukittinggi tersebut. 

“Apalagi, kalau malam tahun baru, banyak wisatawan nusantara dan lokal yang
datang ke sana , begitu juga warga Bukittinggi, lalu di mana lagi tempat
mereka merayakan pergantian tahun itu. Ibaratn­ya, jangan gara-gara tikus,
lumbung yang dibakar,” sebutnya. Pemko Bukittinggi juga dinilai terlalu
cepat melahirkan kebijakan untuk menutup Jam Gadang. Karena, pergantian
tahun masih cukup lama. Untuk sampai ke penghujung tahun 2008, akan banyak
peruba­han-perubahan yang bakal terjadi, sehingga kebijakan yang
diren­canakan bisa saja menjadi tidak relevan lagi. Dari itu, dia berharap
supaya Pemko Bukittinggi kembali memper­timbangkan kebijakan yang
dilahirkannya. Supaya, masyarakat dan dunia wisata di daerah ini tidak
dirugikan dengan lahirnya kebi­jakan tersebut. o 104 


No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.5/1279 - Release Date: 14/02/2008
18:35
 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca dan dipahami! Lihat 
di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur dan Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG!!! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
- Anggota yg posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg 
bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen akan mengikuti peratiran yang 
berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahul
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke