Kalau kita melihat permasalahan secara parsial ya seperti ini. Permasalahan 
penutupan jam gadang sebenarnya akumulasi dari ketidak becusan dalam membikin 
konsep kota, kita tidak tahu mau dibawa kota ini. Pemerintah Daerah tidak 
pernah dengan transparan menjelaskan kota ini mau dijadikan apa, mau dibawa 
kemana. Batua apo yg dikatakan Boby, mancik nan baulah lumbuang nan dibaka. 
Kalau kita perhatikan kota Bukittinggi padatnya luar biasa, ijin dipermudah 
dalam pembangunan  dg alasan mengejar PAD, apo nan tajadi, ruang terbuka sangat 
langka kita temui di sekitar jam gadang. Lihat aja mall yg angkuh berdiri, 
bangunan hotel yg tak jadi, apo namonyo tu. Mereka lupa bahwa kota itu berdiri 
dibibir ngarai sianok, mereka lupa bangunan besar itu menyedot air  yg luar 
biasa, mereka melupakan amdal, bisa jadih kalau itu dipadiakan, bukan bibir 
ngarai sianok sajo runtuah tapi kota nyo nan runtuah........ampun.

Jadi pak haji jo mak datuak katua LKAAM, bukan jam gadang yg jadi masalah kalau 
dikaji manuruik ilmu sosial, nan salah tu yo pandidik dan para orang tuo. 
Mungkin mereka talalu mambari kebebasan kepada anak jo kamanakan. Peranan media 
elektronik nan manampilan film2 nan ndak cocok jo adaik maupun jo agamo awak, 
itu nan laku. sakolah hanyo mangaja targen lulus sajo. Budaya awak kalau ada 
nan salh , inyo nan salah sadonyo, awak ka diri awak lupo 
intropeksi..........ha...ha.....munafik namonyo.

Manuruik ambo ruang nan sampik nan mambuek pikiran awak jadi sampik. baliak ka 
seputaran jam gadang itu pak, mall itu kalau paralu diruntuahkan sajo, patuang 
Bung Hatta nan talatak di situ juo dipasokan tampeknyo, kalau awak nio 
mangharagoi tolong carilah tampek nan ideal, konsultasikan jo ahlinyo, jan 
maraso santiang surang. Pertoko an pecinan itu jan diganti pulo jo 
ruko..........ancua....Bukik tinggi ko.....

Tagalak baliak ambo mambaco berita dibawah ko, iko bukan cimeeh tapi lirih awak 
jadinyo......

Nanang
jkt manjalang 36





----- Original Message ----
From: Nofiardi <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, February 16, 2008 8:05:55 AM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Menutup Jam Gadang Bukan Untuk Olok-olokan


Menutup Jam Gadang Bukan Untuk Olok-olokan 
Sabtu, 16 Februari 2008 
Bukittinggi, Padek--Munculnya tanggapan dari sejumlah kalangan dan pemerhati 
masalah sosial di Sumatera Barat tentang rencana pemerintah Bukittinggi menutup 
Jam Gadang ketika malam tahun baru, juga memancing tanggapan dari tokoh 
masyarakakat dan pemuka adat Bukittinggi. Menurut mereka, hal tersebut jangan 
sampai menjadi bahan olok-olok dan melemahkan kebijakan  pemerintah setempat. 
Karena hal tersebut dilakukan untuk kepentingan orang banyak, dan tidak sekedar 
mencari keuntungan bagi pemerintah semata.

Seperti ditegaskan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bukittinggi, DR 
Zainuddin Tanjung MA, kebijakan tersebut jangan dilihat dari sisi ekonomi saja. 
Adalah pemikiran yang sangat dangkal dari seorang pemerhati sosial jika 
melihatnya dari segi untung rugi secara finansial saja. Justru pemerintah dalam 
hal ini mengambil kebijakan tersebut berdasarkan kajian substansi yang sangat 
luas, terutama menghormati dan menjunjung tinggi adat basandi syarak, syarak 
basandi kitabullah. 
Jika dilihat dari tinjauan budaya, terang Zainuddin Tanjung, jangan dilihat 
dari sudut yang sempit atau pengertian umum. Merayakan pergantian tahun 
bukanlah budaya Minangkabau dan budaya Islam. Islam sendiri tidak pernah 
mengajarkan peringatan pergantian tahun, termasuk tahun baru Islam sendiri. 
Bahkan apabila dikaji dan dicarikan perbandingan lebih dalam, Islam juga tidak 
menggariskan ( secara wajib maupun sunat ) untuk melaksanakan ritual seperti 
Shalat sunat atau Shalat wajib.
”Namun untuk kasus pergantian tahun, kebetulan 1 Muharram atau 1 Masehi 
dijadikan hari libur. Sehingga kasus yang terjadi adalah hanya untuk 
memanfaatkan hari libur saja. Tapi yang sebetulnya sangat pantas dilaksanakan 
ketika itu adalah kegiatan yang bernuansa agama, seperti wirid, tabligh akbar 
dan lain-lainnya. Tapi konteksnya tidak lari dari upaya untuk mensyiarkan 
ajaran Islam,” ungkap Zainuddin Tanjung.
Selaku ketua MUI Bukittinggi, Zainuddin menegaskan apa pun resikonya dan apapun 
yang bakal terjadi, MUI serta seluruh pengurus dan ulama di Bukittinggi 
mendukung program yang dilaksanakan pemerintah tersebut. Langkah yang telah 
diambil ini adalah sebuah kebijakan yang benar-benar menyentuh secara esensial 
nilai-nilai keagamaan di negeri ini. Sehingga sangat patut didukung, karena 
tujuannya mulia dan mempertimbangkan keuntungan serta kemaslahatan orang banyak.
Hal senada juga secara tegas disam-paikan MH Dt Pandak, ketua LKAAM 
Bukittinggi, kebijakan menutup Jam Gadang saat malam penyambutan tahun baru 
2009 akan datang bukan sesuatu yang harus dikomentari secara berseloroh. Tapi 
harus dipikirkan dan direnungkan untuk dari berbagai sisi serta dampak yang 
akan muncul apabila pemerintah terus menerus membiarkan begitu saja hal 
tersebut terjadi. Tindakan itu diambil dalam rangka menyelamatkan masyarakat 
Sumatera Barat secara umum dari hal-hal yang berakibat negatif.
”Kebijakan pemerintah ini jangan dijadikan lawakan, karena lahir dari hasil 
kesepakatan seluruh Muspida. Jika yang mengomentari adalah kalangan 
intelektual, maka pembahasan dan komentarnya juga harus intelek. Jika dilihat 
secara terbuka, ketika ribuan orang berkumpul di Jam Gadang pada saat yang 
bersamaan, maka akan terdapat pula ribuan kemungkinan persoalan yang akan 
terjadi saat itu. Jika kebetulan terjadi sesuatu yang negatif, yang akan 
dipersalahkan pasti pemerintah dan tokoh masyarakatnya,” ungkap Dt Pandak.
Malah, ulas Dt Pandak, persoalannya akan lebih rumit jika timbul korban jiwa 
dalam suasana ramai tadi. Jika korban berjatuhan, siapa yang akan 
dipersalahkan? Pasti pemerintah yang menjadi kambing hitam. Seluruh kalangan, 
mulai lokal atau yang diperantauan pasti akan menuding pemerintah lalai, 
Walikota tidak beres, aparat keamanan lemah dan berbagai sumpah caci maki untuk 
Bukittinggi. 
”Sekarang pemerintah telah 'mencari sebelum hilang, memintas sebelum hanyut dan 
bakulimek sabalun habih atau berhemat sebelum miskin'. Tidak ada urusan tikus 
di sini, dan tidak ada pula lumbung yang mesti dibakar. Soal kain penutup Jam 
Gadang, ketiga warna itu merupakan kesepakatan tidak resmi sebagai marawa, dan 
berlaku di Luak Nan Tigo, entah kalau di luar ketiga Luak. Soal kesamaan atau 
kemiripan itu hal biasa,” tegas Dt Pandak. (ari/rul)
  



      
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo..com/newsearch/category.php?category=shopping
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca dan dipahami! Lihat 
di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur dan Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG!!! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
- Anggota yg posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg 
bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen akan mengikuti peratiran yang 
berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahul
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke