Sanak Palanta yang ambo hormati :
Assalamualaikum warahmatullohi wabarakutuhu :
Iyo juo bak kecek Mak Ngah nan tingga di Amrik , bahaso sabagian urang
awakko capek palupo tamasuka ambo he....heee , lah banyak kajadian dan
paristiwa maso lalu nan lah tagalimbun sae ( tagalimbun : kain usang / lamo
nan tasimpan sajo dilamari dan indak dibukak atau dipakai lai ) . Sambie
manjagokan nan lalok dan mangingekkan nan lupo ambo cubo mamparowekkan sabuah
artikel nan ditulih dek : Gugun El-Guyani ( maliek namonyo ambo yakin baliau
bukan urang awak ) di Koran Jawapos hari ini tgl 16 Februari 2008 berkenaan
dengan peringatan seabad Buya Hamka . Ambo sangat tertarik jo kato kato bijak
nan mairingi artikel tasabuik sebagai berikut :
- Kita mengenang karena sayang .
- kita bernostalgia karena cinta .
- dan kita meruwat karena hormat
Semoga bermanfaat !
Wassalam : zul amry piliang ( 60 Th ) tingga di bali
Sabtu, 16 Feb 2008,
Muslim Tradisionalis Sekaligus Modernis
Memori sejarah dunia Islam harus kembali membuka file-file lama untuk menemukan
tokoh besar dalam sejarah perjalanan Islam di Indonesia dan dunia. Buya HAMKA,
nama itulah yang menjadi penanda penting bagi kehidupan umat Islam di Indonesia
khususnya.
Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), putra Minangkabau yang lahir pada 17
Februari 1908, dikenang karena kebesaran perjuangannya untuk menghidupkan Islam
dan mencintai tanah air Indonesia. Tidak ada yang berlebih-lebihan ketika
peringatan seabad Buya HAMKA kali ini, siapa pun harus memberikan apresiasi
yang reflektif dalam rangka menghidupkan roh perjuangan beliau.
Sebagai ulama, mubalig, aktivis politik, dan pujangga besar, nama Buya HAMKA
merangkum berbagai dimensi ilmu pengetahuan dan lintas sektor kehidupan. Buya
HAMKA menempati peta penting dalam sejarah peradaban umat Islam Indonesia,
bahkan dunia.
Dengan membaca peta HAMKA, umat muslim Indonesia sangat diharapkan mampu
melanjutkan garis perjuangan dalam sejarah peradaban Islam jauh ke depan. Abad
ke-21 yang ditunggangi ideologi global modernisme menjadi tantangan umat Islam
untuk menjawab problematikanya.
Melalui kebangkitan spirit HAMKA, jawaban-jawaban itu terlahir sebagai bukti
bahwa Islam itu memiliki power untuk melakukan perubahan. Islam di tangan HAMKA
bukan doktrin mati yang membelenggu kemanusiaan, namun justru Islam menjadi
teologi pembebasan (liberation theology) bagi mereka yang terpenjara,
mengangkat derajat orang-orang kalah, dan mencerahkan umat yang terbelakang.
HAMKA adalah muslim tradisionalis sekaligus modernis. Dia seorang ulama yang
istikamah dengan keislamannya, namun sekaligus menjadi seorang nasionalis yang
berwibawa. Beliau adalah tokoh besar Muhammadiyah, namun juga sangat dekat
dengan tradisi NU.
Pada zaman Soekarno, HAMKA adalah ulama pertama yang membacakan syair-syair
Maulud Barjanzi di Istana Negara. Beliau menyanyikan bait-bait Barjanzi dan
menerjemahkan dengan nuansa sastra sufistik yang tinggi. Barjanzi itu menjadi
brand culture orang-orang NU, yang dianggap bid¢ah oleh lingkungan HAMKA yang
Muhammadiyah.
Begitu juga kegemarannya pada dunia mistik-sufistik, yang juga menjadi karakter
ulama tradisonalis NU. Dalam bukunya, Tasawuf Modern atau Tasawuf dari Abad ke
Abad, tampak kelapangan hati antar aliran mistik.
Dalam buku itu, tak ada nada penghukuman, bahkan kepada pendekar union mystique
Al Hallaj. Justru terdapat nukilan, misalnya, tentang Abu Yazid Al Busthami,
seorang sufi, yang datang ke satu misa di gereja dan bapak pastor di sana
kemudian mengumumkan hadirnya seseorang yang menurut perasaannya bukan orang
sembarangan, dilihat dari aura jiwanya yang kuat.
Karakter keilmuan Islam klasiknya benar-benar sangat dekat dengan kultur Islam
tradisionalis sebagaimana yang melekat pada ulama-ulama NU, terbukti dengan
penguasaannya yang otoritatif terhadap kitab-kitab salaf. Kefakihan "dirosah
Islamiyah" (Islamic studies) yang dimiliki HAMKA sampai saat ini jarang
dimiliki kader-kader Muhammadiyah yang justru terjebak dalam puritanisme Islam
yang radikal-konservatif.
Dalam konteks ini, saya tidak ingin berpikir dikotomis-frontalis antara
NU-Muhammadiyah. Namun, ingin menunjukkan kepada umat Islam yang cenderung
ekstrem-fanatis NU atau Muhammadiyah bahwa keduanya bisa terdapat dalam satu
tubuh sekaligus, bersanding dengan damai demi membangun umat Islam yang
harmonis dan humanis.
Baik orang NU atau orang Muhammadiyah harus sama-sama belajar kepada yang mulia
Buya HAMKA. NU harus belajar serius bagaimana seorang yang memiliki tradisi
kuat, namun juga mampu mentransformasikan ilmu modern dan Barat yang dianggap
sekuler.
Demikian juga, Muhammadiyah harus belajar sungguh-sungguh kepada HAMKA untuk
membuktikan bahwa Muhammadiyah adalah jam¢iyyah yang istikamah mengusung
mainstream pembaruan (tajdid). Secara ontologis, HAMKA adalah senyawa yang
tidak bisa dibingkai dan dirumuskan dalam satu segmentasi yang ketat.
Sebagaimana hipotesis Yudian Wahyudi PhD, guru besar filsafat hukum Islam, yang
memberikan pernyataan bahwa pengalaman konflik tradisionalis versus modernis
mengajarkan bahwa esensialisme gagal karena manusia adalah makhluk
multiorientasi sehingga juga multidimensi, yang menolak setiap pemilahan ketat
yang membagi manusia menjadi satu kategori atau label seperti tradisionalis,
modernis, atau fundamentalis.
HAMKA dengan kemurnian akidahnya tidak menjadikan beliau terjebak dalam
fanatisme buta (muthlaqun ta¢ashuby) sehingga mampu memberikan payung keteduhan
bagi umat Nasrani, etnis Tionghoa, dan agama lain.
Surat kabar Berita Buana, yang menobatkan beliau sebagai Man of The Year untuk
1980, menilai HAMKA sangat berjasa dalam memperbesar jumlah pemeluk Islam dari
kalangan warga Tionghoa, baik dari generasi muda, cendekiawan, maupun
pengusaha. Bahkan, pada usianya yang lanjut, Buya HAMKA masih membuka pintu
lebar bagi warga negara keturunan untuk belajar Islam.
Sebagai aktivis partai politik Masyumi, Buya HAMKA tentu memiliki tafsir
politik yang positif daripada image politik yang oleh kebanyakan orang dibaca
dengan negatif.
Sudah menjadi dalil umum bahwa politik adalah penyusunan dan penggunaan
kekuasaan (machtsvorming en machtsaanwending). Namun, Buya HAMKA mengoperasikan
politik yang maslahah dan rahmatan lil ¡alaamin. Ketika pemerintah
mengampanyekan gerakan monoloyalitas, yang mengarahkan setiap pegawai negeri
harus loyal kepada pemerintah dengan diwajibkan memilih Golkar dalam setiap
pemilu, Buya HAMKA memberikan tanggapan yang diplomatis sekali.
Kata Buya HAMKA saat itu: Saya adalah seorang rakyat Indonesia yang pertama
kali berlindung kepada Allah, di bawah kibaran bendera Merah Putih dan
presidennya ialah Soeharto. Inilah yang bernama loyalitas."
Lanjut HAMKA, dengan pernyataan loyalitas itu bukanlah berarti bahwa saya mesti
membantu kampanye Golkar. Jika saya tidak ikut kampanye buat menusuk tanda
gambar salah satu partai Islam, bukanlah berarti saya keluar dari perjuangan
Islam.
*. Gugun El-Guyanie, Sekjen Lembaga Kajian Keagamaan dan Kebangsaan (LK3) PW GP
Ansor Jogjakarta.
---------------------------------
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca dan dipahami! Lihat
di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur dan Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG!!! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui
jalur pribadi.
- Anggota yg posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg
bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen akan mengikuti peratiran yang
berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahul
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---