Kanda Saaf sarato Sanak Sa Palanta nan Ambo Hormati;

Sato saya sakaki.

Wafatnya Presiden Venezuela dan sekali gus tokoh kontroversial  Hugo Chavez
Selasa (5/3), seperti mengingatkan kita  kepada pesan Ar Rad : 11,
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah (nasib) suatu kaum sampai mereka
mengubah nasibnya sendiri”.

Betapa tidak. 

Dalam sebuah ceramahnya pada sebuah seminar di Jakarta tahun 2004, ekonom
kaliber internasional asal Amerika Serikat/pemenang Nobel Ilmu Ekonomi 2001,
Joseph E Stiglitz—yang juga dikenal sebagai salah seorang pengeritik keras
“Konsensus Washington” (baca neoliberalisme)—mengingatkan hadirin pada kasus
di negara-negara Amerika Latin yang hanya menguntungkan kaum kaya. Venezuela
adalah contoh lain yang dia berikan, di mana dua pertiga pertiga warga hidup
sangat miskin dan sepertiga kaya raya.

Seperti ditulis editorial Media Indonesia hari ini (9/3), begitu memerintah,
misalnya, Chavez berhasil mengurangi angka kemiskinan hingga 50% dan
kemiskinan ekstrem hingga 70%. Di bawah Chavez, jutaan warga Venezuela yang
semula miskin dan sakit-sakitan memperoleh akses kesehatan secara cuma-cuma.
Pendidikan gratis di negeri telenovela itu sejak sekolah dasar hingga
perguruan tinggi. 

Masih menurut Media Indonesia, Chavez memang bukan sosok sempurna.
Kebijakannya terkait dengan subsidi tetap memancing pertentangan baik di
kalangan pengusung maupun pembela mazhab itu. Hasil kepemimpinan Chavez
hingga kini dianggap belum membuat Venezuela menjadi negara maju dan makmur
di dunia. Para pengkritiknya di Barat punya alasan menyebutnya sebagai
pengusung sosialisme baru tanpa hasil. Terlepas dari pro-kontra itu,
karakter Chavez sebagai pemimpin yang berani bersikap dan melawan hegemoni
dan dominasi Amerika bersama agenda-agenda neoliberalisme mereka diakui
siapa pun.

Seperti diketahui, sampai penghujung abad lalu, dalam kediktataron,
perekonomian kapitalistik, kepincangan sosial, penindasan, kekejian  serta
pelanggaran HAM berat, Amerika Latin adalah kawasan  yang paling buruk di
antara yang buruk [*]. Dengan berbagai kekurangan yang ada, Indonesia waktu
ini jelas jauh lebih baik daripada negara-negara Amerika Latin ketika itu.

Tetapi mereka bisa berubah secara drastis.  Brasil, misalnya, yang banyak
berubah sejak di bawah kepemimpinan Presiden Lula, menurut data terakhir
telah mengalahkan perekonomian Inggris. Saat ini, Brasil menempati posisi
negara dengan kekuatan ekonomi keenam di dunia. Salah satu alasan
keberhasilan Brasil ini karena memproduksi banyak komoditas penting (Kompas
28 Desember 2011). Penerus Lula di Brasil, Presiden Dilma Rousseff, seorang
perempuan, adalah mantan gerilyawan, sekali gus sebagai pertanda getirnya
perjuangan dalam menumbangkan kediktatoran Junta Militer di Negara tersebut.

Mengapa mereka bisa berubah, karena mereka mau berubah, mengubah nasibnya
sendiri, mereka tidak pernah menyerah, atau meminjam istilah Kanda Saaf,
mereka tidak pernah  “menegakkan bendera putih”.

Dan kita tahu, segala sesuatu dimulai dari niat, dari hal-hal kecil, dan
perubahan adalah ‘a never ending journey’

WaLlâhu a‘lam bi as-sawâb 

Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 69+) 
“Alam takambang menjadi Guru)

[*] Kondisi Amerika Latin ketika itu digambarkan dengan baik dalam film
Hollywwod “Missing” yang  dibintangi oleh Jack Lemon—yang meraih Oscar atas
perannya dalam film tersebut—dengan setting Cile ketika terjadi kudeta
berdarah terhadap Presiden terpilih Salvador Allende yang beraliran kiri
oleh Junta Militer di bawah pimpinan Augusto Pinochet, yang kemudian menjadi
diktator di Negara tersebut. Seperti diketahui, setelah dijatuhkan, Pinochet
diadili di negaranya atas jejahatan-kejahatan kemanusiaan yang pernah
dilakukannya.   

======

Bls: Re: [R@ntau-Net] Sedikit saran utk memperkuat tekanan utk menan 
Fri Mar 8, 2013 12:08 am (PST) . Posted by: "Dr Saafroedin Bahar" 

Bung Syafruddin Syaiyar, jan putuih aso dulu. Baa kok kito cubo malancarkan
' public opion campaign ' iko sbg aksi pendukung ? Rasonyo alun ado lai nan
mancubo, karano tu mungkin punyo effek pendadakan.

Wassalam,
SB.Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke