Dari Singgalang kito baco: *Berita Singgalang |* Utama <http://hariansinggalang.co.id/category/utama/> 30 Tahun Erna Berjualan Lamang Tapai<http://hariansinggalang.co.id/30-tahun-erna-berjualan-lamang-tapai/>
Tanggal 15 March 2013 Siang itu langit tampak cerah. Warnanya biru, sedikit sekali awan putih yang meng hiasinya. Walau telah tampak menggelincir, namun cahaya matahari masih menyengat. <http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2013/03/lemang.jpg> LAMANG TAPAI Erna (55), Rabu (13/3), tampak baru turun dari angkutan kota (Angkot) di Jalan A Yani Padang. Erna naik Angkot sejak dari rumahnya di kawasan Banuaran. Erna adalah seorang penjual lamang tapai. Lamang itu ia jual dengan cara menjajakannya sepanjang jalan. Rute yang ia tempuh cukup jauh. Sambil menjujung baskom berisi 6 batang lamang, Erna berjalan kaki ke arah tepi laut. Menyusuri Pantai Purus hingga tembus di Jalan Juanda. Kemudian Erna berjalan lagi menuju arah Pasar Raya. Setelah malam kemudian naik Angkot pulang ke Banuaran. “Amak lah biaso mode iko nak, bajalan kaki bakilo-kilo sambia manjujuang lamang,” kata Erna yang sudah tampak berkeringat. Begitulah kerja Erna setiap harinya. Paling tidak untuk menjajakan dagangannya Erna menghabiskan wak tu sekitar 4 jam. Sambil menjujung lamang, wanita tua ini, tetap optimis menghadapi hidup. Uang yang ia dapat dengan menjajakan lamang tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk makan tiga anaknya dan satu suaminya yang tidak bekerja lagi. “Kalau ndak manjojo mode iko, jo apo bareh ka dibali,” kata Erna yang masih optimis mendapatkan penghasilan dari makanan tradisional Minangkabau ini. Profesinya itu telah lama ia jalani. Lebih kurang sudah sejak 30 tahun lalu. Atau sejak ia baru beranak satu. Sekarang anaknya sudah dewasa, sudah berusia kepala tiga. Namun hingga sekarang belum juga bekerja, sehingga belum bisa membantu menutupi biaya hidup keluarga. “Anak pertamo amak tu alun kawin lai, biaya iduiknyo sampai kini masih amak yang menangguang. Kalau amak ndak manggaleh, jo apo anak-anak amak tu ka diagiah makan,” kata ibu beranak tiga ini. “Yooooo lamang tapaiii… yoooo lamang tapaaaaiiii..” begitu lah sorak Erna di sepanjang perjalanan. Ketika ada yang memanggilnya, maka ia akan berhenti. “Kadang urang maimbau amak tu ndak mambali lamang do. Mungkin dek ibo mancaliek parasaian amak, urang tu banyak nan maagiah pitih se ka amak. Kadang diagieh Rp5 ribu, kadang Rp10 ribu,” katanya. Tapi Erna bersyukur lamang tapainya habis setiap hari. Kebanyakan pembelinya adalah pedagang-pedagang di sepanjang pantai Purus. Satu batang lamang ia jual Rp20 ribu. Jadi dalam satu hari ia mendapatkan omset Rp120 ribu. Nanti setelah dikurangi dengan biaya bahan baku pembuatan lamang (bambu, pulut, daun, tapai) dan biaya transportasi pulang pergi dari Banuaran ke A Yani dan dari Pasar Raya ke Banuaran, serta biaya-biaya lainnya sepanjang perjalanan, Erna mendapat- kan untung bersih sekitar Rp70.000. “Alhamdulillah dengan jumlah sebanyak itu sudah dapat menutupi biaya pokok saya dan anak-anak saya,” tutur Erna. (DEFIL) -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
