NASIONAL
Solok Selatan, Negeri Kaya Emas Tapi PAD Hanya Rp25 Juta
Penambangan emas berlangsung tiap hari. Tak sepeserpun masuk ke PAD.
ddd
Senin, 25 Maret 2013, 06:39
Arfi Bambani Amri, Arjuna Nusantara (Padang)
Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria (kanan) didampingi Kapolres Solok Selatan
AKBP Djoko Trissulo tertibkan penambangan pakai alat berat (Antara/ Maril
Gafur)
VIVAnews - Kekayaan alam seperti menjadi kutukan bagi Kabupaten Solok Selatan
(Solsel), Provinsi Sumatera Barat. Meski emas terus dikeruk keluar dari bumi
kabupaten hasil pemekaran Kabupaten Solok ini, namun hasilnya tak sepeser pun
masuk ke dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD).
"Meski daerah kita kaya dengan emas, tapi PAD hanya Rp25 juta," ujar Bupati
Solsel Muzni Zakaria dalam sambutannya saat kunjungan kerja DPR RI dan DPD
Daerah Pemilihan Sumbar ke Solsel, akhir pekan ini.
Keadaan ini, disebabkan tambang emas di Negeri Seribu Rumah Gadang itu, tak
satupun yang mengantongi izin operasi. Penambang ilegal ini, menggunakan
eskavator dan mesin dompeng. Muzni mengatakan, ada sekitar seribu eskavator
yang beroperasi di sini.
"Selain terkenal dengan negeri seribu rumah gadang, juga dikenal negeri seribu
sungai. Sekarang, Solsel juga dikenal dengan julukan baru negeri seribu
eskavator," kata Muzni.
Muzni sangat menyayangkan hal itu. "Satu eskavator disewa Rp30 juta per 200
jam. 200 Jam hanya sekitar 15 hari. Kalau ada seribu eskavator, berarti untuk
sewa saja sampai Rp3 miliar dalam waktu setengah bulan. Bayangkan, berapa hasil
yang mereka peroleh, sehingga mampu mengeluarkan modal sebesar itu. Tapi
sayang, penghasilan mereka tak sepersen pun masuk ke kas daerah. Selama ini,
hanya segelintir orang-orang rakus yang menikmati kekayaan alam kita."
Agar emas yang tertimbun di Solsel bisa sejahterakan masyarakat, Pemkab sudah
mengajukan permohonan izin ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk
melakukan penambangan. Tapi izin tak kunjung keluar, sementara masyarakat tetap
diizinkan menambang secara tradisional menggunakan dulang. Namun ada mafia yang
kemudian menampung hasil tambang rakyat ini.
Tambang ilegal di sepanjang Sungai Sangir dan Batanghari ini, sudah meresahkan
masyarakat. "Kini maraknya penambang liar ini membuat kerusakan lingkungan, air
tercemar dan merugikan masyarakat secara umum," kata Muzni.
"Pejabat Bermain"Bupati menuding,
ilegal minning ini sudah mulai dari pemerintahan sebelumnya. Disinyalir ada
pejabat yang bermain seperti DPRD, pemerintahan dan aparat negara.
Untuk membuktikan itu, Ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman sudah menemui
Kapolda Sumbar yang dituduh terlibat. "Kami sudah bertemu dengan Kapolda, dia
mengaku tidak pernah membekingi tambang ilegal di Solok Selatan," ujar Irman
dalam waktu yang sama ketika Kunker di Solsel.
Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengatakan, Pemprov sudah membentuk tim terpadu
yang terdiri dari Pemerintahan, TNI dan polisi. Dari hasil tinjauan tim terpadu
empat hari lalu, ditemukan puluhan alat berat.
Irman Gusman memberikan perhatian lebih kepada Solsel dalam kasus ini. "Kalau
ada oknum aparat atau pejabat yang terlibat, mari kita basmi. Saya minta kepada
tokoh masyarakat, tentara, polisi agar bersama-sama memajukan negeri ini." (eh)
© VIVA.co.id |
Powered by Telkomsel BlackBerry®
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.