III : Mimpi Yang Aneh
Sambil makan malam bersama mereka berbincang-bincang hal-hal yang ringan dan sambil mengingat-ingat masa lalu, tapi dalam hati masing-masing tetap tidak bisa menghilangkan kejadian tadi. Aswin dengan santainya makan tanpa merasa terganggu dan Siti pura-pura mnyibukan diri membantu Aswin makan, karena sebenarnya dia merasa malu, sejak tadi dia merasa Kahar mencuri-curi pandang padanya. Sedangkan yang lain sibuk dengan makanan dan pikirannya masing-masing, tapi mereka berdua tidak menyadari bahwa ada seseorang yang memperhatikan tingkah laku mereka. Wali Bumi bukanlah orang yang buta apalagi bodoh yang tidak bisa melihat dan merasa ada apa-apa diantara kedua orang ini. Oleh karena itu diam-diam dia memperhatikan mereka berdua dan tertawa dalam hati melihat tingkah laku mereka berdua. Dia merencanakan nanti jika ada waktu senggang dia akan menanyakan kepada Kahar mengenai hal ini, karena kalau memang keduanya saling jatuh cinta dia akan dengan senang sekali bisa mengikat tali persaudaraan yang lebih erat dengan Kahar. Dan dia merasa bahagia bisa membantu adik iparnya mendapatkan seorang calon suami yang begitu baik, dia sangat berterima kasih selama ini kepada adik iparnya karena sudah membantu dia membesarkan Aswin dan mengurus rumah tangganya dengan baik, sampai-sampai lupa untuk menikah padahal usianya sudah termasuk kategori perawan tua untuk ukuran masa itu. Bukan tidak ada orang yang melamar iparnya, malahan saking banyaknya kadang-kadang membuat dia pusing tujuh keliling. Kadang-kadang dia merasa tidak enak hati karena selalu merepotkan iparnya dengan segala masalah yang ada di rumah tangganya walau iparnya tidak pernah keberatan membantunya. Oleh sebab itu dalam hati dia bertekat akan berusaha mewujudkan perjodohan Siti dengan Kahar, dia tidak akan seberani ini mencampuri urusan percintaan orang lain jika dia tidak yakin bahwa keduanya mempunyai perasaan yang sama. ”Uda Bumi, mengapa tersenyum-senyum sendiri, bagilah ke kami apa yang ada di pikiran uda,” kata Basri sambil memandang wali Bumi. ”Ah tidak Basri, aku sedang berpikir mengenai suatu hal yang lucu saja, tapi untuk saat ini belum bisa aku bagikan kepada kalian. Nantilah jika sudah saatnya pasti kalian juga mengetahuinya.” kata Bumi dengan misterius. ”Begitu yah, Uda!, ngomong-ngomong, Uda sudah mendidik Aswin dengan dasar-dasar ilmu silat ?” ”Dari dia umur 3 tahun aku sudah mengajarkan padanya ilmu pernafasan untuk membantu dia memupuk tenaga dalamnya. Ada apa Masnan, kenapa kamu menanyakan hal ini ?” ”Bagaimana kemajuannya, Da?” ”Menurutku cukup baik karena sekarang dia bisa duduk bersemedi sampai 3 jam lamanya. Dan sejak bulan lalu aku sudah mulai ajarkan kuda-kuda dan ilmu dasar silat padanya.” ”Hmmm...mmmm... baguslah anak seusia dini mungkin diajarkan ilmu pernafasan biar dia bisa mempunyai tenaga dalam yang baik.” ”Masnan, ada apa kamu menanyakan hal ini? Kamu jangan buat uda tambah penasaran.” ”Begini uda, aku bermaksud untuk mengambil anak uda menjadi muridku, apa uda keberatan ?” ”Eh, tunggu dulu uda Masnan, aku juga ingin Aswin menjadi muridku.” ”Aku juga tidak keberatan kalau Aswin mau menjadi muridku.” kata Kahar pula. ”Ha .. ha... ha..., anakku yang mantiko (bandel sekali) ini ternyata banyak yang berminat menjadikan murid, ini benar-benar merupakan sebuah keberuntungan bagi anakku.” ”Maaf uda, bukan maksud kami meremehkan kepandaian uda tapi kami merasa ilmu kami yang tidak seberapa ini harus ada pewarisnya. Kami melihat Aswin bertulang bagus dan mempunyai bakat untuk menerima pelajaran ilmu silat dari kami. Sayang kalau bakat seperti ini tidak dibina dengan sebaik-baiknya.” kata Masnan. ”Putar-putar kata kamu, Masnan, tetap saja bilang aku tidak becus mendidik anak ini.” kata Bumi. ”Uda, sabar dulu janganlah berang (marah) aku tidak bermaksud seperti itu...” ”Jadi maksudmu apa ?” potong wali Bumi dengan wajah cemberut. ”Basri, kamu bantulah aku bicara kepada uda Bumi, biasanya kamu kan pandai membujuk orang.” kata Masnan menggaruk-garuk kepalanya kebingungan salah tingkah takut telah menyinggung perasaan kakak angkatnya itu. ”He..he..he... Uda Masnan ini, penyakitnya kalau sudah buang sampah, awak (kita) yang disuruh bersihkan, betul dak, Kahar.” goda Basri. Terlihat Kahar manggut-manggut sambil tersenyum mendengarkan candaan Basri. Tiba-tiba Aswin bertanya,”Ayah, apa maksud paman Masnan mengambil murid, aku tidak mengerti ?” Wali Bumi masih dengan cemberut menjawab,” Pamanmu Masnan ini ingin mengambil kamu sebagai muridnya, karena katanya ayah tidak becus mendidik kamu, anak nakal.” ”Aduh, uda bukan begitu maksudku... uda janganlah berburuk sangka begitu.” kata Masnan tambah panik. Melihat Masnan panik dan berkeringat dingin, wali Bumi yang tidak tahan melihatnya, langsung tertawa terbahak-bahak karena bisa mengerjai Masnan, hal ini sudah lama sekali tidak dia lakukan yaitu menggoda adik-adik angkatnya. Sekarang Masnan baru sadar sudah masuk jebakan sang uda, dan akhirnya dia ikut tertawa tapi dengan tawa yang miring karena jengkel dikerjai udanya. ”Sekarang aku mengerti dari mana Aswin dapat sifat jahil itu, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” gerutu Masnan. ”Masnan...Masnan... janganlah terlalu serius begitu, hidup ini sudah terasa sulit, santailah sedikit, dunia tidak akan berhenti berputar dengan kita tertawa..” kata Bumi geli. ”Nah, kita sudah selesai makan bagaimana kalau kita pindah ke ruangan keluarga, biar kita bisa santai ngobrolnya, tidak tegang seperti tadi. Siti, minta Uni (kakak perempuan) Anik bawakan kopi buat kami dan kamu serta Aswin ikut kami.” kata Bumi, dia sudah mulai menjalankan perannya sebagai mak comblang, dia ingin Siti dan Kahar bertemu sesering mungkin sehingga ada kesempatan untuk mendekatkan hati mereka. Siti mendengarkan perkataan udanya hanya menganggukan kepala sambil membawa Aswin ke belakang untuk mencuci mulut dan tangannya yang kena makanan serta mengganti baju anak ini dengan baju tidur, supaya nanti kalau dia mengantuk, tidak susah lagi ganti-ganti bajunya. Karena anak ini kalau sudah mengantuk langsung pulas, jika harus tukar baju lagi biasanya bisa berakibat anak ini ngambek saking kesal tidurnya terganggu. Sedangkan Kahar yang mendengar Siti akan ikut ngobrol dengan mereka, merasa jantungnya berdebar tidak karuan antara senang, bingung, cemas, pokoknya semua perasaan bercampur menjadi satu. Tapi yang paling penting dia merasa bahagia karena masih bisa memandang wajah sang pujaan hati lebih lama lagi. Dia seakan-akan tidak ada puasnya melihat Siti, serasa dunia penuh warna dan hatinya terasa ringan serta ingin tersenyum terus, tapi dia tahu tidak bisa sembarangan bertindak karena kalau ketahuan oleh yang lain, entah bagaimana dia harus menjelaskan, lagi pula akan ditaruh ke mana mukanya jika cintanya hanya bertepuk sebelah tangan saja, belum lagi jika bicara semua perbuatannya terhadap Siti selama mereka berkenalan dulu, rasanya dia ingin menghilang dari permukaan bumi. Sekarang mereka sudah ada di ruang tengah sambil menikmati kopi mereka, dan kebetulan pula mereka adalah pria-pria yang tidak suka mengisap rokok dan makan sirih, mereka hanya penikmat kopi dan tuak (minuman keras) yang sekali-kali mereka minum kalau sedang berada di luaran bersama. Setelah sejenak mereka duduk dengan diam dan santai, Basri mulai membuka pembicaraan,”Uda Bumi, bagaimana dengan usul kami tadi, kami hendak ambil puteramu sebagai murid kami, uda bisa pilih salah satu dari kami yang menurut uda pantas menjadi guru putera uda.” Sekarang wali Bumi merasa menghadapi dilema, di satu sisi dia tidak ingin berpisah dengan anaknya walaupun anaknya nakal tapi tetap menjadikannya sebagai penghiburan dan pengisi hatinya yang sepi sejak ditinggal oleh isteri tercinta. Tapi di lain pihak dia sadar dan merasa bangga bahwa tokoh-tokoh ternama di dunia persilatan seperti adik-adik angkatnya ini ingin menjadikan anaknya sebagai murid mereka. Tetapi memilih salah satu dari mereka itu lebih memusingkan kepala karena dia tidak ingin menyinggung perasaan adik-adiknya itu. Dia sudah mengangkat saudara dengan mereka, dan mereka memposisikan diri menjadi adik-adik angkatnya didasarkan pada usia dia yang memang lebih tua dari yang lain bukan dari peringkat ketinggian ilmu silat dan kepandaian lainnya. Dibandingkan dengan Basri, dia tidak bisa menyamai kecerdikan adiknya yang satu ini, dengan Masnan dia kalah dalam hal tenaga dalam, apalagi dengan Kahar dia kalah segala-galanya dari segi ilmu silat maupun tenaga dalam, adik mereka yang paling muda ini memang mempunyai ilmu silat dan tenaga dalam yang paling mumpuni diantara mereka. Tapi yang membuat dia selalu bangga menjadi kakak mereka adalah mereka tidak pernah mempermasalahkan dan membangga-banggakan kepandaian mereka, mereka tetap menghormati dia dan selalu minta pendapat dia untuk hal-hal yang mereka rasa mereka memerlukan pendapatnya dalam mengambil keputusan. ”Basri, aku pada prinsipnya tidak keberatan kalian menjadi gurunya Aswin, tapi kalau disuruh pilih salah satu aku susah jadinya, belum lagi kalian pasti ingin membawa Aswin ke rumah kalian untuk dilatih, sedangkan dia masih terlalu kecil untuk jauh-jauh dari aku dan Siti.” ”Uda, jangan menguatirkan kami akan tersinggung nanti jika uda memilih salah satu diantara kami menjadi guru Aswin, kami akan menerimanya dengan lapang dada karena kami yakin pasti uda sudah memikirkan terbaiknya bagi putera uda. ” kata Basri. ” Uda, kami berjanji pada uda untuk tidak merasa tersinggung atau marah pada uda, kalau uda memilih salah satu dari kami, tenang saja uda, kami kan bukan lagi anak-anak yang sedang memperebutkan mainan, tapi kami sungguh-sungguh ingin membantu uda untuk memberikan putera uda yang terbaik, bukan begitu uda Masnan dan uda Basri ?” sambung Kahar. Bersambung……… No virus found in this outgoing message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.7/1284 - Release Date: 17/02/2008 14:39 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet. - Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting. - Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi. - Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
