Von: "Darwin Bahar" <[email protected]>
An: "'Palanta Rantaunet'" <[email protected]>
Cc: [email protected]
Betreff: Re: Aw: Kapa Tuo Habibie eks Jaruman Tumur - Re: [R@ntau-Net] Salahgu
> Aw: Kapa Tuo Habibie eks Jaruman Tumur - Re: [R@ntau-Net] Salahgu
> Mon Mar 25, 2013 5:15 pm (PDT) . Posted by:
> "Muljadi Ali Basjah"
> Assalamualaikum Wr.Wb. Yth. Bapak Darwin Bahar. Per-tama2
> saya mohon maaf seandainya "bla bla" saya yang secara langsung
> maupun tidak, juga disisi lain mungkin sedikitnya telah
> mengecewakan Bapak Darwin.
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh Angku Muljadi. Mohon maaf baru dapat menanggapinya sekarang.
> Saya bukanlah bermaksud yang demikian, ataupun yang bertendensi
> kearah situ, tetepi hanya mengeluarkan pendapat saja, agar supaya
> tidak terlalu dicultus individukan seseorang itu.
> Terserah siapa individunya, agar supaya tidak terlalu kecewa
> nantinya, seandainya tahu lebih mendalam lagi, tentang persona
> yang dimaksudkan.
Agak tercengang saya dikatakan hendak mengultus-individukan seseorang Padahal saya hanya ingin melihat—kalau yang dimaksudkan Angku Muljadi dengan Pak Habibie—secara utuh, dari sisi kekurangan dan kelebihannya. Kalau benar katakan benar, kalau salah katakan salah.
> Saya rasa Bapak Darwin yang telah berusia 69 Thn, cukup mengerti
> apa itu sampah Nuk ataupun berapa kurun waktu (ratusan
> tahunkah??) sinarnya bisa meredup alias tidak membahayakan lagi.
> Standard2 yang diperlukan, yang memenuhi persyaratan Manusiawi,
> untuk membuat tempat..... katakanlah dengan
> santai...�KUBURAN NUK� Dimana lokasi KUBURAN NUK itu
> yang (telah) bakal dipilih.
Usia 69 tahun hanya menggambarkan jumlah tahun yang saya jalani, tidak berhubungan dengan kearifan dan kepintaran. Saya malahan sering merasa diri saya lugu dan bodoh.
Sekalipun demikian, sebodoh-bodohnya saya, sedikit-sedikit saya paham juga mengenai bahaya limbah beracun, termasuk limbah nuklir, terhadap lingkungan hidup. Apa lagi selama 14 tahun bekerja di ENCONA Engineering (1984-1998), 12 tahun saya habiskan di Divisi Teknik Lingkungan. Saya juga mengikuti dengan prihatin musibah kebocoran reaktor nuklir di Chernobyl, Rusia, pada tahun 1986 serta bocornya reaktor nuklir di Okumamachi, Prefektur Fukushima, Jepang, sebagai akibat bencana alam Maret 2011.
Bahkan saya tidak pernah bermimpi Indonesia perlu PLTN seperti yang digagas Pak Habibie, karena termasuk yang berangapan, bahwa Indonesia masih mempunyai sumber energy terbarukan yang berlimpah seperti air, panas bumi dan energi surya.
Hanya saja, sejak mulai mengakses internet di tahun 1997 yang lalu serta hampir 10 tahun terakhir ini menjadi anggota Milis Lingkungan, saya belum pernah membaca Pak Habibie—termasuk dari lawan-lawan politiknya—terlibat impor limbah nuklir ke Indonesia. Ini tentu tidak berarti bahwa bahwa pemberitaan majalah "Der Spiegel" itu salah. Bisa saja benar.
Kalau benar, di sini lah ironinya.
Negara-negara industri maju ingin lingkungannya bersih sesuai dengan standar-standar yang mereka tetapkan. Untuk memenuhi ini mereka tidak jarang mengekspor limbah beracun ke negara-negara berkembang/miskin. Lalu media masa mereka mengangkat hal ini dan menyalahkan negara-negara berkembang/miskin atas terjadinya ‘skandal’ tersebut.
Seakan-akan, limbah beracun tersebut bisa berjalan sendiri ke negara-negara berkembang tersebut!
Walaupun demikian, sekiranya Pak Habibie benar-benar terlibat dalam impor sampah nuklir ke Indonesia, beliau pantas dihukum berat. Tidak ada pembelaan untuk itu.
> Pertengahan tahun 1993 saya diundang oleh seorang kandidat Doktor
> di Univ. Giessen, fakultas Fisika, kemungkinan besar beliau juga
> orang UI langsung, entah sbg. Staff Pengajar atau orang
> Laboratoriumnya, saya tak ingat lagi.
> Beliau sangat baik sekali orangnya, telah berkeluarga 2 anak
> kecil dengan seorang istri, dan kalau tak salah, mungkin anak
> yang ke-3 lahir disini.
> Apakah beliau yang menjabat Ketua ICMI seJerman ataukah hanya
> Ketua Regional sahaja pada era saat itu, saya tak begitu ingat
> lagi, yang pasti beliau orang Minangkabau.
> Beliau menawarkan saya masuk keanggotaan ICMI, sewaktu saya
> diundang keapartementnya. Sebelum saya mengisi Formulir
> Pendaftaran, sbg. Anggota sesuatu Organisasi, saya terlebih
> dahulu membaca Anggaran Dasar Organisasi tsb.
> Dalam hal, ini saya minta beliau memberikan saya terlebih dahulu
> Anggaran Dasar ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia).
> Setelah saya baca, langsung saya tolak dengan alasan, Bahasa
> Indonesia saya, menurut saya relativ jelek, karena selain saya
> hanya hingga SMA diRI kemudian langsung kuliah Technik ke-Jerman.
> Selanjutnya hampir tak ada mempergunakan Bahasa Indonesia.
> Dibanding kollega2/teman2 saya yang meneruskan karir/garis
> hidupnya diIndonesia.
> Menurut saya yang awam ini A.D. ICMI yang pada saat itu bahasa
> Indonesianya bukanlah level anak SMA, melainkan lebih rendah lagi.
> Adapun menurut pandangan saya, dengan nama organisasi yang begitu
> cemerlang Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia, tetapi gaya
> tulisan A.D.nya yang pada saat itu sangat berlawanan sekali
> dengan makna kata Cendikiawan yang ditambah dengan kata Muslim.
> Ini pendapat saya yang membaca A.D. ICMI yang pada saat itu
> pemakaian Bahasa Indonesianya kurang baik.
> Saya menapik menjadi Anggota karena Bahasa Indonesia saya yang
> �plintat plintut� saja, jauh masih lebih bagus dari
> Bahasa Indonesia A.D. Pada saat itu.
> Itu saya katakan langsung kepada Kandidat Doktor Fisika tsb. Saya
> bakal malu sekali, andaikata seseorang atau sekelompok orang yang
> berAgama/Bangsa lain mencemoohkan saya dengan Bahasa Indonesia
> hanya sebegitu saja, tapi berani menggunakan kata Cendikiawan
> Muslim Indonesia.
> Kebanyakan yang saya lihat pada saat itu, banyak yang menjadi
> Anggota2 ICMI, sangat menonjolkan titel2 kesarjanaannya, Malah
> yang masih kandidat saja sudah membubuhi titel yang masih belum
> diperoleh, dengan membubuhi KAND./Cand./Kandidat, kurang lebih
> begitulah kira2nya.
> Semisal yang punya banyak Titel kesarjanaan, yach &.berleretlah
> Titelnya..., istilah saya bagaikan Jendral2 Rusia yang memakai
> Pakaian Upacara keMiliteranya, singkatnya istilah disini kaya
> �Pohon Natal�.
> Kebanyakan, Mahasiswa2 Indonesia yang diJerman pada saat itu,
> yang saya tahu, umumnya tanpa/sonder membaca A.D. langsung saja
> isi Formulir jadi Anggota.
> Misal yang di P.P.I. (Persatuan Pelajar Indonesia) -nya, begitu
> juga yang Y.M.A.E. (The Young Muslim Association in Europe).
> ataupun Perkumpulan2 yang lainnya.
> Malahan yang Ketua Regional saja (maaf, bukan maksud saya untuk
> bersifat negatip, mereka2 ini adalah teman2 saya sendiri, yang
> malahan lebih Senioran dari saya) tak mengerti beda Hak Suara dan
> Hak Bicara dalam Bahasa Indonesia, kononpula bagaimana nantinya
> membaca Kontrakt/UU/AD. dalam Bahasa Jerman yang umumnya jauh
> lebih sukar dari Bahasa Inggris (maaf, ini pendapat saya yang awam).
> Bagaimana sekirannya mereka2 ini membaca buku2 pelajaran di
> Matakuliah mereka, atau andaikata esoknya menjadi Petinggi
> diIndonesia, menjadi Wakil Indonesia di Negara Asing ataupun
> di-UNO dsb.dsb.dengan keterbiasaan2 seperti ini?????
> Maka dari itu & syukurlah, seorang teman saya yang lebih Senior
> (Sekarang beliau menjadi Guru Besar, satu dari Univ. ternama di
> Indonesia, orang Minangkabau juga) menghimbau saya dan beberapa
> teman lainnya membentuk team di kota Univ.Giessen ini
> membuat/memodifikasi menambal sulam A.D. P.P.I. serta Y.M.A.E.
> pada kisaran akhir 70-an. Beliau dengan rajin menghimbau,
> mengetuk hati kami, agar bersedia memperindah/menyempurnakan A.D.
> dengan cara didaktik yang sangat sederhana sekali......yakni
> �“hanya sebegitu saja bisanya kamu ini.“..�
> Supaya saya tidak kebagian rezeki nomplok kebagian kalimat
> mukjizat tsb., maka saya berusaha peras otak saya sebaik mungkin.
> Malahan sewaktu mau menggoalkan A.D. Y.M.A.E. di-Mesjid kota
> Univ. Aachen pernah saya diketawai oleh beberapa Senior2 dari
> Kota Lain dan atau Negara Lain.
> Mayoritas mereka berpendapat HALAL dan SYAH itu artinya sama,
> kebetulan saja, saya yang membuat Bab tsb.
> Langsung dengan sedikit malu dan berusaha berlaku sopan dengan
> etika hormat kepada Senioran, saya memohon kepada Audience agar
> supaya Ulama saja(maksud saya yang sebenarnya agar salah seorang
> yang Senior menerangkannya, bukan saya, segan se-akan2 menggurui
> yang Senior ) yang menjelaskan ketidak samaan arti SYAH & HALAL tsb.
> Wah... malahan satu ataupun beberapa diantara Audience ada yg
> nyeletuk secara serentak; �yang hadir disini hampir semuanya
> Ulama�.Kontan terbesut tawa ria para Audiance. Saya sangat malu sekali
> jadinya, dan sayapun merasa sangat dipermalukan, entah dengan
> secara disengaja ataupun tidak, hanya yang bersangkutan dan yang
> diAtaslah yang tahu.
> Dengan tabah, hati panas, tapi kepala dingin, saya hanya
> memberikan contoh saja, yakni: „Seandainya saya nikah
> dengan wanita Jerman di Jerman ini, harus memenuhi persyaratan
> U.U. R.F.J (Republik Federasi Jerman) yang berlaku, lalu saya
> dengan Wanita tsb. menghadapi Hakim di Catatan Sipil RFJ, setelah
> upacara Nikah selesai, perkawinan itu baru SYAH. Tetapi sayang
> belum HALAL. Agar supaya HALAL....., nah saya wajib mendatangi
> Ulama Islam, misalnya satu diantara Audience yang Hadir, lalu
> dinikahkan secara ISLAM dengan persyaratannya, barulah SYAH
> pernikahan tersebut“.
> Selanjutnya saya berkata, „jikalau para Audience mau
> ber-bincang2 serta berfilsafat ber-Bahasa Arab, maafkan saja,
> saya dengan hormat mau mohon diri,.... permisi tidak bakal
> bersedia menghadiri Rapat selanjutnya. Alasannya, karena saya tak
> faham bahasa Arab“.
> Singkat cerita, A.D. kami itu tembus, apakah dipakai atau
> dipergunakan hingga sekarang saya tah tahu.
> Karena tak lama sesudah itu saya mengundurkan diri dari YMAE,
> padahal saya malah ditawarkan menjabat Sekertaris, oleh Ketua
> YMAE yang baru terpilih pada saat itu, seorang Dr. Med.
> Secara sopan saya tolak, walaupun beliau itu Senioren saya, yang
> tinggal di kota Univ. Giesen, Univ. tempat beliau menamatkan
> kuliahnya, dan kebetulan saja saya juga menamatkan kuliah saya
> dikota yang sama.
> Setelah itu, saya ada mendengar sedikit berita......kabar2nya...
> DuBes Saudi utk Jerman Barat pada saat itu yang sangat spendable,
> kabarnya leluhur beliau berasal dari tanah Palembang (Palembani).
> Apa & bagaimana kelanjutannya, sayang saya tak mendengarnya sama
> sekali.
> Sampai saat ini, seandainya saya diundang dan diizinkan yang
> diAtas, saya ada juga bertemu, bersilaturrahim dgn berapa
> Mahasiswa Indonesia maupun Asing, baik yang berupa Islam dlm
> bentuk pengajian dll, Kultur & Pendidikan.
> Pada Era Beasiswa2 yang Bapak Darwin sebutkan, saya ada juga datang.
> Yach macam2lah cerita yang saya dapatkan. Malahan tanpa mendapat
> ceritapun, hanya dari melihat seri-wajah dan tindakan mereka2,
> menurut hemat saya, serta perlakuan2 para Senior terhadap yang
> mudaannya. Menurut saya kurang pantas, sangat feodalismus sekali.
> Walaupun saya pada saat itu agaknya sudah dikatagorikan sebagai
> Senior ditilik dari perilaku mereka kesaya yang hormat. Walaupun
> bukan itu yang sebenarnya yang saya maui, melainkan berlaku apa
> adanya, tanpa tatakrama feodalismus, yang mana.... saya sangat
> allergie dengan tatacara kebiasaan2 seperti ini.
> Beasiswa yang keJerman ini pada saat itu hingga kini, ada macam
> ragamnya-nya Pak Darwin, beda Sponsor beda Dana, beda tempoe
> datang uangnya. Apa gerangan penyebabnya.... dengan sedikit
> fantasi mungkin bisa diterka Pak Darwin.
Terima kasih atas info yang panjang lebar ini, walaupun—maaf—tidak ada hubungan langsung dengan posting saya sebelum ini.
> Maaf saya tak bisa lebih
> mendetail. Kebebasan Pers ....., diJerman ini...... Pers Bebas
> Mutlak, setahu saya tidak/belum ada.
Lho, kapan saya bicara mengenai ‘Pers Bebas Mutlak’. Saya bicara (dibandingkan dengan periode Pak Harto), Pers Indonesia di zaman Pak Habibie (jauh) lebih bebas. Malahan sepanjang yang saya ketahui, kebebasan pers di Indonesia saat ini adalah yang paling maju dibandingkan dengan negara-negara lainnya di Asia Tenggara (CMIIW)
> Idealnya...., yang haus Infos, musti mau mencari Infos dari
> setiap Sumber (Koran/Majalah/TV/Radio/Google) sebanyak mungkin
> dari bermacam Bangsa dan dari pelbagai penjuru mata-angin.
> Setelah itu, barulah bisa membuat kesimpulan yang kurang lebih
> �di-takok2� dengan mengombinasikan kumulativ Infos yang
> diperoleh tadi,.... istilah saya �membaca/menafsirkan yang
> tersirat diantara baris2 tulisan� yang ter(di)tulis &
> dimengerti . Timor-Timur/Timor Leste
> Maaf Pak Darwin, saya awam Pak Darwin, yang pernah saya dengar
> sedikit tentang peperangan yang mempergunakan Helikopter Buatan
> Indonesia Lisensi MBB dll. dsb.
> Entah bagaimana terjadinya, izinkanlah saya yang awam ini,
> mengibaratkan Timor-Timur itu seumpama �'bak lepas dari
> Mulut Buaya, tapi jatuh kejurang Singa�.
Paling tidak mereka sekarang menjadi negara merdeka. Kalau meminjam semboyan para pejuang kemerdekaan RI dulu, daripada hidup berputih mata lebih baik mati berkalang tanah (merdeka atau mati).
Menurut saya yang daif ini, bangsa yang tidak mampu memanfaatkan kemerdekaan bagi kemakmuran masyarakatnya adalah bangsa yang bodoh, sedangkan bangsa yang senang terjajah asalkan makmur adalah bangsa yang berjiwa budak.
> Saya sangat prihatin sekali melihat nasib Timor-Timur itu, saya
> tilik dari segi Pendidikan. Di Sana yang dipakai sebagai Bahasa
> Pengantar diSekolah adalah Bahasa Portugis, buku2 dari Portugis.
> Jangankan Rakyat jelatanya, sedangkan Guru2nya sendiri kabar2nya
> tak faham Bahasa Portugis. Nah untuk mengerti suatu Bahasa-Asing,
> manusia itu musti mempunyai Bahasa Dasar.
> Akan bagaimanakah nasib saudara2 kita, disana dalam kurun waktu
> jangka panjang nantinya dengan (system) Pendidikan yang sangat
> menyedihkan sekali itu...????
> Setiap tahunnya kalau saya tak lupa, kabar2nya Timor-Timur
> berhutang sekitar 60 Juta US Dolar entah keSiapalah (itu
> irrelevans), sementara itu yang memberi janji2 angin Syorga
> jaminan keamanan dll. dsb sebelumnya, menurut saya yang awam ini,
> hanya janji2 saja.
> Mereka2 hanya duduk2 saja, ibarat Bodyguard/Centeng saja,
> mungkin2 saja ujung2nya kalau Timor-Timur kelilit utang yang
> berjibun, baru dibuat kontrakt baru tentang pertambangan Minyak
> Fosil yang diduga relativ banyak disepanjang pantai Perairan
> Timor-Timur tsb.
> Sebagai pembanding, lihallah Negara Indonesia saja yang
> berdaulat, yang banyak cerdik pandainya, … juga yang sangat
> berutung, mempunyai Bahasa Indonesia …...hitung2 pukul
> rata......nasibnya masih merana, entah di-bodoh2i oleh siapa, itu
> lain thema. Irian Barat, setahu saya dari segi Fauna saja, kalau
> saya tak lupa kira2 70% macam2 dari Unggas/Burung2an Didunia ini,
> berada di Irian. Itu belum bicara tentang Geozoological Perikanan
> maupun Flora, Hutan2 maupun kekayaan lainnya yang diperut bumi
> dll. dsb. dsb.
> Lihat saja Tambang kita (maaf, apa iya kita yang punya??) yang
> dikelola oleh Asing, semua Tanah2/Hasil Tambang bulat2 langsung
> dinaikan kekapal, dibawa kenegerinya.
> Siapa yang bisa/boleh/sanggup/berhak kontrol......, Benda2 berupa
> apa2 saja yang diperoleh dari hasil tambang tersebut Pak
> Darwin?????
> Apakah ada Journalist Indonesia yang memberitakannya secara
> seksama tanpa aksen2 yang di delegasi oleh........ katakana
> sajalah beberapa gelintir manusia?
Maaf, saya tidak punya kapasitas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.
> Malahan Pak Darwin berpendapat, saya kutip kalimat Pak Darwin
> �Malah secara pribadi� melihat kondisi masyarakat Papua
> sampai saat ini (dulu saya pernah 4 kali ke sana)�saya lebih
> suka Papua lepas saja dari Indonesia.�
> Saya mohon sudilah kiranya Pak Darwin yang saya hormati, memberi
> tahu saya, apa gerangan yang mengakaibat Pak Darwin berkesimpulan
> sedemikan sangat dan teganya?????
Simpel saja Angku Muljadi, apa yang saya tidak suka terjadi di kampung halaman saya, saya juga tidak suka terjadi di kampung halaman orang lain. Kata orang itu kemampuan berempati.
> Kalau saya tak lupa pelajaran
> Sejarah, dahulu semasa masih disekolah di Medan, Bapak Haji Agus
> Salim yang menjabat MenLu yang berupaya sangat banyak....,
> menggegerkan PBB/Dunia.
> Urang awak Juo kalau ambo indak salah, beliau yang memang
> berperawakan kecil, konon pula dari perspektiv mata kepala orang2
> yang berasal dari Ras Kaukasia.
> Nah jerih payah, sesamo Urang Awak mau disia-siakan begitu saja.
> Sedangkan Bulando ngak punya Daratan, berikhtiar mengupayakan
> Laut jadi Daratan.
> Malah SingaPura membuat usaha yang serupa, tapi tak sama , mereka
> membentuk dari Sampah2 yang dinetralisir dan dimodifikasi secara
> ilmiah menjadi daratan. Belum lagi bantuan2 dari Urang2 Indonesia
> yang membawa Pasir2/Tanah2 via Tongkang/Kapal2 secara
> Legal/Illegal entahlah pak Darwin.
> Sudah tentu Ibu Rina Permadi yang saya hormati, ataupun
> Dunsanak-Palanta yang merantau di Batam bisa menambah Infos yang
> lebih luas dan mendetail dibanding saya yang awam ini Pak Darwin.
> UU Otonomi daerah dll. dsb.
> Maaf Pak Darwin, saya tidak ingin berpolemik baik dengan Bapak
> Darwin yang saya hormati, maupun dengan siapa saja di Palanta ini.
> Saya bermaksud hanya mau belajar berMinang2, belajar bahasa dan
> bertaratik Minangkabau. Mungkin dikarenakan, kedua OrangTua saya
> berasal dari Minangkabau......., mungkin juga karena akibat
> pengaruh dari (banyak) mendengar/mambaca Cerdik-Pandai
> Minangkabau yang banyak saya kagumi. Makanya saya yang tak
> berarti ini, berpatisipasi sebisa saya.
> Saya ini bak Kentut didalam Angin-Topan, maaf istilah yang kurang
> baik, tetapi sedikit jenaka. Mungkin ipengandaian yang agak lebih
> baik, bagaikan bagian yang terkecil dari Molekul, didalam Jagat
> Raya yang tak ada artinya.
> Manurut saya, yang banyak kurang baik itu bukanlah UU-nya,
> melainkan pelaku2 nya yang tidak menjalankan UU secara konsekwen.
> Yang saya lihat, Indonesia itu kaya raya, penduduknya Mayoritas
> Islam ca.90%, Negara yang Penduduk Islamnya terbesar didunia.
> Kalau jumlah Haji yang terbesar juga dari Indonesia kabar2nya,
> selebihnya Pak Darwin malah lebih faham dari saya.
> Nah bagaimana Pemimpin Indonesia yang semuanya Muslim,
> tetapi...........apakah mereka berperilaku dan bertindak seperti
> yang diajarkan Islam????
> Saya sendiri memeluk agama Islam, walaupun saya pernah belajar
> agama lain, berteman dengan Pastor2 baik Katholik maupun
> Protestan, Pendeta2 Agama lainnya, berusaha sebisanya, tidak
> memalukan agama Islam.
> Malahan seandainya saya tergiur masuk keAgama mereka, kalau
> ditilik hanya dari segi karir dan keuangan sajalah......pendeknya
> bakal di-katrol oleh lobby2 Agama yang dipilih tersebut.
> Fungsional sebagai pembawa bendera, untuk diperlihatkan secara
> tidak langsung (istilah saya... yang mungkin kurang cocok)
> Makanya tidak bisa disalahkan, sebagian dari kaum2 kita.... yakni
> mereka2 yang pindah ke-Agama lain tersebut, tergiur karena
> mungkin tak makan, labil, ataupun melihat tingkah polah Petinggi
> yang serba punya. Mencuri untuk makan, dengan mencuri untuk kaya
> luxus dll itu beda, menurut saya yang awam ini Pak Darwin.
> Jadi yang salah itu bukanlah Islamnya, melainkan Muslimnya,
> kurang lebih saya analogkan saja, UU itu tak salah, hanya Pelaku
> yang menjalankannya yang tak konsekwen. Maafkan saya Pak Darwin
> yang saya hormati, seandainya kata2 saya yang kurang taratik
> menurut ethika Minangkabau (ini bukan pledoie, tetapi saya memang
> lahir dirantau hingga SMA lalu Langsung ke Jerman), saya sangat
> respekti pendapat Bapak Darwin, dan saya sangat bergembira sekali
> mendapat tambahan2 informasi dari Bapak Darwin. Tersambil maaf
> saya, juga saya mintakankan kepada Pembaca2 yang Budiman, yang
> tidak sependapat dengan saya, terutama sekali tentunya kepada
> mereka2 yang telah mengidolakannya.
Terima kasih atas uraian yang panjang lebar. Tidak ada komentar dari saya
> Terimakasih atas kemakluman dan maafnya, saya ucapkan sebelumnya.
Terima kasih sama-sama
Wassalam, HDB SBK (L, 69+), Depok
Wassalam,
hormat saya, Muljadi Ali Basjah. Saya minta Pak Darwin,
kalau bisa himbau saya terserah dengan apa saja, tapi mohon
janganlah panggil saya"Angku" Gesendet: Montag, 25.
März 2013 um 09:50 Uhr
Von: "Darwin Bahar" <[email protected]>
Apa yang salah dengan sapaan ‘Angku’?
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
