Assalamu'alaikum Warahmatullahi,

 

OOT sharing cerite nih !

 

Cerite Mancing kat Pulau Setokok

 

"Yu, tak mancing ?

 

Itulah bunyi SMS pagi Sabtu ini dari tetanggaku yang sekarang ketagihan
mancing ke laut. Ketagihannya ini berawal dari kami juga, aku dan Papanya
Zaki, Zaki adalah anakku yang tertua. 

 

Berawal dari SMS itu akhirnya kami bersepakat untuk pergi memancing ke Pulau
Setokok di daerah Barelang sore harinya. Pulau Setokok adalah tetangganya
Pulau Batam. Dia berada diantara Pulau Rempang dan Galang. Bila anda
menyisiri jalan panjang yang menghubungan antar pulau diluar Batam ini, dia
berada setelah jembatan ketiga sebelah nganan dari jembatan satu yang
menjadi ikon Pemerintahan Pulau Batam ini. Terima kasih banyak tidak lupa
saya ucapkan pada Pak Habibie atas usaha dan jerih payahnya di masa dulu
sehingga terbangunlah jalan dan jembatan yang memungkinkan kami bisa
berkendaraan roda empat ke Hinterland sana dengan begitu mudahnya. Bumm..
bum.. udah bisa pindah-pindah pulau.

 

Perairan laut Propinsi Kepulauan Riau ini memang benar-benar ramai oleh
pulau-pulau. Banyak sekali bertebaran di laut onggokan-onggokan pulau besar
dan kecil. Bentuknyapun bermacam-macam. Ada yang seperti bukit lancip,
landai, berbatu, penuh pohon dan bahkan ada yang hanya pasir putih saja.
Bila Tekong Kapal tidak begitu mengenal wilayah perairan laut kepulauan ini
dengan baik, maka akan sangat berbahaya. Kapal bisa kandas dan menyebabkab
baling-baling kapal tersekat bahkan hancur bila menghantam batu karang yang
tidak menyembul di atas air disebabkan pasang tinggi.

 

Saya pikir mukaddimahnya udah kelewat panjang, udah ah, yok kita mancing !

 

Papa Zaki mengantarkan kami ke pelantar panjang yang sekaligus menjadi
sebuah restoran laut yang bersih bernama Restorant Seafood Rindu Alam.
Ceritanya yang mau mancing cuma anak-anak dan mak-maknya aja. Para Bapak
sudah ditakdirkan dari sononya untuk giat bekerja di kantor masing-masing di
hari libur Sabtu ini. Di depan pintu restorant telah berdiri si Kakak yang
punya restorant sambil tersenyum melihat kesibukan kami menurunkan
peralatan.

 

Zaki dan Cica yang ikut serta sudah berlari ke pelantar asyik melihat-lihat
ikan-ikan yang berteduh dibawah tiang-tiang pelantar. Pekikan mereka
terdengar bikin pengeng telinga pas ada 3 ekor ikan Todak besar dengan
damainya bergerak dipermukaan air yang jernih itu.

 

Sebelum turun kami memesan 2 buah kelapa muda yang terlihat sangat segar di
taruh begitu saja di lantai kayu pelantar itu. Sambil menunggu ABK kapal
kayu itu memuat peralatan mancing dan bekal yang kami bawa dari rumah, kami
menyesap air kelapa yang begitu segarnya sambil memandang lautan dan
pulau-pulau yang indah permai. Bila membawa anak-anak, bekal biasanya
membludak berkali-lipat. Yah.. semua serasa perlu saja untuk dibawa. Alhasil
kembunglah dua ransel besar penuh bekal makanan dan minuman. 

 

Sambil menikmati kelapa muda yang manis dan segar ini, kami ditemani oleh si
Kakak yang punya restoran ini ikut duduk bersama. Dia bercerita tentang
restoran yang masih tahap memulihkan diri. Lama restorant ini ditutup karena
kurang modal untuk membeli hasil-hasil laut dalam kondisi hidup. Harga-harga
yang melambung tinggi seiring dengan harga Solar yang juga tanpa segan-segan
merangkak tinggi. Manambah sulit kehidupan nelayan di pulau itu. Ketika
masih ada Pak Ismet (eks Gubernur Kepri), mereka lumayan diperhatikan. 

 

Rumah-rumah yang tak layak dapat bantuan bahan bangunan sehingga bisa
dibangun ulang dan jumlahnya tidak sedikit, hampir semua rumah tak layak
mendapatkan jatah. Pak Ismet dulu sering turun langsung melihat kehidupan
mereka. Apa yang mereka butuhkan bisa langsung dibantu walau tidak semua.
Sekarang untuk mengajukan pinjaman saja susah. Kampung kami sekrang seperti
kurang perhatian pemerintah. Dulu sering sekali ada acara, Kakak dulu juga
sering lihat bukan kesini," tanya si Kakak empunya restorant. Aku hanya
menganggukkan kepala menyiyakannya. Manggil orang kok ya panjang kali, 'Si
Kakak yang punya restorant' lain kali akan aku tanyakan namanya.  Habis
sampai sekarang nama si Kakak itu kami ga tau, lupa terus untuk nanya,
hihiihii.

 

Satu orang Tekong kapal, satu ABK, dua nyonya muda dan dua anak kecil yang
riang gembira. Kami mulai turun ke kapal dengan Bismillah, semoga kita semua
selamat dan dapat tangkapan yang banyak, ga perlu besar sangat. Haa, mengapa
gak perlu besar sangat?. Sebab kalau terlalu besar biasanya pancing kami
putus atau tidak sanggup untuk menarik ikannya. Bikin jantung mpot-mpotan
aja dan penasaran hingga turun mancing lagi.

 

Yok kita ke Kalo dulu, begitu bunyi instruksi Si Abang Tekong. Kalo adalah
sebutan sebuah pulau yang merupakan batas akhir dari kepulauan di daerah
Setokok ini. Setelah pulau Kalo terlihat laut yang luas dan hanya nampak
batas pulau samar di kejauhan. Arus di selat Kalo ini cukup kuat, sehingga
kami harus persiapkan pemberat timah yang cukup besar. Zaki dan Cica tidak
mau ketinggalan. Mereka berdua berebut minta disiapin pancingnya dengan
umpan-umpanan yang cantik. Cica memakai tiruan kepala cumi dan Zaki memakai
popper ikan-ikanan warna biru perak keorenan. Haa. tergiur dengan tayangan
Mancing Mania Trans 7 dan Mata Pancing Yes yang di MNC TV. Namun tak lama,
diapun nyerah berganti pancing dasaran sebab sambaran tak kunjung didapat.

 

Umpan yang kami gunakan adalah umpan udang hidup yang kami beli di pengepul
di Pulau Akar Jembatan Satu Barelang sana. Satu kilo dihargai 70 ribu dengan
catatan semuanya hidup dan segar. Lebih murah daripada beli di restoran yang
menjamur di pinggir jalanan Barelang ini. mereka menjualnya dengan harga 150
ribu rupiah. Di Pulau Setokok juga banyak udang, tapi udangnya mati karena
hasil dari jaring. Bukan diciduk satu-satu pake alat khusus tangkapan udang
yang terbuat dari kawat jaring yang berbentuk bulat. Udangnya dijebak satu
persatu di air pantai yang sedang surut di malam hari menggunakan cahaya
lampu sorot yang menempel di kepala mereka.

 

Harga udang Apollo yang hasil jaring itu sebagai udang yang paling mahal
untuk kebutuhan ekspor dijual ke pengepul 105 ribu rupiah. Sedangkan udang
jenis berbeda yang sangkut di jaring mereka dijual di warung-warung di
Setokok seharga 50 ribu saja. Bedanya udang Apollo ini, warnanya putih susu
dengan kaki dan sisungut bewarna pink agak orange seukuran jempolan kaki.
Bila di steam, rasanya tiada duanya. Mengalahkan rasa Lobster. Apabila kami
apes tidak mendapati udang jenis lain untuk memancing, maka udang Apollo
inilah satu-satunya jalan keluar dengan sangat berat hati. Sebab rasa udang
yang ditukar dengan ikan yang di dapat kalah jauh. But, ape nak kate kata si
Abang Tekong. Pilihannya turun mancing atau melamun membiarkan ikan-ikan
yang berseliweran di pikiran sambil duduk manis di rumah. Gak deh !

 

"Rrrrrrrrrr... Rrrrr.. Haaa. fish on," teriak Zaki.

Maaa. Mama. pancing Zaki nyangkut.," Teriak dia lagi.

"Nyangkut di ikan itu Zaki," kata si Abang Tekong.

 

Dengan susah payah Zaki memutar reelnya. Akhirnya seekor ikan Bulus besar
landed dengan mantapnya. Zaki langsung bersorak sambil menekuk lengannya dan
berteriak 'Yes' dengan gaya yang membuat kami semua tertawa. Ikan Bulus
biasanya hidup di perairan pantai yang berpasir. Daging ikan ini sangat
lezat namun ukurannya biasanya kecil-kecil. Namun di Setokok ini Bulus yang
didapat sering berukuran besar, sangat sedap digoreng sekejap hanya dengan
bumbu garam dan siraman jeruk nipis dimakan dengan nasi panas dan teman
'sambalado matah' plus timun.

 

Tidak berapa lama saya berhasil menaikkan seekor pari coklat berbintik biru
yang cantik ukuran 2 kg. Berganti-ganti ikan dasaran kami menaikkan ikan
dasar mulai dari Katarab, Becuk, Kaci, Ungar, Amoy, Kerapu, Tambak, dan
tidak lupa si ikannya orang Batam yaitu Lencing. Ikan Lencing adalah momok
yang menyebalkan para pemancing di laut. Ikannya berukuran kecil tapi sangat
angresif dengan umpan. Bila ada lencing makan maka kalau kita tidak
berpindah tempat maka bisa dapat seember si Lencing itu. Si Ikan congok luar
biasa. Berbeda kalau kita turun di perairan jembatan enam, maka Ikan
Kerisilah yang mendominasi, namun Ikan Kerisi yang berwarna pink cantik itu
lebih enak dagingnya daripada Si Lencing yang 'congok bin cama' ini.

 

Jam telah menunjukkan angka empat  sore. Si Abang Tekong memberi instruksi
lagi untuk kami siap-siap pindah tempat. Sore hari adalah waktunya untuk
memancing di Rumpon.  Rumpon yang dimilikinya ini adalah buatan si Abang
Tekong ini. Rumpun dibuat dua tahun yang lalu sebanyak dua tempat berbeda.
Rumpon dibuat dari batu-batu yang diangkut dari pulau-pulau kecil
didekatnya. Pohon-pohon tumbang dan kemudian dililit dengan tambang besar.
Sebuah pekerjaan berat mengingat semuanya dikerjakan di kedalaman laut.
Rumpon merupakan rumah untuk ikan-ikan kecil bersembunyi dan ikan dasaran
membangun sarang. Karena ikan-ikan kecil banyak berkumpul, maka ikan-ikan
permukaan banyak mendekat. Karena ketersediaan makanan mereka berupa
ikan-ikan kecil.

 

Rumpon yang dibangun dua tahun yang lalu ini, sekarang telah bisa
menyediakan berbagai ikan permukaan yang selalu dalam rombongan-rombongan
besar ingin memangsa ikan-ikan kecil di rumpon. Namun ukurannya masih belum
seperti di lautan lepas. Diantaranya Ikan Selar, Kembung, Plata, Tamban,
Talang, Tawas, Tenggiri, Selikur dan Sagai (GT). Memungkinkan kita untuk
memancing dengan teknik Rawai dan Popper. Namun sekali lagi ukuran mereka
belum seperti yang dilautan lepas sebab kedalaman terdalam dari laut Setokok
hanya 20-30 meter saja. Namun ide si Abang Tekong yang rajin ini boleh
diacungi jempol. Dulu sebenarnya dia juga mengajak nelayan yang lain, tapi
malah ditertawai mereka. Sehingga hanya dia dan pamannya saja yang
mengerjakan semua rumpon itu. Dan Alhamdulillah sekarang sudah bisa memetik
hasilnya. 

"Kami tidak malu lagi membawa pemancing turun sebab hasilnya lumayan dan
tidak malu-maluin," kata si Abang Tekong dengan ramah.

 

Mata pancing rawaipun dilempar dengan mantapnya. Ujungnya yang diberi
pemberat melayang menjauhi kapal. Ikan-ikan permukaan terlihat berkecipak
dipermukaan air, entah dikejar apa. Tali pancing harus siap dengan sambaran
ikan permukaan yang selalunya tiba-tiba. Sekali lempar, pancing kami
mendapat sambaran. Ikan tidak mudah menyerah, tandanya yang menyambar jenis
yang lumayan seperti talang, selar dan selikur. Tali dibawa lari ke kiri dan
kanan kapal. Wow benar saja, begitu reel diputar, terihatlah ikan Talang
yang bertotol hitam dengan kulit peraknya, kemudian menyusul selar dua ekor
kuningnya dan selikur dua ekor.  Joranpun melengkung menahan berat ikan yang
naik sekaligus itu. Rrrrr.  Rrrrr.. Rrrrrr. akhirya si cantik-cantik ini
landed dengan mantap. Tos dulu. tos dulu. Cica dan Zaki sibuk bertos ria,
padahal mereka tidak ikut mancing, hanya sibuk memunguti ikan yang
berjatuhan seperti hujan di lantai kapal.

 

Kotak biru tempat ikanpun mulai penuh. Kamipun bertolak ke pelantar.
Terbayang sudah kuliner yang menanti masing-masing jenis ikan ini.
Istimewanya Restorant Rindu Alam ini, mau memasakkan ikan-ikan yang kami
dapatkan sesore itu. Ada asam pedas kerapu, bakaran pari yang wangi dan
pedas dengan bumbu kari dan perasan jeruk nipis, ada steam udang dan sop
kepiting. Tak lupa sayur baby kailan menambah nikmat makan sore setelah
bersih-bersih dan sholat di restorant itu. Kebahagiaan dua keluarga itu
bertambah lengkap dengan bergabungnya si Abang Tekong dan anaknya, ABK, Papa
Zaki dan Farrel juga Ayah Cica yang baru pulang kantor, meramaikan suasana
makan di pinggiran laut itu. 

 

Yah. kenapa kita tidak mau mengeksplornya ?

 

Sungguh nikmat TuhanMu yang manakah yang kamu dustakan ?

 

 

Salam "Fresh from the sea"

 

Wassalam

Rina, 35, Batam

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke