Sanak sapalanta, Mari kito kaji ulang soal kakuih ko nan dulu panah di kaji di palanta ko. Baa ka turih ka datang, kalau binguang dima dan baa caro buang hajat.
---------- Forwarded message ---------- From: <[email protected]> Date: 2013/4/4 Subject: Fw: [IDN] Fw: [Imsa-us] Fw: Toilet, Anak Tiri di Negeri Ini To: [email protected] Sent via BlackBerry from T-Mobile ------------------------------ *From: * Priyo Pujiwasono <[email protected]> *Sender: * [email protected] *Date: *Thu, 4 Apr 2013 15:23:34 -0700 (PDT) *To: *[email protected]<[email protected]> *ReplyTo: * [email protected] *Subject: *Re: [IDN] Fw: [Imsa-us] Fw: Toilet, Anak Tiri di Negeri Ini Pak Usman & all: Ini bukan masalah Indonesia saja, tapi di hampir semua negara berkembang. Cell phone lebih mudah didapat dari pada toilet, begitu kesimpulan UN study baru-baru ini. http://newsfeed.time.com/2013/03/25/more-people-have-cell-phones-than-toilets-u-n-study-shows/ Solusi yang sederhana sudah ada sebenarnya, mungkin bisa dipromosikan lewat TF Livable Cities? -- khususnya untuk daerah yang sulit mendapatkan air bersih. Walau mungkin solusi ini tidak menyelesaikan masalah untuk keperluan turis. http://www.nytimes.com/2011/09/27/health/27toilet.html?_r=0 Sedihnya lagi, sekarang ini gerakan KB di Indonesia kabarnya gagal. Dengan alasan apapun, saya tak habis pikir di kota-kota besar di Jawa yg sudah begitu padat (dan kurang fasilitas sanitasi), kok masih ada yang percaya gerakan banyak anak = ibadah atau banyak rejeki, not to mention gerakan poligami....:( Salam, PP ------------------------------ *From:* Usman Hamdani <[email protected]> *To:* [email protected] *Sent:* Thursday, April 4, 2013 3:37 PM *Subject:* Re: [IDN] Fw: [Imsa-us] Fw: Toilet, Anak Tiri di Negeri Ini Salam diaspora, Soal toilet memang parah sekali di RI, malah turis jadi enggan untuk berkelana disana karena masalah itu ada diseluruh Indonesia. Dua contoh pengalaman: 1. Saya dan isteri bertamasya di Kawah Putih lewat Ciwidey sana. Pemandangan bagus, udara sejuk lalu kami perlu toilet. Ada satu toilet disitu, saya periksa dulu sambil isteri nunggu agak kejauhan. Begitu saya buka pintu WC nya, saya terpukul keras oleh bau yg sangat meyengat dan pemandangan yg sangat menjijikkan. Lantai toiletnya ukuran kira-kira 1 meter x 1 meter penuh najis / tinja /excrement. Toilet nya jelas tidak mungkin dimasuki jadi tidak bisa dipakai. Kami terpaksa buru2 kembali ke Bandung untuk urusan yg cukup gawat. 2. Putra dan putri saya [lahir dan dibesarkan di Kanada] naik bis dari Banda Aceh --> Melaboh ---> Tapaktuan ---> Kutacane ---> Medan ---> Jambi ---> Lampung ---> Merak --->Tangerang. Mereka bilang toilet2 disepanjang jalan adalah sangat "disgusting, horrible, shocking", dll kata yg jelek. Mereka jadi kapok, ngak mau lagi bepergian ke pedesaan disana, walaupun mereka mengakui alam pemandangan yg indah. Sangat disayangkan penduduk sebanyak 240 juta belum bisa mengatasi masalah ini yg dihadapi setiap hari. Malu rasanya kalau harus impor "foreign plumbers" untuk membereskan nya. Barangkali uang hasil korupsi harus disita dan sebagiannya dipakai untuk "plumbing research"? Secara realistis saya kurang optimis gerakan memperbaiki plumbing bisa berkembang dengan pesat karena sejak merdeka sekitar 24000 hari yg lalu belum nampak usaha masyarakat yg nyata dlm hal ini. Malah masalahnya tambah ruwet karena padatnya penduduk. Usman Hamdani Canada On 2013-04-04, at 8:24 AM, [email protected] wrote: Sobat Diaspora, Nampak urusan perkakusan bisa dijadikan bagian bakti sosial CID2. Ada yang tertarik? Sent via BlackBerry from T-Mobile ------------------------------ *From: * [email protected] *Sender: * [email protected] *Date: *Thu, 4 Apr 2013 12:14:30 +0000 *To: *imsa us<[email protected]> *ReplyTo: * [email protected] *Subject: *[Imsa-us] Fw: Toilet, Anak Tiri di Negeri Ini Alhamdulillah ada sekelompok orang pintar dan baik hati di tanah air yang mau memikirkan nasib toilet. Semoga gerakan ini berkembang dengan pesat. Semangat!! Wassalam, Indah Sent via BlackBerry from T-Mobile ------------------------------ *From: * "Sunny" <[email protected]> *Sender: * [email protected] *Date: *Wed, 3 Apr 2013 23:58:00 +0200 *To: *<Undisclosed-Recipient> *ReplyTo: * [email protected] *Subject: *[ppiindia] Toilet, Anak Tiri di Negeri Ini http://blog.suaramerdeka.com/?p=323 Toilet, Anak Tiri di Negeri Ini posted March 23, 2013 by Bambang Isti / No Comments / 552 views NEGERI ini masih parah dalam urusan perkakusan. Lihat saja, lebih dari dua jutaan anak di Indonesia, dalam setiap 14 detik satu orang dari mereka meninggal. Ini akibat penyakit yang bersumber dari ketiadaan toilet yang memadai. Inilah keprihatinan Asosiasi Toilet Indonesia (ATI) saat menyikapi fakta, di Indonesia berada diurutan 12 dari 18 negara terjorok di Asia dalam urusan perkakusan itu. Menurut Naning Adiwongso, Ketua ATI saat berjunjung ke Kota Kudus untuk menyaksikan peluncuran program sanitasi sekolah pertengahan Maret lalu, di negeri ini toilet belum menjadi bagian dari budaya bersih. “Itu disebabkan karena jumlah penduduk kita yang semakin besar dan perubahan iklim dan tidak punya toilet layak yang menyebabkan penyakit bisa menyebar ke mana-mana,” kata Naning Adiwongso. Menurut Naning, orang sering mengabaikan adanya toilet, padahal itu kepentingan kita tiap hari. Maka jika bicara masalah toilet jangan lagi menjadi hal yang tabu, misalnya seringnya orang menyebutnya dengan kamar kecil, atau kamar belakang yang seilah toliet menjadi anak tiri di rumah sendiri, terpuruk di belakang dalam kodisinya pengap, kotor dan berbau. Menurut Naning, “Kita harus mengedukasi pada masyarakat. Bayangkan manusia itu memiliki antara 120 – 250 gram tinja setiap hari. Bagaimana kalau ini tidak dikelola dan dimenej dengan benar. Maka kita bisa mulai dari sekolah. Karena sekolah adalah agen perubahan itu,” katanya. Masih kata Naning, “Di sekolah kita bisa mengajarkan bagaimana memiliki toilet yang bersih, menghemat air. Padahal toilet harus higien dan bukan sekadar bersih saja,” papar Naning Adiwongso. Menurut dia, untuk menjadikan budaya toilet bersih memang sudah dimulai di tempat-tempat umum seperti SPBU, hotel tapi belum seluruhnya ada di tempat-tempat wisata dan terminal bus. “Karena dengan toilet bersih kita bisa mengangkat derajat bangsa,” pungkasnya. Jumlah penyakit Soal posisi Indonesia itu, “Ya memang kita masih memiliki toilet yang sangat buruk dibandingkan negara-negara lain. Posisi Indonesia berada di atas Vietnam, tapi di bawah Filipina, Thailand, Malaysia, dan Singapura,” kata Naning. Naning menyambung, World Toilet Summit secara berkala mengeluarkan daftar jumlah penyakit yang paling banyak terdapat di toilet. Asosiasi Toliet Indonesia berdiri pada 2001. Perjuangan Naning diakuinya, tak semudah yang dibayangkan orang. Da bahkan biasa ditertawai atau dicemooh seperti saat meminta bantuan ke kementerian yang berkorelasi dengan pembangunan infrastruktur dan kesehatan. Apa komentar mereka. “Kan sudah ada MCK infrastruktur untuk mandi, cuci, kakus,” . Maka Naning pun ngotot bahwa ini bukan hanya urusan keberadaan MCK, tapi bagaimana membangun toilet yang bersih dan kering dan membudayakan masyarakat Indonesia untuk sadar kebersihan toilet. Beruntung, gerakannya itu kemudian didukung Menteri Kebudayaan dan Pariwisata waktu itu, I Gede Ardhika. Asosiasinya mulai menerbitkan stiker dan poster mengkampanyekan toilet kering dan bersih. Konsentrasi dimulai pada toilet umum di jalan-jalan, terminal, bandara, dan mal. Setelah itu, toilet sekolah menjadi perhatiannya. “Saya pelajari banyak anak yang memilih menahan buang hajat lantaran toilet di sekolah bau, kotor, dan tidak sehat,” kata Naning dalam sambutannya di Kudus. Untuk itu, ATI mulai menyiapkan anak sekolah sebagai agent of change. Mereka adalah masa depan negara ini. Pembelajaran tentang sanitasi menjadi program yang sangat tepat di terapkan di sekolah-sekolah. (*) [Non-text portions of this message have been removed] __._,_.___ Reply via web post<http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/post;_ylc=X3oDMTJyMjltYWdqBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzQ4OTM3NjcEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MzI5NzI5BG1zZ0lkAzEzMDUzNgRzZWMDZnRyBHNsawNycGx5BHN0aW1lAzEzNjUwMjYyODU-?act=reply&messageNum=130536> Reply to sender <[email protected]?subject=Re%3A%20Toilet%2C%20Anak%20Tiri%20di%20Negeri%20Ini%20> Reply to group <[email protected]?subject=Re%3A%20Toilet%2C%20Anak%20Tiri%20di%20Negeri%20Ini%20> Start a New Topic<http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/post;_ylc=X3oDMTJlZXRkbjA5BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzQ4OTM3NjcEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MzI5NzI5BHNlYwNmdHIEc2xrA250cGMEc3RpbWUDMTM2NTAyNjI4NQ--> Messages in this topic<http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/message/130536;_ylc=X3oDMTM4YXJtbmw1BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzQ4OTM3NjcEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MzI5NzI5BG1zZ0lkAzEzMDUzNgRzZWMDZnRyBHNsawN2dHBjBHN0aW1lAzEzNjUwMjYyODUEdHBjSWQDMTMwNTM2>(1) Recent Activity: - New Members<http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/members;_ylc=X3oDMTJmdW9rZ2cwBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzQ4OTM3NjcEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MzI5NzI5BHNlYwN2dGwEc2xrA3ZtYnJzBHN0aW1lAzEzNjUwMjYyODQ-?o=6> 3 Visit Your Group<http://groups.yahoo.com/group/ppiindia;_ylc=X3oDMTJlYzF2N2MzBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzQ4OTM3NjcEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MzI5NzI5BHNlYwN2dGwEc2xrA3ZnaHAEc3RpbWUDMTM2NTAyNjI4NA--> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [email protected] 5. No-email/web only: [email protected] 6. kembali menerima email: [email protected] [image: Yahoo! Groups]<http://groups.yahoo.com/;_ylc=X3oDMTJkNDBnZTJsBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzQ4OTM3NjcEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MzI5NzI5BHNlYwNmdHIEc2xrA2dmcARzdGltZQMxMzY1MDI2Mjg1> Switch to: Text-Only<[email protected]?subject=Change%20Delivery%20Format:%20Traditional>, Daily Digest<[email protected]?subject=Email%20Delivery:%20Digest>• Unsubscribe <[email protected]?subject=Unsubscribe> • Terms of Use <http://docs.yahoo.com/info/terms/> • Send us Feedback <[email protected]?subject=Feedback%20on%20the%20redesigned%20individual%20mail%20v1> . __,_._,___ -- -- --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ - Informasi lengkap tentang seluruh kegiatan IMSA kunjungi http://imsa.us/ - Anda memerlukan bantuan silahkan kirimkan ke http://helpdesk.imsa.us - Belajar tentang Islam atau Tahsinul Qur'an mingguan hubungi: [email protected] - Acara di Radio IMSA : http://www.radioimsa.org/daily/ - Fundraising untuk IMSA : http://www.goodsearch.com/?charityid=860734 -~----------~----~----~----~------~----~------~--~--- --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "imsaus" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke imsaus+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. -- You received this message because you are subscribed to the Google Groups Indonesian Diaspora group. To post to this group, send email to [email protected]. To unsubscribe from this group, send email to [email protected]. For more options, or to change your membership format please visit this group at https://groups.google.com/d/forum/cid2012?hl=en.You can modify your membership to "digest", "no email", "all emails", or "abridged", for your comfort. --- You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Indonesian Diaspora" group. To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email to [email protected]. For more options, visit https://groups.google.com/groups/opt_out. -- You received this message because you are subscribed to the Google Groups Indonesian Diaspora group. To post to this group, send email to [email protected]. To unsubscribe from this group, send email to [email protected]. For more options, or to change your membership format please visit this group at https://groups.google.com/d/forum/cid2012?hl=en.You can modify your membership to "digest", "no email", "all emails", or "abridged", for your comfort. --- You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Indonesian Diaspora" group. To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email to [email protected]. For more options, visit https://groups.google.com/groups/opt_out. -- You received this message because you are subscribed to the Google Groups Indonesian Diaspora group. To post to this group, send email to [email protected]. To unsubscribe from this group, send email to [email protected]. For more options, or to change your membership format please visit this group at https://groups.google.com/d/forum/cid2012?hl=en.You can modify your membership to "digest", "no email", "all emails", or "abridged", for your comfort. --- You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Indonesian Diaspora" group. To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email to [email protected]. For more options, visit https://groups.google.com/groups/opt_out. -- Wassalaamu'alaikum Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta), suku Mandahiliang, lahir 17 Agustus 1947. nagari Gasan Gadang, Kab. Pariaman. rantau Deli, Jakarta, kini Sterling, Virginia-USA ------------------------------------------------------------ -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
