Assalamualaikum w.w. Sanak Lembang Alam dan para sanak sa palanta,

Jika kita perhatikan benar-benar, tulisan-tulisan Sanak Lembang Alam -- bersama dengan tulisan-tulisan Dinda Suheimi -- dalam RN ini membawa suasana damai, sejuk, dan manusiawi. Tambahan lagi, Sanak Lembang Alam secara halus mengajak kita semua untuk membuang jauh-jauh 'tempurung' yang selama telah menutup mata hati serta alam fikiran kita, tanpa perlu meninggalkan keminangkabauan kita. Sanak Lembang Alam mengajak kita melihat dan merenung dunia yang lebih luas dari sekedar nagari, Ranah, Sumatera Barat, atau Indonesia sekalipun. Beliau mengajak kita mensyukuri, menikmati, dan merenung mengenai ciptaan Ilahi. Kali ini dalam  sajak yang sejuk, tanpa berhiba-hiba, Sanak Lembang Alam mengajak kita meresapkan keprihatinan seorang perempuan Sunda, yang menyampaikannya ke kakangnya, Cecep.

Sanak Lembang Alam, terimalah salam hormat  saya. Lanjutkanlah  amal jariah ini, dan usahakanlah menerbitkannya sebagai buku.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, 70+6+10, Jakarta)
'Ya Allah, tunjukilah selalu aku jalan yang lurus dan Engkau ridhoi'
'Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya'
'Taqdir di tangan Allah swt, Nasib di tangan Manusia'
'Puji syukur aku sampaikan pada-Mu ya Allah, atas segala rahmat dan nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepada aku dan keluargaku'.
'Mari berlomba berbuat kebaikan'
'Setiap manusia adalah baik, sampai terbukti sebaliknya'
'Jangan pernah berhutang dan jangan mudah berpiutang'


--- On Sat, 2/16/08, Muhammad Dafiq Saib <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Muhammad Dafiq Saib <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Puisi 'KETIKA'
To: [email protected]
Date: Saturday, February 16, 2008, 9:47 PM


Assalamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
 

KETIKA

 

Hujan turun tak henti-henti ketika itu, kang Cecep

Tidak sekedar membasahi bumi sawah dan ladang, lembah dan gunung

Hujan lebat, kang Cecep

Disertai petir halilintar

Hujan yang sama seperti dulu-dulu juga

Hujan air  dari langit diturunkan menggemuruh oleh Yang Maha Mengatur

 

Hujan turun tak henti-henti hari itu, kang Cecep

Air, dimana-mana air melimpah meruah membanjiri bumi

Air berwarna coklat pekat menghantam membawa hanyut

Menerjang apa saja yang melintang malang

Menerjang tidak saja rumah reyot dan jembatan reyot

Meluluhlantakkan semua bangunan yang mencoba menghalang merintang

 

Air, dimana-mana air melimpah meruah membanjiri lembah

Dan sawah berpuluh, beratus, beribu hektar sawah, kang Cecep

Semua tenggelam ditelan air bah yang sangat dahsyat

Padi yang baru setinggi betis mulai akan berisi umbut

Handam karam tak berdaya, kang Cecep

Tambak udang dan ikan bandeng hilang lenyap tak berbekas

 

Dan sawah berpuluh, beratus, beribu hektar sawah

Handam karam tenggelam dalam duka nelangsa tak bertara

Tiada daya tiada kekuatan sedikit juapun

Yang dapat menahan murkanya alam Allah Yang Maha Kuasa

Entahlah kalau ini masih cobaan Allah, kang Cecep

Entah barangkali ini justru murka Allah

 

Jangan salahkan saya ketika saya dulu tidak mau pergi jadi TKW, kang

Jangan salahkan saya ketika saya dulu menolak dijadikan pahlawan devisa

Uang tidaklah seberapa artinya kang Cecep, seperti yang selalu akang ingatkan

Dan saya tetap istiqomah menjaga kehormatan akang di kampung ini, kang Cecep

Di kampung yang kini sedang digenangi dan ditenggelamkan air

Saya memperlindungkan diri saya kepada Allah dari segala fitnah yang mungkin melanda

 

Namun hukuman ini ternyata untuk kita semua, kang Cecep

Untuk saya dan seisi negeri lumbung beras ini

Sepertinya tiada ada perkecualian, habis digasak air bah

Air yang datang melimpah ruah melebihi yang diperlukan makhluk

Yang tubuhnya sebagian besar terdiri dari air

Yang hidupnya sangat bersandar pada keberadaan air

 

Air tiba-tiba jadi begitu bengis, kang

Begitu garang dan tak kenal ampun

Dalam pakaian seragam coklat tua dia menerjang

Tiada ada sebarang apa yang dapat membujuk merayunya

Tebing, dinding, empangan tak kuasa berkutik

Tunduk sujud bersimpuh dan terkapar

 

Tangis anak-anakmu tak bisa dihentikan malam itu kang Cecep

Tangis takut dalam lapar dan takut dan lapar dalam dingin

Dan dingin luar biasa kang Cecep

Dingin akibat guyuran hujan dan tiupan angit berdesau menderu

Mencekam dan menambah kegalauan di kalangan

Hamba-hamba yang ternyata sangat lemah semua

 

Telah terendam Kerawang sampai ke  Rengas Dengklok, kang Cecep

Berpuluh, beratus, beribu hektar sawah dan tambak

Hilang sia-sia tidak ada yang dapat diharapkan lagi

Dimangsa bencana yang gagah luar biasa

Membuat manusia pongah sadar bahwa dirinya tiada apa-apa

Dibandingkan kekuatan yang berasal dari Yang Maha Pencipta

 

Ini bukanlah waktu yang tepat untuk mencari kambing hitam

Di hulu Cisadane sudah lama tidak cukup lagi kayu di hutan penahan air

Seperti di hulu-hulu sungai yang manapun di pulau ini

Dan saya tidak mengkambinghitamkan sesiapapun, kang

Ini bukan sekedar bencana

Tapi sebuah peringatan telak

 

Ketika akhirnya hujan berhenti jua kang Cecep

Tapi air tidaklah serta merta surut meninggalkan genangan bah yang merendam

Air coklat keruh masih terhampar sejauh mata memandang

Merendam rumah reyot jembatan reyot bahkan rumah pak lurah dan pak camat

Air dimana-mana, air keruh coklat tua

Menghanyutkan bangkai ternak yang sebentar lagi pasti akan membawa wabah

 

Ketika semua derita ini nanti insya Allah kan berakhir jua, kang

Akankah para tetangga, para warga, para penduduk faham

Akankah mereka  mampu membaca tanda-tanda ciptaan Gusti Allah Yang Maha Kuasa

Akankah mereka taubatan nasuha

Akankah mereka berubah

Akankah mereka insaf dan sadar

 

Telah terlalu banyak dosa ditabur selama ini, kang Cecep

Dosa ketika para wanita mendurhaka suami mereka pergi menjadi TKW

Atau bahkan yang lebih parah jadi pelayan nafsu iblis jalang

Ketika ibu bapa mereka melihat uang kertas dengan mata hijau

Ketika mata mereka sendiri hijau dengan bujuk rayu

Di kota dan di negeri asing memetik duit semudah membuka busana

 

Saya meminta ampun untuk mereka semua, kang

Saya memohon kiranya hati mereka ditunjuki Gusti Allah

Agar kiranya mereka kembali ke jalan Gusti Allah

Agar para warga itu memohon ampun kepada Gusti Allah

Dengan demikian saya berharap musibah berat ini

Tidak lagi datang sesudah ini

 

Ketika saya menulis ini awan mendung masih mengintai, kang

Pasrah, hanya itu yang dapat kami perbuat

Berserah diri menggumamkan doa dengan sujud simpuh dalam basah kuyup

Tetaplah berjuang disana, kang

Tetaplah tawakkal disana, di rantau orang itu, kang Cecep

Tetaplah amanah dan menjaga dirimu kang, dari murka Allah

 

 

                                                            *****

 

 




Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke