Dari milis tetangga. Kahlil Gibran menulis puisi ini pada tahun 1900 dan dipublikasikan 1933. Semoga ada manfaatnya utk kita. Amiinnn...
KASIHAN BANGSA ~ Kahlil Gibran Kasihan bangsa yang mengenakan pakaian yang tidak ditenunnya, memakan roti dari gandum yang tidak ia panen, dan meminum susu yang ia tidak memerasnya. Kasihan bangsa yang menjadikan orang dungu sebagai pahlawan dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah. Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur, sementara menyerah padanya ketika bangun. Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan, tidak sesumbar kecuali di reruntuhan, dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya sudah berada di antara pedang dan landasan. Kasihan bangsa yang negarawannya SERIGALA, filosofnya gentong nasi, dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru. Kasihan bangsa yang menyambut PENGUASA BARUNYA dengan TEROMPET KEHORMATAN, NAMUN MELEPASNYA DENGAN CACIAN, hanya untuk MENYAMBUT PENGUASA BARU LAIN, dengan TEROMPET LAGI. Kasihan bangsa yang ORANG SUCINYA DUNGU menghitung tahun-tahun berlalu, dan ORANG KUATNYA MASIH DALAM GENDONGAN . Kasihan bangsa yang TERPECAH-PECAH, dan MASING-MASING PECAHAN, MENGANGGAP DIRINYA SEBAGAI BANGSA. Pity The Nation… Pity the nation that is full of beliefs and empty of religion. Pity the nation that wears a cloth it does not weave, eats a bread it does not harvest, and drinks a wine that flows not from its own wine-press. Pity the nation that acclaims the bully as hero, and that deems the glittering conqueror bountiful. Pity a nation that despises a passion in its dream, yet submits in its awakening. Pity the nation that raises not its voice save when it walks in a funeral, boasts not except among its ruins, and will rebel not save when its neck is laid between the sword and the block. Pity the nation whose statesman is a fox, whose philosopher is a juggler, and whose art is the art of patching and mimicking. Pity the nation that welcomes its new ruler with trumpeting, and farewells him with hooting, only to welcome another with trumpeting again. Pity the nation whose sages are dumb with years and whose strong men are yet in the cradle. Pity the nation divided into into fragments, each fragment deeming itself a nation Khalil wrote this early in the 1900s (published in 1933 in The Garden of the Prophet). "A Portrait is a Landscape of Emotion" - Powered by http://nofrins.west-sumatra.com -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
