Rabu, 20 Februari 2008 


Oleh : Musfi Yendra, Wakil Direktur  S.I.S



”Tidaklah semua yang populer itu orang besar, dan tidak semua yang besar itu
orang populer.”  ( Dikutip oleh HAMKA dari Jurji Zaidan). Tanggal 17
Februari ini, kita memperingati se-abad Hamka. Kita mengenal Hamka sebagai
seorang icon. Karya-karyanya dibaca, ketokohannya diteladani,
keintelektualitasannya dijadikan referensi. Siapa sebenarnya Hamka?

Bernama Haji Abdul Malik Karim Amarullah (Hamka) teman-temannya di masa
kecil memanggilnya Maliak atau Malik,  lahir pada 17 Februari 1908, di desa
Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat. Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim
bin Amarullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul merupakan pelopor Gerakan
Tajdid (pembaharu) di Minangkabau. Hamka lebih akrab dipanggil dengan  Buya.
Hamka adalah ulama yang sangat dikenal dengan kearifan, kebijaksanaan,
kecendikiaan dan kebesaran hati. Beliau wafat di Jakarta 24 Juli 1981 dengan
mewariskan karya-karya besar tidak kurang dari 120 karya. Karya monumental
beliau adalah Tafsir al Azhar yang ditulis semasa di penjara. 

Di balik kebesaran nama Hamka, saya juga ingin menyampaikan otokritik
terhadap beliau. Menurut saya, Hamka lebih cenderung single fighter dan
tidak melakukan kaderisasi siapa penggantinya. Semestinya Hamka melakukan
proses pengkaderan sebagaimana yang dilakukan oleh Haji Rasul terhadap
dirinya. Juga seperti ulama-ulama besar lain yang punya murid pelanjut
pemikiran dan perjuangan, sebut saja Imam Syafi’i terhadap Ibnul Qayyim
Aljauzi. Sangat banyak sisi ketauladan yang harus kita ambil dari beliau
tanpa ada batas. Kearifan, kebijaksanaan, kecendikiaan dan kebesaran hati
beliau sangat pantas untuk kita adopsi dalam kehidupan. Bukan bertujuan
mengkultuskan Hamka, tapi sebagai pelajaran hidup untuk generasi yang berada
di tubir juram atau ombak besar di zaman yang sangat mengkhawatirkan ini. 

Agar lahir Hamka-Hamka baru kita harus melakukan beberapa hal. Pertama,
kemauan individu /ibada’ binnafsih.  Hamka menjadi besar/tokoh karena
belajar secara otodidak dengan membaca/mempelajari karya tokoh-tokoh besar
Islam dan Barat membuktikan beliau berjuang mengembangkan diri. Kemauan
mengembangkan diri juga beliau lakukan dengan banyak belajar dari
tokoh/guru/ulama lain dengan bertanya dan berdiskusi. Bergaul dengan lintas
generasi dan lintas ilmu. Kedua, membaca, berdiskusi dan menulis.
Intelektual dan kecendikian akan lahir dari budaya membaca, berdiskusi dan
menulis. Ini mutlak harus dilakukan. Sejak kecil Hamka adalah orang yang
sangat gemar membaca banyak buku dan karya-karya besar. Beliau rajin
berdiskusi dan sering melakukan perdebatan dengan teman-temanya seperti
Djamil Jambek dan Natsir. Dari budaya membaca dan berdiskusi itu beliau
lanjutkan dengan menulis. 

Ketiga, memanfaatkan teknologi. Hamka bukanlah orang yang dibesarkan karena
kecanggihan teknologi tapi tingkat produktivitasnya sungguh sangat luar
biasa. Semestinya kemajuan teknologi harus hari ini diarahkan pada hal-hal
peningkatan/up grade diri generasi. Keempat, komitmen, tegas dan berjiwa
besar. Proses Hamka dalam banyak organisasi dan juga kerterlibatan dalam
aktivitas partai politik bukanlah karena ikut-ikutan tapi diikuti dengan
militansi yang tinggi. Ketegasan menjadi pelengkap kepribadian Hamka apalagi
itu menyangkut hal-hal sangat prinsip dalam pemahaman beliau, terbukti
ketika beliau mengundurkan  diri dari jabatan sebagai Ketua MUI karena tidak
sependapat dengan pemerintah. Berjiwa besar membuat kelapangan dan kemurahan
hati beliau. Pada tahun 1964-1966 Hamka pernah dipenjarakan oleh Presiden
Soekarno karena dianggap pro-Malaysia.

Tapi beliau tidak pernah dendam terhadap orang yang mendzhalimi sekalipun.
Buktinya Hamka adalah imam shalat jenazah ketika Soekarno meninggal. Kelima,
ibadah yang benar. Kekuatan terbesar yang dimiliki Hamka dalam berkarya
adalah ketaatan beliau kepada Sang Khalik. Ketika dipenjara dua tahun oleh
pemerintah Soekarno, beliau bisa melahirkan karya besar Tafsir Al Azhar
sebanyak lima jilid. Apa yang membuat beliau melakukan itu tidak lain adalah
kekuatan hubungannya dengan Allah SWT. Ketika ingin menjadi Hamka baru maka
kita harus membenarkan/memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dengan
peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah. Selamat datang Hamka baru!  ***

 

 

http://www.padangekspres.co.id/content/view/2578/45/

 


No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.8/1288 - Release Date: 19/02/2008
20:47
 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke