http://­www.suara-islam.­com/read/index/­6554/­Surat-Terbuka-Ma­jelis-Mujahidin­-Soal-Ajaran-Sy­iah-di-Buku-Pel­ajaran-SD-Sumat­era-Barat
 : Orde Syi’ah mulai ekspansi ke daerah-daerah di Indonesia dan menyebarkan 
paham sesatnya melalui buku-buku pelajaran sekolah. Ada tiga judul buku: 
Dosa-Dosa besar Meruntuhkan Amal Kebajikan, Kisah-Kisah Ajaib, dan Qalbun 
Salim, yang secara khusus diedarkan untuk anak SD dan dibagikan di sejumlah SD 
di Sumatera Barat, dengan menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) APBD Sumbar 
tahun 2010.

Ketiga buku tersebut karangan Prof. Dasteghib, dan diterbitkan oleh Penerbit 
Cahaya dan Penerbit Qarina, yang beralamat JL. Siaga Darma VIII No. 32 Pejaten 
Timur Pasar Minggu Jakarta Selatan,12510. Penerbitan dan penyebaran buku-buku 
tersebut berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam No. 
Dj.I/375/2009.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka sebagai institusi pengawal penegakan 
Syari’ah Islam Majelis Mujahidin menyampaikan appeal dan protes keras terhadap 
penyebaran buku tersebut, dan penyimpangan pengalokasian dana untuk kepentingan 
penyebaran paham Syi’ah yang bertentangan dengan ajaran Islam yang diajarkan 
oleh Rasulullah Muhammad Saw. Dengan mengijinkan dan mendanai penerbitan serta 
penyebaran buku-buku tersebut menunjukkan bahwa:

1. Dirjen Bimas Islam telah menyalahgunakan­ kewenangan melegalisasi ajaran 
sesat Syi’ah, yang oleh Depag (Kemenag) RI dinyatakan bertentangan dengan Islam 
dalam Surat Edaran Nomor: D/BA. 01/4865/1983, 5 Desember 1983 tentang, “Hal 
ihwal Mengenai Golongan Syi’ah” yang menyatakan bahwa ajaran Syi’ah tidak 
sesuai bahkan bertentangan dengan ajaran Islam.

2. Pemerintah Daerah Solok, Sumatera Barat, telah melakukan penyelewengan Dana 
Anggaran Khusus (DAK) untuk pengadaan dan penyebaran buku-buku yang berisi 
doktrin dan paham sesat Syi’ah menggunakan APBD Kabupaten Solok tahun 2010.

3. Isi buku-buku tersebut menista agama Islam untuk kepentingan paham tertentu 
(Syi’ah). Beberapa penyimpangan isi buku-buku tersebut antara lain:

Buku Dosa-Dosa Besar : Propaganda Aqidah Syi’ah

1) Api neraka tidak membakar syi’ah/syi’ah tidak akan masuk neraka.

“Umar bin Yazid berkata, “Saya bertanya kepada Imam Ja’far al-Shadiq as.: ‘saya 
mendengar Anda mengatakan bahwa semua Syi’ah Anda akan memasuki surga betapapun 
mereka berbuat dosa?’ Imam menjawab, ‘Demi Allah, aku benar-benar 
mengatakannya. Mereka semua akan masuk surga.’ Kemudian saya bertanya lagi, 
‘Jiwa saya sebagai tebusan Anda, sekalipun dosa-dosa mereka begitu besar?’ Imam 
menjawab, ‘Kalian semua akan memasuki surga dengan syafaat Nabi saw atau para 
khalifahnya (imam) pada hari kiamat.” (Hal. 11).

2) Doktrin agar menjadi syiah sejati

Syi’ah Sejati, Mereka yang Mengikuti (Menaati) Para Imam:
Benar, kita dapat memberikan gelar syi’ah kepada individu-indivi­du yang 
mengikuti imam dalam semua aspek karakter dan perkataan. Karena itu, Bab 
al-Hawaij Imam Musa al-Kazhim berkata, “Syi’ah kami hanyalah orang-orang yang 
mengikuti kami (dalam semua aspek), melangkah dalam jejak kaki kami, dan meniru 
amal-amal kami.” (Bihar al-Anwar). Yaitu orang-orang yang disebut dalam 
al-Qur`an sebagai Khairul Bariyyah (manusia terbaik).

Allah telah mendefinisikan orang-orang seperti itu sebagai khoirul barriyah 
dalam Al-Qur’an: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, 
mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. (al-Bayinah: 7)

Nabi saw diriwayatkan telah menerangkan bahwa khoirul bariyyah merujuk kepada 
Syi’ah (pengikut) Ali: “Wahai Ali, khoirul barriyah artinya engkau dan 
syi’ah-syi’ah-m­u. Pada hari kiamat, mereka akan ridha dengan apa yang Allah 
limpahkan kepada mereka, dan mereka pun akan diridhai oleh Allah.” (Tafsir 
al-Thobarsi manaqib khwarazmi, Ibnu Hajar) (hal. 18-19)

3) Yang beriman dengan wilayah/ imamah dijamin selamat.

Tak diragukan bahwa orang yang memiliki wilayah (menjadikan pemimpin, 
mencintai) Ahlulbait berhak mendapatkan keselamatan. Sesungguhnya, dia akan 
bersama para nabi as dan imam maksum.

Imam al-Ridha berkata, “Allah akan menghimpun syi’ah-syi’ah kami pada hari 
pengadilan dalam suatu kondisi sedemikian rupa sehingga wajah-wajah mereka 
kemilau dengan cahaya. Argumen-argumen­nya menjadi nyata dan hujjahnya jelas 
dihaapan Allah. Adalah wajib bagi Allah untuk menhimpunkan syi’ah-syi’ah kami 
dengan para nabi, para syahid, dan orang-orang yang benar, pada hari keputusan. 
Orang-orang ini adalah sebaik-baik pengikut.” (Bihar al-Anwar)

Pengertian Wilayah: Sehubungan dengan pengertian kata ‘wilayah’, termaktub 
dalam kitab Majma al-Bahrayan: “Wilayah adalah kecintaan kepada Ahlulbait. 
Konsekuensi alamiah dari kecintaan itu adalah mengikuti mereka dalam 
masalah-masalah­ keagamaan, memenuhi kewajiban-kewaj­iban yang disematkan 
kepada kita, dan menjauhi hal-hal yang dilarang. Wilayah adalah melangkah di 
atas jejak-jejak kaki Ahlulbait, mengikuti cara-cara mereka dalam perbuatan, 
perilaku, dan perkaatan.”

Wilayah Ali bin Abi Thalib adalah benteng-Ku. Maka barang siapa yang memasuki 
benteng-Ku, dia aman dari murka-KU.” (‘Uyun al-Akhbar Ridha)

Tak syak lagi, memasuki wilayah Ahlulbait yang maksum berarti berlindung kepada 
Ahlulbait, menjauhi semua perbuatan haram, dan menjauhi musuh-musuh mereka. 
Kata tahassum bermakna “berlindung pada benteng yang kokoh”, dan ini juga 
berarti bahwa perlindungan ini bukan hanya fisik saja, namun juga dalam bentuk 
ruhani. Karena itu, ia merupakan perintah untuk berlindung kepada 
pribadi-pribadi­ agung ini dan mengikuti teladan-teladan­ mulia mereka dalam 
semua sisi, baik ucapan dan perbuatan.

Ringkasnya, orang yang mengikuti mereka sesungguhnya telah berlindung pada 
benteng mereka. (hal. 20-21)

4) Cinta ahlussunnah kepada ahlulbait tidak sah sebab tidak ikut ahlulbait

Setelah menguraikan sifat-sifat Syi’ah, Imam Muhammad al-Baqir berkata, “Wahai 
Jabir, apakah cukup bagi seseorang dengan mengatakan “saya mencintai Ali dan 
saya telah mencapai wilayah-nya’, sementara dia tidak beramal dengannya?”

“Jika seseorang berkata, “sesungguhnya aku mencintai Nabi saw karena dia lebih 
utama daripada Ali dan aku adalah syi’ah Muhammad”, tetapi dengan klaim ini dia 
tidak mengikuti Ahlulbait yng justru diperintahkan oleh Nabi saw untuk diikuti, 
maka kecintaan itu tidak ada manfaatnya. Yang mengherankan, bahkan setelah 
mengaku mencintai Nabi saw mereka tidak mengikuti Ahlulbaitnya. Sungguh, 
semata-mata mengklaim cinta tidaklah cukup.” (hal. 21-22)

5) Mengajarkan syirik, yaitu menyandarkan hajat dan pertolongan kepada imam 
yang sudah wafat, bukan kepada Allah.

Jika cintanya semakin menguat, maka syafaat pun akan cepat tibanya. Bahkan 
sakaratul maut yang menyakitkan akan berubah menyejukkan dengan pertolongan 
Ahlulbait.

Alkisah, terdapat seorang penyair bernama Sayyid Himyari yang wafat pada 173 H. 
Dia seorang pengikut setia Imam Ali dan telah mengubah sebuah kasidah untuk 
setiapm pribadi agung ini. Setiap kali terdapat majelis peringatan Ahlulbait, 
dia selalu mengutip salah satu diantara syair-syairnya.­ Berbagai kitab Syi’ah 
dan Sunnah, seperti al-Ghadir (jilid III), Aghani, Manaqib Sarwari, Kasyf 
al-Ghummah, ‘Amali-nya Syaikh Shadiq, Basyarat al-Mushthafa. Dan Rijal-nya 
Kasyi menyebut-nyebut­ namanya. Berikut adalah gambaran umum dari peristiwa 
yang menakjubkan menjelang wafatnya.

Sayyid Himyari adalah seseorang yang tampan dan jujur. Di saat wafatnya, beliau 
dikelilingi oleh banyak orang. Di antaranya mereka pun terdapat orang-orang 
yang menentang Syi’ah. Saat itu, kondisi Sayyid memburuk. Tiba-tiba, sebuah 
titik hiyan mengenai mukanya. Akhirnya, wajah itu pun berubah menjadi hitam. 
Para penentang Syi’ah merasa senag menyaksikan penderitaannya.­ Rasa sakit 
menyebabkan Sayyid Himyari kehilangan kesadarannya.

Ketika siuman, beliau mengarahkan wajahnya ke Najaf al-Asraf seraya berkata, 
“Wahai Amirul Mukminin Ali, wahai tumpu harapan orang-orang yang tidak punya 
harapan. Mungkinkan engkau berhubungan dengan pecint-pecintam­u dengan cara 
seperti ini?”

Beliau mengulang ungkapan ini hingga tiga kali atau lebih. Tak lama setelah 
menyelesaikan ungkapan permintaannya, seberkas cahaya putih tampak di wajahnya. 
Kemudian, itu menyebar ke seluruh raut wajahnya. Akhirnya, wajah itu pun 
kembali bercahaya bak bulan purnama. Sayyid Himyari di penuhi kegembiraan dan 
membaca syair berikut ini secara sepontan:

Meraka berdusta dengan mengatakan Ali tidak dapat menyelamatkan para penikutnya 
dari kesulitan. Aku bersumpah kepada Penciptaku aku akan memasuki surga dengan 
dosa-dosa diampuni. Aku sampaikan berita gembira ini kepada mereka yang 
mencintai Ali sampai mati dan sepeninggalnya,­ berpeganglah pada sebelas Imam 
keturunannya.

Usai membacakan syair ini, dia bersaksi akan keesaan Allah, kenabian Nabi 
Muhammad saw, dan wilayah Amirul Mukminin Ali. Lantas, beliau menutup mata dan 
meninggalkan dunia yang fana ini. (hal. 26)

6) Mewajibkan rujuk secara mutlak kepada ahlulbait, bukan kepada al-Quran dan 
Sunnah.

Dapat disebutkan di sini bahwa topik lain yang juga dibahas secara ringkas 
dalam al-Qur’an tetapi dipaparkan oleh Nabi saw dan para imam adalah menyangkut 
otoritas mutlak Ahlulbait sebagai khalifah-khalif­ah Allah di muka bumi dalam 
mengajarkan dan mendemonstrasik­an hukum-hukum mengenai haq dan batil kepada 
manusia.

Allah Swt berfirman: “Dan kami turunkan kepadamu al-Qur’an agar kamu 
menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan 
supaya mereka memikirkan.” (al-Nahal: 44)

Allah mewajibkan kepada manusia untuk merujuk pada Ahlulbait. Dia memerintahkan 
di dalam al-Qur’an seperti berikut: Maka bertanyalah kepada orang yang 
mempunyai pengetahuan (ahli dzikir) jika kamu mengetahui. (al-Nahal: 43). (hal. 
43)

Buku “Qolbun Salim” :

1. Kafir jika mengingkari Wilayah (Kepemimpinan imam Syi’ah), halaman 20 alinea 
1, “Begitu pula, setiap kali hati dikuasai oleh gelapnya kekafiran dan 
kesyirikan kepada Allah, keadaan itu akan membentuk cabang-cabang diantaranya, 
pengingkaran atas kenabian dan wilayah (kepemimpinan),­…”

2. Umat Islam yang tidak ikut Syi’ah terjangkit penyakit hati. Hal 27. Imam dua 
belas adalah Amirul Mukminin (Imam Ali), al-Hasan, al-Husain, Ali, Muhammad, 
Ja’far, Musa, Ali, Muhammad, Ali, al-Hasan, dan al-Mahdi (ajjalallahu 
farajahusysyari­f, semoga Allah mempercepat kemunculannya, - peny). Namun 
orang-orang yang terserang penyakit iri hati dan mencintai kepemimpinan zalim 
Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah, mengingkari keimamahan mereka.

Apabila Pemerintah tidak mengambil tindakan tegas, berarti Pemerintah telah 
mengembangkan doktrin sesat syiah kepada generasi muda Islam. Hal ini pasti 
akan memicu konflik komunal, sosial, juga ideologis.

Demikian surat terbuka ini kami kirimkan agar menjadi perhatian pemerintah, 
khususnya Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag.

Yogyakarta, 1 Februari 2013
Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke