--- In [EMAIL PROTECTED], "Ahmad Ridha" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Bukan rukun shalat Jum'at, Pak, tapi adzan merupakan syiar Islam yang
> penting dan termasuk ciri suatu negeri termasuk Darul Islam atau
> bukan. 

Kalau begitu boleh dong tidak dilaksanakan ataupun kalau dilaksanakan
cukup dengan suara pelan saja agar saudara kita yang lagi Nyepi tidak
merasa terganggu . Menurut saya pribadi , toleransi itu adalah dimana
adanya saling memberi dan menerima ( take and give )  khususnya yang
berkaitan dengan masalah muamalah (kemasyarakatan ) . Toleransi dalam
Islam disebut juga dengan Tasamuh. Kalau soal Aqidah dan Syariah
memang tidak ada toleransi sama sekali karena ini hubungannya antara
manusia dengan Tuhan   . Yang berkaitan dengan muamalah sebaiknya  ada
 tolak angsur 


>Tidak masalah kalau tidak pakai speaker namun kalau tidak boleh
> terdengar keluar tentu tidak lagi memenuhi tujuan adzan. Bukannya
> masjid itu dibangun di lingkungan muslim, Pak?.


Saya yakin kalau Ahmad Ridha belum pernah tinggal atau berkunjung ke
Bali . Saya yang sudah tinggal di Bali sejak th 1969 tahu persis , tak
 selamanya bangunan masjid berada dilingkungan komunitas Muslim ,
sebagai contoh adalah masjid Al Muhajirin yang dibangun perantau
Minang yang tergabung dalam IKMS ( Ikatan Keluarga Minang Saiyo ) Bali
, lokasinya berada  di Banjar  Bhuana Sari Monang Maning di tengah
komunitas Hindu . Yang menarik adalah saat peletakan batu pertama
pembangunan dilakukan oleh Gubernur Bali I Dewa Gde Oka yang Hindu dan
saat peresmiaan penggunaan masjid Oleh Menteri Agama dan Bapak Azwar
Anas sebagai sesepuh warga Minang  , maka sebagai tenaga pengamanan
dibantu  oleh warga setempat yang biasa disebut Pecalang . Itu salah
satu sikap toleransi yang ditunjukkan masyarakat Bali terhadap umat
Islam . Salah satu hal lagi Masjid Muhajirin tersebut yang  dibangun
dengan arsitektur Minang yang dilambangkan dengan atap bergonjong juga
tidak pernah dipermasalahkan , walaupun  ada Perda yang mengatur bahwa
untuk setiaap  bangunan mensyaratkan adanya unsur arsitektur Bali. 
Banyak lagi sikap toleransi linnya seperti diselenggarkannya STQ
Nasional di Bali th 1998 di Era Presiden Habibi . Yang paling
mengherankan saya ternyata buku kumpulan tulisan tentang masuknya
Islam di Bali juga ditulis orang beberapa krama  Bali:  seperti AA .
Erawan SE Dosen Ekonomi Unud , Ketut Ginarsa , Drs AA Gde Putra Agung
, I Wayan Reken . Tentang  toleransi umat beragama di Bali sudah
berlangsung lama dan saya jadi teringat sebuah motto , saya tak tahu
persis tertulis dimana , tapi pernah membaca dan mendengar " Kami
sudah melaksanakan , disaat orang lain  belum memikirkannya"
> 

Wassalam ; zul amry piliang 

> -- 
> Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
> (l. 1400 H/1980 M)
> 



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke