Sanak Akmal dan Sidang Palanta yth,

Melihat respond anggota pelanta yang mayoritas simpati ke kondisi
kelima siswi ini karena dikeluarkan dari sekolah dan kehilangan
kesempatan mengituti UN tahun ini, semalam saya coba untuk intropeksi
diri, kenapa yaaa...saya kok keluar dari mainstream sikap dan
pemikiran orang indonesia yang pemaaf, santun dan pa ibooo bahasa
Minangnyo..

Jujur saja saya coba lihat lagi youtube kelima siswi ini untuk mencari
cari kalau ada sesuatu yang membuat saya berubah pikiran, merasa
simpati, ibooo dan menyesalkan mereka dikeluarkan dari sekolah dan
kehilangan kesempatan mengikuiti UN tahun ini seperti yang dicontohkan
kedua bapak menteri mensos dan mendikbud kita di media massa dan di
ikuti dengan koor setuju dan sokongan dari mayoritas sidang pelanta
yang terlibat dalam tukar pandangan dalam topik ini..

Setelah melihat lagi mereka mempermainkan dan memper-olok olok bacaan
Al Fatihah dan gerakan Sholat dengan gerakan gerakan yang menurut saya
sangat kurang ajar dengan ekspresi yang tidak sedikitpun
memperlihatkan rasa ragu, takut, segan atau bersalah.. Saya nyerah,
hati dan nurani saya tidak tersentuh... Ngak tau apa nurani saya yang
udah beku atau hati yang sudah berkarat ngak jelas, tapi sangat sulit
bagi saya untuk simpati dan menyesalkan mereka berlima dikeluarkan
dari sekolah dan kehilangan kesempatan mengikuti UN tahun ini... Bagi
saya tindakan dikeluarkan dari sekolah dan kehilangan kesempatan
mengikuti UN tahun ini adalah konsekuensi logis dari tindakan mereka
dan belum  seberapa dibanding akibat tindakan mereka yang menghina dan
memperolok olok sesuatu yang saya yakini sangat mulia dan sakral..
Dalam ibadah  Sholat kita umat Islam   berusaha keras untuk khusyuk
karena ini adalah media yang di alokasi oleh Allah SWT untuk kita
dapat berdialog langsung dengan Yang Maha Pencipta..

Entahlah saya yang berpikiran kolot, konservatif atau ketinggalan
jaman.. Tapi dari referensi yang ada, di Negara dimana Pak Mensos
menimba ilmu S1-S3 (Arab Saudi), memperolok olok keluarga raja dan
penguasa saja.. buruk padahnya (yang paling mutakhir  di Kuwait,
Bahrain  dan UEA berkata  buruk pada rajapun penjara
akibatnya)..Apatah lagi  memerolok olok agama yang diyakini jutaan
umat manusia, kesuciannya..kok  dianggap biasa saja....logika saya
ngak nyambung untuk ini..

Di negara kita tercintapun memperolok olok simbol dan lambang negara,
melecehkan penguasa.. ada sanksinya apalagi memperolok olok Agama..
kok dianggap hanya permainan anak iseng yang ngak pantas dapat hukuman
dikeluarkan dari sekolah, beda amat dengan penerimaan kita dengan
racisme.. John Terry bilang niger (negro) sama Rio Ferdinand  kalau
ngak salah,  kena skorsing dan hampir semua pengamat dan penonton
menganggap itu wajar dan pantas....Apakah memang sakralitas agama
lebih rendah bobotnya dari rasialisme, lambang negara dan kehormatan
penguasa...Tambah ngak masuk logika saya..

Terakhir buat sanak Akmal dan sidang pelanta yang lain, kalau berkenan
beri saya pencerahan. Apakah benar ini hanya permainan anak iseng dari
remaja polos yang penuh kreaktifitas tapi salah kaprah.. Apakah benar
anak anak ini begitu polosnya sehingga tidak tahu dan mengerti apa
arti Sholat dan keutamaan Surah Al Fatihah bagi umat islam.. Apakah
benar begitu polosnya anak anak ini dengan spontanitas remaja yang
kreatif, merekam adengan tersebut dan dengan spontan meng-uploadnya ke
you tube..  tanpa direncanakan terlebih dahulu.. kalau iseng biasanya
spontan... tapi kalau direncanakan lain ceritanya...Apakah bijaksana
dengan membiarkan mereka sekolah dan mengikuti UN seperti tidak
terjadi apa apa.. suatu bentuk pembinaan yang mendidik ???

Satu lagi, saya mau chalange contoh yang sanak Akmal berikan tentang
kisah rok mini dan Buya Hamka.. saya rasa kasus ini punya dimensi yang
sangat berbeda... Yang pake rok mini dan ngak ditegur Buya jelas ini
suatu metode pembinaan yang sangat pas.. Yang pake rok mini pastinya
ada keinginan untuk belajar dan berbuat baik.buktinya dia datang
kepengajian....Dimana korelasinya dengan kelima siswi ini..apakah
dengan meng-upload tingkah kurang ajar mereka di-youtube tujuan dan
niatnya baik .ngak la yau... .niat baiknya untuk de-sakralisasi agama
kali....
Apakah  contoh ini ngak jungkir balik,  sejalan tapi lain arah..bukan
apel to apel tapi apel to durian.. Yang satu pake rook mini tujuan nya
ingin ngaji.. yang satu lagi pake jilbab tapi tujuannya mempermainkan
sakralitas agama..

Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya... kesalahan yang paling nyata
dari kelima siswi ini adalah keisengannya di upload ke youtube... ini
jelas melanggar hukum.. menyebarkan pelecehan agama... andaikan mereka
iseng doang diantara mereka ngak akan jadi masalah... tapi sekali
mereka publish keisengan ini ke publik  dengan niat ditonton orang
banyak..artinya sudah melangggar hukum... kalau melanggar hukum pasti
adalah sangsinya.. dan masyarakat yang merasa tersinggung berhak untuk
menuntut..

Proses hukum tentunya ada, bukti udah jelas.. mukanya udah terpampang
begitu...  itu proses hukum formal....Proses hukum masyarakat juga
biasanya ada, salah satunya adalah dengan dikeluarkan dari sekolah dan
kehilangan kesempatan untuk ikut UN tahun ini... Apakah ini adil,
terpulang kita melihatnya....

Analognya barangkali hukum masyarakat terhadap orang bejina/selingkuh
waktu dulu, dibuang sepanjang adat (artinya dibuang negeri).. Tapi itu
dulu sekarang sudah ngak jamannya.. Apakah tindakan masyarakat dulu
itu salah.. tergantung melihatnya, kalau melihat jangka pendek..
kasihan mereka.. dimana unsur pembinaannya dll sebagainya... tindakan
masyarakat dulu itu salah... tapi kalau dilihat jangka panjang
tindakan masyarakat dulu itu bagus karena ada efek jera dan takut yang
di berikannya... Orang takut selingkuh dan bejina selain hukum Tuhan,
hukum masyarakat juga ada...Itu barangkali pandangan kolot saya..

Sudah kepanjangan, terlebih dan terkurang  saya mohon maaf..
Tidak ada salahnya untuk 'agree to disagree"  walaupun itu dengan bapak meteri..

Wass
Sfd, KL, Malaysia.


On 4/25/13, Akmal Nasery Basral <[email protected]> wrote:
> Sanak Palanta RN nan budiman,
> peristiwa ini adalah sungguh-sungguh musibah, cobaan, tragedi bagi umat
> Islam Indonesia sendiri. Jika pelecehan dilakukan oleh orang luar (kartunis
> Denmark) misalnya, muslim bisa langsung marah. Tapi jika kejadian ini
> dilakukan oleh "anak-anak kita" sendiri, "adik-adik kita" sendiri dalam
> Islam -- dan kita menganggap diri sebagai satu bangunan yang solid
> (bunyanun marsus, QS 61:4) -- apakah marah saja cukup? Tidakkah ini pucuk
> gunung es dari gejala yang lebih menggelisahkan: gagalnya pendidikan Islam,
> yang sudah sejak lama dimajaskan Navis dengan "robohnya surau kami"?
>
> Betapa tidak memprihatinkan jika kelima siswi adalah muslimah, satu di
> antara mereka bahkan berjilbab (yang secara umum bisa ditafsirkan lebih
> mengerti syariah dibandingkan empat kawan lainnya). Tapi toh, siswi
> berjilbab ini pun terjerumus pada kesalahan yang sama, yang mungkin tidak
> terpikirkan oleh siapa pun yang melihat video itu. Namun toh, "hil yang
> mustahal" ini terjadi juga (jilbaber mempermainkan shalat). Apakah ini
> bukan pertanda ada yang tidak beres dengan cara pendidikan agama kita
> selama ini?
>
> Kedua, akibat tindakan ceroboh itu, kelimanya harus menerima hukuman, itu
> pasti. Dan itulah yang kini mereka hadapi: jeratan pasal 156 a KUHP dengan
> ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara. Berdasarkan bukti rekaman video
> itu, saya kira mereka kemungkinan besar akan "masuk". Meringkuk di hotel
> prodeo, meski mungkin tidak sampai 5 tahun.
>
> Tetapi yang menjadi concern banyak pihak menyangkut pemecatan dari sekolah
> dan larangan ikut UN (karena mereka kelas 3 SMA), saya kira menyangkut
> timing dijatuhkannya hukuman dari sekolah sendiri. Keputusan itu diambil
> hanya sekitar dua pekan menjelang UN. Padahal, dengan sudah dikenakannya
> pasal 156a di atas, usai proses pemberkasan oleh aparat dll, lalu sidang
> dimulai awal Mei, umpamanya, toh kelima siswi tak akan bisa berkelit.
> Mungkin dengan 1-2 kali sidang, putusan sudah bisa dijatuhkan majelis
> hakim. Jadi mereka tak akan lolos dari jerat hukum negara.
>
> Karena itu, keputusan memecat dan melarang mereka ikut UN yang kini, pada
> prinsipnya, dipermasalahkan Mensos dan Mendikbud, adalah ibarat "sudah
> jatuh, tertimpa tangga" bagi kelima siswi. Dan yang menghantamkan "tangga"
> itu ke kepala kelima siswi adalah orang tua mereka sendiri di
> sekolah: kepala sekolah.
>
> Jika mendidik diartikan hanya mendidik anak-anak baik, dan tak bermasalah,
> semua orang bisa melakukannya, bukan? Tapi bagaimana mendidik anak yang
> sedang bermasalah, anak pembuat masalah? Bukankah itu yang menjadi hakekat
> pendidikan sehingga para guru (juga kepala sekolah) mendalami ilmu pedagogi
> yang tak dimiliki semua orang. Apa gunanya ilmu pedagogi dan psikologi
> pendidikan (di sekolah ada guru BP) didalami bertahun-tahun jika cara yang
> diterapkan terhadap anak yang bermasalah, atau sedang membuat masalah
> seperti kelima siswi itu, hanya jalan pintas yang bersifat cuci tangan
> pihak sekolah: pecat!
>
> (Almarhumah ibu saya kepala sekolah. Sekiranya beliau masih hidup saat ini,
> saya yakin beliau tidak akan setuju dengan 'kebijakan' main pecat ini.
> Argumentasi ibu saya dulu, sekolah adalah lembaga pendidikan. Berbeda
> dengan kantor, di mana jika seorang karyawan melakukan sebuah tindakan yang
> dianggap bisa membuat buruk nama kantor, karyawan itu bisa dengan mudah
> dipecat tersebab kantor bukan lembaga pendidikan. Tetapi sekolah, sebagai
> lembaga pendidikan, justru harus mengupayakan bagaimana "trouble maker" di
> lingkungan sekolah agar menjadi baik, berguna. Karena itulah esensi
> pendidikan).
>
> Ketiga, konsultasi pihak sekolah dengan pihak luar sangat perlu dalam
> menentukan tingkat hukuman bagi kelima siswi. Namun pertanyaan saya seperti
> pada posting sebelumnya, mengapa sekolah hanya melibatkan pihak Kapolres
> dan FPI dalam pengambilan keputusan itu, dan tidak melibatkan pihak yang
> lebih otoritatif seperti MUI dan Kanwil Depdikbud?
>
> Terasa sekali nuansa "penjatuhan hukuman" sudah lebih kental dibandingkan
> upaya "pembinaan" seperti disebutkan Mensos.
>
> Di sini saya teringat peristiwa "Buya Hamka dan perempuan dengan rok
> pendek", yang semalam juga saya sampaikan di depan 100-an anggota Readers'
> Club Bank Syariah Mandiri Thamrin: tentang "hukuman" vs "pembinaan".
>
> Kisah ini saya dengar langsung dari H. Irfan Hamka, putra Buya Hamka.
> Silakan bagi yang kenal beliau untuk mengecek ulang kisah ini.
>
> Satu ketika di pengajian Al Alzhar Pusat yang selalu ramai, tiba-tiba mulai
> muncul rasa ketidakpuasan jamaah terhadap seorang peserta pengajian,
> seorang ibu yang selalu datang dengan rok pendek. "Bahkan ibu itu sering
> duduk di bagian depan kaum ibu, membuat jengah yang lain," ungkap Irfan.
> "Mereka lalu protes ke Buya, agar Buya menegur perempuan itu agar
> berpakaian Islami kalau mengaji."
>
> Logika jamaah pengajian tentu benar, meski tidak diungkapkan langsung.
> Memakai rok pendek saat pengajian bisa dianggap sebagai "penistaan terhadap
> adab pengajian".
>
> Apa reaksi Buya terhadap protes jamaah? "Buya bilang kenapa dipersulit
> orang yang sudah mau berbuat baik," kenang Irfan. Sehingga Buya tak menegur
> perempuan rok pendek dan membiarkannya tetap datang ke pengajian dengan
> seperti itu. Apakah kisah berakhir di sini? Tidak. Rupanya lama kelamaan
> sang perempuan ini merasa tidak enak sendiri, sehingga satu hari dia datang
> menghadap Buya di rumah, menyatakan keheranan/kekaguman kepada Buya yang
> tak pernah menegurnya soal pakaian saat mengaji. Tapi justru karena itu,
> dia akan mengubah cara berpakaiannya. "Dan esoknya ketika ibu itu datang
> lagi," ungkap Irfan, "cara berpakaiannya sudah sama dengan jamaah perempuan
> lain. Buya bilang ke saya, Tuh Fan, wa'ang lihat sendiri, kalau dari awal
> ibu itu langsung ditegur karena caranya berpakaian yang tidak Islami,
> mungkin sejak lama dia sudah tidak mengaji dan tidak melakukan keputusan
> penting seperti yang dilakukannya sekarang ini."
>
> Saya kira karena contoh-contoh kecil seperti inilah Buya Hamka melegenda
> (di luar keluasan ilmu agamanya). Spirit pendidikan dan pembinaan lebih
> diutamakan dibandingkan memprioritaskan hukuman.
>
> Wassalam,
>
> ANB
> Cibubur
>
>
>
> Pada Kamis, 25 April 2013, Zulkarnain Kahar menulis:
>
>> Kalau mau bicara hukum silahkan saja jalani process hukun . tersangka
>>  dulu dan ada process selanjutnya. Selama belum jatuh hukuman yang
>> mengikat
>> tak ada alasan diberhentikan dari sekolah. La itu  pejabat yang tersangka
>> tak  dipecat pecat malah ada tersangka  masih jadi calon gubernur.  Anak
>> Hatta rajasa nabrak orang dan korbanya M A T I .cuma hukuman percobaan.
>> Ini
>>  nobody get hurt.. apa kata dunia . Saya sewot karena tiap tahun saya
>> bayar
>> pajak dan sebagian dari pajak yang saya bayar untuk gaji si Kepala
>> sekolah
>> itu.
>>
>> Zulkarnain Kahar
>>
>>
>>   ------------------------------
>>  *From:* Endecho km <[email protected] <javascript:_e({}, 'cvml',
>> '[email protected]');>>
>> *To:* [email protected] <javascript:_e({}, 'cvml',
>> '[email protected]');>
>> *Sent:* Wednesday, April 24, 2013 4:37 PM
>> *Subject:* Re: Bls: SV: Re: [R@ntau-Net] OOT: Mensos minta 5 siswi yang
>> permainkancara salat tetap sekolah
>>
>> Maaf sabalun nyo kanda dedi
>> Kalau di kecekkan pamikiran anak smp zaman kiniko masih anak anak indak
>> mungkin...indak masuak diaka...maaf...di jaman kiniko anak smp ma nan
>> indak
>> tau jo sex...sadangkn anak sd se la pandai mamperkosa...apokah iko nan
>> disabuik pemikiran nan masih anak anak....???ka lau manuruik ambo iko
>> jaleh
>> me langgar hukum...harus ado tindak hukum nyo...negarako harus
>> tegas...itu
>> inti e...indak pandang bulu...
>> Wasalam..
>> Eko
>> Rang kampai minang
>> Koto nan godang
>> Payokumbuah
>> Rantau bauksit
>> Cerek topi bondo
>> --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>> lain
>> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
>> - DILARANG:
>> 1. E-mail besar dari 200KB;
>> 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>> 3. One Liner.
>> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
>> http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
>> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> ---
>> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
>> Grup Google.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>> kirim email ke rantaunet+berhenti
>> [email protected]<javascript:_e({}, 'cvml',
>> '[email protected]');>.
>> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>>
>>
>>
>>
>>   --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>> lain
>> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
>> - DILARANG:
>> 1. E-mail besar dari 200KB;
>> 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>> 3. One Liner.
>> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
>> http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
>> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> ---
>> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
>> Grup Google.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>> kirim email ke rantaunet+berhenti
>> [email protected]<javascript:_e({}, 'cvml',
>> '[email protected]');>.
>> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>>
>>
>>
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
>   1. E-mail besar dari 200KB;
>   2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>   3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup
> Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
> email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>
>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke