"Benar sekali, supaya kalian tidak penasaran sekarang aku lanjutkan ceritanya. Setelah dia memperkenalkan diri dia melanjutkan pembicaraan.....” Wali Bumi mulai membayangkan kejadian di mimpinya dan menceritakan kepada saudaranya.
Seperti yang diceritakan Bumi, mereka duduk di bawah pohon yang rindang, di atas akar pohon yang menonjol keluar dan keadaan di sekeliling mereka hijau dipenuhi dengan rumput dan pepohonan lainnya. Suasana sangat tenang dan teduh sekali, Bumi tidak tahu di mana mereka berada. ”Cucuku, Bumi, mungkin kamu kaget dengan pertemuan kita. Baiklah, aku akan langsung saja bicara terus terang supaya kamu tidak tambah bingung dengan kehadiran kami. Bumi, perlu kamu ketahui anak laki-laki kamu itu adalah anak yang terbekati oleh Yang Maha Esa. Dia merupakan anak yang dipilih untuk melawan sang angkara murka, seperti ketika jaman aku masih hidup, akupun ditakdirkan untuk melawan iblis yang dilahirkan untuk memberi kekacauan di dunia ini. Dan perlu kamu ketahui lawan-lawan anakmu sudah dilahirkan, bahkan diantara mereka ada yang sudah dilahirkan 1 tahun lebih awal dari anakmu. Tapi jika kamu bertanya kepadaku siapa saja mereka, aku tidak bisa memberi jawaban karena itu merupakan rahasia alam dan kehendak sang Maha Kuasa. Aku hanya tahu bahwa aku harus mempersiapkan anakmu dan beberapa anak lain untuk menghadapi mereka.” kata Pangeran Satyawarman dengan menghela nafas dalam. ”Maksud kakek, ada beberapa anak selain anakku yang akan menumpas kejahatan ? Siapa mereka ?” kata Bumi. ”Bumi, kamu sudah mengenal mereka, yaitu Bastian, Saiful, Burhan, dan Karim, mereka juga murid-muridmu.” ”Hah, mereka ?” kata Bumi tercengang. ”Ini semua sudah diatur oleh alam, sejak kecil mereka sudah dipertemukan agar bisa saling mendekatkan diri dan sehati dalam menghadapi sang angkara murka. Karim akan menjadi patih kanan bertugas sebagai mata-mata, sedangkan Saiful yang akan menjadi patih kiri bertugas sebagai ahli pembuat senjata rahasia, Burhan yang akan menjadi pemimpin dari kelompok ini, Bastian akan menjadi penasehat sekaligus ahli strategi dan Aswin yang sebenarnya pemimpin utama tetapi karena karakternya suka seenaknya sendiri maka akan susah untuk menyuruh dia memimpin tim ini. Mereka semua akan kami didik secara langsung setelah 10 tahun mereka digembleng oleh guru-guru mereka yang berarti kemampuan dasar mereka sudah menjadi lebih matang. ”Jadi, maksud kakek, kelima anak itu akan menjadi pewaris ilmu harimau kalian, dan mereka nantinya akan mempunyai kemampuan yang berimbang ?!.” tanya Bumi. ”Mengenai apakah kemampuan mereka berimbang kelak, itu juga masih merupakan rahasia alam, yang aku tidak dapat meramalkannya. Yang jelas kami menerima wangsit dari Yang Maha Kuasa bahwa kami harus melatih kelima anak itu sesuai dengan bakat dan kemampuan mereka. Tetapi sebelum mereka kami latih, mereka harus melewati tahap persiapan akan dasar-dasar tenaga dalam dan ilmu-ilmu silat. ” ”Maafkan aku, kakek, aku masih tidak mengerti maksud kakek karena terus terang saja kepintaran dan kecerdikanku pas-pasan saja.” kata Bumi malu-malu. ”Ha..ha...ha... Bumi, aku senang kepada manusia seperti kamu, polos, jujur, apa adanya dan tidak malu untuk bertanya. Baiklah, aku akan menjelaskan lebih lanjut padamu.” kata Pangeran Satyawarman. ”Bumi, dalam wangsit yang aku terima, kelima anak ini sebelum di didik oleh kami, akan didik terlebih dahulu orang lain yang sudah digariskan untuk mempersiapkan mereka supaya kelak bisa menerima ilmu harimau dari kami. Adapun anakmu sudah dipilih oleh Datuak Inyiak Balang untuk dijadikan pewarisnya, ini merupakan suatu keberuntungan bagi anakmu karena dia juga merupakan murid dari perguruan kami sehingga mungkin kelak anakmu tidak akan mengalami kesulitan untuk ilmu-ilmu yang akan kami wariskan.” Kaget sekaligus bangga Bumi mendapat tahu bahwa puteranya dipilih oleh pendekar nomor satu seluruh ranah Minang untuk dijadikan muridnya, karena penasaran dia mengajukan pertanyaan kepada Pangeran Satyawarman. ”Kakek, kenapa bisa pendekar nomor satu itu memilih anakku sebagai pewarisnya, apakah atas petunjukmu ?” tanya Bumi. ”Bukan Bumi, kami tidak pernah memberikan petunjuk apapun kepada dia untuk mengambil puteramu sebagai pewaris. Tapi perlu kamu ketahui cucu muridku Datuak Jangek Kuniang mempunyai sebuah keahlian khusus yang dia dapat dari tanah seberang yaitu ilmu perbintangan dan meramal. Jadi dialah yang menuntun cucu muridnya Datuak Inyiak Balang untuk mengambil Aswin sebagai muridnya. Kakek Inal yang kelak disebut-sebut anakmu itu adalah dia, nama dia waktu mudanya adalah Zainal, tapi dia menyebut dirinya Inal.” ”Aku tahu Bumi, kamu pasti senang sekali anakmu menjadi murid tokoh utama di ranah ini.” kata Sulaiman dengan tiba-tiba Bumi sampai terlonjak kaget karena tiba-tiba mendengarkan suara manusia yang dikeluarkan oleh seekor harimau. Pangeran merasakan keterkejutan Bumi dan merasa kasihan melihat wajahnya yang memucat melihat ke arah Sulaiman. ”Kakanda Sulaiman, janganlah kamu menakut-nakuti Bumi, rubahlah penampilanmu menjadi manusia kembali.” kata Pangeran dengan pelan. ”Baiklah, Yang Mulia Pangeran”, sahut Sulaiman. Wessss… bummm…asap timbul mengelilingi harimau itu, tiba-tiba di tempat tadinya ada seekor harimau duduk, sekarang berubah menjadi seorang pria seumuran Bumi yang gagah perkasa dengan kumisnya yang melintang menambah keangkeran pemilik wajah itu. Bumi menatap terpana atas kejadian itu, sambil mengucek-ngucek matanya dia memandang wajah pria gagah itu. Wajah itu mirip sekali dengan kakek moyang isterinya, yang lukisannya tergantung di rumah mertuanya. “Jangan kaget Bumi, memang lukisan yang tergantung di rumah mertuamu itu adalah aku. Jadi anakmu masih mewarisi darahku di tubuhnya dan darah paduka Pangeran. Karena mertua laki-lakimu merupakan hasil pernikahan dari keturunanku dan keturunan paduka Pangeran. Mungkin kau bertanya dalam hati kenapa mertuamu hanya memiliki lukisanku tapi tidak mempunyai lukisan paduka Pangeran?, itu dikarenakan lukisan paduka Pangeran disimpan di istana Pagaruyuang dan tidak diperkenankan dipamerkan kepada khalayak umum.” Bumi semakin terheran-heran dan kagum kepada kedua orang sakti ini yang bisa meraba apa yang menjadi pemikiran dia. Sekaligus dia semakin merasa bangga karena pernah menikahi keturunan dari kedua orang hebat ini. Sekarang dia tidak heran lagi akan kehebatan mertua laki-lakinya itu karena dia merupakan keturunan dari kedua orang hebat ini. “Tapi Bumi, kamu jangan besar kepala dengan semua ini dan lupa diri, biar bagaimanapun dirimu adalah dirimu, pada saat kamu meninggal nanti segala embel-embel yang melekat padamu kini tiada artinya, jadi selalu mawas diri dan rendah hatilah selalu seperti sekarang ini jangan berubah.” kata panglima Sulaiman. “Aku berjanji kakek, aku akan selalu mawas diri dan tidak tinggi hati dengan semua yang ada padaku. Jika aku melanggarnya kakek berdua boleh menghukum aku, dan aku tidak akan melawan sedikitpun.” Sahut Bumi. “Baguslah kalau begitu, kembali ke masalah kita tadi, Bumi, sebagaimana yang telah aku katakan tadi bahwa anakmu akan menjadi murid dari cucu muridku, oleh karena itu aku minta kau mengizinkannya dan kau boleh tetap mewarisi ilmu pamungkasmu kepada anakmu itu. Ilmu-ilmu apapun yang diberikan kepada anakmu tidak akan menjadi masalah bagi dia karena memang dia dipersiapkan sedemikian rupa untuk bisa menerima ilmu-ilmu yang kelak akan kami wariskan kepadanya dengan harapan nantinya dia benar-benar mempunyai kemampuan dan kehebatan silat maupun tenaga dalam yang bisa menandingi sang angkara murka itu.” “Ilmu-ilmu yang kami berikan kepadanya nanti merupakan ilmu yang sangat berat dan dibutuhkan kecerdasan pikiran dan kematangan tindakan, juga harus dilengkapi dengan hati yang tulus dan berbudi luhur. Oleh karena itu kami mengharapkan kau bisa menanamkan budi pekerti dan ketulusan hati padanya sejak dini agar kelak dia dewasa, dia akan menjadi seorang pendekar yang berbudi luhur dan membela kebajikan.” Kata Sulaiman. Sekarang setelah Panglima Sulaiman berubah wujud kembali menjadi manusia, lebih banyak beliau yang berbicara sedangkan Pangeran Satyawarman mendengarkan saja. Sambung panglima Sulaiman,”Kamu mempunyai kesempatan untuk mendidik anakmu sampai dia berusia 8 tahun saja, karena setelah itu kami akan meminta Zainal membawanya pergi untuk dilatih lebih lanjut di perguruan kami supaya dia lebih konsentrasi.” “Kamu tentu juga ingin tahu mengenai nasib anak-anak yang lain?, sebelumnya perlu engkau ketahui kelak banyak orang yang ingin menjadi guru untuk anakmu termasuk adik-adik angkatmu. Tapi takdir menentukan lain adik-adik angkatmu akan menjadi guru dasar bagi anak-anak yang lain. Tugasmu adalah mempertemukan adik-adik angkatmu dengan anak-anak itu, biarkan mereka memilih diantara anak-anak itu siapa yang akan menjadi murid mereka. Khusus Karim, engkau akan dapat mendidiknya bersama dengan Aswin karena dia harus engkau yang mendidiknya langsung. Setelah mereka mendidik ketiga anak yang lain selama 5 tahun, kamu harus membawa mereka kembali ke sini, karena akan datang guru lain yang akan mendidik mereka.” Sejenak Sulaiman terdiam setelah bicara panjang lebar atas uraiannya, suasana terasa hening, kemudian terdengar suara Bumi bertanya. “Kakek, bolehkah aku bertanya lebih lanjut?” tanya Bumi. “Apakah engkau ingin tahu kenapa Karim harus engkau yang didik ? Dan siapa gerangan yang akan menjadi guru selanjutnya dari anak-anak itu ?, Benar tidak, Bumi ?” Kembali Bumi merasa sedikit gentar karena tokoh-tokoh di depan dia itu bisa membaca pikirannya, sehingga dia merasa harus berhati-hati kalau memikirkan sesuatu, takut mereka marah setelah tahu apa yang dia pikirkan. “Bumi, kamu jangan gentar karena kami bisa membaca pikiran kamu, jika pikiranmu bersih engkau tidak harus takut dengan hal ini.” Kata Pangeran Satyawarman dengan senyum dikulum. “Baiklah Bumi, aku menjawab pertanyaanmu itu supaya kamu tidak penasaran. Mengenai kenapa Karim harus kamu didik dikarenakan kami tahu kamu adalah mata-mata bagi kerajaan di masyarakat (istilah jaman sekarangnya agen rahasia), Tidak banyak yang tahu mengenai pekerjaanmu ini bahkan keluarga dan para saudara angkatmupun tidak mengetahuinya. Ini saja sudah membuktikan kehebatan kamu sebagai seorang mata-mata yang diutus langsung oleh baginda. Kamu bisa menipu orang lain dengan penampilan kamu yang terkesan lugu dan sederhana itu.” Kata Sulaiman dengan tersenyum simpul. Ternyata Bumi ini mempunyai pekerjaan sampingan selain sebagai wali nagari, tidak heran dia sering pergi ke luar kota karena dia harus pergi menyelesaikan tugas yang diberikan baginda dan melaporkan hasilnya. Inilah salah satu lagi kehebatan dari Bumi adalah dia bisa menyembunyikan identitas dirinya dari orang lain. Memang kehebatan dari seorang mata-mata itu diukur dengan kemampuan dia membaur dalam masyarakat tanpa mereka menyadari siapa sebenarnya dia. Dalam hati Bumi semakin salut kepada kedua tokoh mumpuni ini, karena mereka bisa mengetahui apa yang dikerjakannya. Bersambung……. No virus found in this outgoing message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.9/1290 - Release Date: 20/02/2008 20:45 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet. - Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting. - Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi. - Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
