Cuaca sangat bersahabat di pagi Jumat (10/5), tepatnya di Jalan Prof.DR.Hamka No.137 A Tabing Padang. Beberapa taksi lokal tampak parkir di pinggir jalan, begitu juga beberapa kendaraan angkot dan mobil pribadi.
Sementara di parkiran gedung, taksi biru generasi terbaru Toyota Limo berderet rapi. Taksi itu berlambang burung warna biru dengan nama Blue Bird. Agak ke samping kiri kantor, laki-laki berusia sekitar 25-40 tahun tampak berdiri rapi menunggu giliran tes kematangan sebagai sopir taksi. Rute sulit wajib mereka tempuh, dengan tanpa membuat jatuh marka jalan yang telah dipasang. Walau sudah lama jadi sopir baik sopir angkot maupun sopir taksi, tetap saja calon sopir taksi Blue Bird gugup. Beberapa di antaranya menyenggol marka jalan dan membuatnya jatuh. Penguji memberi beberapa kesempatan lagi, sebelum akhirnya menyetujui atau pun menolak. Cukup tegang wajah para calon sopir Blue Bird. Sepertinya mereka tak menyangka seketat itu seleksinya. Sementara di dalam, pegawai Blue Bird terlihat sibuk melakukan wawancara dengan para pelamar. Terlebih dahulu mereka diperiksa kesehatan berupa tekanan darah dan tubuh harus bebas dari tato. Di lantai II, mereka yang lulus tes melewati marka jalan, langsung ditraining untuk menjadi sopir Blue Bird sejati. Pelatih bernama Laman, memberikan pengetahuan baru akan apa arti sopir dan pengemudi. “Sopir itu konotosinya lebih banyak negatif. Bayangan orang, sopir itu rambutnya gondrong, tatoan, bajunya asal, bicaranya kurang ramah dan negatif-negatif lainnya,” katanya kepada para wartawan. Sementara pengemudi, harus berpakaian seragam, rambut rapi dan baju masuk ke dalam, sikap ramah, tidak tatoan dan menyenangkan hati penumpang. Jika bisa seperti itu, bersiaplah meniti karir di Blue Bird, dari sopir bisa menjadi kepala grup, trainer dan posisi lainnya. Sementara Branch Manager Blue Bird Group Padang, Achmad Suhandi mengatakan, Selasa (21/5) depan Blue Bird resmi beroperasi di Padang dan bisa menjangkau seluruh Sumbar. Untuk pertama, Blue Bird akan mengoperasikan 50 armada. “Kami layani warga Padang khususnya dan Sumbar umumnya, dengan sedan Toyota Limo terbaru adiknya Toyota Vios,” katanya. Blue Bird akan buka 24 jam dengan sistem kerja tiga shif. Warga yang butuh Blue Bird, bisa menghubungi telepon 0751-448789 atau fax 0751-444484. Operator akan segera menghubungi armada yang paling dekat dengan klien. “Sumbar merupakan cabang ke-13. Kami berharap bisa memberi kontribusi bagi kemajuan pariwisata dan menambah kenyamanan tamu yang berkunjung ke daerah ini,” tambahnya. Sedangkan Public Relations, M.Andri mengatakan, tarif buka pintu Blue Bird sekitar Rp6.000-Rp7.000. Sementara satu jamnya, Blue mengenakan tarif Rp30.000 sampai Rp40.000. “Terserah klien, jika mereka suruh menunggu untuk satu keperluan di hotel atau tempat belanja, maka argo dengan hitungan jam akan otomatis jalan. Begitu juga kalau terjebak macet,” katanya. Armada akan terus ditambah oleh manajemen sampai kuota 150 unit terpenuhi. Selanjutnya kalau butuh ditambah lagi, tunggu izin dari pemerintah. “Semua armada sesuai standar Dinas Perhubungan, dilengkapi argo standar, AC, GPS, alarm, radio, dengan standar keamanan tinggi,” ujarnya. Sopir Blue Bird diawasi secara intens, sehingga bisa diketahui di mana posisi, berapa kecepatan, dan kapan butuh pertolongan. Armada akan diganti sekali lima tahun dan sopir menjadi prioritas utama untuk bisa membeli mobil taksi yang ia kendarai. Untuk saat ini, Blue Bird tidak bisa mangkal di Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Mereka hanya diperkenankan menurunkan penumpang tidak boleh menaikkan. “Jika konsumen ingin naik Blue Bird juga, maka mereka bisa naik di luar area BIM,” ujarnya. Manajemen berharap, seiring waktu hal itu bisa teratasi sehingga tercipta persaingan yang sehat. Mereka pun siap mendidik taksi lokal, agar bisa setara dengan Blue Bird. Tak rampas pasar Masuknya Blue Bird sudah direncanakan sejak 2012. Proses perizinannya selesai tahun ini. Untuk tahap awal beroperasi 50 unit. Secara bertahap akan memenuhi jumlah armada yang telah diberikan pemerintah sebanyak 150 unit. Dinas Perhubungan, Informasi dan Telekomunikasi (Dishub Inforkom) Sumbar optimis, Blue Bird tersebut tidak akan menimbulkan gesekan dengan moda transportasi sejenis. Sebab, pasar Blue Bird tidak merampas pangsa taksi yang telah ada, namun menjadi stimulan. “Saya harapkan dukungan masyarakat terhadap transportasi ini. Makanya, kami lakukan sosialisasi, agar tidak terjadi gesekan di kemudian hari dengan moda transportasi lainnya,” ujar Kepala Dinas Perhubungan dan Informasi Komunikasi Sumbar, Mudrika. Menurut dia, sebelum Blue Bird masuk, Pemprov Sumbar sudah memberikan kesempatan kepada seluruh armada taksi yang ada di Sumbhar. Ternyata tidak ada yang berubah, tidak ada yang pakai argometer. Begitu juga dengan peremajaan. Buktinya hingga sekarang tidak ada armada yang lebih muda umurnya dari 10 tahun. Sedangkan aturan membolehnya taksi maksimal selama 7 tahun sudah diremajakan. Katanya, pada 1990 lalu, telah dilakukan penghitungan kebutuhan taksi. Tahun 2005, dikeluarkan 1.550 izin taksi. Namun, realisasi dari izin tersebut hanya 1.105 unit untuk 17 perusahaan taksi. Pada akhir 2012 lalu, hanya 12 perusahaan taksi saja yang masih beroperasi. Sisanya dipenalti karena tidak memenuhi ketentuan untuk peremajaan angkutan dan tak memenuhi kuota yang telah diberikan. “Awalnya banyak perusahaan taksi yang mengaku akan menyiapkan kuota dalam jumlah besar. Tapi setelah izin diberikan, armada yang diturunkan tak sebanding dengan kuota yang telah mereka minta,” ucapnya. Sekarang jumlah taksi yang ada adalah 464 izin, tapi yang telah memiliki izin sebanyak 343. Dishub memberikan izin Taksi Blue Bird untuk memenuhi kebutuhan taksi di Sumatra Barat. “Kehadiran Blue Bird dapat dijadikan stimulus bagi perusahaan taksi yang telah ada di Sumatera Barat,” ujarnya. Mudrika mengatakan dalam lima tahun, Blue Bird akan melakukan peremajaan terhadap armadanya. Taksi yang terkenal di Pulau Jawa ini memiliki tarif sekitar Rp4 ribu hingga Rp6 ribu sekali buka pintu. Selanjutnya penghitungan sesuai jarak tempuh melalui argometer. Sedang untuk pengemudinya, Blue Bird merekrut dari Sumbar. Bahkan sekarang masih kekurangan pengemudi. “Informasi yang kami terima, Blue Bird masih kekurangan sopir. Dari 75 orang yang mereka butuhkan baru 30 orang yang telah ada,” ujarnya. (Hendri Nova dan Yoserizal) Harian Singgalang | Tanggal 11 May 2013 http://hariansinggalang.co.id/blue-bird-siap-layani-padang/ -- * * *Wassalam * *Nofend St. Mudo 36Th/Cikarang | Asa Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok Selatan Tweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola * -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
