Assalamu'alaikum, Pak Akmal,
Tarimokasih atas dorongan semangatnya, Pak. Insyaallah, suatu saat hal itu bisa terwujud. Jauah dari lubuak hati nan paliang dalam, veri lai ingin pulo nak mambuek carito samacam itu Pak. Tapi, masih alun juo bisa fokus untuk menulis lai Pak. Mudah2an, setelah proyek antologi Ranah, veri bisa melanjutkan dengan menulis curito itu, Pak. Mohon bimbingan dan dukungan selalu dari Bapak-Ibu nan di Palanta. Wassalam, Noveri 25+, M, Jakpus Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: Akmal Nasery Basral <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Fri, 10 May 2013 11:05:10 To: [email protected]<[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: @ Noveri Maulana dan ... Re: [R@ntau-Net] Pasar Ternak Tarimo kasih atas tambahan info sanak Andiko nan menarik. Wakatu kopdar di rumah Bundo Nismah bulan lalu, adinda Noveri Maulana menjelaskan bahwa beliau berasal dari keluarga penjual jawi.. Penjelasan Veri waktu itu memikat semua pendengar, karena menjadi problem identifikasi diri dia selanjutnya: apakah mau terus sebagai pelanjut tradisi penjual jawi, atau memutus "garis takdir" itu dengan melanjutkan sekolah dan mencoba profesi lain. Karena basic S1 Veri dari Jurnalistik Unpad dan juga suka menulis, ambo berharap dalam waktu dekat Veri bisa menghasilkan novel (semi biografi) dengan setting utama pasar ternak/jawi ini, sebagaimana Iwan Setyawan (dari Batu, Malang) menulis pengalamannya sebagai anak supir angkot sebelum akhirnya sukses sebagai sebuah direktur perusahaan riset dalam "9 Summers 10 Autumns" yang kini sedang diputar filmnya juga. Maaf kalau agak sedikit menyimpang ke adinda Veri Maulana, karena salah satu "hobi" ambo adalah membakar semangat orang lain untuk mau menulis buku. Wassalam, ANB Cibubur Pada Jumat, 10 Mei 2013, Andiko menulis: > Pak Akmal jo sanak palanta > > Beberapa tahun lalu ambo pernah membantu kasus sebuah nagari di 50 kota. > Salah satu jorong di nagari itu adolah pataranak tangguh. Karena tanah > terbatas dan sebagian besar dipakai dek pihak lain karena kecelakaan > sejarah pinjam pakai ulayat di maso Bulando dulu, mako rakyaik sabana > tagantuang jo satumpak tanah sajo. Tapi untuanglah mereka ahli dalam > penggemukan taranak. Mereka survive menggunakan tanah itu dalam siklus > rumpuik untuak penggemukan sapi. Salamo kasus itu ambo bakawan jo sorang > toke taranak disinan, sahinggo saketek-saketek dapek info baa bana teknik > manggaleh barosok ko. Satu kenangan lain, ukatu tokoh2 nagari ko di > kriminalisasi dan masuak pinjaro, di dalam pinjaro mereka ko jadi semacam > pahlawan kecil nan di elu-elukan dek saisi kandang situmbin itu. Salah > sorang napi nan pandai manggambar, kemudian melukis sketsa baa peristiwa > tokoh iko di tangkok dek aparat. Yo sabana heroik lukisan itu. Salah satu > tuduhan ka tokoh-tokoh pejuang ko adolah mambao sinjato tajam tampa izin, > seperti biasalah di kasus-kasus rakyaik lawan penguasa. Lucu sabana lucu, > jadi dunsanak ko mangecek se di pengadilan, ambo ko toke taranak dan urang > kampuang, nan ambo baok adolah pisau dapua cap garpu atau pisau kampagi nan > gunonyo untuak mamutuih tali taranak, atau sakali-sakali kalau hari hujan, > untuak pa ambiak daun pisang untuak bataduah. > > Lain pulo nasip kawan ambo di solok nan artamo mengembangkan penggemukan > sapi intensif setelah tamaik dari IPB. Baliau partamo ma ajak urang > nagarinyo mananam rumpuik, hebohlah urang di nagari mangatokan kamanakan si > anu alah gilo, kok rumpuik ditanam.... > > Baitu sekelumit hubungan silaturrahmi nan berputar disekeliling peternak. > > Salam > > andiko > > Dari tapian ombak nan badabua selat Malaka > > Pada Jumat, 10 Mei 2013 10:02:42 UTC+7, Akmal Nasery Basral menulis: > > Sanak Andiko n.a.h., > tradisi Barosok ko ado digambarkan dalam film "Negeri 5 Menara" (adaptasi > dari novel berjudul sama karya Ahmad Fuadi, sastrawan muda Minang > kelahiran Bayur, Maninjau). Menarik melihat adegan ini, sehingga anak-anak > ambo bertanya, "Itu mereka lagi ngapain, Pa? Kok tangannya gerak-gerak di > balik sarung?" > > Bagi ambo dan lahia dan gadang di rantau dan alun pernah mancaliek > langsung barosok (hanyo mandanga sajo tentang tradisi ko), adegan barosok > dalam "Negeri 5 Menara" itu sangat membantu. > > Wassalam, > > ANB > 45, Cibubur > > > Pada Jumat, 10 Mei 2013, Andiko menulis: > > Barosok corao jua balinyo mak ngah, di bawah sedikit artikelnyo > > Tradisi Barosok yang Bikin Penasaran > REP | 05 November 2011 | 01:55 Dibaca: 157 Komentar: 17 Nihil > Hari raya kurban akan segera datang. Hawa-hawa nya sudah tercium dari > sekarang. Hhhmmm … dimana-mana terendus aroma yang cukup kuat, apalagi > kalau bukan aroma tubuh dan kotoran si emmooh dan si embek yang membuat > perut jadi turun naik. > > Tiba-tiba saja pedagang hewan kurban mendadak muncul dimana-mana. Di > pinggir-pinggir jalanan ibukota pedagang hewan kurban menjamur bak > cendawan di musim hujan ( lhaaa … emang sekarang lagi musim hujan kan .. > hehe..). Terlihat para calon pembeli mondar mandir untuk melihat-lihat > hewan yang sesuai dengan keinginan mereka, diselingi tawar menawar harga > dengan penjual secara terang-terangan. Para penjual pun berlomba menawarkan > harga yang bersaing agar para pembeli berkenan membeli hewan ternak mereka. > > Lain di ibukota, lain juga di kampung halaman saya, di Sumatera Barat > sana. Saya ingat dulu sewaktu saya masih SD, saya pernah di ajak oleh salah > seorang Om (kakak laki-laki ibu saya) saya ke sebuah pasar ternak di > daerah Payakumbuh. Om kala itu hendak membeli seekor sapi untuk di > kurbankan pada hari raya Idul Adha. Saya yang pertama kali di bawa ke pasar > ternak tersebut begitu heran, kenapa orang-orang saling bersalaman di balik > baju, sarung atau pun saputangan. Dan ternyata om saya juga melakukan hal > yang serupa dengan salah seorang pedagang. Dalam perjalanan pulang saya pun > menanyakan perihal yang membuat saya terheran sewaktu berada di pasar > ternak tadi. Om menjelaskan bahwa itu di sebut dengan istilah ” barosok “. > > Barosok sudah menjadi tradisi jual beli di pasar ternak secara turun > temurun di Sumatera Barat konon sejak zaman raja-raja Minangkabau dulu. Di > sebut Barosok karena tawar menawar terjadi dengan cara berpegangan (lebih > tepatnya berjabat) tangan di balik kain atau baju. Barosok dalam bahasa > Minang berarti dipegang dengan tangan. Tradisi ini cukup unik, setelah > pembeli merasa cocok dengan hewan yang akan dibelinya, maka tawar menawar > pun terjadi dengan si penjual. Mereka tidak mengeluarkan suara saat tawar > menawar harga, melainkan berjabat tangan di balik kain atau baju. > > Mereka tidak sekedar berjabat tangan saja, tetapi di balik kain tersebut > jari-jari mereka ” bermain ” sebagai penanda naik turunnya harga. > Masing-masing jari memiliki harga yang hanya bisa dimengerti oleh mereka > berdua saja. Setelah di dapat kesepakatan harga, maka sapi atau kerbau > boleh di bawa pulang oleh pembeli. > > Tradisi turun menurun yang masih berlangsung sampai sekarang ini memiliki > beragam makna, di antaranya adalah, agar harga hewan di pasaran ternak > tetap terjaga kerahasiaannya sehingga oknum-oknum berduit yang ingin > mengacaukan harga tidak bisa berkutik lagi. Kemudian jika si penjual pintar > bertransaksi, ia akan bisa memperoleh untung tanpa adanya tekanan dari > pihak lain. Si pembeli pun akan dengan leluasa menjual kembali hewannya > tersebut sesuai dengan harga yang diingikannya dan tentu akan mendapatkan > untung yang lebih. Dan yang terpenting adalah tradisi ini mengajarkan kita > bagaimana menjaga sebuah rahasia. > > Barosok, semoga menjadi tradisi unik negeri yang tak akan lekang oleh > zaman. > > http://sosbud.kompasiana.com/**2011/11/04/tradisi-barosok-** > yang-bikin-penasaran-409748.**html<http://sosbud.kompasiana.com/2011/11/04/tradisi-barosok-yang-bikin-penasaran-409748.html> > > Pada Jumat, 10 Mei 2013 7:12:30 UTC+7, sjamsir_sjarif menulis: > > Mungkinkah Pasar Ternak "Padang Siantah" dakek Situjuah nan paliang gadang > di Sumatera Barat? Kini ka ado Pasar Ternak di Gunung Medan, mungkin ka > labiah gadang. > > > <http://www.padangmedia.com/1-Berita/81684-Gubernur-Resmikan-Pasar-Ternak-Gunung-Medan.html> > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Grup Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke rantaunet+berhenti > [email protected]<javascript:_e({}, 'cvml', > '[email protected]');>. > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > > > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
