Sabtu, 11/05/2013

'Padusi': 3 Legenda Minang untuk Indonesia Masa Kini (12:46 WIB) 

Pertunjukan teater-tari berjudul 'Padusi' yang dipentaskan di Teater Jakarta, 
Sabtu-Minggu (11-12/5/2013) sungguh sangat relevan dengan situasi politik Tanah 
Air saat ini. Ketika perempuan-perempuan --muda, cantik, dengan citra 
terpelajar dan mandiri-- muncul dari balik pusaran kasus-kasus korupsi. Hal itu 
barangkali memunculkan pertanyaan, sedemikian jauh perjalanan bangsa ini, 
sampai di mana dan ada di manakah kaum perempuannya?

Ternyata, kaum perempuan masih menghadapi persoalan yang itu-itu saja, dengan 
isu paling besar ditinggal kawin lagi oleh suami. Atau, tak kurang apes dari 
itu, dipinang oleh laki-laki yang tak dikehendaki, namun begitu berkuasa dan 
sulit ditolak. Dan, jangan pernah bilang bahwa hal itu hanya terjadi dalam 
cerita rakyat dan legenda yang sudah usang ditelan zaman. 

Nia Dinata, yang bertanggung jawab atas penulisan naskah 'Padusi', mengangkat 3 
legenda perempuan dari Minang untuk pementasan ini. Tiga-tiganya bukanlah 
perempuan yang bahagia, karena hidup dan nasibnya masih ditentukan oleh 
laki-laki di sekitarnya. Dibingkai dengan perspektif kekinian, dikemas dalam 
alur yang sederhana namun padat dan tangkas, pertunjukan ini berhasil 
menunjukkan bahwa 3 legenda "kuno" itu masih valid menggambarkan kondisi umum 
kaum perempuan hari ini.

Ine Febriyanti memerankan secara berganti-ganti 3 perempuan sekaligus. Pertama, 
ia tampil sebagai Puti Bungsu, bidadari yang kehilangan sayapnya setelah mandi 
di telaga di bumi, sehingga tak bisa kembali ke kayangan. Ia pun terpaksa 
menerima ajakan Malin Deman, pria kampung yang manja dan masih sangat 
tergantung pada ibunya, untuk ikut pulang ke rumahnya, dan menjadi istrinya. 

Kedua, Ine berperan sebagai Siti Jamilan, dalam sebuah kisah pedih tentang 
pengkhianatan seorang suami yang tak bisa menahan nafsunya untuk kawin lagi 
dengan perempuan yang lebih muda. Ketiga, Ine menghidupkan kembali sosok Sabai 
dari legenda popular Sabai nan Aluih, yang menolak pinangan datuk tua kaya Rajo 
nan Panjang. 

Tiga legenda tentang perempuan itu muncul kembali sebagai buah dari perjalanan 
kontemplatif seorang perempaun muda masa kini bernama Padusi (diperankan oleh 
Marissa Anita). Padusi (bahasa Minang, artinya perempuan) pulang ke kampung 
halamannya setelah 10 tahun, dan bermaksud melacak asal-usul dan akar budaya 
yang telah membentuknya sebagai perempuan saat ini. 

Sejak awal dibuka, panggung sudah langsung menyedot perhatian dengan adegan di 
sebuah bandara, saat Padusi tiba. Adegan kedua, tanpa bertele-tele, kemudian 
memasuki legenda Puti Bungsi yang menghanyutkan. Panggung tiba-tiba berubah 
menjadi panorama alam nan elok, dengan pada bidadari mandi di telaga hutan. 
Perpaduan unsur-unsur video dan tirai transparan berhasil menciptakan 
manipulasi visual yang seolah membawa penonton ke alam lain.

Tiga legenda perempuan itu terpapar berturutan, dihubungkan dengan benang merah 
yang kuat, dibingkai dan dihiasi musik serta lagu yang membuai, dan pada adegan 
tertentu terasa kelam, magis, dan mencekam. Ini adalah kolaborasi dari penata 
tari Tom Ibnur, sutradara Rama Soeprapto dan penata musik Yaser Arafat. 

Bila bisa dirangkum dalam satu kata, maka 'Padusi' bisa digambarkan sebagai 
sebuah pertunjukan yang sederhana. Namun, justru di situlah letak kekuatannya. 
Kesederhanaan menjadi sebuah kesengajaan dalam pentas ini, tanpa kehilangan 
kesempatannya untuk mengggali semangat perlawanan perempuan.

Kedengarannya berat, tapi 'Padusi' mengemas dirinya dalam porsi yang serba pas. 
Ringan tapi esensial, "ngepop", tapi tak kehilangan daya gugah. Sebuah 
persembahan yang cocok terutama untuk perempuan-perempuan kelas menangah kota 
Indonesia masa kini, dan tentu saja laki-laki modern yang ingin tercerahkan 
jiwanya.

Selama dua hari, 'Padusi' dipentaskan setiap pukul 14.00 dan 19.00 WIB. Tiket 
dijual dalam 4 kelas dengan harga masing-masing Rp 250 ribu, Rp 500 ribu, Rp 
700 ribu dan Rp 1 juta.


(mmu/km
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: Muchlis Hamid <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 11 May 2013 18:01:31 
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [R@ntau-Net] SMS dari Pak Fasli Jalal tentang Sendratari kolosal
 PADUSI di TIM

Sanak nan sandiang minum kopi di Palanta,

Ini ado sms dari Pak Fasli Jalal. Beliau minta pesannya disebarluaskan.


Quote.

Bpk dan Ibu yth, 
Ambo, bersama banyak orang termasuk Pak Taufik Kiemas, baru saja menonton 
Pagelaran PADUSI, sebuah sendratari kolosal karya Tom Ibnur, yg menurut Ambo 
luar biasa atau dlm bahaso Minang; Rancaaak Baanaaa. Pertunjukan selama 1 jam 
30 menit ini didukung oleh Jajang C Noer, Niniek L Karim, Ine Febrianti dan Nia 
Dinata sebagai penulis senario dgn pemain dari IKJ serta ISI Padang Panjang yg 
menceritakan  tantangan yg dihadapi perempuan Minang di masa lalu, sebagai 
sumber inspirasi, motivasi dan pembelajaran nilai-nilai utk utk perempuan 
Indonesia dan dunia. Pagelaran ini WAJIB DITONTON dan masih akan dipertunjukkan 
pada Hari Minggu, 12 Mei, jam 2:00 siang dan jam 7:30 malam di Teater Jakarta, 
Taman Ismail Marzuki, Cikini. Mohon disebar luaskan info utk menonton Pagelaran 
yg HIGHLY RECOMMENDED ini. Sesudah menontonnya maka perasaan yg Ambo rasakan: 
BANGGA AKU JADI ORANG INDONESIA YANG BERASAL DARI MINANG, Insya Allah akan 
Bpk-bpk rasakan juga. Be there! 
Salam, 
Fasli Jalal.
Unquote.

Jangan-jangan Tom Ibnur mengambil ide cerita dari buku Evy: PADUSI.
Tom Ibnur adalah koreografer asa Saningbaka, tapi Danau Singkarak.

Salam,

Muchlis 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke