50 Ha TNKS Solsel Dijarah
♦ Lahan Hutan Diperjualbelikan Warga | ♦ Dua Kecamatan Berpotensi Banjir 
Besar
 Padang Ekspres • Senin, 13/05/2013 10:49 WIB • Redaksi • 342 klik


Solsel, Padek—Lebih dari 50 hek­tare lahan di kawasan hutan Taman Nasional 
Kerinci Seblat (TNKS) Solok Selatan rusak diba­bat. Diduga, pelakunya 
adalah warga Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Ironisnya, pengelola TNKS 
terkesan cuek de­ngan pembalakan liar yang berpo­tensi menyebabkan banjir 
besar di Kecamatan Sangir dan Sangirjujuan.
 
Informasi yang dihimpun Pa­dang Ekspres, kawasan yang diru­sak dimulai dari 
Gunung Bontak dan Gunung Pasie, Nagari Lubuk­gadang, Kecamatan Sangir 
hingga Golden Arm, ibu kota Solsel.
 
Direktur LSM Institution Conservation Society (ICS) Solsel, Salva Yan­dri 
mengatakan, kawasan hulu Batang Sangir dibabat para pem­balak sehingga 
potensi galodo jika hujan.
 
“Kita kecewa dengan pihak TNKS, karena telah melakukan pembiaran terhadap 
pembalakan hutan TNKS oleh warga Kerinci,” tegas Salva Yandri ketika 
ditemui Padang Eks­pres di Padangaro, kemarin (12/5).
 
Kata dia, 10 dari 50 hektare hutan TNKS yang dibabat itu meru­pa­kan 
kawasan zona inti dan telah memasuki kawasan pusat ibu kota. Pembalakan 
hutan itu telah dila­kukan sejak tiga bulan lalu, pada ke­ting­gian 1.008 
dari permukaan laut. Bagian utara berada pada ko­or­dinat 0755930 dan 
bagian selatan pada 98200408, yakni hutan sekunder.
 
Tidak hanya kawasan hu­tan yang dibabat, puluhan hulu sungai besar maupun 
kecil juga rusak dan berpotensi banjir besar di Kecamatan Sangir dan 
Sangirjujuan. Bila musim hu­jan, tidak tertutup kemung­kinan Batang Sangir 
akan meluap.
 
“Ini mengancam kese­lama­tan warga yang berdo­misili di sepanjang aliran 
sungai, akibat pembalakan hutan TNKS dan perusakan ulu sungai. TNKS juga 
ikut bertanggung jawab, karena telah melakukan pem­biaran,” tegasnya.
 
Bekas pembalakan itu dija­dikan perkebunan kopi, kayu manis dan kayu 
surian, bahkan diperjualbelikan tanpa surat pengesahan jual beli tanah dari 
Pemkab Solok Selatan. Sebe­lum tim penyelamat alam dan fauna itu datang, 
warga yang membalak TNKS tersebut ter­le­bih dulu kabur.
 
Murasman, warga yang ditemui di hutan TNKS, me­ngaku warga Kerinci. Lahan 
TNKS itu dibelinya dari warga Ke­rinci. Tapi, dia enggan me­nye­but 
identitas warga tersebut.
 
“Kami temukan warga yang menggunakan logat ba­ha­sa Kerinci, yang berusaha 
kabur saat razia. Tanah ini telah saya beli dari teman saya, juga warga 
kerinci,” kata Mu­rasman.
 
Dari penelusuran tim ICS, pondok-pondok di tengah hu­tan itu ada kalender 
Bupati Kabupaten Kerinci. Ada pu­luhan pondok di dalam hutan itu. Di dalam 
pondok ada alat penjerat binatang (satwa liar), alat komunikasi radio yang 
menggunakan sistem nirkabel. “Ini harus segera ditindak. Jika tidak, makin 
leluasa orang me­rambah hutan Solsel,” katanya.
 
Tokoh pendiri Kabupaten Solsel, Sutan Saridin men­desak pihak TNKS dan 
polisi kehu­tanan segera membe­rantas pembalakan hutan lin­dung itu.
 
Sutan mengungkapkan, tahun 2009 dan 2010 ma­syarakat Solsel telah mengusir 
warga tetangga yang meram­pas tanah masyarakat Lubuk Ga­dang Timur 
Kecamatan Sangir. Saat itu, sempat terjadi bentrokan.
 
“Pemkab Solsel melarang masyarakatnya menebang hu­tan TNKS atau berladang 
di sana. Tapi, warga Kerinci di­bia­rkan. Ada apa ini?” kata Ninik mamak 
Solsel, Syafrudin Wakil Pintu Basa.
 
Tanah dan hutan yang te­lah mereka kuasai secara ilegal, yakni Kubanggajah, 
Teluk Air Putih, Gunung Bontak dan kawasan Golden Aem.
“Kita berharap pemkab, TNKS dan polisi kehutanan se­gera memberantas 
pelaku. Jika sudah diperjualbelikan tanpa surat menyurat, berarti niniak 
mamak, masyarakat dan peme­rintah hingga ke tingkat jorong sudah 
dike­labui,” te­rangnya. 
 
Kepala TNKS Solok Sel­a­tan, M Zainudin ketika di­konfirmasi mengklaim 
kaw­a­san Gunung Bontak bukan termasuk wilayah TNKS. Na­mun begitu, dia 
me­ngaku su­dah tahu dengan pem­balakan liar itu.
 
Seperti di kawasan Gunung Pasir hingga ke Golden Arm, perlu dikroscek atau 
meninjau kembali hutan TNKS yang dibalak tersebut dalam waktu dekat. “Bila 
sudah melanggar undang-undang, mereka akan kita tangkap dan disanksi 
se­suai hukum yang berlaku,” ujarnya ketika dikonfirmasi Padang Ekspres di 
Padangaro.
 
Sebelum diambil tindakan, titik koordinat hutan harus ditentukan dulu. 
Apakah ma­suk dalam kawasan hutan TNKS, atau hutan HPL. Bila hutan HPL, 
yang berwenang menindak ada­lah dinas terkait, bukan TNKS.
 
Diakuinya, hulu sungai ba­nyak yang telah rusak akibat pembalakan hutan. 
Namun dia menegaskan tidak pandang bulu untuk menertibkannya.
 
Menyikapi itu, Kepala Di­nas Kehutanan Solsel, Tri Han­doyo Gunardi 
mene­gas­kan akan segera berkoordinasi dengan pihak TNKS. “Hari ini (Senin, 
red) kita segera berko­ordinasi dengan TNKS,” ujar­nya ketika dihubungi 
Padang Ekspres, tadi malam.
 
Kata dia, Dishut dan TNKS akan mengecek ke lokasi dan menentukan mana 
kawasan hutan TNKS dan APL (areal pengguna lainnya). Ini, untuk menghindari 
perbedaan dalam menentukan titik koordinat hutan tersebut.
 
“Saya akan koordinasikan dulu dengan pihak TNKS, dan bersama-sama menyisir 
lokasi hutan yang telah dibabat ok­num pelaku. Bila sudah dipe­ringatkan, 
masih saja bera­da di lokasi, baru upaya penang­kapan berdasarkan aturan 
yang berla­ku,” jelasnya.  (mg20)
[ Red/Administrator ]

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke