Para “pemburu” emas di Solok Se­latan, teribaratkan pada emas ada ce­mas.
Selain maut mengancam, po­lisi siap menangkap, karena me­reka dianggap
liar. Hidup harus me­ngais rezeki, termasuk berharap ke­beruntungan setelah
ada yang mati.

DUDA empat anak itu bernama Burman. Ia berdiri telanjang dada, menatap riak
aliran Batang Hari. Di dua tangannya, terpegang pipa besar, yang katanya,
segera dibawa ke dasar sungai. “Pipa ini biasa kami sebut spiral,” kata
lelaki itu sambil menunjuk pipa yang tengah ia pegang.

Sementara, di atas permukaan sungai, di dekat Burman, terlihat su­sunan
papan-papan terapung. Di atas papan terapung itu, tampak ada sebuah mesin,
yang katanya, itu mesin dompeng untuk emas. Spiral atau pipa yang di tangan
Burman tersebut, nantinya akan terhubung ke mesin dompeng.

Di sungai yang mengalirkan hara­pan dan impian emas itu, Burman tidak
sen­diri. Ia bersama lima teman lainnya. Cu­ma Burman yang mau diajak
bercerita.

Burman pun terjun ke dasar su­ngai. Kemudian, diikuti Pitok, lajang 19
tahunan. Tugas keduanya, sesung­guhnya menyelam. Pitok, member­sih­kan
lokasi dalam sungai yang akan disedot dengan spiral oleh Burman.

Dreng…! Dreng…! Dreee… enngg!

Terdengar suara mesin berkekuatan 25 PK, yang sekaligus terasa membunuh
sesuara alam. Suara mesin itu cukup memekakkan telinga. Makin lama,
suaranya makin keras menyobek keheningan belantara Talantam, Lubuk Ulang
Aling Selatan, Kecamatan Sangir Batang Hari itu.
Hari di ambang tengah hari. Burman dan Pitok, telah menyatu dengan riak
sungai yang seakan terus mengalirkan kehidupannya. Sementara empat rekannya
mengendalikan dari atas. Mereka juga sudah memiliki tugas masing-masing.
Ada yang di bagian mesin, ada pula yang mengawasi pasir hasil sedotan.

Beberapa menit kemudian, material dari dasar sungai mulai mengalir ke atas.
Pertanda, dari dalam sungai Burman dan Pitok sudah mulai beraksi
menempelkan spiral ke dasar sungai layaknya vacuum cleaner. Sementara di
bagian atas, terlihat hasil sedotan berupa pasir halus dan kerikil terpisah
secara otomatis. Nah, di antara pasir halus itulah terdapat butiran emas.

Sementara, sejak menyelam tadi, sudah lebih 30 menit, Burman dan Pitok
belum juga muncul. Ia masih berada di dalam dasar sungai. Adakah dia
baik-baik saja, setengah jam lebih menahan napas demi emas di dasar sungai?

“Saya pernah satu jam di dalam sungai, menahan napas. Telinga saya pun
mengeluarkan darah dan kepala menjadi sangat pusing,” kata Burman, setelah
muncul dari sungai dan menuju tenda berterpal biru, yang dipasang di tepi
sungai. Diakui teman-temannya, kemampuan Burman yang tak tertandingi,
menyelam bisa sampai satu jam di dalam sungai. Karena itu pula, bagian
menyelam, selain Pitok, tentulah Burman.

Ancaman Maut dan Polisi

Berharap emas tetap menuai cemas, seakan telah menjadi pakaian hidup Burman
dan kawan-kawan. Selama tujuh tahun menjadi pekerja tambang, satu tahun
terakhir ini merupakan masa-masa paling sulit. Hampir saban hari ia dan
kawan-kawan waspada satu, menghindari razia aparat kepolisian.

Agar lebih aman, Burman cs mencari lokasi yang tidak terjangkau razia.
Untuk mencapai lokasi yang dianggap teraman, mereka harus menempuh tujuh
jam perjalanan. Empat jam di antaranya berjalan kaki, turun naik lembah,
dan berenang mengarungi sungai-sungai kecil. Tiga bulan lalu, nasib Burman
bersama 12 kawannya, benar-benar lagi apes. Stok makanan yang mereka bawa
ke hutan habis. Mau keluar, polisi lagi razia. “Kami hampir mati kelaparan
di tengah hutan. Mau keluar takut tertangkap,” timpal Dodi, salah seorang
teman Burman kala itu.

Dengan perut yang makin kempes, tubuh menggigil, mata berkunang-kunang
mereka berusaha mencari apa saja tanaman hutan yang dapat dimakan, agar
bisa bertahan hidup. “Satu hari itu kami terpaksa makan sabuang rebus,”
kenang Burman lalu tersenyum.

Menjadi penambang emas (menggunakan dompeng-red). menurut Burman, bukanlah
perkara mudah. Rezeki harimau. Kadang dapat, kadang tidak. Kalau lagi
nahas, bisa saja satu bulan tidak menggoyang sama sekali. Tapi kalau lagi
ada rezeki, paling banter, 1 kg emas per bulan. Itu pun harus dibagi dengan
bos dan sesama pekerja lainnya. Biasanya, ½ kg untuk bos, dan ½ kg lagi
dibagi rata untuk tujuh pekerja.

Di antara kilauan emas ada maut yang siap mengintai. Apalagi menambang
dengan menggunakan dompeng. Risikonya sangat tinggi. Tidak sedikit para
penambang yang bersabung nyawa karena tenggelam dan tak sanggup lagi
bernapas. Ada pula yang mati tertimbun. Itu bila penambang beraktivitas di
daratan atau di tebing sungai. Mereka mengebor hingga membentuk lubang
sedalam 20-30 meter. Mereka terus membuat lubang dan akhirnya terkubur
dalam lubang yang dibuat sendiri.

Tiga hari kemudian, air sungai akan terlihat membiru. “Teman yang terjepit
di lubang dan tak bisa keluar memang tak bisa ditolong. Terpaksa dibiarkan
saja. Mereka hanya tinggal nama,” kata pria kelahiran Lubuk Gadang Timur,
Sangir itu.

Selama menjadi penambang emas, lelaki yang hanya tamat SD itu nyaris tidak
ingat lagi jumlah penambang yang mati tertimbun dan tenggelam di depan mata
kepalanya sendiri. Anehnya, musibah kematian bagi seorang penambang,
membawa pertanda baik bagi peruntungan penambang lainnya. Bila hari ini ada
yang mati tenggelam atau tertimbun, maka besok atau lusa, rezeki penambang
naik drastis. Selalu begitu. “Setiap ada yang mati, pasti rezeki naik,”
ucap Burman dan diiyakan Dodi.

Begitu pula sebaliknya. Sudah terekam jelas di ingatan para penambang bahwa
ketika rezeki lagi banyak, biasanya akan ada penambang yang tewas
tertimbun. Di sela rasa bahagia mendapat emas lebih banyak, terbersit rasa
takut yang mahadahsyat. Siapa yang menjadi korban berikutnya? Alam seperti
menuntut tumbal dari para pemburu emas itu.

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solok
Selatan dan Polres Solok Selatan sejak Januari 2013 hingga 20 Mei 2013,
diketahui ada enam penambang emas yang tewas. Tiga di antaranya meninggal
akibat keracunan asap dompeng saat menambang di kawasan Talakik, Nagari
Ranah Pantai Cermin, Sangir Batang Hari. Dua penambang emas lagi meninggal
karena tertimbun di lubang bekas galian ekskavator di Lubuk Ulang-Aling,
Sangir Batang Hari. Sedangkan satu penambang lainnya, tewas karena hanyut
saat menyeberang Batang Hari.

Para penambang, khususnya yang menggunakan dompeng, paham betul bahwa
pekerjaan mereka sangat berisiko. Seperti pengakuan Anto, 45, warga Abai,
Kecamatan Sangir Batang Hari. Bapak empat anak yang ditemui di lokasi
tambang kawasan Alai, Nagari Lubuk Ulang-Aling Selatan, Sangir Batang Hari
mengaku mulai menambang emas sejak dua tahun silam. Pengalaman pertama
diajak oleh tetangganya, Anto berhasil membawa pulang dua emas atau senilai
hampir Rp 2.000.000, hanya dalam tempo tiga hari. Anto pun mulai kecanduan.
Kilauan emas, membuatnya gagah berani meski menghadang maut sekalipun.

Lain halnya dengan DD dan BM. Penambang yang minta nama dan alamatnya tidak
dicantumkan ini, sebelum beralih pekerjaan, mereka adalah buruh tani dan
penakik getah. Satu tahun terakhir, seiring dengan masuknya peralatan
canggih untuk mengolah sawah, jasa buruh tani di kampung mereka nyaris
tidak lagi terpakai. Kebun karet yang diharapkan menjadi tumpuan ekonomi
keluarga, kenyataannya tak bisa lagi diandalkan. “Harga getah di tempat
kami Rp 4.000 per kilogram, dengan apa anak akan disekolahkan?” cerita BM.

Harga karet menjadi sangat anjlok karena akses jalan menuju kampung mereka
sangat sulit. Untuk sampai ke ibu kota kecamatan, setengah jam perjalanan
dengan motor harus menempuh jalan tanah. Setengah jam lagi harus mengarungi
aliran Batang Hari, dengan menggunakan timpek.

Orang Luar tak Macam-macam

Para pekerja tambang di kawasan Solok Selatan, tidak hanya melibatkan orang
lokal. Akan tetapi, juga banyak yang “diimpor” dari luar Sumatera. Seperti
dari Kalimantan, Pekanbaru dan Jawa. Biasanya, jasa para pekerja yang
eksodus digunakan untuk mengoperasikan kapal keruk dan ekskavator. Dua
jenis alat menambang tersebut, pada umumnya digunakan bos tambang dari luar
Solsel. Risikonya memang lebih ringan daripada menggunakan dompeng. Dompeng
sendiri, rata-rata dimiliki bos tambang lokal.

Imam, salah seorang pekerja tambang dari Jawa Timur mengatakan, produk luar
sangat diminati bos tambang, karena biasanya penambang yang dibawa dari
luar tidak akan berani macam-macam. Beda halnya bila bos tambang memakai
pekerja lokal. Menurut pria berusia 40 tahun itu, para penambang yang akan
eksodus itu pun tidak luput dari seleksi. Bila ada kemungkinan sesama
penambang berkongkalikong, maka mereka akan terancam di-PHK.

Kedatangan para pekerja tambang dari luar termasuk keputusan yang berani.
Kalau tidak waspada, aktivitas penambangan liar yang mereka lakukan, bisa
saja terjaring razia. Namun, dari sejumlah pekerja “impor” yang ditemui,
jarang dari mereka yang merasa resah dan gelisah. Mereka aman dan
tenang-tenang saja. Sebagaimana pengakuan HR, operator ekskavator dari
Pekanbaru. Menurutnya, bosnya sudah mengatur semuanya, sehingga tak perlu
lagi khawatir tertangkap oleh aparat. Dia sendiri mendapat upah hingga 15
persen dari perolehan emas yang dihasilkan. Bila dikalkulasikan, HR bisa
meraup Rp 30 juta hingga Rp 70 juta setiap bulannya.

Pemkab Solok Selatan saat ini tengah memperjuangkan izin usaha pertambangan
rakyat (IUPR) ke Kementerian ESDM, sebagai upaya penetapan wilayah
pertambangan rakyat (WPR). Langkah ini dilakukan agar masyarakat penambang
dapat beraktivitas dengan aman dan nyaman, serta tidak menyalahi aturan.

“Bila izin telah keluar, tambang rakyat akan ditata kembali dengan baik.
Rakyat bebas menambang, masukan untuk PAD (pendapatan asli daerah) juga
ada. Bila ini terwujud, masyarakat sejahtera, pembangunan akan menggeliat,”
tutur Bupati Solok Selatan, Muzni Zakaria.

Langkah ini mendapat dukungan dari tim kaukus DPD-DPR RI daerah pemilihan
Sumbar. Tim yang diketuai oleh Irman Gusman saat lawatannya ke Solsel,
berjanji siap membantu Pemkab Solsel mencarikan solusi percepatan
pembentukan WPR. (***)

Padang Ekspres • Sabtu, 25/05/2013 11:28 WIB • Nenengsih & Ardi Tono |
http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=44043

-- 
*
*
*Wassalam

*
*Nofend St. Mudo
36Th/Cikarang | Asa Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok Selatan
Tweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola
*

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke