Pak Saaf dan Pak TR, sebenarnya dalam upaya memastikan apakah ada dana yang diterima LKAAM dari LIPPO atau tidak, bisa (dan harus) dilakukan oleh jurnalis, terutama yang bermukim di Sumatra Barat, melalui teknik investigative reporting.
Materi dasar yang harus dipegang, tapi kerap dilupakan, jurnalis adalah 10 elemen jurnalisme yang diformulasikan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, antara lain (tidak sesuai urutan dalam teori Kovach-Rosenstiel): 1. Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi (elemen ke-3). Wartawan harus punya insting dan keinginan melakukan verifikasi terhadap berita yang disiarkan, tidak sekadar jadi corong narasumber. Misalnya Pejabat X bilang, sejak kami mengadakan acara Y di daerah Z, kunjungan turis ke Z naik 10-15 % setiap tahunnya. Wartawan yang baik akan memverifikasi informasi ini dengan berbagai cara apa benar terjadi pertambahan kunjungan turis yang signifikan sejak ada acara Y, atau itu disebabkan oleh adanya kegiatan lain di luar acara Y? Contoh lain: Pejabat A bilang sejak kami bikin acara B di daerah C, maka jumlah pertambahan jalan terus naik tiap tahun. Ini tugas wartawan untuk memverifikasi, apa benar? Berapa pertambahan riil (kilometer) jumlah jalan itu sebenarnya? Cek lapangan, lihat data di PU, dll. Sayangnya seringkali wartawan hanya memamah info pejabat, kadang dengan bangga pula, seakan-akan seluruh statement itu adakah wahyu Ilahi yang tak perlu dicek lagi. Wartawan penganut "jurnalisme press release" ini, anehnya, gampang emosi kalau di dalam sebuah pembicaraan umum (misal di milis) ada yang yang mengingatkan "Apa benar jumlah jalan di C naik setelah ada acara B seperti kata pejabat A?" Mereka malah akan membalikkan pertanyaan, "Kalau warga ada yang tahu bahwa tidak ada pertambahan jumlah jalan dan pernyataan Pejabat A itu salah, kasih laporan dong!" Itu jenis wartawan yang sama sekali tidak paham bahwa verifikasi adalah tugas yang melekat jadi satu pada profesinya, bukan tanggung jawab warga/publik/pembaca. Kita sering melihat jenis wartawan ini mendemonstrasikan kepongahan sekaligus kebodohan mereka, hanya karena sudah diajak oleh Sang Pejabat untuk ikut melihat kegiatan serupa itu di tempat lain, kadang-kadang di luar negeri, seakan-akan itu adalah "embedded journalism" padahal sejatinya bukan. Balik ke tanah air, dan menulis di medianya, sikapnya sudah tak ada bedanya dengan humas Sang Pejabat. Kekritisannya hilang. Independensinya lenyap. Seluruh isi artikelnya adalah press release. Wartawan yang gampang dikenakan kritisismenya hanya dengan "diajak jalan-jalan" ini lupa pada elemen penting jurnalisme berikutnya yang dipostulatkan Kovach-Rosenstiel, bahwa: 2. Loyalitas pertama jurnalis adalah kepada warga (citizens) Meski status wartawan adalah karyawan pada sebuah perusahaan, tapi jika karyawan pada umumnya bekerja untuk kepentingan majikan, maka wartawan tak melakukan itu. Wartawan bekerja untuk kepentingan publik yang lebih luas, bukan untuk kepentingan pemilik perusahaan, pengiklan, atau aparat pemerintahan. Dalam konteks RS yang akan dibangun Lippo misalnya, loyalitas wartawan kepada warga Padang khususnya dan Sumbar umumnya, diterapkan melalui disiplin verifikasi apakah memang rasio kebutuhan RS di Padang sudah memerlukan adanya tambahan RS baru secara signifikan. Tidak sulit mencari data trend pasien di Padang selama 5 tahun terakhir, dengan ketersediaan kamar RS yang ada. Jika memang ada lonjakan jumlah pasien yang tak tertampung oleh jumlah kamar RS yang ada, maka kebutuhan hadirnya RS baru sudah mendesak, siapa pun pemilik RS itu. Ini verifikasi kuantitatif. Tapi kalau sekiranya data tidak menunjukkan itu, malah terjadi peningkatan jumlah kamar kosong RS dari tahun ke tahun, kenapa harus mendirikan RS baru? Dalam konteks adanya penyerahan uang masing-masing Rp 50 juta kepada LKAAM, Panti Asuhan Aisyiyah, Majlis Taklim (Majlis Taklim mana?) dan FK Unand, ya tugas wartawan yang melakukan verifikasi ini sebagai bentuk loyalitas mereka melayani kebutuhan informasi warga. Apalagi jika terjadi silang sengkarut seperti sekarang, di mana ada pihak yang disebutkan menerima tetapi membantah. Jika Ketua LKAAM membantah menerima, selidiki lewat bendahara karena sebagai organisasi, uang tentu dipegang bendahara. Apalagi sebagai organisasi yang melayani kepentingan publik, LKAAM tidak berhak merahasiakan penerimaan yang diberikan oleh pihak ketiga. Bagaimana kalau bendahara juga menampik informasi bahwa LKAAM menerima uang dari LIPPO? Ya tugas wartawan memikirkan cara lain untuk memastikan atau menegasikan validitas informasi itu. Masak untuk memastikan ada tidaknya aliran sumbangan Rp. 50 juta ke kas LKAAM saja wartawan Sumbar tidak bisa? Atau malah harus mengandalkan orang perantauan yang melakukannya? Jadi para wartawan Minang, terutama yang aktif di milis ini, tolong dibuka lagi lah pelajaran dasar yang diberikan pada setiap training dasar jurnalistik tentang elemen dasar jurnalisme Kovach-Rosenstiel ini, terutama asas disiplin verifikasi dan loyalitas (prioritas kerja) untuk kepentingan warga. Kenapa? karena wartawan yang berada di lapangan, di tengah medan tempur beragam kepentingan. Kalau wartawan hanya memilih sebagai corong dari "jurnalisme press release" saja, maka hakekatnya sudah tidak ada lagi media yang independen di Sumbar. Yang ada hanya sekumpulan brosur saja. Tentu bukan itu yang kita inginkan, bukan? Wassalam, ANB Cibubur Pada Minggu, 26 Mei 2013, Dr. Saafroedin Bahar. menulis: > Iyolah kok baitu bung Taufiq. Kito tunggu sajo baa perkembangannyo labiah > lanjuik. > Wassalam, > SB. > Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung > Teruuusss...! > > -----Original Message----- > From: [email protected] <javascript:;> > Sender: [email protected] <javascript:;> > Date: Sun, 26 May 2013 15:18:40 > To: <[email protected]> > Reply-To: [email protected] > Subject: Re: [R@ntau-Net] hadiah dari Lippo. > > > Ambo indak kenal wajah baliau pak Saaf > Nan mamacik iko siapo sajo yoo > > --TR > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > -----Original Message----- > From: "Dr. Saafroedin Bahar" <[email protected]> > Sender: [email protected] > Date: Sun, 26 May 2013 08:15:43 > To: [email protected]<[email protected]> > Reply-To: [email protected] > Cc: [email protected]<[email protected]> > Subject: Re: [R@ntau-Net] hadiah dari Lippo. > > Tarimo kasih bung Taufiq. Tapi Ketua Umum LKAAM indak mangaku, baa tu ? > Sia nan baduto ? > > Wassalam, > SB. > > Sent from my iPad > > On May 26, 2013, at 7:24 AM, [email protected] wrote: > > > > > Iko foto di Padang Ekspress, penyerahan pitih 50 jt keceknyo : utk > LKAAM. Panti Asuhan Aisyiah, Majlis Taklim dan FK Unand > > > > --TR > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > > > -- > > . > > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat > lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > > =========================================================== > > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > > - DILARANG: > > 1. E-mail besar dari 200KB; > > 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > > 3. One Liner. > > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ > > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > > =========================================================== > > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan > di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ > > --- > > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Grup Google. > > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . > > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > > > > > > <hadiah dari Lippo.jpg> > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =============================== -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
