MakNgah
Kalau dalam pemakaian sehari-hari kini nan acok disabuik maleset itu adolah 
pemikiran seseorang bukan action atau financialnyo

Nan agak barek dari itu disabuik boco aluih atau 87 ( maso urang acok manakok 
angko daulu, ikolah angko nan ma-ibaratkan kondisi nyo)

--TR
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "sjamsir_sjarif" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 27 May 2013 12:06:13 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: Bls: Bls: [R@ntau-Net] SURAT TERBUKA MN KPD IRMAN GUSMAN

Dalam Kamoes Bahasa Minangkabau - Bahasa Melajoe Riau, M. St. Pamoentjak, Balai 
Poestaka 1935, meleset tu dieja "maleseh"; temba' maleseh - tembak tiada 
mengenai 'alamat; peloeroe atau ramboen laloe dekat 'alamat.

-- MakNgah
Sjamsir Sjarif

--- In [email protected], Ayah Taufal <ayahtaufal@...> wrote:
>
> `Urang Awak Banyak Nan Lah Meleset'
>  
> Kata meleset dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya
> peleset. Sedangkan menurut website artikata.com, definisinya tidak mengenai 
> sasaran; tidak mengenai yang dituju,
> membuat sesuatu di luar koridor dan sebagainya.
>  
> Terkait dengan judul Rubrik Garis Bawah hari ini
> tentang "Urang Awak Banyak nan Meleset", maksudnya adalah banyak tingkah, 
> kurenah, keputusan, kebijakandan perbuatan orang Minangkabau sejak beberapa
> tahun belakangan yang keluar dari koridor, melenceng dari aturan, norma agama
> dan nilai-nilai keminangkabauan.  
>  
> Orang Minang yang telah 10 tahun atau lebih
> meninggalkan kampung halaman, pergi merantau ke kota atau daerah-daerah lain 
> di
> tanah air, begitu kembali ke ranah Bundo Kanduang ini akan kaget dengan
> perubahan drastis pola pikir dan kurenah urang awak. Terutama bagi orang yang
> merantau ke daerah-daerah yang masyarakatnya hiterogen.
>  
> Terlalu banyak nilai-nilai yang selama ini
> diagung-agungkan menjadi filosofi kehidupan urang Minangkabau kini telah
> ditinggalkan. Ironisnya, hal tersebut nyaris terjadi pada lintas usia, lintas 
> kelompok,
> lintas strata pendidikan, lintas profesi bahkan juga tak terkecuali terjadi
> pula pada kelompok tungku tigo sajarangan atau tali tigo sapilin dan lainnya.
>  
> Pepatah Minang mengatakan; "Nan kuriak kundi - nan merah sago - nan baiak 
> budi- nan indah baso". Secara sederhana, pepatah ini mengandung nasehat bahwa 
> orang Minang
> memiliki budi pekerti,  kelakuan atau
> sifat yang baik dan bahasa dalam berkomunikasi senantiasa indah, sehingga  
> enak didengar dan disenangi oleh lawan
> bicaranya atau forum. Ini juga yang menjadi salah satu kunci kesuksesan orang
> Minang pada masa silam di dalam kancah politik atau pun dalam  berdagang dan 
> lainnya.
>  
> Pepatah Minang lainnya mengatakan; "Muluik
> manih kucindan murah, muko janiah indak pandandam". Pepatah ini mengadung 
> nasehat bahwa orang Minang dalam berbincang
> dengan orang lain atau bertemu muka dengan orang lain senantiasa berbicara
> dengan mulut yang manis, kata-kata yang diutarakan enak didengar, tidak kasar.
> Suaranya pun sedang-sedang saja, tidak terlalu keras dan tidak pula kurang
> kedengaran. Kucindan murah, maksudnya murah tersenyum yang diikuti dengan 
> mimik
> muka yang menarik  (kucindan). Tidak memperlihatkan raut muka yang
> cemberut, seperti orang marah atau memendam rasa dendam.
>  
> Dua pepatah-petitih di atas masih
> sering kita dengar di ranah Minangkabau, baik  dalam forum acara adat ataupun 
> dalam berbagai kegiatan lainnya. Namun
> yang mengkhawatirkan, praktik atau pengamalannya sangat jauh panggang dari 
> pada
> api. Pada realitas kehidupan di berbagai kota dan daerah di Ranah Minangkabau,
> pelayanan tenaga medis di rumah sakit (terutama milik pemerintah) nyaris tidak
> ada yang menggambarkan dua pepatah di atas yang selama ini menjadi filosofi
> kehidupan rang Minangkabau. Umumnya mereka memasang wajah seram dan mulut
> judes. 
> Begitu pula dengan petugas di kantor
> lurah, kecamatan, dinas dan kantor-kantor pemerintah yang bertugas memberikan
> pelayanan bagi masyarakat lainnya. Sikap mereka justru seperti orang yang 
> harus
> dilayani, bukan seperti pelayan masyarakat. Makanya adagium "kalau bisa
> dipersulit, mengapa dipermudah" sampai sekarang masih menghantui masyarakat
> yang berurusan dengan birokrasi pemerintahan.  
>  
> Seakan tak  mau kalah, petugas parkir, sekuriti/Satpam,
> penjaga toilet, petugas SPBU, pelayan rumah makan, pedagang di tepi pantai,
> guru, kurenahnya juga begitu. Jangankan berterima kasih dengan bahasa yang
> halus kepada konsumen atau orang yang dilayaninya, menjawab terima kasih yang
> disampaikan konsumen/atau orang yang dilayaninya saja, kadang juga enggan. 
>  
> Petugas parkir, contohnya. Saat mobil
> datang  untuk parkir, petugas parkirnya
> tidak ada atau tak kelihatan batang hidungnya, tapi ketika mobil mau berangkat
> mereka datang minta uang parkir. Itu pun tak dilengkapi tiket parkir. Hal 
> tersebut
> tak ubahnya seperti membayar uang takut saja. Yang paling parah di Kota 
> Bukittinggi,
> biaya parkirnya hingga Rp5.000, wajib bayar di awal, tanpa tiket parkir dan
> yang menagih wajahnya rada-rada preman. Untuk mereka-mereka ini memang tepat
> pepatah Minang yang mengatakan "Taimpik nak di ateh-Takuruang nak di lua". 
> Mereka itu adalah bagian dari orang Minang yang telah meleset.
>  
> Selanjutnya ada pula pepatah Minangkabau
> yang menyatakan; "Alun takilek lah takalam - 
> takilek ikan dalam aia, alah jaleh jantan batinonyo". "Tau condong ka maimpok 
> - Tau lantiang ka manganai - Tau ereng
> jo gendeng, Tahu jo baso basi - Tau dibayang kato sampai".Pepatah-petitih ini 
> lebih mengarah kepada unsur tungku
> tigo sajarangan atau unsur  tali
> tigo sapilin yang memegang peran strategis di dalam masyarakat Minangkabau.
> Unsur tungku tigo sajarangan atau unsur  tali tigo sapilin  terdiri
> dari ninik mamak (adat), alim ulama (agama Islam) dan cerdik pandai
> (cendikiawan/pemerintahan) yang berfungsi menjaga keutuhan masyarakat
> Minangkabau itu sendiri. 
>  
> Dalam
> realitas kekinian, unsur tungku tigo sajarangan atau unsur  tali tigo sapilin 
>  nyaris tak peka lagi terhadap fungsi dan peran
> mereka yang semestinya, seperti yang terkandung dalam pepatah "Alun takilek 
> lah takalam - takilek ikan dalam aia, alah jaleh jantan
> batinonyo". "Tau condong ka maimpok - Tau lantiang
> ka manganai - Tau ereng jo gendeng, Tahu jo baso basi - Tau dibayang kato
> sampai".
>  
> Dalam berbagai
> hal, banyak yang telah luput dari peran dan fungsi unsur tungku tigo
> sajarangan atau unsur  tali tigo
> sapilin, sehingga nilai dan norma kehidupan masyarakat Minangkabau yang
> dulu dikenal sangat tinggi, kini telah pudar dan nyaris kehilangan ciri dan 
> karakternya.
> Akibatnya, sangat luar biasa. Di Kota Padang, memang tidak ada lokalisasi,
> tetapi kehidupan Padang Under Covernya sangat merisaukan. Mungkin banyak di
> antara kita yang tak percaya dengan kenyataan itu, tapi silakan tanya dengan
> orang luar yang sering bertamu ke Kota Padang. Tamu itu sebenarnya juga kaget
> bahwa ternyata di kota bengkuang ini banyak stok ayam kampus dan ayam putih
> abu-abu yang setiap saat bisa diorder.
>  
> Unsur
> tungku tigo sajarangan/tali tigo sapilin juga tagurajai dalam hal agenda
> penanaman modal salah satu group raksasa bisnis di Indonesia yang akan
> membangun proyek prestisius terintegrasi di pusat Kota Padang. Di mana proyek
> tersebut terdiri dari rumah sakit, sekolah, hotel dan mall. Mata mereka
> tertutup dan hati mereka tersandera sehingga mereka menghalalkan Kota Padang
> akan menjadi salah satu pusat misionaris. Mereka mengizinkan dan memuluskan
> skenario besar gerakan masif pemurtadan bagi anak cucu mereka yang akan
> berlangsung secara hebat di Ranah Minang ini ke depan. Malah mereka berjamaah
> turut menekan tombol sirene peletakan batu pertama dan mendoakan agar mega
> proyek ini sukses. 
>  
> Ironisnya
> lagi, umarah yang menjadi bagian dari tungku tigo sajarangan atau tali
> tigo sapilin itu justru terus membela dan mengatakan bahwa isu pemurtadan
> oleh group besar yang akan berinvestasi di Padang itu adalah perkabar bohong. 
> Kita
> yakin umarah kita punya referensi atas track record pengusaha nasrani yang 
> akan
> semakin menenggelamkan moral dan akidah masyarakat di negeri yang selama ini
> dikenal dengan falsafah Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah 
> tersebut.  Tapi mengapa umarah kita itu bergeming? Kita
> juga yakin umarah kita itu memiliki referensi, bahwa  saking dahsyatnya 
> gerakan pemurtadan oleh
> misionaris, adik satu bapak atau adik tiri Buya Hamka saja bisa beralih 
> agama. Tapi
> lagi-lagi mereka umarah kita tak peduli. Atau umarah kita itu juga benar-benar
> telah meleset. **
>  
> 
> ________________________________
>  Dari: Bot S Piliang <botsosani81@...>
> Kepada: "[email protected]" <[email protected]> 
> Cc: "[email protected]" <[email protected]> 
> Dikirim: Senin, 27 Mei 2013 13:37
> Judul: Re: Bls: [R@ntau-Net] SURAT TERBUKA MN KPD IRMAN GUSMAN
>  
> 
> 
> Assalamualaikum wr wb
> 
> Mengikuti polemik ttg investasi group LippondinSumbar, jadi gatal pula awak 
> ingin berkomentar
> 1. Rasanya mustahil bagi kita/Sumbar saat ini untuk anti dari group2 usaha 
> non muslim, spt Lippo, ciputra, dll, karena toh properti dan usaha dikuasai 
> oleh mereka. Terkecuali Group Basko, usaha untuk menggaet konglomerat muslim 
> ternyata nihil, dari muslim lokal sampai syech2 arab dan melayu.  Bahkan BUMN 
> dan kantor2 pemerintah yang yg tadinya berpusat di Padang, tlh berhondoh 
> pondoh pindahn keibokota prov sebelah. Dilain sisi, Padang butuh investasi 
> besar utk membangkitkan ekonomi dan MORAL masyarakat Padang dan Sumbar. 
> Harusnya, BUMN atau Kantor pemerintah yg memindahkan pusat aktifitasnya ke 
> ibuKota Prov sebelah itu juga kita tuntut utk ttp ada di Padang, bukan malah 
> ikut2an meninggalkan Padang dan Sumbar.
> 2. Sumbar memiliki overcapacity SDM, banyak sarjana tp tidak bisa ditampung 
> oleh lapangan kerja di Sumbar. Kondisi SUMBAR ibarat Philiphina, dimana 
> seorang Master bisa jadi hanya sbg sopir taksi karena pemerintah tidak mampu 
> menciptakan lapangan kerja.
> 3. Saya melihat kehadiran group2 usaha international atau yang punya standar 
> pelayanan bagus perlu untuk meningkatkan kualitas pelayananndimPadang. Mohon 
> maaf, mungkin bapak2 yg memang pejabat atau keluarga dokter bisaterlayanimdgn 
> baik di RS M Djamil, tp tidak bagi keluarga PNS rendah macam keluarga saya yg 
> dulu hanya mengandalkan ASKES utk berobat ke RS M Djamil. Kami sekeluarga 
> sudah sangat kenyang dgn perlakuan kasar perawat ataupun staff RS M Djamil. 
> kalau ternyata Siloam bisa menyediakan pelayanan murah dan lbh bagus kenapa 
> ga? Ini jg berlaku utk usaha2 pelayanan lainnya, spt taksi, hotel dsb. 
> 4. Tentang kemungkinan upaya misionaris dan cerita ttg murtadnya bbrp 
> karyawan di RS yos Sudarso, malah memperlihatkan bahwankesalahan itu ada 
> dipihak kita.mKenapa di perempuan sampai mau dihamili oleh SATPAM rs tsb? 
> Berarti ada sex bebas, berarti ada masalah moral dan kurangnya nilai agama, 
> hulunya....Berarti, peran orang tua dan NINIK MAMAK yg harusnya mendidik dan 
> menjaga anak kemenakannya yg GAGAL. Harusnya, dgn keberadaan RS ini, menjadi 
> 'palacuik' bagi ninik mamak, para aparat pranata adat Minangkabau untuk 
> 'bakuhampeh' menjaga anak kemenakannya. Atau...apa karena beliau2 tsb sudah 
> 'malas' dan ga mau ambil resiko? 
> 5. Kalau dek ambo, upaya dari PKDP lbh masuk akal dan cerdas, ketimbang tolak 
> mentah2. Kita harus lihat bagaimana regulasinya, susun term and conditionnya, 
> dan sama2 memonitor pelaksanaan Term b Condition tsb. Malah, keberadaan RS 
> mewah dan kualitas Internasional di Padang spt, Siloam, dll bisa jadi sumber 
> alternatif pariwisata, yaitu pariwisata pengobatan di Sumbar, dimana pasien2 
> dari PKU, Jambi , Bengkulu dan Medan bisa berobatbsambil berwisata di Sumbar? 
> iyo an diurang, laluan nan di awak, bukan begitu?
> 6. Sebenarnya PR terbesar buat kita orang Minang perantauan adalah bagaimana 
> membangkitkan kembali ekonomi di ranah Minang. Kita di rantau mungkin akan 
> sibuk bernostalgia dengan rekaman indah ttg Ranah Minang semasa dahulu,mtp 
> kondisi sekarang lain, dunsanak kito butuh sesuatu yg realistis, tangible, 
> dan jalehhh. Bukan sesuatu yang nisbi, konsep yg mengawang2. Saya harap, 
> mamak2 ambo disiko, tampek ambo baraja maambiak tuah dan ilmu, bisa lbh arif 
> dan bisa lebih bijak dalam hal ini.
> Kalau nan dek ambo, kalau cuma sekedar penolakan berhondoh pondoh tanpa ada 
> solusi, berarti suatu kemunduran lagi bagi intelektualitas Minangkabau.
> 
> Banyak maaf
> Wassalamualaikum wr wb
> 
> Bot SP
> Sent from my iPad
> 
> On 27 Mei 2013, at 12:43, Sidi Boby Lukman <belalang178@...> wrote:
> 
> 
> Assalamualaikum Wr, Wb 
> >
> >
> >Sagalo sambah manyambah alah ambo tumpangkan ka penulis terdahulu. 
> >Tadinya ambo ndak ka mau berkomentar terhadap email yang alah ditulis dek 
> >Pak MN ko doh, karano bagi ambo iko hanya kekhawatiran seorang pak MN, tapi 
> >kutiko manyabuik soal adanyo ancaman terhadap akidah urang awak hanya karano 
> >LIPPO membangun RS Saki, Sekolah PH dan lain lain, rasonyo LEBAY bana awak 
> >menyikapi investasi dari Lippo sampai sampai Sanak Muhammad Syahreza paralu 
> >pulo mamposting soal Group LIppo ko. 


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke