*Hanya Tamat SD, Hasilkan Listrik 3.000 Watt*
*Jasman, Bangun Kincir di Kampung tak Berpelita* Padang Ekspres • Selasa, 28/05/2013 14:28 WIB • Riki Chandra • 294 klik [image: Jasman, dekat kincir sederhana yang dibuatnya.] *Di Timbulun, pada mulanya listrik tak pernah menyala sedikit pun. Hanya lampu minyak yang ada. Namun, Jasman, menemukan “listrik kincir” yang dimodalinya sendiri. Saat ini, sudah empat rumah ia aliri arus listrik kincir air. * Kampung Timbulun, demikian orang menyebut daerah terisolir di Kelurahan Batugadang, Kecamatan Lubukkilangan, Padang itu. Untuk sampai ke sana, dari arah jalan raya Indarung, kita harus berjalan sejauh kurang lebih 5 km. Jalannya buruk, belum diaspal. Di kiri kanan jalan, semak-belukar menjalar. Di Timbulun, sebagian besar warganya jika malam tiba, hanya menyalakan lampu minyak tanah, guna melakukan pekerjaan sehari-hari. Di kampung lengang itu, terdapat puluhan rumah penduduk. Beberapa rumah terbuat dari kayu bekas nan reyot. Jika hendak ke Timbulun, dengan sepeda motor misalnya, akan terkendala jika hari hujan atau seusai hujan. Karena beceknya, hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Terdapat 30 kepala keluarga (KK). 50 orang yang menghuni sekitar 18 unit rumah di Timbulun, mayoritas bekerja sebagai petani. Bermacam jenis pertanian yang dilakoninya. Ada yang berkebun cokelat (kakao), kopi, kulit manis, begitu juga tanaman padi. Serta ada yang beternak sapi, dan kambing. Namun, listrik hal langka di sini. Di Timbulun, kata Syafri Rajo Bangsawan, 54, mantan Ketua RT 07/RW 04 Kampung Timbulun, tidak ada warga yang menjadi PNS. Semuanya bertani. Di tengah kampung itu, listrik adalah kerinduan. Dalam kerinduan tersebut, ada seorang bernama Jasman. usianya 41 tahun. Rautnya seperti orang yang tidak tahu apa-apa. Setiap hari bersahabat dengan tanah, semak-belukar. Itu pula yang membuat roman Jasman terkesan lebih tua dari umurnya sendiri. Jasman sering berpikir, bahkan termenung. Alangkah enaknya hidup dengan listrik yang menyinari. Dengan listrik tersedia, suasana pasti akan lebih terlihat hidup. “Sebagai warga negara, kita di sini juga ingin merasakan bagaimana sih enaknya pakai listrik. Agar malam hari kita tidak gelap-gelapan lagi?” kata Jasman. Ia berpikir, bagaimana agar di Timbulun terdapat listrik. Berbekal pengalaman dan belajar melihat orang, dia pun mencoba membangun pembangkit listrik mikrohidro berupa kincir air dengan memanfaatkan aliran sungai. Hasilnya, empat rumah di Timbulun dialiri arus listrik. Listrik kincir itu didanai kantong pribadinya. Sejak itu, warga Timbulun bisa menyaksikan acara televisi yang selama ini hanya dalam mimpi. Uang sapi korban Menurut Jasman, tahun 2010 ia memulai proyek pembangunan kincir air dari saku pribadinya. Satu kincir air berdiameter 2,5 meter itu mampu menghasilkan listrik 1.500 hingga 3.000 watt. “Kincir itu baru dapat dinikmati sejak dua tahun lalu,” kata lelaki yang hanya tamatan sekolah dasar (SD) itu. Uangnya ia peroleh dari membesarkan sapi korban. “Uang tersebut untuk menyempurnakan kincir tersebut,” tukas suami Yeni, 38, itu pula. Kata Jasman, kondisi alam nan berbukit sangat cocok untuk kincir air. Karena, aliran air yang deras adalah syarat utama membangun pembangkit listrik mikrohidro. Sedangkan modal untuk membangun satu kincir air lengkap dengan dinamo dan kabel transmisi ke rumah panjangnya puluhan meter, sekitar Rp 6 juta-Rp 10 juta. Lokasi kincir air buatan Jasman di Kampung Timbulun sulit dijangkau. Karena, terletak di pinggir jurang sungai dengan kemiringan tebing 70 derajat. Kincir itu diselimuti semak-belukar, serta dinamo kincir hanya ditutupi enam seng. Ya, sangat sederhana sekali. Untuk mengaktifkan kincir itu, cukup membuka pintu saluran yang mengalirkan air. Kincir lalu memutar roda yang dihubungkan dengan dinamo yang mengubah energi mekanik menjadi energi listrik. Peralatan untuk membuat kincir air hanya linggis, kapak, martil, gergaji, cangkul, dan parang. Sebetulnya, untuk pembuatan satu kincir air hanya membutuhkan waktu dua minggu. Namun, karena masalah dana, pembuatan kincir jadi tersendat-sendat. “Ya masalah dana, makanya lama selesainya. Tapi, alhamdulillah, berkat tabah dan yakin, saya dapat menikmati hasilnya,” ucap Ayah dua orang anak itu. Ijeh, begitu Jasman akrab disapa, berharap pemerintah membantu modal pembuatan kincir agar semua rumah di Timbulun bisa dialiri listrik. “Jarak rumah di sini jauh. Jadi, untuk dapat dialiri kincir, ditambah pula jumlah kincirnya. Untuk menambah kincir, diperlukan biaya besar, saya tidak punya itu,” imbuh Jasman dengan senyum. Camat Lubukkilangan, Andre Algamar mengatakan, dari 18 rumah di Timbulun, hanya 16 unit rumah yang dihuni. Kondisi rumah yang sedikit dan berjauhan itu, membuat kampung itu sulit dimasuki aliran listrik. Kendati demikian, dia berjanji memberikan penerangan untuk kampung itu dengan pembuatan kincir. Di Sumbar, hingga September 2012, tingkat ketersediaan listrik (rasio elektrifikasi) mencapai 75,76 persen. Jumlah ini meningkat dibanding tahun 2010 (71,59 persen) dan 2011 (74,62 persen). Humas PLN Sumbar Ridwan menyebutkan, guna memaksimal peningkatan rasio elektrifikasi, PLN Sumbar menggenjot program unggulan, di antaranya Santerlis (Kawasan Tertib Listrik), Nagari Prabayar, menjaga sustainable cadangan operasi sistem isolated, meningkatkan pemeliharaan preventif dan integritas layanan publik. Mengatasi kekurangan daya listrik, saat ini tengah dibangun PLTU Teluk Sirih di Bungus, Telukkabung, Padang berkapasitas 2x 100 MW. Jika proyek Rp 2,4 triliun ini terealisasi sebagaimana ditargetkan sebulan ke depan, maka suplai listrik yang dibutuhkan Sumbar dan daerah tetangga bisa teratasi.* (***)* [ Red/Administrator ] Sumber : http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=44124 *Ko nan sabana riil mambangun nagari dek seorang nan tamaik SD, ndak pakai investor2 bagai doh nan di takuik an kalau mambaok misi2 nan jahek..* * murni dek kesadaran jo kampuang..* * * *wassalam,* * * *st. eF Al Zain Sikumbang* *Kuala Lumpur* -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
