Berita bagus untuk di baca tapi kurang baik untuk ditelan mentah-mentah, apalagi menjadi pikiran.
Kondisi wilayah Indonesia yang dikatakan itu rawan bencana gempa besar tidak ada salahnya, hal tersebut didasari pada posisi tektonik Indonesia masa sekarang. Akan tetapi di masa lalu, puluhan ribu hingga ratusan juta tahun lalu, posisi Indonesia jauh lebih parah lagi terhadap fenomena alam tersebut (Evolusi Tektonik kita). Artinya sebagian besar wilayah kita rapuh. Kalau dikaitkan dengan posisi tektonik sekarang, Yes bicaralah, barat sumatera hingga selatan Jawa rawan bencana sampai ke Indonesia timur. Tapi bukan berarti di tempat lainnya (kecuali sebagian kecil Kalimantan) tidak terkena dampak tersebut.Wilayah yang sebelumnya sangat rapuh lebih mudah terlanda bencana asal ada pemicunya (Contoh: sesar atau patahan Sumatera, Palu Koro dan sebagainya).. Yang terpenting untuk peneliti adalah, kajilah perioda atau siklus setiap wilayah Indonesia setidak-tidaknya 20.000 tahun yang lalu hingga sekarang (PENELITIAN ini belum dilakukan secara komprehensif). OLeh karena itu jangalah sekali kali meramalkan datangnya bencana tersebut. Karena apa ?, karena kita belum mampu merekonstruksi sejarah fenomena alam terkait siklisiti atau periodesiti PERISTIWA BUMI. Manusia bukannya tidak dapat melakukan itu, tapi belum mampu saja melakukannya. Nah disinilah perkembangan ilmu kebumian akhir-akhir ini sangat pesat sekali yaitu telahaan mengenai tektonik versus fluktuasi muka laut, versus sirkulasi iklim versus erupsi gunung api (GEODINAMIKA) yang terkait pada masalahan bumi ini. Oleh karena itu, jangalah bicara fisik saja tapi roh dari fenoemna alam tersebut harus diketahui. Saya pribadi menyimpulkan mengenai SELAT SUNDA, bahwa di wilayah tersebut tektonik semakin decreased (menurun) akan tetapi erupsi increasingly (meningkat). Apa sudah dilakukan penelitian bahwa mungkin di selat sunda tersebut muncul bisul-bisul gunungapi yang suatu ketika menjadi mengancam manusia ?. Dan saya menyarankan jangakan teruskan rencana pembuatan Jembatan Selat Sunda, meski tektonik menurun tapi erupsi akan jauh meningkat melebih erupsi Krakatau 1883. Terakhir, kita yang berasal dari wilayah Sumatera Barat yang termasuk rawan bencana besar tersebut, tapi ,memiliki keindahan alam yang luar biasa. Tidak perlu dirisaukan karena kita berpijak di wilayah BENUA MARITIM yang memiliki fenomena alam yang komplek. Artinya, setiap jengkal tanah Indonesia mempunyai masalah, namun tanah Minangkabau masih lebih baik menurut saya dibanding tempat lain. Semoga bermanfaat, wassalam Herman. Bom waktu berupa gempa besar dan tsunami di selatan Selat Sunda Reporter : Dwi Andi Susanto Rabu, 29 Mei 2013 04:06:00 Kategori Teknologi Sains Berita tag terkait Gempa 5 SR guncang Tasikmalaya Penyakit misterius di Alabama ternyata hanya flu biasa? Gempa Megatrust © 2013 Merdeka.com 60 Bukan menjadi rahasia umum apabila beberapa bagian di Indonesia memiliki potensi gempa hebat. Menurut peneliti, di selatan Selat Sunda simpan potensi gempa Megathrust. Seorang peneliti yang juga Guru Besar Madya Institut Teknologi Bandung bernama Irwan Meilano mengemukakan bahwa wilayah perairan barat Sumatera, selatan Selat Sunda hingga Laut Jawa, termasuk daerah yang memiliki sumber-sumber gempa besar (Megathrust) dengan kekuatan getaran di atas 8 skala Richter. Dalam diskusi bertema Ancaman Gempa Megathrust di Kedutaan Besar Australia di Jakarta itu, Irwan mengatakan, "Terkait dengan potensi tersebut, maka perlu disiapkan bentuk penanggulangan dampak gempa yang memadai dan juga studi-studi gempa." Gempa Megathrust tersebut pada umumnya memiliki kekuatan di atas 8SR dengan kisaran mencapai 9SR yang berpotensi melahirkan gelombang tsunami. Wilayah sumber gempa besar ini terbentuk ketika terdapat subduksi lempeng Indoaustralia dengan lempeng Eurasia. "Pemerintah perlu benar-benar memperhatikan kesadaran warga akan peringatan dini gempa dan tsunami (early warning), pengadaan konstruksi bangunan untuk terdampak gempa seminimal mungkin, dan juga berbagai riset tentang gempa," jelasnya seperti dikutip dari Antara (27/08). Sementara itu, Profesor Sri Widiyantoro dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia mengatakan bahwa pembangunan bangunan di sekitar kawasan sumber gempa juga perlu mempelajari dari negara-negara berpengalaman di bidang yang sama, seperti Jepang. Contohnya, dalam pembangunan jembatan antarpulau yang dapat mempelajari pembangunan jembatan antarpulau Honshu-Shikoku. Pembangunan jembatan antarpulau di Jepang itu membutuhkan waktu bertahun-tahun dengan penelitian yang mendalam. Selain itu, untuk mengantisipasi dampak dari terjadinya gempa, studi gempa yang dapat menghasilkan informasi tentang potensi kekuatan dan daerah terjadinya gempa harus terus digiatkan lagi untuk melihat maksimum kekuatan gempa. Sementara itu, Profesor Phil Cummins dari Universitas Nasional Australia mengatakan bahwa Indonesia sebagai wilayah rawan gempa memerlukan kesiapan khusus untuk mengantisipasi dampak gempa besar dan tsunami yang tidak dapat diprediksi kedatangannya. "Konstruksi bangunan yang kuat dan dapat menahan gempa serta peringatan dini merupakan salah satu upaya yang harus terus digiatkan," kata Cummins. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
