*Kenapa Harus Tidak Boleh SARA?*

Tulisan ini bukan cuma berbau *SARA*, tapi jelas akan membahas masalah SARA
itu sendiri. Paling tidak sedikit menguliti *“kenapa sih dimana-mana sering
ada larangan hal yang berbau SARA?”*. Jadi sebelumnya maaf kalau nanti ada
hal yang kontradiksi dengan opini atau pendapat yang Dunsanak pahami.

Persoalan SARA memang masih menjadi sesuatu yang polemik, apalagi ketika
dikaitkan dengan masalah persatuan dan disintegrasi. Ketika kita
membicarakan atau menuliskan hal-hal yang berbau SARA seolah-olah kita
sedang memasuki zona terlarang yang tidak boleh dimasuki atau dibuka oleh
siapapun. Kalau saya boleh berpendapat mungkin inilah sebetulnya tradisi
kolot yang memelihara potensi  ledakan bom waktu.

Dibanding harus berpegang pada “*dilarang SARA*”, saya lebih memilih
berpegang pada pribahasa yang sangat sederhana, yaitu “*tak kenal maka tak
sayang*”. Tidak jarang konflik yang berbau SARA bermula dari salah faham
karena kurangnya pengertian, kurangnya pengertian juga tidak sedikit
disebabkan karena kurangnya pemahaman saling menghargai. Dan, bagaimana
mungkin kita bisa saling menghargai kalau kita tidak tahu dengan cara apa
kita harus menghargai dan menghormati.

Perang suku, agama, ras, dan antar golongan  (SARA) itu adalah hal yang
paling sensitif. Kenapa jadi sensisitif ?. Karena sensisitifitas itu
dipelihara dengan dipeliharanya “dilarang SARA”. Begitu terjadi konflik,
barulah “kran” SARA itu dibuka dengan diadakannya dialog-dialog yang
sebetulnya terlambat. Kenapa tidak kran SARA itu dibiarkan terbuka? Biarkan
perbedaan SARA itu bernafas, kita perlu berdialog soal SARA, bukan
membungkamnya. Biarkan ilmu antropologi itu dipahami oleh semua orang,
bukan hanya dibangku-bangku pendidikan formal.

Kita berteriak-teriak untuk membudayakan saling menghargai dan menghormati
perbedaan, tapi apa yang mau hargai ?, kita sendiri tidak tahu betul dimana
titik perbedaannya.  Kita harus tahu dimana letak masing-masing
perbedaanya, barulah titik perbedaan tersebut yang tidak kita masuki.

Saya lebih sependapat, kalau selama ini kita pura-pura jelas atau bahkan
“sok  jelas” tentang perbedaan-perbedaan tersebut. Pada kenyataannya, apa
yang kita fahami tentang agama lain? Apa betul yang kita kira dan kita
tuding itu persis seperti apa yang dimaksud oleh pemeluk agama lain itu
sendiri? Apa betul yang kita lakukan tidak menyinggung perasaan umat atau
suku lain ? Kadang kita pura-pura menghargai  tapi tanpa sadar kita tidak
tahu kalau perbuatan kita memicu konflik.

Kalau toh kita sudah menemukan perbedaanya *“”Ooo.. begitu toh agama kamu….
Kalau agama saya begini. Keyakinan saya begini”.* Wah, asyik ya sama-sama
tahu? Ketika kita sudah tahu apa yang menjadi pembedanya jangan jadikan itu
sebagai perdebatan apalagi sebagai perselisihan, cukup itu menjadi modal
untuk kita saling menghargai.

Jangan salah, siapa tahu setelah kita banyak berdialog soal SARA secara
terbuka, sportif dan untuk tujuan yang positif, bukan tidak mungkin kita
malah banyak menemukan kesamaannya. Kesamaan yang bukan berarti harus
dijadikan pluralisme (saya sepakat dengan pluralitas tapi tidak dengan
pluralisme), melainkan kesamaan yang tidak memberi alasan untuk kita
berselisih. Seperti sama-sama ingin membangun bangsa, sama-sama ingin hidup
damai, sama-sama ingin sejahtera, dan lain sebagainya.

Sensitifitas ada karena dipelihara, saking lamanya dipelihara lama-lama
akan menjadi tabu, tabu yang membodohkan rasional kita.  Tidak perlu lagi
SARA menjadi sesuatu yang tabu. Biarkan ia terbuka supaya kita bisa saling
memahami. Kita harus melihat SARA secara analatik dan pemahaman, bukan
dengan emosi, yang seolah-olah langsung melihat “musuh” atau “sekutu”
ketika berbicara soal SARA.

Pada masalah ketuhanan, mungkin iya kita tidak bisa membahasnya hanya
dengan nalar. Tapi ketika masuk kedalam konteks kemanusiaan (*hablumminannas
*), mengapa tidak kita gunakan rasio nalar kita untuk hidup bermasyarakat
secara rukun dan bermartabat. Ini terbukti bisa, seperti ketika para pemuka
agama bisa duduk bersama untuk berdialog persoalan keurukunan umat.
Dialog-dialog seperti inilah seharusnya bukan hanya menjadi konsumsi bagi
para pemuka tapi juga bagi masyarakat awam sehingga tumbuh kesadaran saling
menghargai.

Yang tidak boleh itu sepertinya bukan SARA-nya, melainkan menghujat,
menghina, mencaci, dan lain sejenisnya. Biarlah kita saling mengetahui
“rumah” masing-masing, supaya kita tahu “mana ruang yang boleh dimasuki dan
mana yang tidak boleh”.

Demikian sedikit rangakian opini yang coba saya tuang disini, isinya
mungkin bisa benar bisa juga keliru. Mohon maaf kalau mungkin berbeda
pendapatnya. Mudah-mudahan ada hal positif yang bisa didapat.(
www.rosidnet.com)


Pada 2 Juni 2013 11.40, Zulkarnain Kahar <[email protected]> menulis:

> Bila orang2 terhormat dan hebat-hebat telah bermain dalam ruang SARA, ambo
> mancaliak dari jauh sajo lah. Jauh badan bajalan satu satu nyo nan paliang
> ambo banci  adalah SARA.
>
> Wassalam ..
>
> Zulkarnain Kahar
> http://www.maninjau.net
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. E-mail besar dari 200KB;
> 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
> Grup Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>
>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke