Tambah seru, tabuka galanggang
lah nampak kaki ula mamanjek
tingga di kito manjadi arif dan bijak
urang cadiak malakek an raso jo pareso..
jan takicuah dek bungkuih, caliak bana isi no
hetong ka muko, tahun 2013, 2020, 2025, 2030, 2050
lai baa proyeksi geo ekonomi dan demografi kota padang?
Kalau lai takana bandiangkan lah kondisi nyo 
sabalun Fauzi Bahar dengan maso Fauzi Bahar.


 
E Dt Marajo nan Tuo



________________________________
 Dari: Nofend St. Mudo <[email protected]>
Kepada: RantauNet2 Milis <[email protected]> 
Dikirim: Jumat, 7 Juni 2013 9:21
Judul: [R@ntau-Net] To Be a Winner or Become a Losers
 


(BASRIL DJABAR) Harian Singgalang | Tanggal 07 June 2013

Sebagai orang Minang yang berusaha setia tinggal di kampung halaman (daerah) 
saya sungguh prihatin dengan rencana investasi Lippo Group di Padang yang 
melebar menjadi isu yang berbau SARA (suku, agama, ras dan antar-golongan). 
Saya lebih prihatin lagi karena para pemimpin Sumatra Barat seperti bersembunyi 
atau bersikap diam ketimbang turun tangan menjernihkan masalah ini.

Sebelum mengomentari lebih jauh masalah ini, saya perlu sedikit mengulas secara 
ringkas kronologis berkembangnya persoalan sekitar rencana (bahkan sudah 
dimulai) investasi Lippo Group yang akan membangun proyek terpadu rumah sakit, 
hotel, dan pusat perniagaan di Jalan Khatib Sulaiman Padang dengan nilai 
investasi sekitar Rp1,2 triliun.

Peletakan batu pertama (ground breaking) proyek ini dilakukan pada hari Jumat 
tanggal 10 Mei lalu. Acara tersebut dihadiri antara lain Ketua DPD RI Irman 
Gusman, Menko Kesra Agung Laksono, Menteri Perumahan Rakyat Djan Farid, Kepala 
BNPB Syamsul Maarif, Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin, Gubernur Sumatra 
Barat Irwan Prayitno, CEO Lippo Group James T. Riady, Presiden Lippo Group Theo 
L. Sambuaga, Walikota Padang Fauzi Bahar, dan tokoh-tokoh masyarakat Sumatra 
Barat seperti Azwar Anas, Mohammad Rani Ismael, Buya Mas’oed Abidin dan 
lain-lain. Juga hadir Ibu Ida Hasyim dan Ismail Ning – istri dan putra dari 
tokoh pengusaha Minang Alm. Hasyim Ning, mitra usaha Lippo Group sejak puluhan 
tahun silam. Saya sendiri juga diundang dan hadir dalam acara tersebut.

Permasalahan pertama muncul setelah acara peletakan batu pertama tersebut 
antara pengusaha Basrizal Koto dengan Walikota Fauzi Bahar. Basrizal Koto 
(Basko) yang akan membangun Padang Green City di kawasan Padang By Pass merasa 
“dikhianati” oleh Walikota yang sebelumnya telah menerbitkan surat rekomendasi 
untuk tidak memberikan izin proyek serupa selama 10 tahun. Walikota 
mengklarifikasi kepada saya bahwa surat tersebut bersifat informal, hanya untuk 
kepentingan interen Saudara Basko saja sesuai permintaannya.

Persoalan Fauzi Bahar dengan Saudara Basko dapat diselesaikan, dan Walikota pun 
sudah hadir dan ikut melakukan peresmian pembangunan Padang Green City di 
Padang By Pass hari Sabtu tanggal 18 Mei 2013. Namun setelah itu muncul masalah 
baru, melebar ke isu “kristenisasi” di balik pembangunan rumah sakit Siloam 
milik Lippo Group tersebut. Ini berawal dari surat terbuka Dr. Mochtar Naim di 
mailinglist RantauNet dan kemudian dimuat pula oleh sebuah surat kabar di 
Padang. Mochtar Naim juga menuduh tokoh nasional asal Sumbar, Ketua DPD RI 
Irman Gusman, berada di balik masuknya Lippo ke Padang. Surat terbuka Mochtar 
Naim saya nilai tendensius, menyerang pribadi dan tanpa melakukan check and 
recheck. Sebagai pimpinan surat kabar, saya melihat isu tersebut tidak memiliki 
nilai berita, karena itu tidak layak dimuat di surat kabar.

Isu yang dilontarkan Mochtar Naim tersebut, terutama yang berkaitan dengan 
tudingan tidak berdasar kepada Irman Gusman, kemudian diklarifikasi oleh 
walikota Padang Fauzi Bahar melalui jumpa pers. Walikota Padang menegaskan 
bahwa kehadiran Irman Gusman dalam acara tersebut adalah atas undangan langsung 
Walikota, karena itu ia menyatakan surat terbuka Mochtar Naim salah alamat, 
seharusnya ditujukan kepada Walikota Padang. Kehadiran sejumlah tokoh 
masyarakat Sumbar dalam acara peletakan batu pertama proyek Lippo Group itu 
adalah atas permintaan dan undangan walikota Padang.

Saya juga menelepon Sdr. Irman Gusman untuk mengkonfirmasi tudingan Mochtar 
Naim dan pihak tertentu tersebut. “Apakah Da Bas percaya dengan isu tersebut? 
Atau menurut Uda saya perlu memberi penjelasan?” tanya Irman.

Saya langsung memotong Sdr. Irman bahwa belum perlu ia membuat penjelasan. 
Biarlah kami yang di Sumatra Barat saja yang menyelesaikannya. Lagi pula, saya 
sudah mengenal Saudara Irman sejak lama, dan saya tahu betapa besar cintanya 
kepada daerah ini dan betapa kuat keinginannya agar Sumatera Barat maju dan 
masyarakatnya sejahtera. Saya juga kenal ayah dan keluarga besarnya sebagai 
tokoh Muhammadiyah dan penganut Islam yang taat.

Penjelasan Walikota Padang ini kemudian ditanggapi lagi oleh Mochtar Naim 
dengan membuat surat terbuka di sebuah surat kabar di Padang pada tanggal 3 
Juni 2013. Persoalan dan isu pun makin melebar ke mana-mana.

Sikap bersembuyi tokoh sebagai disebut di awal tulisan ini, lebay kata anak 
muda sekarang. Seolah-olah membiarkan api membesar, apalagi di dunia maya sudah 
bersebaran pendapat seenak perut masing-masing. Kadangkala banyak yang bicara 
hanya untuk mencari masalah, tapi tidak ada jalan keluar. Isu kristenisasi, 
tetaplah isu, tapi kristenisasi adalah lawan kita bersama. Jika kristenisasi 
terjadi oleh siapa saja, maka Singgalang Tagak Manjago! Kita lawan secara 
bersama-sama. Hal itu sudah terbukti waktu kasus Wawah tempo hari.

Lippo memang harus dihardik dari sekarang, supaya manajemennya tahu kita 
mengawasinya dengan ketat. Tapi, jika Lippo sudah menyatakan, tidak akan 
melakukan kristenisasi, kita seharusnya menahan diri. Jika terus-menerus 
didesak dengan asumsi tak berdasar, lalu investor itu hengkang, siapa yang 
bertanggungjawab? Membuka lapangan kerja saat ini alangkah sulitnya. Akan ada 
6.000 tenaga kerja di Basko Mall dan Lippo Mall. Disangka mudah membuka 
lapangan kerja sebanyak itu.
Akan halnya kristenisasi yang kita takutkan itu, lebih takutlah kita pada SMA 1 
Padang yang dibangun Yayasan Budha Tsuchi. Waktu itu mau akan pecah kota Padang 
oleh protes. Tapi lihatlah sekarang, SMA 1 menjadi sekolah paling rancak di 
Padang dan caci-maki pada Fauzi Bahar lenyap bersama waktu.

Selain itu, jika takut kristenisasi, harap ditilik dalam-dalam pada sanubari 
keimanan kita, sudah sejauhmana kita mendidik generasi muda agar keislamannya 
kuat kokoh. Apa yang dilakukan Fauzi Bahar dan para ulama di Padang dengan 
menggiatkan didikan subuh, hapalan asmaul husna dan memakai busanah muslimah, 
bukankah itu salah satu cara membentengi diri. Selain itu juga meningkatkan 
ekonomi, sebab kita semua tahu, “kemiskinan mendekatkan pada kekafiran”.

Kita secara bersama-sama wajib mengikis kemiskinan agar tak tergiur idelogi 
baru apalagi agama lain. Untuk mengikis kemiskinan itu antara lain kita harus 
bekerja, untuk bekerja harus ada lapangan kerja. Mari kita berserah diri pada 
Allah Swt.
***

Sampai tahap ini, terus terang saya sangat prihatin dengan perkebangan yang 
terjadi. Apalagi masalahnya sudah menyangkut isu SARA yang sangat sensitif. 
Saya melihat pimpinan pemerintahan dan tokoh-tokoh masyarakat di Sumatra Barat 
tidak pula mengambil inisiatif untuk menjernihkan masalah ini. Saya prihatin 
karena sepertinya para pemimpin menyembunyikan diri, membiarkan isu-isu 
berkembang secara liar dan berpotensi menimbulkan akibat yang tidak kita 
inginkan.

Karena tidak ada usaha dari pimpinan daerah, terutama Gubernur, untuk 
menjernihkan masalah ini, akhirnya saya mengambil inisiatif mengirim SMS (pesan 
singkat kepada Gubernur, Komandan Korem, Kapolda, Kajati, Ketua DPRD Sumbar, 
Rektor Universitas Andalas, UNP, Bung Hatta, Eka Sakti, dan Rektor lain di 
Padang, sebagai berikut:
“Sehubungan dgn terjadinya kontroversi dan polemik di tengah masyarakat kita 
ttg masuknya Lippo Group di Pdg, dan sdh mengarah kpd SARA, saya sarankan 
bapak2 segera mengadakan pertemuan utk membicarakan hal ini dan mudah2an ada 
way outnya. Wass. Basril Djabar”.

Hanya Kapolda dan Danrem dan rektor Unand yang langsung menelepon saya 
menanggapi SMS tersebut. Keduanya mendukung saran saya bahwa pimpinan daerah 
segera bertemu untuk menjernihkan masalah ini. Sayangnya, Gubernur Irwan 
Prayitno yang seharusnya memimpin upaya tersebut tidak menanggapi SMS saya. 
Bahkan saya dua kali mengirim SMS tersebut kepada nomor HP Gubernur.

Karena belum ada tanggapan dari Gubernur, dan agar bola liar tak terus 
bergulir, saya minta Redaksi Singgalang segera mewawancarai CEO Lippo Group 
James T. Riady. Ini adalah upaya fair agar kita orang Minang jangan sampai 
terkesan suka “lempar batu sembunyi tangan” atau “suka menyipak dari balik 
bukit”. Akhirnya dari James Riady Singgalang langsung mendapat penjelasan 
sebagaimana telah dimuat dalam berita utama edisi Rabu (5/6). Dalam berita 
tersebut James menjelaskan sebagai berikut:
CEO Lippo Grup, James T Riady menyatakan, tidak ada niat dan upaya menjadikan 
RS Siloam Padang sebagai tempat kristenisasi. Jika tidak 99 persen, 95 persen 
karyawannya orang Minang dan pasti beragama Islam.
“Kami punya hati dan Lippo merupakan perusahaan terbuka (Tbk), kami menghormati 
sensitivitas soal adat dan agama,” kata James Riady kepada Singgalang dalam 
sebuah wawancara khusus, Selasa (4/6). Menurut dia, Lippo menghormati 
sepenuhnya kebiasaan, adat dan agama, seperti yang diajarkan para pendiri 
bangsa.

Karena itu, kata dia, anggapan akan ada kristenisasi lewat Rumah Sakit Siloam, 
salah besar, tidak akurat dan bukan atas fakta yang ada.
“Lihatlah rumah sakit kami di Makassar yang Islamnya kuat dan di Palembang, 
tidak ada masalah dan tidak ada agenda terselubung. Ini murni bisnis dan untuk 
memberi pelayanan terbaik bagi anak bangsa,” kata dia.
“Saya memang Kristen tapi di dalam agama saya banyak aliran dan kebetulan 
aliran yang saya anut, tidak mempercayai kristenisasi,” katanya.

Ia yakin dan tahu agama tidaklah sama, tapi agama bukan untuk menimbulkan 
konflik, melainkan sebagai kekayaan dan konfigurasi membangun bangsa. “Semua 
usaha yang kami jalankan, sama sekali bersih dari misi agama. Ini murni bisnis 
dan pegang kata-kata saya itu,” kata dia lagi.

Berita selengkapnya bisa dibaca pada Singgalang edisi Rabu 5 Mei 2013, atau di 
www.hariansinggalang. co.id.
***
Tulisan ini saya buat semata-mata adalah untuk menjernihkan persoalan yang 
sedang terjadi di Sumatra Barat, dan bukan untuk membela atau menyalahkan pihak 
manapun. Juga bukan untuk membela Walikota Padang Fauzi Bahar.

Sebagai warga Sumatra Barat, dan pernah selama 10 tahun menjadi Ketua Kadin 
Sumatra Barat (1989-1999), saya sangat memahami betapa beratnya membangun 
ekonomi dan dunia usaha Sumatra Barat. Lebih berat lagi setelah Padang dan 
Sumatra Barat umumnya dilanda bencana gempa beruntun sejak 2006, 2007 dan 2009. 
Dalam beberapa kali kesempatan saya pernah mengingatkan Walikota dan Gubernur 
untuk bekerja keras menciptakan kondisi yang kondusif dan berjuang agar Sumatra 
Barat tidak ditinggalkan para investor dan pengusaha.

Saya bisa membayangkan Walikota Padang Fauzi Bahar sangat antusias mendatangkan 
investor ke daerah ini. Ketika ia mendapatkan investor sekelas Lippo, mungkin 
saja ia sangat bersemangat dan langsung mengambil keputusan sehingga lupa 
berbicara dengan berbagai pihak yang perlu mendukung usaha tersebut seperti 
DPRD atau tokoh-tokoh informal di masyarakat kita.

Saya kenal dan sangat paham dengan Fauzi Bahar. Ia cepat kaki ringan tangan, 
tetapi sering lupa dengan kearifan yang sangat diperlukan dalam memimpin. 
Karena itulah, pada peringatan satu tahun kepemimpinannya sebagai Walikota 
Padang, 20 Februari 2005, saya yang diminta memberi sambutan mewakili 
masyarakat Padang, sengaja menasihatinya dengan mengatakan agar dalam memimpin 
Kota Padang jangan menggunakan “ilmu koncek” alias ilmu katak, begitu teringat 
langsung melompat.


Mulanya mungkin ia tersinggung dengan nasihat saya. Tetapi setelah saya beri 
penjelasan, bahwa saya sangat ingin ia sukses memimpin Padang, Fauzi bisa 
menerima nasihat saya. Saya katakan langsung kepadanya, kita di Minangkabau ini 
“Berbuat baik pada-padai, berhuat jahat sekali jangan”.

Saya yakin, tujuan Fauzi Bahar membawa investor adalah sangat baik, untuk 
membangun Kota Padang, membuka lapangan usaha dan menyediakan lapangan kerja 
kepada generasi muda kita yang banyak menganggur. Hanya saja, Fauzi mungkin 
karena sangat bersemangat, lupa mengkomunikasikannya dengan berbagai pihak.


Bagi kita di Ranah Minang ini, tidak ada kusut yang tidak selesai. Dalam 
menyelesaikan masalah, kita juga harus melakukannya dengan baik, dan ada 
mekanisme “bajanjang naiak batanggo turun”. Karena Fauzi Bahar dianggap sebagai 
pihak yang terkait langsung dengan masalah ini, maka sudah saatnya Gubernur 
Sumatra Barat dan tokoh pemimpin di tingkat provinsi yang harus turun tangan 
menyelesaikannya. Karena itulah, saya mengimbau dan menyarankan Gubernur, 
Muspida dan para Rektor –dengan mengajak MUI dan LKAAM—mengadakan pertemuan 
untuk menjernihkan soal ini.
Lakukanlah penyelesaian dan penjernihan masalah secara bijaksana, gunakan 
berbagai pertimbangan akal sehat, dan jangan secara emosional apalagi dengan 
mengaitkan dengan isu-isu SARA segala macam. Apalagi dengan menyerang pribadi 
orang-orang tertentu. Gunakanlah adat dan budaya Minang yang mengutamakan 
akhlak dan budi yang mulia.

Cara kita menyelesaikan dan menjernihkan masalah ini, akan menentukan nilai 
kita di mata masyarakat luas, nasional dan internasional. Apakah kita akan 
menjadi the winner (pemenang) atau menjadi pecundang (the losers), sangat 
tergantung dari cara kita menyelesaikan setiap masalah yang kita hadapi.

To be a winner or become a losers, semuanya kita yang menentukan. (*)

http://hariansinggalang.co.id/to-be-a-winner-or-become-a-losers/ 
 
 
 
-- 

Wassalam


Nofend St. Mudo
36Th/Cikarang | Asa Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok Selatan
Tweet: @nofend | YM: rankmarola 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke