Sudah dijual rupanya dek para petinggi

Uangnya untuk apa yaaa

Dikampuang ambo, wali jorong sampai meninggal ditahanan Buterpra karano ma-ajak 
masyarakat mengambil rel bekas untuk besi rentangan jembatan desa

--------------------------

Menyusuri Bentangan Rel Kereta Api di Riau

Senin, 10 Juni 2013 09:05 WIB

Laporan: Mayonal Putra

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU- Tidak banyak yang tahu, bahwa transportasi 
kereta api yang digunakan membawa hasil tambang batu bara zaman penjajahan 
Jepang juga membentang sepanjang lebih 300 Km di Riau. Bentangan rel kereta api 
itu dibangun pada tahun 1942-1944, dengan kerja paksa dari pemerintahan Jepang. 

 Namun, tak ada lagi rel kereta api yang dapat ditemui saat ini secara utuh. 
Kecuali bukti besi tua yang diduga rel yang muncul kepermukaan tanah sepanjang 
1 meter yang terletak di tengah rimba kawasan Suaka Marga Satwa di Rimbang 
Baling. Sebagai bukti sejarah, WWF Riau pun ingin melindungi benda ini.

Pada tahun 1975 masyarakat sudah membongkar rel yang membentang dari Pintu Batu 
sampai Pekanbaru,  lalu menjualnya kepada cukong besi secara kiloan. Sedangkan 
dua dari sembilan unit lokomotif  masih tersisa sebagai bukti otentik sejarah.  
 

Satu unit dijadikan monumen yang diletakkan di makam pahlawan, jalan Kaharuddin 
Nasution, Kota Pekanbaru. Monumen ini diresmikan pemerintah tahun 1956. 
Sedangkan satu unit lagi berada di dalam kawasan kebun karet masyarakat, di 
jalan poros ganda, Kampar Kiri.

Dari penjelasan peta sederhana yang tertulis di monumen lokomotif, jalan 
Kaharuddin nasution, Pekanbaru, diduga perlintasan rel kereta api membentang 
dari Padang, Padang Panjang, Solok , Muaro Kalaban, Muaro Sijunjung melintas ke 
Logas kecamatan Singingi, Kabupaten Kuantan Singingi hingga ke sungai pagar, 
Kampar dan Pekanbaru.

Ahli Spesies WWF Indonesia, Sunarto yang turut menyusuri jejak bentangan rel 
kereta api mencoba menjelaskan dari berbagai referensi yang dia dapat.

"ternyata ada ribuan masyarakat yang mati akibat romusha untuk membangun rel 
zaman pendudukan Jepang. Sedangkan relnya sekarang sudah dipotong dan dijual 
orang," ujarnya kepada Tribun, Sabtu (8/6) di monumen lokomotif di Pekanbaru 
sebelum menyusuri jejak bentangan lainnya di kampar kiri dan kawasan Suaka 
Margasatwa bukit Rimbang Baling, Kuantan Singingi.

Ia menyebut, rekam jejak sejarah seperti tak ada perhatian dari pemerintahan.
Diceritakan Sunarto, pada zaman penjajahan Belanda, tepatnya awal tahun 1920an 
telah merencanakan hasil tambang batu bara dari Sawah Lunto Sumatra Barat 
diangkut tidak melalui Samudra Hindia. Rancana ini mengingat, karena banyak 
rintangan perang yang akan dihadapi bila Belanda tetap melalui Samudra Hindia.

"Waktu itu motivasinya dari Samudra Hindia mencoba mengalirkan ke Selat Malaka 
melalui Riau daratan," katanya.

Tahun 1942 Belanda menyerah kepada Jepang sedangkan rencananya belum 
dilaksanakan. Melihat potensi rencana itu,Jepang langsung mengerjakan  dengan 
Romusha serta tawanan perangnya. Apalagi mengingat ada potensi batu bara yang 
telah di garap Belanda di Lagos, Kuantan Singingi. Namun, kereta api milik 
Belanda yang dimanfaatkan Jepang beroperasi hanya sampai tahun 1945 di Riau. 
Setelah Indonesia Meredeka dan Jepang menyerah kepada sekutu, sama sekali tak 
ada lagi pemanfaatan rel kereta api di Riau. Kecuali, di Sumatra Barat tetap 
dimanfaat sebagai pengangkut hasil tambang batu bara Sawah Lunto Sijunjung. 
Kini, hal itu telah menjadi wisata 'Mak Itam' sebutan bagi lokomotif kuno itu 
di Sumatra Barat.

Tidak lama berbincang di monumen lokomotif jalan Kaharuddin Nasution, rombongan 
WWF Riau serta beberapa orang wartawan termasuk Tribun yang hendak menyusuri 
jejak sejarah rel kereta api yang membentang di Riau ini langsung melaju ke 
Kampar Kiri. Setelah melewati sungai Subayang, rombongan berbelok ke kiri 
melalui jalan poros ganda. Pasalnya, jalan tidak beraspal itu merupakan jalan 
poros menuju PT. Ganda Buanindo, sebuah perusahan kelapa sawit di sana.

Sekitar 2 km dari jalan raya desa Kampar Kiri, terlihat sebuah lokomotif 
sepanjang 25 meter ditumbuhi semak dan rumput liar di kebun karet masyarakat. 
Keberadaan lokomotif ini tidak terlihat sebagai benda sejarah yang 
diperhatikan. Lokomotif berbahan bakar batu bara ini sudah tidak lengkap lagi, 
sejumlah besi dindingnya bolong, diduga dicuri orang tak bertanggungjawab. 
Begitupun dengan tumpukan besi lainnya, termasuk mesin penggerak lokomotif yang 
sempat beroperasi tahun 1943 ini tidak lagi ditemui.

Lokomotif yang ditumbuhi semak ini berada di atas  landasan tembok. Namun, 
tidak dapat dideteksi, kapan tembok penyangga besi tua ini dibangun dan siapa 
yang membuat.

Namun, di dinding belakang lokomotif ini  tertulis "jaga/lestarikan peninggalan 
sejarah. Pt.Ganda Buanindo. Apakah perusahaan sawit ini yang memagar keberadaan 
lokomotif ini dengan tembok tersebut, tidak ada masyarakat tempatan yang 
ditemui bisa memberikan jawaban pasti.

"Ini lokomotof sejak zaman Jepang dulu, saya gak tahu juga," ujar Ahud, warga 
sekitar yang ditanya Tribun.

+Rel dan lokomotif Dijual tahun 1975

Dua orang saksi mata yang ikut bertugas membongkar rel kereta api di sekitar 
desa Petai Kuantan Singingi, Badurrahmin dan Muhammad Yulis mengaku ada 
perintah dari pusat provinsi Riau. Namun, dia tidak tahu perintah membongkar 
dan menjual lokomotif apakah perintah negara atau hanya oknum pemerintah. Yang 
jelas setiap kepala desa dijadikan mandor pembongkaran rel tersebut.

"Waktu itu kami berlima sekelompok. Kelompok saya, selain pak yulis ada Abdul 
Aziz(almarhum), Baharuddin (almarhum) dan Arifin (almarhum). Kami bekerja hanya 
tukar beras sama rokok saja," ujar Badurrahmin.

Diceritakannya, memang sejak pendudukan Jepang masyarakat disuruh kerja paksa, 
untuk membangun rel kereta api ini. Sehingga, satu hari itu ditembak sebanyak 
60 orang warga pribumi. Sedangkan pekerjaan yang dilakukan tanpa ampun, tanpa 
istirahat apalagi upah. Sehingga dalam waktu depat, rel membentang dan bisa 
dilalui kereta api. Adapun tujuan jepang membangun rel kereta api, untuk 
mengangkut hasil tambang batu bara Lagos ke sawah lunto. Sejak Jepang 
memerintah, tambang Batubara Lagos itu termasuk besar, namun tetap berpusat ke 
Sawah Lunto.

"Tahun 1975, saya ikut mengangkat rel, per meter diupah 300 rupiah. Ini diambil 
bersama-sama, dibayar oleh Arifin, kepala desa Sungai Bawang waktu itu. 
Kemudian rel kereta api sudah tamat riwayatnya, karena rel sudah dijual 
semuanya," katanya.

Di Riau, sebenarnya ada sembilan Lokomotif yang sempat beroperasi. Yang tersisa 
sebagai bukti hanya dua unit, pertama di Pekanbaru kedua di kebun karet Kampar 
Kiri. Sedangkan, 7 unit di Sungai Pencong, 1 unit di koto baru sudah habis 
dijual perkilo.

"Kami sebagai masyarakat kecil mendapat perintah, supaya mendapat beras dan 
rokok kamipun ikut. Tidak tahu kalau hal itu penting saat ini," ujarnya.

Diterangkannya, perintah membongkar rel datang dari Pekanbaru yang langsung di 
oleh Wan Ghalib. Sedangkan Wan Ghalib mengaku sebagai perintah dari wakil 
gubernur Riau Wan Abdurragman.

"Kita tak tahu, apa alasannya, kami hanya mengangkat rel saja. Setiap desa yang 
dilewati rel masyarakatnya yang laki-laki ikut membongkar," tambahnya.

Rel sepanjang 300 KM lebih itu yang mulai membentang sejak dari Pintu Batu 
perbatasan Sumbar Riau-Hingga ke Pekanbaru selesai dalam setahun. Begitu juga 
dengan lokomotif, habis terjual dalam waktu setahun. Namun, dia tak tahu siapa 
yang menjadi penadah penjualan besi tua tersebut.

Setelah bercerita, Badurrahmi mengajak rombongan menelusuri keberadaan rel di 
desanya. Sebelah kanan jalan raya kuantan singingi menuju Pekanbaru, memang 
terlihat ada tanah seukuran landasan rel kereta api agak meninggi. Namun, besi 
tua rel tidak ada lagi temu.(*)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke