HARY TANUSUDIBYO DAN SDM. Oleh: Eddy Boekoesoe | 13 June 2013 | 06:12 WIB Hary Tanusudibyo beriklan di televisi tentang organisasi masa PERINDO yang bertekad membangun ekonomi nasional melalui pengembangan SDM. Jutaan pemirsa televisi yang melihat iklan tersebut, pasti menganggukkan kepala tanda setuju, namun saya sebagai salah satu dari jutaan pemirsa itu yang menggelengkan kepala tanda tidak setuju, yang mendorong saya menulis artikel ini.
Ketidaksetujuan saya itu disebabkan karena tekad itu sudah tidak terbukti kesahihannya secara empiris maupun secara teori. Bukti empiris ketidaksahihan tehad ini, adalah sudah jutaan insinyur mesin yang dihasilkan oleh bangsa ini tapi tidak berdampak pada industri mesin di negeri ini. Sudah sekian juta insinyur pertanian yang dihasilkan tetapi kita tetap masih mengimpor beras, kedele, jagung yang kayaknya tidak bisa distop. Pelajaran mengelas sudah dihapus pada sekolah kejuruan karena kurang peminat disebabkan ilmunya tidak bisa dipakai untuk memperoleh pekerjaan. Tingginya pengangguran tenaga terdidik juga merupakan bukti lain. Itulah sebabnya pengussaha terkenal Bob Sadino berpendapat bahwa apa yang dipelajari di perguruan tinggi itu sampah, yang membuat banyak sarjana yang meradang karenanya. Bukti secara teori akan lebih memberikan kepastian tentang ketidaksetujuan saya. Sejak diluncurkannya revolusi industri pada pertengahan acad XVIII di Inggeris, sdm sudah mulai digantikan oleh mesin sebagai penghasil barang. Sdm sudah dialihkan dari pembuat barang menjadi pengendali mesin pembuat barang. Dengan makin berkembangnya industri moderen hasil revolusi industri itu, penggusuran sdm kearah pengendali makin intens, sebab penggunaan mesin semakin kompleks, yang pada akhirnya menjelma menjadi pabrik. Karena makin banyaknya jenis barang yang diproduksi dalam jumlah yang sangat besar sekali, ditambah makin banyaknya manusia terlibat maka ditemukan cara kepengurusan pabrik yang baru yang disebut SCIENTIFIC MAMAGEMENT. Dengan ditemukannya scientific management ini, pabrik berubah menjadi sebuah SISTEM. Pada dunia industri moderen, sistem inilah yang membimbing sdm untuk mampu menghasilkan segala sesuatu. Apakah sistem itu? Sistrm adalah sebuah satuan kerja yang sudah dilengkapi dengan petunjuk yang terstandar yang kita kenal dengan STANDARD OPERATING PROCEDURE, ada juga yang menyebutnya standard operation procedure, kepada sdm sebagai operator. Sistem ini ada yang besar seperti pabrik pesawat terbang yang menghasilkan pesawat terbang (pesawat terbang tidak lagi buatan orang tetapi buatan pabrik) ada juga yang kecil umpamanya telepon seluler. Sebuah surprise terjadi bahwa hp ini yang mampu membuat 150 juta sdm Indonesia mampu ber sms, dalam waktu yang sangat singkat hanya dengan mengikuti sop mengirim sms yang sudah disediakan dalam perangkat hp tersebut. Berdasarkan cerita diatas pantaslah seorang ulama besar bernama Frederick Winslow Taylor yang memperkenalkan scientific mamagemet pada tahun 1911 yang membuat dunia industri menjadi moderen, mengeluarkan fatwa sebagai berikut: In the past the man has been first, in the future the system must be first, and the first goal of all good systems, should be developing first class men. Fatwa ini menyatakan kepada kita bahwa dalam industri moderen sdm sudah digantikan oleh sistem dan sistem yang baik akan menghasilkan SDM kelas satu yang pada akhirnya akan menghasilkan produk kelas satu pula. Mengingat pak Hary sebagai pemilik modal yang besar, dikhawatirkan akan memboroskan uangnya pada tekad yang sudah ketinggalan zaman. Itu namanya mubazir dan orang yang melakukan hal hal yang mubazir itu kata orang adalah temannya setan. Agar pak Hary tidak ditemani setan, maka sebaiknya dalam membangun ekonomi nasional sebaiknya memproduksi sebanyak banyaknya sistem. Memproduksi sistem itu insya Allah lebih mudah daripada mengembangkan sdm. Semoga bapak Hary Tanusudibyo sukses membawa PERINDO menggapai cita cita luhurnya. Amin. Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: Lies Suryadi <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Sat, 15 Jun 2013 08:05:05 To: [email protected]<[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Bls: [R@ntau-Net] Ma Ajo Duta Uwan Amiroeddin! ITU BANA NYO! Para pemimpin awak kini ndak tabaco dek e tu doh. Baa lai lah dikabek utang. Salam, Suryadi ________________________________ Dari: "[email protected]" <[email protected]> Kepada: "R@ntau-net Email Group Rantaunet" <[email protected]> Dikirim: Sabtu, 15 Juni 2013 1:52 Judul: Re: [R@ntau-Net] Ma Ajo Duta Kalau menuruik pendapek ambo tdk sekedar soal Kristenisasi sajo tapi masalah masuknya pemodal besar yg akan mematikan pedagang/pengusaha menengah kecil di Sumbar, karena kesempatan mereka utk berkembang akan terpukul dgn kehadiran pemodal besar yg juga menguasai jalur2 distribusi barang, akhirnya masyarakat Minang hanya akan menjadi kuli dan penonton saja, contoh kalau kita jalan disepanjang Pantura di Jawa, sdh hampir tidak ada lagi warung2 yg ada menjamurnya Mini Market, siapakah yg punya mereka adalah tadinya tengkulak2 dan kemudian menjadi tuan tanah, yg jumlahnya hanya 1% dr jlh penduduk desa, sedangkan yg 99% menjadi buruh tani, TKI/TKW buruh pabrik. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
