Assalamu'alaikum wr.wb.

http://dinasulaeman.wordpress.com/2013/04/21/dan-iran-pun-cabut-subsidi-bbm-transportasinya/

*Dina Y. Sulaeman*

Pemerintah mulai mewacanakan lagi pengurangan subsidi BBM.  Seperti biasa,
tulisan seorang pengamat ekonomi soal ‘kebohongan subsidi BBM’ kembali
disebarluaskan di media sosial (FB, blog, dll).  Argumen soal ‘kebohongan
subsidi’ memang membuat nyaman masyarakat yang memang umumnya anti
pencabutan subsidi. Namun, menurut sebagian orang, hitung-hitungan yang
dilakukan sang pengamat ekonomi ini sangat banyak menyederhanakan, terlalu
banyak berasumsi, dan banyak variabel yang  tidak dilibatkan, terutama yang
dari segi keteknikan. Saya tidak akan membahas detil soal hitungan ini
karena bukan bidang saya. Yang jelas, di internet kita bisa menemukan cukup
banyak tulisan yang dengan detil menjelaskan dimana letak kesalahan
kalkulasi sang pengamat ekonomi.

Ada argumen yang banyak diulang-ulang oleh pihak-pihak yang antipencabutan
subsidi, yang saya tahu pasti kesalahannya, yaitu argumen yang melibatkan
Iran. Iran disebut-sebut sebagai negara yang menjual minyak dengan harga
sangat rendah kepada rakyatnya, yaitu Rp 1287/liter. Ini tidak benar. Harga
bensin di Iran saat ini minimalnya 4000 IRR/liter dan ada pembatasan
pembelian; akan saya jelaskan nanti. (IRR= Iranian Riyal; per 21 April
2013, 4000 IRR= Rp3160)[1]

Yang mungkin akan mengejutkan banyak orang, Iran pun MENCABUT subsidi
BBM-nya. Pernah di suatu masa, harga bensin di Iran memang sangat murah,
sekitar Rp1500/liter. Tapi, itu bukan harga asli, melainkan disubsidi 80%.

Sejak akhir tahun 2006, pembelian bensin bersubsidi dibatasi (setiap mobil
cuma boleh beli bensin 120 liter/bulan/mobil), dan akhirnya mulai akhir
2010 subsidi pun dikurangi. Menariknya, semua itu terjadi tanpa gejolak
(tentu saja, kalau protes-protes minor, selalu ada dalam masyarakat Iran
yang memang karakternya *outspoken* –blak-blakan-itu). Yang lebih menarik,
Wamen ESDM kita dulu, Dr. Widjajono Partowidagdo (alm) pernah berkunjung ke
Iran untuk mempelajari apa yang dilakukan Iran dalam efisiensi energi.
Tapi, sayang sebelum beliau bisa mengaplikasikan apapun , beliau meninggal
dunia (yang menurut pengamatan sebagian orang, agak ‘misterius’).

Ada satu fakta penting yang perlu dicermati:  *Iran memberikan subsidi BBM*.
Ini jelas kontradiktif dengan pernyataan seorang pengamat ekonomi terkenal:
‘tidak ada yang disebut subsidi BBM itu’. Padahal, Iran adalah negara
dengan cadangan minyak nomor 3 di dunia dan dengan cadangan gas nomor 2 di
dunia. Iran jauh lebih kaya minyak daripada Indonesia, tapi mereka tetap
memberikan subsidi.

Artinya apa? Pemakaian BBM di Iran sangat tinggi karena (dulu) harganya
murah, bahkan 18 kali lipat tingkat konsumsi orang Jepang dan 9 kali lipat
orang AS. Kasus penyelundupan BBM ke luar negeri pun banyak terjadi. Iran
pun terpaksa mengirim minyak mentahnya ke negara-negara lain untuk di-*
refinery*, karena hasil *refinery* di dalam negeri tidak cukup, saking
borosnya. Ketika harus di-*refinery* di luar negeri, jelas memakan biaya
besar. Dan ketika dijual di dalam negeri, *pemerintah harus memberikan
subsidi* agar harga tetap murah. Artinya, pemerintah terbebani oleh subsidi
ini.

Saya sempat berada di Iran ketika harga bensin di sana sangat murah. Saat
itu, saya menyaksikan sendiri, betapa borosnya rakyat Iran. Mereka mengisi
tangki mobil sendiri (karena tidak disediakan pelayan di pom bensin) dengan
ceroboh, sehingga bensin itu berceceran. Mereka *cuek* karena harga yang
sangat murah.

Apa yang dilakukan Iran untuk mengatasi masalah ini? Pemerintah di sana
dengan tepat melihat bahwa Iran memiliki cadangan gas yang sangat besar.
Bila rakyat menggunakan bahan bakar gas (dari jenis CNG), Iran akan
menghemat sangat banyak uang (yang digunakan untuk subsidi) dan bahkan
menghasilkan banyak uang (karena surplus BBM bisa dijual). Inilah yang
secara sistematis dilakukan Iran dan dilakukan secara kontinyu, meski
presidennya berganti-ganti. Proses sosialisasi pencabutan subsidi itu
dilakukan sejak tahun 1993, era Presiden Rafsanjani. Sosialisasi itu bahkan
dilakukan lewat film. Di komedi lawak Powarchin, yang membuat kota Teheran
lengang (saking semua orang duduk di rumah menonton film serial tersebut),
sering diselipkan propaganda (dengan cara yang mengundang tawa) betapa
subsidi minyak itu membebani pemerintah. Bayangkan bila uang untuk subsidi
itu dialihkan membuat rumah sakit, sekolah, bla…bla..(demikian’iklan’ di
film lucu tersebut).

Di saat yang sama, sejak 1999 (era Khatami), dimulailah proyek jangka
panjang pembangunan stasiun pengisian CNG; dimulai dengan membangun
pipa-pipa gas hingga ke pelosok desa-desa. Tahun 2004, seorang periset
senior lembaga riset milik pemerintah berhasil menciptakan tabung CNG untuk
mobil dan hasil risetnya itu diproduksi massal oleh pemerintah tahun itu
juga. Stasiun pengisian CNG pun dibangun di seantero negeri. Tahun 2004 itu
pula, Iran-Khodro (industri mobil terbesar Iran) mulai membuat
kit-converter untuk mobil yang mau beralih dari BBM ke CNG. Iran-Khodro
juga memulai produksi mobil berbahan bakar CNG yang selesai tahun 2005 (era
Ahmadinejad).

Masih tahun 2004 itu pula, kepolisian Iran mulai menertibkan lagi sistem
pendataan kepemilikan mobil untuk menunjang program *e-smart-card* untuk
kartu bensin subsidi.

Tahun 2005, Pemerintahan Ahmadinejad memberikan subsidi kepada rakyat yang
ingin mengganti sistem mobilnya agar berbahan bakar CNG. Subsidi itu berupa
*kit-converter, *juga subsidi untuk pengadaan tabung CNG-nya, bahkan
subsidi untuk orang-orang yang mau membuka usaha pompa CNG. Seseorang hanya
perlu punya tanah kosong minimal 1000 m2 dan uang modal 500 juta IRR.
Selanjutnya, semua alat, keperluan, dan berbagai biaya tambahan untuk
membangun pompa CNG itu disuplai pemerintah.

Selanjutnya, sejak 2010, mulailah pembatasan subsidi dilakukan dengan
menggunakan semacam kartu subsidi (*e-smart card*). Setiap mobil cuma
berhak membeli 60 liter/bulan bensin yang disubsidi 50%. Harga bensin super
5.000 IRR dan bensin biasa 4.000 IRR perliter.  Kartu subsidi ini ada
PIN-nya dan harus cocok antara nomor mobil, nama pemilik mobil, dan warna
mobil. Satu mobil tidak bisa memakai jatah mobil lain saat membeli bensin.
Jika pemakaian bensin sebuah mobil lebih dari 60 liter/bulan, pemilik mobil
tersebut harus membeli bensin dengan harga pasar Iran (yang sebenarnya
masih juga disubsidi 20 %), yaitu 8.000 IRR/liter (bensin super) dan 7.000
IRR/ liter (bensin biasa).

Sementara itu, harga 1 tabung CNG adalah 60.000 IRR yang bisa dipakai untuk
jarak sekitar 750 km.Ketika di pasar terjadi perbedaan harga: harga BBM
lebih mahal daripada CNG, jelas, rakyat akan memilih dengan sukarela:
mengganti sistem mobilnya dengan sistem CNG (apalagi ditunjang dengan
berbagai kemudahan yang diberikan pemerintah).

Jadi, inilah yang umumnya kita abaikan di tengah hiruk-pikuk perdebatan
tentang pencabutan subsidi BBM. Publik lebih fokus kepada dampak negatif
pencabutan subsidi BBM. Padahal, ada masalah lain yang lebih penting
diangkat yaitu *upaya mencapai kemandirian energi*.

Minimalnya ada tiga  fakta yang sepertinya agak diabaikan para pengamat
yang berkali-kali muncul di televisi (atau menulis di koran).

*Pertama,*Indonesia bukan lagi negeri yang kaya minyak. Indonesia saat ini
berada di peringkat 22 dalam daftar pemilik cadangan minyak terbanyak
dunia. Sejak era Orde Baru, kebijakan energi Indonesia sangat bertumpu
kepada minyak, tanpa  melakukan upaya pengembangan sumber-sumber energi
terbarukan. Semakin lama, cadangan minyak Indonesia semakin menurun
sementara minyak tetap menjadi sumber utama energi di Indonesia.

*Kedua,*minyak Indonesia pun tidak sepenuhnya diproduksi bangsa ini.
Pertamina hanya memproduksi 13,8% dari total produksi minyak Indonesia,
sementara sisanya  diproduksi oleh perusahaan asing, antara lain Chevron
(41%), Total E&P Indonesie (10%), Chonoco Philips (3,6%), dan CNOOC (4,6%).
Perusahaan-perusahaan asing itu tentu saja menjual minyaknya dengan harga
pasar internasional karena berdasarkan aturan UU Migas, pemerintah tidak
berhak lagi ikut campur dalam kebijakan perusahaan-perusahaan asing
tersebut. Sementara, demi memenuhi konsumsi dalam negeri, Indonesia *setiap
harinya* harus *mengimpor* 600.000 barel minyak dengan harga internasional
dan dijual dengan harga Indonesia. Inilah sebabnya pemerintah *mensubsidi
BBM.*

*Ketiga,*terjadi ketidakefisienan dalam pengelolaan energi kita. Antara
lain, mengapa kita hanya mengelola 13% minyak Indonesia dan sisanya
diserahkan kepada perusahaan asing dengan bagi hasil yang tidak adil?
Selain itu, mengapa kita harus memilih untuk mengimpor minyak, sementara
kita mempunyai sumber energi yang jauh lebih murah bila dimanfaatkan, yaitu
batu bara dan gas? Anehnya, batu bara dan gas justru dijual murah kepada
negara asing.

Jawaban dari pertanyaan ini sudah banyak yang tahu: kalau ada energi
alternatif, pastilah itu mafia-mafia minyak Indonesia maupun asing akan
rugi besar! Itulah sebabnya mereka menekan pemerintah supaya tidak
mengembangkan energi alternatif. Yang dilakukan pemerintah untuk mengurangi
beban anggaran hanya mencabut subsidi, tanpa ada upaya penyiapan
infrastruktur untuk penggunaan energi alternatif. Di sinilah letak
kesalahan besarnya. Jangan malah dikaburkan pada isu ‘kebohongan subsidi’.

Inti dari tulisan ini hanya satu: marilah kita lebih jernih dalam menyikapi
berbagai isu. Tidak semua pencabutan subsidi itu antirakyat. Pencabutan
subsidi hanya persoalan di ‘permukaan’, tapi ada hal-hal yang lebih penting
dicermati dan disuarakan. Dan yang kunci utamanya memang pada pemerintahan
yang jujur, amanah, dan bervisi. Mudah-mudahan kelak kita memiliki
pemerintah yang seperti ini. Amin. (IRIB Indonesia)

*Dimuat di IRIB Indonesia dan The Global Review*

[1] 1 Rupiah = 1,265 IRR; 1 USD = 12, 285 IRR,  per 21 April 2013, menurut
http://www.xe.com/currencyconverter/

*In memoriam, 1 tahun wafatnya Pak Wid (Dr. Widjajono Partowidagdo), 21
april 2012 – 21 april 2013.*

Hormat saya

Muhammad Syahreza
36 thm Sikumbang, Rantau Bekasi, Kampuang Sei Limau

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke