Kata murtad akhir-akhir ini menjadi sering muncul di media massa Sumatra
Barat. Cuma, aromanya itu membuat siapa pun yang membaca merinding.

Ditulis dengan amarah dan ancaman, bahkan dengan kesan seperti ada
kebencian. Akibatnya, di negeri elok dan damai ini, Islam seperti
kehilangan toleransinya yang amat dihormati dan dikagumi dunia itu.
Tapi, sudahlah. Ada obatnya, yaitu kata-kata bijak, tak ada badai yang
berusia seratus tahun, tak ada pesta yang tak selesai. Kata Ibnu Sina,
waktu adalah obat, yang konon bahagian dari kekayaan makna ayat wal asri.
Kata beliau, marah, dendam dan benci adalah suatu penyakit yang tak ada
obatnya di rumah sakit maupun apotik. Juga tak serta merta lenyap dibawa
sembahyang. Namun, waktu pasti akan menyembuhkannya. Mungkin dalam
seminggu, mungkin sebulan, mungkin setahun. Dipastikan sembuh.

Terkait kata murtad tadi, saya justru ingin menyampaikan kekaguman saya
terhadap betapa amat kuatnya iman urang awak yang membentengi mereka dari
kemurtadan. Benteng iman yang telah dan akan terbina terus menerus, dari
hari ke hari, dari bulan ke bulan dan tahun demi tahun oleh keluarga,
lingkungan, adat maupun agama di negeri ini.
Sebelum kemerdekaan, negeri kita ini ratusan tahun dijajah oleh Belanda.
Agama penjajah itu kalau tidak Katolik, yang Protestan. Namun, kendati
dijajah selama ratusan tahun oleh Belanda dan 3,5 tahun oleh Jepang yang
beragama Shinto, tak ada orang Minang yang murtad dari agamanya!
Pada zaman itu pula, banyak sekali pemuda urang awak dan daerah lainnya di
Indonesia yang bersekolah di Belanda. Sebutlah Bung Hatta dan kawan-kawan
segenerasinya. Kendati mereka sekolah bertahun-tahun di negeri orang kapie,
ternyata Bung Hatta tak jadi murtad, begitu juga kawan-kawannya yang lain.
Saya sungguh kagum atas benteng iman yang melindungi mereka.
Setelah kemerdekaan, di beberapa kota Sumatra Barat ada sekolah Frater,
Santa Maria, Don Bosco, Xaverius, yang jelas-jelas dimilki oleh
saudara-saudara kita umat Kristen. Sebagian guru-gurunya juga beragama
Kristen. Siapa yang jadi muridnya?
Sebanyak (paling tidak) 75 persen muridnya adalah anak-anak kita yang
beragama Islam. Bayangkan, anak-anak kita yang masih dalam pertumbuhan
diajar oleh guru-guru yang berbeda agama di sekolah non-Islam pula.
Namun lihatlah betapa sejak jauh hari keluarga, para guru mengaji, pemuka
adat dan pemuka agama telah berperan membentengi iman mereka. Akibatnya
tidak seorangpun diantara remaja yang bertahun-tahun menuntut ilmu di
sekolah kapie itu kita dengar ada yang murtad dari Islam yang menjadi
agamanya.
Pada saat yang hampir bersamaan, bahkan sampai kini, banyak sekali
anak-anak urag awak baik yang berdomisili di Sumatra Barat, maupun yang
berdomisili di daerah lain di Indonesia, bersekolah ke luar negeri.
Sebagian bersekolah ke negeri mbahnya kapie. Sepeti Inggris, Belanda,
Amerika dan Jerman. Ada pula yang ke Jepang, kiblat Agama Shinto. Mereka di
sana bebas sebebas-bebasnya.
Selain itu, setiap hari mereka belajar dari guru-guru yang seluruhnya tidak
seagama dan setiap hari juga bergaul dengan orang kota yang hampir semua
tidak seagama dengan mereka. Namun sekali lagi, karena ketika di kampungnya
iman mereka sudah terbentengi dengan amat kuat oleh keluarga, lingkungan,
adat dan agama, akibatnya tak satupun kita dengar yang bersekolah
bertahun-tahun di negeri orang-orang kapie itu yang murtad. Islam perginya,
tetap saja Islam jua pulangnya. Tak luak sedikitpun! Betapa saya takkan
kagum atas kasus-kasus di atas.
Apakah mereka tidak sampai murtad karena mereka orang-orang terdidik? Ini
bukan soal terdidik atau tidak terdidik. Ini soal benteng iman yang sudah
terbentuk, bahkan sejak dari dalam kandungan. Lihatlah para TKI kita yang
sebagian (maaf) kurang terdidik. Setiap tahun ratusan ribu orang (termasuk
urang awak) meninggalkan tanah air untuk bekerja di negeri orang-orang yang
tak seiman dengan kita.
Mereka mengadu nasib di Singapura, Malaysia, Hongkong, Brunai dan
negara-negara Tinur Tengah. Sebagian besar bertahun-tahun berinduk semang
kepada orang-orang yang tak seagama. Ada yang jadi montir, buruh kebun,
sopir, pelayan toko, buruh bangunan dan sebagian besar menjadi pengasuh
anak dan pekerja rumah tangga.
Bertahun-tahun makan minum di rumah orang yang tak seiman itu, atau membeli
makanan, minuman dan pakaian dari duit yang diberi orang-orang tak seiman
yang jadi induk semang mereka.
Tidak seperti saat di kampung yang dimana-mana ada masjid, dimana setiap
hari mereka mendengar suara azan berkumandang lima kali, dan merekapun
dapat sembahyang berjemaah ke masjid tersebut. Di negeri dimana mereka
bekerja, (kecuali di Timur Tengah, Brunai dan Malaysia) nyaris tak
ditemukan masjid, tak ada suara azan.
Tak dapat pula sembahyang berjemaah. Tapi, alangkah kagumnya saya, karena
tak satupun diantara mereka yang jadi orang murtad.
Selain itu, banyak sekali urang awak yang sakit, parah maupun setengah
parah, silih berganti berobat ke Singapura, Cina, Malaka, Kuala Lumpur,
yang para dokternya beragama Katolik, Protestan, Hindu, Kong Hu Cu dan
sebagainya.
Separah-parahnya sakit, saat berobat sampaipun sembuh, mereka tetap saja
orang Islam. Samasekali tak ada rayuan, dari perawat apalagi dokter, untuk
berpindah agama. Mereka Islam saat sakit, Islam saat berobat, dan Islam
pula setelah sembuh dan pulang ke kampungnya. Tak seorangpun yang murtad.
Dengan demikian kuatnya benteng iman anak negeri ini dari keluarga,
lingkungan, adat dan agama, maka di rumah sakit manapun mereka
bekerja/berobat, di sekolah manapun mereka menuntut ilmu, di mal manapun
mereka berbelanja atau bekerja, takkan pernah menjadikan mereka murtad dari
agamanya.
Selaras dengan itu, kalau kelak didirikan sekolah yang dikelola umat
Kristen di Padang, mengapa harus khawatir? Bukankah selama ini juga sudah
ada, seperti Don Bosco, Xaverius atau Sabta Maria, dan tak ada anak-anak
kita yang murtad sekolah di sana?
Kalau kelak di Padang didirikan rumah sakit modern yang dikelola umat
Kristen, mengapa harus khawatir? Selama ini banyak sekali urang awak yang
berobat ke rumah-rumah sakit yang total dikelola orang non-Islam. Baik di
Singapura, Malaysia atau Cina. Dan tak seorangpun yang berobat di sana
bertukar akidahnya.
Kalau sudah ada di Padang, urang awak justru beruntung, tak keluar uang
banyak ke Singapura, Malaysia atau Cina untuk berobat ke rumah sakit yang
bertaraf internasional alat dan pelayanannya.
Kalau di Padang juga didirikan mal yang dikelola orang Kristen, keterlaluan
kalau ada yang hawatir, yang berbelanja di sana akan jadi murtad. Sebab
hampir 80 persen pusat-pusat perbelanjaan di seluruh Indonesia, adalah
milik orang non-Islam, tapi setiap tahun didatanggi puluhan juta orang
Islam, namun tak ada yang murtad karena belanja di sana.
Lagi pula belanja atau cuci mata melihat barang-barang mewah tak perlu lagi
setiap minggu ke mal-mal di Padang, sebagaimana dilakukan oleh banyak
sekali warga berbagai kota di Sumatra Barat dalam sepuluh tahun terakhir.
Oo…, akibat pembangunan superblok itu ada yang takut galehnya takkan laku?
Di manapun, orang takkan bisa menghambat kemajuan dan perkembangan kota.
Kemajuan bukan keinginan pemerintah apalagi tuntutan warga kota, melainkan
tuntutan zaman. Cepat atau lambat, panggaleh manapun yang mencoba
menghalanginya akan dilindas zaman. Begitu berkali-kali sejarah
membuktikankannya.
Anak negeri ini imannya sudah dibentengi sangat kuat oleh keluarga,
lingkungan, adat dan agama. Karenanya, menurut saya, mau mendirikan rumah
sakit kek, sekolah kek, supermal kek, silahkan. Selain negeri ini akan
semakin maju, iman anak negeri ini takkan goyah, apalagi sampai murtad.
Jauh panggang dari api. (*)

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke