Bagus itu sanak RPP, lanjutkan! :)

Kalau boleh saran untuk perbaikan cerpen ini, meski dari perspektif
Rububiyah hidayah adalah hak prerogatif Allah Swt yang diberikanNya kepada
siapa yang Dia kehendaki, kapan saja, di mana saja, namun untuk soliditas
cerita "Mak Agus" ini elemen-elemen motif, suspens dan logika cerita harus
diperkuat. Misalnya:

1. Randy, anak Mak Agus, sebaiknya tidak digambarkan sedang "asyik menyikat
lantai keramik toilet". Bahkan harus sebaliknya, bermalas-malasan, bermuka
masam, dan ekspresi sejenis yang menggambarkan dia "terpaksa" melakukan
itu, hanya karena perintah bapaknya. Ini juga sebagai "planting
information" sebelum menuju ending/klimaks cerpen agar nanti terjadi
perubahan sikap Randy, sebuah "twist". Sebab, kalau Randy anak seorang
"urang bagak" seperti Mak Agus, agak sulit memahami dia bisa "asyik
menyikat toilet". Faktor yang membuat Randy akhirnya bisa "asyik" itu harus
disimpan belakang cerita. Apa? Mari kita eksplorasi lanjutannya.

2. Fakta bahwa Mak Agus adalah "urang bagak" dan bekerja di pasar pula,
adalah dua hal yang "berlawanan" dengan kebersihan. Artinya,
ketidakbersihan adalah hal yang akrab bagi dia. Jadi kalau hanya melihat
toilet masjid tidak bersih adalah bukan hal prinsip bagi dia. Yang
terganggu melihat ketidakbersihan Masjid Al Falah, Jambu Aia, adalah Ronald
P. Putra, sang 'auteur', yang sedang melancarkan kritik sosialnya terhadap
kebersihan Rumah Allah, melalui tokoh Mak Agus.

Sehingga dengan begitu dibutuhkan sebuah peristiwa luar biasa yang menjadi
MOTIF bagi perubahan sikap Mak Agus itu. Apakah motifnya? Inilah yang
menjadi lahan pengarang untuk mengeksplorasi dan menggali MOTIF SEHEBAT
apakah yang membuat seorang pareman, surang bagak yang (secara tersirat
dari cerpen) tak pernah masuk Masjid untuk ibadah (kecuali numpang buang
air) mendadak menjadi "voluntir kebersihan" yang tak ingin diketahui orang
lain? Kemungkinan untuk menghadirkan MOTIF ini, bagi Ronald sebagai
pengarang, adalah sebanyak pasir di pantai. Banyak sekali.

3. Salah satu MOTIF yang bisa dipertimbangkan, sebagai contoh, adalah bahwa
pada 6 pekan sebelumnya ketika sedang buang air di toilet Masjid Al Falah
itu, Mak Agus terpeleset, sempat hampir terjatuh, meski dia tak terluka.
(Jadi bukan hanya soal kebersihan, tapi bagaimana ketidakbersihan bisa
berakibat lebih jauh, membuat orang lain celaka).

Baru setelah itulah Ronald mengungkap sebuah RAHASIA BESAR, rahasia yang
bahkan tak diketahui Randy dari ayahnya selama ini. Rahasia yang menjadi
MOTIF perubahan sikap Mak Agus, yakni 4-5 tahun sebelum kelahiran Randy,
sebetulnya Mak Agus sudah punya seorang anak  lain (kakak Randy, boleh
lelaki, boleh perempuan). Sang kakak ini hanya dikenal Randy dari namanya
saja.

Satu hari, sang kakak mengalami kecelakaan, terpeleset di toilet masjid,
kepalanya terbentur hebat, dan meninggal kemudian (bisa di rumah, atau di
rumah sakit). Ini menjadi TITIK BALIK (Plot Point) pertama bagi Mak Agus,
sehingga dia MEMBENCI dan MENJAUH dari masjid, bahkan sampai anaknya
kemudian, Randy, lahir dan remaja. Mak Agus masih juga tak pernah ke masjid.

Tapi begitu dia sendiri terpeleset di toilet masjid, ini menjadi Plot Point
2 di mana, Mak Agus kemudian TERPIKIR: bagaimana kalau ada anak orang lain
yang terpeleset? Haruskah pengalaman traumatiknya kehilangan anak belasan
tahun lalu terjadi pada keluarga lain?

Mengingat kemungkinan itulah maka Mak Agus mempunyai MOTIF untuk
membersihkan toilet masjid secara diam-diam, supaya tidak ada keluarga lain
yang mengalami kehilangan yang dia pernah rasakan, dan setelah rahasia itu
diceritakannya pada Randy barulah Randy paham mengapa ayahnya yang selama
ini pareman mendadak jadi peduli kebersihan, dan Randy pun bisa "asyik
menyikat toilet masjid".

Ini salah satu contoh saja, Ronald, sehingga elemen dramatik cerita lebih
kuat, dan pesan moral dari cerpen ini pun bisa lebih tegas: bahwa bersih
bukan hanya berarti tidak kotor, tapi bersih juga membuat keselamatan orang
lebih terjaga.

Kalau Ronald bersedia, cobalah disunting ulang cerpen ini dengan
menambahkan faktor motif perubahan sikap Mak Agus yang lebih kuat, tidak
harus dengan contoh di atas bisa saja dengan cara lain, dan tayangkan ulang
di sini. Insya Allah hasilnya akan lebih bagus lagi.

Tapi bukan berarti versi sekarang ini kurang bagus ya.

Hanya seperti kata ungkapan, "If better is possible, then good is not
enough."

Wassalam,

ANB
45, Cibubur



Pada Rabu, 19 Juni 2013, Ronald P Putra menulis:

> Hahaha terima kasih uda Akmal, tiba-tiba pingin nulis nulis lagi.
>
> Wassalam
> Ronald
> On Jun 19, 2013 9:35 PM, "Akmal Nasery Basral" <[email protected]>
> wrote:
>
> Ide cerita yang bagus, Ronald. Kelihatannya sudah "terjangkit virus" jadi
> cerpenis juga :)
>
> Wassalam,
>
> ANB
>
> Pada Rabu, 19 Juni 2013, Ronald P Putra menulis:
>
> MAK AGUS
>
> Mak Agus menoleh kanan kiri sebelum akhirnya bergegas masuk ruang wudhu’.
> Sebuah sikat pembersih lantai di tangan kanan. “*capeklah, beko katahuan
> awak !*” suaranya agak meninggi memanggil Randy anaknya. Yang dipanggil,
> seorang pemuda lagi asyik menyikat lantai keramik toilet yang berwarna biru
> muda, bergegas masuk pula ke ruang wudhu’. Ia sempatkan menyambar satu
> ember kecil hitam, cairan pembersih lantai dan sikat. Berdua mereka
> kemudian membersihkan ruang wudhu’. Dari cara mereka membersihkan, terlihat
> sekali kalau mereka terburu-buru dan ketakutan. Ini Jum’at keenam, dan kali
> ini mereka telat !
>
> Masjid Al-Falah Jambu Aia berada di pinggir jalan Sudirman Bukittinggi.
> Jika hendak ke pasar atas, Mak Agus dan anaknya Randy selalu melewati
> masjid ini. Setiap hari. pergi dan pulang. Terkadang, mereka harus singgah
> sebentar ke masjid untuk buang air kecil. Sesekali buang air besar. Hanya
> untuk keperluan itu, tak lebih.
>
> Tak ada yang tak kenal Mak Agus di pasar atas. Pemilik “Toko Jaya Makmur”
> yang menjual kopiah dan sajadah ini sudah puluhan tahun berdagang disana.
> Sejak ia masih kecil ikut orang tuanya. Kini umurnya sudah enam puluh tujuh
> tahun, perawakannya tinggi, kulit hitam, hidung mancung dan sebagian rambut
> sudah memutih. Mak Agus, terkenal bukan karena kebaikannya atau toko usang
> yang berpintu besi itu, tapi karena statusnya sebagai “*urang bagak*” di
> pasar atas.
>
> “*Dia punya ilmu hitam*”, begitu bisik-bisik yang ada di pasar. Semua
> orang tahu siapa Mak Agus. Jago berkelahi dan gampang naik darah. Tidak ada
> yang berani cari perkara sama dia. Hutangnya disana-sini dan tak ada yang
> berani menagih. Biasanya si pemberi hutang hanya bisa pasrah pada nasib
> apakah akan dibayar atau tidak. Jangan coba-coba menagih hutang pada Mak
> Agus ketika ia lagi tongpes, bisa bisa runyam urusannya. Sudah banyak
> terkena makan tangan dan kakinya. Tak tua, tak pula muda.
>
> Pernah dia dicegat dua pemuda bertato di tangga yang menghubungkan pasar
> atas dan pasar bawah. Terjadi perkelahian tidak seimbang yang disaksikan
> orang banyak. Hasilnya ? Seperti sudah diduga banyak orang, dua pemuda tadi
> merangkak-rangkak minta diampuni dengan wajah babak belur. Menurut cerita,
> dua pemuda ini disuruh orang untuk menagih piutangnya pada Mak Agus, dan
> Mak Agus marah.
>
> “*Dia kebal senjata tajam*”, kata pembisik yang lain.
>
> *“Nggak pernah sholat dan puasa, padahal sudah bau tanah*”, Kali ini
> mereka berbisik dengan suara sangat sangat pelan, takut kedengaran sama
> orangnya.
>
> Beberapa waktu lalu ketika hendak ke pasar, Mak Agus terpaksa singgah di
> masjid karena tak tahan ingin buang air besar. Dia jadi mengomel sendiri
> diatas motor bebeknya. Karena waktu di rumah belum terasa, kok pas mau
> lewat masjid, mendadak isi perutnya mau berebutan keluar. Ia terpaksa
> singgah dengan perasaan was-was. Bukan apa-apa, ini hari Jum’at dan
> menjelang waktu sholat. Ia segan ketahuan orang-orang banyak kalau ia tak
> sholat Jum’at. Bagaimanapun juga, abangnya almarhum dulu adalah gharin di
> masjid ini. Buru-buru Mak Agus menuju toilet sementara anaknya Randy
> menunggu di parkiran motor. Sepuluh menit kemudian Mak Agus terlihat keluar
> toilet dengan tergopoh-gopoh menuju tempat parkiran motor dan dengan gas
> pol mereka keluar area masjid menuju pasar atas.
>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke