Demo di Turki
Pemerintah Turki Tawarkan Referendum
Friday, 14 June 2013, 06:22 WIB 
Komentar : 0       
Seorang pengunjuk rasa membakar kembang api dan melemparkannya ke arah polisi 
anti huru hara di Istanbul Taksim Square,Turki, Selasa (11/6).    
(Reuters/Yannis Behrakis) 
A+ | Reset | A- 
REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Pemerintah Turki mengusulkan referendum terkait 
rencana penataan Taman Gezi di Istanbul. Usulan ini dharapkan bisa membuahkan 
hasil positif, yakni diakhirinya aksi demonstrasi yang telah mengharu-biru 
Turki dalam dua pekan terakhir. 

''Perdana Menteri  enawarkan cara demokratis untuk menyelesaikan masalah ini,'' 
kata Juru Bicara Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) Huseyn Celik, Rabu 
(12/6).

Rencananya, Celik melanjutkan, referendum hanya dilakukan untuk rencana 
penataan Taman Gezi, bukan termasuk rencana penghancuran Pusat Kebudayaan 
Ataturk yang juga ditentang oleh para demonstran. Alasan Celik, Pusat 
Kebudayaan Ataturk berada di wilayah rawan gempa dan tak lagi kuat menahan 
getaran. Karena itu, mau tak mau, Pusat Kebudayaan Ataturk harus dihancurkan.

Selain itu, kata Celik, referendum diselenggarakan hanya untuk warga Istanbul, 
kota tempat Taman Gezi berada. Artinya, warga Istanbul-lah yang memutuskan 
apakah rencana penataan ulang Taman Gezi akan dilanjutkan atau tidak. 

Gelombang demonstrasi di Turki yang telah merenggut tiga nyawa dan melukai 
sekitar 5.000 orang itu dipicu oleh rencana pemerintah untuk menata ulang Taman 
Gezi, salah satu ruang terbuka hijau di Istanbul. Selain apartemen dan pusat 
perbelanjaan, rencananya akan dibangun pula museum di taman itu. Aksi protes 
segelintir orang terhadap rencana itu belakangan berkembang menjadi unjuk rasa 
besar-besaran di puluhan kota di Turki. 

Selain memprotes rencana penataan Taman Gezi, demonstran juga mengecam RUU 
antialkohol yang telah disetujui pemerintah. Isu yang diusung para demonstran 
pun kemudian berkembang. Tak hanya mempermasalahkan Taman Gezi dan RUU 
antialkohol, mereka pun menuntut PM Turki mundur dari jabatannya karena 
dianggap telah berlaku otoriter dan ingin memasukkan nilai-nilai Islam di 
negara Turki yang  sekuler. 

Pada hari yang sama, PM Turki Recep Tayyip Erdogan melaksanakan janjinya untuk 
menemui perwakilan demonstran. Pertemuan dengan 11 perwakilan demonstran yang 
terdiri dari akademisi, mahasiswa, dan seniman itu berlangsung di kantor 
perdana menteri di Ankara. 

Sejauh ini, tak ada penjelasan resmi terkait hasil pertemuan itu. Salah seorang 
perwakilan demonstran yang hadir dalam pertemuan itu, Ipek Akpinar, mengatakan, 
ia dan rekan-rekannya tidak diajak bicara mengenai kemungkinan penyelenggaraan 
referendum. Meski demikian, ia menilai, pemerintah telah membuka jalur 
komunikasi dengan mereka. Inti diskusi itu, ucap dia, perwakilan demonstran 
menginginkan Taman Gezi tak dihancurkan dan mereka yang bertanggung jawab atas 
terjadinya kekerasan dalam demonstrasi ini harus diadili.

Kantor berita AP juga melaporkan, sebenarnya tak semua tokoh aktivis yang 
diundang dalam pertemuan itu mewakili demonstran. Sekadar contoh, ada seorang 
aktor dan seorang penyanyi yang diundang dan mereka tidak memiliki keterkaitan 
yang jelas dengan para demonstran. Sementara, kelompok pencinta lingkungan 
Green Peace tak berpartisipasi. Begitu pun Solidaritas Lapangan Taksim, sebuah 
kelompok yang memimpin pendudukan Taman Gezi, juga tak hadir karena tak 
diundang.

Seorang demonstran, Hatice Yamak, mengaku pesimistis dengan rencana referendum 
ini. Ia yakin, tak akan ada perubahan setelah referendum. ''Jika pun ada 
referendum, pasti tak akan adil,'' ujar demonstran lainnya, Mert Yildirim.

Gelombang demonstrasi di Turki telah menyedot perhatian dunia internasional. 
Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan, peristiwa ini sangat 
memprihatinkan. Sementara, Juru Bicara Kanselir Jerman Angela Merkel 
mengatakan, Pemerintah Jerman terus memperhatikan perkembangan situasi di 
Turki. Pemerintah Inggris maupun Jerman mendesak aksi demonstrasi yang diwarnai 
kekerasan ini segera dihentikan. n ichsan emrald alamsyah ed: wachidah handasah

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke