“Ratik” Selama Seminggu
“Ni, rumah Kak Niar kemalingan di siang bolong”, teriak Era dunsanakku melalui HP dari kampung. “Kemalingan ?”, jawabku heran. Rumah yang memang terlihat megah dan baru karena dibangun dengan biaya sebagian besar dari dana bantuan gempa 2007, dimana saat gempa rumah tersebut luluh lantak di hajar gempa. Kecuali televisi, hampir tak ada perabotan seperti kursi tamu atau meja makan di rumah tersebut. Rumah tersebut dihuni oleh keluarga kak Niar dengan 4 orang anak, Ayahnya yang sudah duda, adik-adik lelakinya yang belum menikah, membuat rumah selalu terlihat ramai penghuninya. Ayah kak Niar bekerja sebagai petani, suaminya seorang tukang yang bekerja pada toko perabotan kadang bepergian ke daerah lain, adik bungsunya baru saja diterima jadi guru suatu pesantren di kampung, dan adik-adik yang lain jadi tukang ojek. Secara umum, kehidupan yang dijalani Kak Niar menjadi sangat berat. Sayur mayor yang di tanam di sawah tahun ini hamper tak menjadi. Cabe yang ditanam keriting daunnya sebelum berbuah. Bawang daun dimakan ulat. Keadaan ini membuat Kak Niar kadang menerima upah sebagai buruh tani di sawah orang lain. Kehidupan yang susah begini bukan saja menjadi bagian dari keluarga Kak Niar tetapi juga menjadi bagian dari beberapa keluarga yang tinggal di kampungku. Ketika bulan Ramadhan tiba, orangpun tidak sungkan memberikan sebagian zakatnya pada keluarga Kak Niar tersebut. Tentu saja aku tercengang ketika mendengar berita rumah Kak Niar kemalingan di siang bolong. Sebelumnya sudah sering terdengar berita kemalingan di kampungku. Perahu mesin yang dipakai untuk bersenang-senang di Tabek Gadang bagi orang yang datang ke kampungku, mesinnya dicuri orang sehingga tidak ada lagi yang berperahu. Rumah yang dibikin untuk mengamankan perahu dengan pintu yang terbuat dari besi, pintunya telah hilang sebelah. Iakn Koi yang benihnya ditabur dengna jumlah ribuan ekor, semakin hari semakin berkurang jumlahnya. Belum lagi kemalingan di rumah-rumah penduduk. Semua kemalingan yang terjadi, tak pernah diusut tuntas sehingga pelakunya tak pernah tertangkap. Kalaupun ada yang dicurigai , setelah diinterogosi mereka dilepas kembali dengan status tidak bersalah. “Memangnya apa yang dicuri di rumah Kak Niar?”, tanyaku penasaran. “Uang lebih dari 20 juta rupiah”, jawab Era. “Haaahhh ? 20 juta? Astaghfirullah. Innalillahi wainna ilaihi rajiun”, jawabku dengan nafas sesak. Baru aku ingat kalau ayah Era dipercaya sebagai bendahara Mesjid di kampungku. “Kok uang sebanyak itu ada di rumah?”, tanyaku. “Itulah, itu yang disesalkan semua orang”, jawab Era. “Sebagian dari uang yang hilang adalah tabungan Qurban masyarakat yang rajin ke Mesjid, yang dikumpulkan setiap Minggu”, lanjut Era bercerita. Kembali aku hanya bisa berkata Astaghfirullah…. “Semua orang menyesali kecerobohan Kak Niar dan ayahnya yang meninggalkan rumah tanpa terkunci ketika pagi itu mereka mendengarkan ceramah pengajian di Mesjid yang tak jauh dari rumah”, kata Era melanjutkan ceritanya. “Apa tidak dilaporkan ke polisi?” kejarku lagi. “Ada polisi datang, tetapi polisi menyerah”, jawab Era. “Kok begitu polisinya?”, tanyaku lagi. Dari dulu kan memang begitu, tak pernah ada kasus yang terselesaikan oleh polisi. Kembali aku hanya bisa berkata astaghfirullah. Penasaran mendengar cerita dari Era, dan ingin mengetahui cerita yang sesungguhnya. Aku sempatkan diri untuk pulang kampung. Sampai di rumah hari sudah malam, akupun menahan diri untuk bertanya besok pagi saja. Subuh itu aku sempatkan sholat subuh di Mesjid. Berbeda dari biasanya, kali ini ketika waktunya berdoa, imam memandu membaca Lailla haillallah… banyak sekali jumlahnya. Kadang suara imam seperti mau menangis. Semua yang mengikuti juga mengulangnya dengan penuh perasaan. Ketercenganganku terjawab ketika sahabatku Eri menjelaskan bahwa itu adalah Ratik yang dilantunkan selama seminggu untuk kemalingan yang terjadi di rumah kak Niar. “Apa dampaknya”, tanyaku. “Malingnya mengaku, kalau tidak mengaku, andai malingnya dapat penyakit, maka penyakitnya tak akan bisa disembuhkan, pokoknya kita memohon pertolongan dari Allah”, jawab Eri. Aku merinding mendengarkan penjelasannya. Berbagai kemungkinan bermain di kepalaku. Akupun pulang ke Padang dengan perasaan tak menentu. Kampungku oh kampungku, dimana kedamaian yang menjadi idaman itu ??? Padang, 29 Juni 2013 Hanifah Damanhuri -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
