http://www.padangekspres.co.id/content/view/3018/1/
HEADLINE NEWS Rabu, 27 Februari 2008 Korban Gempa Terancam Kelaparan Gempa 7,2 SR Bukan yang Utama ? Padang, Padek-- Walaupun tidak ada orang yang bisa menentukan kapan gempa akan terjadi, tapi Koordinator Daerah Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumbar memperkirakan gempa susulan masih akan terjadi. "Sebab, saat ini gempa yang terjadi di blok Siberut -Pagai itu masih belum bisa dipastikan apakah gempa tersebut gempa pendahulu atau telah memasuki fase gempa utama," ungkap Ade yang juga Kabid Kesiagaan Kesbanglinmas Sumbar. Dijelaskannya, sebagian ahli mengatakan gempa 7,2 skala richter (SR) (Minggu, 24/2) sudah merupakan gempa utama di kawasan tersebut, tapi sebagian ahli lagi mengatakan masih merupakan gempa pendahulu. Apalagi dini hari kemarin, gempa besar 7 SR masih terjadi di 170 km barat daya Painan pukul 4.02 WIB dengan kedalaman 27 km. "Menyikapi kondisi ini, masyarakat Sumbar diminta untuk terus waspada dan saat ini petugas Satkorlak PB masih berada dalam status siaga. Para ahli terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan gempa yang ada di Sumbar. Masing-masing ahli memiliki kesimpulan berbeda," ingatnya. Dari catatan gempa yang terjadi di blok Pagai-Engano yang memiliki panjang 160 km dengan lebar 50 km telah melepaskan energi dengan catatan getaran gempa sekitar 600 kali di atas 6 SR dan total getaran gempa sekitar 1900 kali. Sedangkan gempa saat ini, lanjut Ade terjadi di blok Siberut-Pagai yang memiliki panjang 450 km lebar 50 km dan tebal sekitar 6 km. "Artinya daerah ini lebih panjang dari kawasan di Pagai Engano. Catatan gempa yang terjadi yang di kawasan ini baru 12 kali getaran yang terasa," jelasnya. Melihat kondisi gempa yang terjadi saat ini, Ade menilai pergerakan saat ini masih sebagian kecil. Bisa berkemungkinan gempa ini hanya pendahulu kemudian gempa utamanya terjadi beberapa tahun kemudian. "Jika dilihat dari perbandingan luas kawasan, daerah Pagai Engano jauh lebih panjang. Gempa saat ini energi yang dilepaskan baru sebanyak 12 kali. Tapi kita belum tahu apakah energi yang dikeluarkan lagi terjadi dalam waktu dekat atau tidak. Biasanya dalam satu blok itu akan beriringan mengeluarkan energi sampai semua pusat titik gempa penuh telah mengeluarkan energi," kata lulusan ITB ini. Larang Keluar Daerah Menyikapi ketidakpastian gempa utama atau pendahuluan tersebut, Gubernur Sumbar melalui Kabiro Humas Setprov Sumbar Devi Kurnia mengimbau bupati dan walikota , terutama yang daerahnya berada di kawasan rawan bencana untuk tidak ke luar daerah. Imbauan ini dikeluarkan untuk memastikan kondisi warga di daerahnya masing-masing tetap tenang dan tidak panik serta mengambil kebijakan cepat apabila terjadi kondisi yang tidak diinginkan. "Pak gubernur tidak ingin warga panik dan tertimpa musibah di daerah, sementara bupati dan walikotanya enak-enakan berada di luar daerah. Maka, untuk sementara ini diimbau kepala daerah, terutama yang daerahnya berada di pesisir pantai barat Sumatera untuk mengurungkan niatnya ke luar daerah," ujar Devi Kurnia, tadi malam. Hari ini, kata Devi, gubernur akan melakukan pembicaraan jarak jauh (teleconference) dengan Menko Kesra Abu Rizal Bakrie dan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Irwandi Yusuf di Kantor Satkorlak PB Sumbar. "Dari teleconference ini gubernur juga akan melaporkan seberapa besar dampak yang ditimbulkan akibat gempa sepekan terakhir dan langkah-langkah yang sudah diambil," jelas Devi. Sebelumnya, Gubernur Sumbar berharap warga Sumbar tidak terlalu panik saat gempa terjadi. Sebab, apabila gempa berpotensi memicu tsunami, petugas dari Satkorlak Sumbar sudah disiagakan untuk membunyikan sirene peringatan dini tsunami. "Kalau hanya gempa-gempa biasa, warga bisa mengmbil langkah sesuai pelatihan-pelatihan yang sudah pernah diberikan pemerintah daerah selama ini," kata Gubernur. Seluruh petugas Satkorlak kabupaten dan kota serta provinsi, lanjut gubernur, sudah disiagakan. Bahkan, ada petugas yang khusus memantau pergerakan air laut di pesisir pantai dan online ke stasiun krisis center. Sedangkan Dinas Sosial Provinsi sudah mempersiapkan dua mobil RTU, empat mobil tengki air minum. "Dua unit di antaranya sudah disiagakan di Pesisir Selatan," terangnya.. Begitu pula dengan pasokan makanan. Saat ini sudah disiagakan makanan siap saji seperti mie instan, beras dan kebutuhan pangan lainnya. Kemudian ditambah dua boat, tenda-tenda serta 440 orang Taruna Siaga Bencana (TAGANA) yang dipersiapkan jika sewaktu-waktu terjadi gempa besar dan tsunami "Waspada itu perlu, namun tidak perlu cemas dan panik, sehubungan apa saja yang terjadi di muka bumi ini sudah ada ketentuan dari Allah SWT. "Marilah kita berzikir dan berserah diri kepada Allah, semoga bencana cepat berlalu," ingatnya. (afi/esg/ztl) 65 Rumah Rusak, Warga Sikakap Masih Mengungsi Padang, Padek-- Gempa tektonik yang bertubi-tubi menguncang Sumatera, tepatnya di Kecamatan Sikakap-Pagai Utara Selatan, Kabupaten Mentawai dan Painan, Kabupaten Pesisir Selatan hingga dini hari kemarin telah mengakibatkan kerusakan cukup parah di sejumlah daerah di Sumbar. Satuan Koordinasi Penanganan Bencana (Satkorlak) Sumbar mencatat 20 rumah rusak berat (roboh) dan 47 rusak ringan, setelah terjadinya gempa yang dipicu pergeseran lempengan bumi di kawasan Siberut-Pagai Utara Selatan (PUS) Mentawai sepekan terakhir. Rinciannya, di Pulau Sikakap Kabupaten Mentawai 20 rumah warga rusak berat, 45 rumah rusak ringan, dan seorang warga mengalami luka ringan. Sedangkan di Kabupaten Pesisir Selatan dua bangunan rusak ringan, yakni kantor Tempat Pemunggutan Retribusi (TPR) dan sebuah dealer motor. "Sampai saat ini (kemarin), data yang baru masuk baru dari dari Mentawai. Sedangkan Satlak lainnya belum melaporkan adanya kerusakan bangunan," ungkap Sekretaris Sakorlak PB Sumbar Syofyan, kemarin. Syofyan menyebutkan, pihaknya belum mengirim bantuan dan petugas untuk mendata dan memastikan kondisi masyarakat di Mentawai. Menurutnya, selagi Satlak di daerah tersebut masih belum meminta bantuan, maka daerah tersebut bisa menangani masalahnya. "Kita belum mengirimkan bantuan di sana. Kan, daerah tersebut bisa mengeluarkan kebijakan langkah-langkah apa yang akan diambil. Apalagi, dengan telah adanya aturan yang mengizinkan kepala daerah untuk meminta stock beras kepada Bulog untuk antisipasi kelaparan akibat bencana," jelas Syofyan. Apalagi, kemarin kapal dari Padang belum ada yang berangkat ke Mentawai, seperti kapal Ambu-ambu. Hingga kemarin, Satkorlak terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan masing-masing Satlak di kabupaten/kota untuk melaporkan adanya kerusakan yang terjadi di masing-masing daerah. Kepala Pusat Penanggulangan Crisis Centre Depkes RI Rustam S Pakaya menyebutkan, selain 65 rumah rusak berat dan ringan, di Mentawai gempa juga merusak sebuah puskesmas. "Satu orang mengalami luka ringan," ujar Rustam. Sementara di Padang, Wali Kota Padang Fauzi Bahar menyebutkan hingga kemarin belum ada laporan kerusakan akibat gempa 7,2 SR. Dari pemantauan sejumlah bangunan di kompleks Balaikota Padang, juga tidak ditemukan kerusakan. "Kita ingin memastikan gedung ini aman biar pegawai di lingkungan Pemko Padang tidak cemas," kata Fauzi. Masih Bertahan di Tenda Dari Sikakap Timur, daerah yang tidak jauh dari pusat gempa dilaporkan, warga masih bertahan di sejumlah titik pengungsian menyusul masih terjadinya gempa besar 7,0 SR dini hari kemarin pukul 04:02 WIB. Langkah tersebut terpaksa mereka lakukan sebab rumah tempat tinggal banyak yang sudah tidak layak huni. Aktivitas belajar mengajar di sejumlah sekolah terpaksa diliburkan. Sejumlah warga mulai terserang penyakit flu karena bertarung dengan dinginnya malam di pengungsian. "Saat ini belum ada bantuan obat-obatan untuk warga," ungkap Kepala Dusun Sikakap Timur Kecamatan Pagai Utara Selatan Suharman yang dihubungi Padang Ekspres, Selasa (26/2). Menurutnya, sekarang ada sekitar 100 tenda yang didirikan warga di perbukitan berjarak sekitar 300 meter dari pemukiman. Untuk MCK, warga mengandalkan toilet Sekolah Dasar yang tidak jauh dari kaki bukit, begitu pula keperluan memasak, warga mengandalkan air sumur SD. Sedangkan penerangan, PLN memberikan bantuan dengan membuat aliran listrik di sekitar bukit. "Sejauh ini kami baru menerima bantuan mie dari Kecamatan. Bantuan lainnya belum ada. Mie itupun merupakan sisa bantuan gempa bulan September lalu. Sekarang tinggal sedikit," beber Suharman. Trauma Di Solok, trauma warga yang terkena dampak gempa 6 Maret 2007 kembali bangkit saat gempa besar mengguncang sepekan terakhir. Mereka ketakutan dan berhamburan ke luar gedung dan rumah ketika gempa terjadi. Di RSUD Solok, seluruh awak rumah sakit serta para pasien berusaha menyelamatkan diri berlarian ke luar ruangan. Beberapa pasien yang sedang terbaring lemah di seluruh bangsal-bangsal perawatan, dikeluarkan dari kamarnya masing-masing. (afi/ni/yun/cr8) --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet. - Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting. - Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi. - Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
