Pemda Di Sumbar kiro2 alaah ado indak yoohh... maagiah namo jalan utk Mr.
Assaat??
Brikut kutipan ttg Mr. Assat juga oleh Dr. Asvi W. Adam..dlm diskusi bbrp th
lalu ..
Konsekuensi dari Urutan Presiden
10 Aug 2006 09:03:38
Asvi Warman Adam
Dalam seminar PDRI yang diadakan Universitas Andalas di Padang 26 Juli 2006,
Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra mengatakan bahwa dirinya
ditugasi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengkaji tentang
presiden-presiden Republik Indonesia. Hal itu tentu berkaitan pula dengan
kewajiban yang harus dibayarkan oleh Mensesneg terhadap para (mantan) presiden
tersebut.
Selain dari pensiun, hak-hak lain seperti rumah, sebuah sumber menyebutkan,
mantan presiden memperoleh rumah senilai Rp 20 miliar. Selain dari memiliki
hak-hak materiil, status sebagai (mantan) presiden itu mempunyai implikasi
dalam penulisan dan pengajaran sejarah. Sebab, ada tokoh-tokoh yang tidak
disinggung dalam pendidikan sejarah di sekolah, padahal mereka seharusnya
digolongkan sebagai presiden, yakni Sjafruddin Prawiranegara dan Assaat.
Selama ini terjadi kekeliruan sejarah pada tulisan yang disampaikan di berbagai
media massa bahwa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah presiden ke-6 RI
(Republika Indonesia). Anggapan umum bahwa tokoh yang pernah menjadi presiden
RI berturut-turut adalah Soekarno, Soeharto, Habibie, Abdurrahman Wahid,
Megawati, dan kini SBY.
Sebuah surat kabar menulis bahwa masa jabatan Presiden Soekarno berlangsung
mulai 18 Agustus 1945 sampai dengan 22 Februari 1967. Dalam hal ini ada dua
tokoh yang terlewat, yaitu Sjafruddin Prawiranegara dan Assaat.
Keduanya tidak disebut, bisa karena alpa, tetapi mungkin juga disengaja.
Sjafruddin Prawiranegara tidak disebut karena dia kemudian dianggap terlibat
PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia). Sedangkan Assaat jarang
disebut karena tidak dipahami bahwa dia menjabat kepala negara saat RI menjadi
bagian dari RIS (Republik Indonesia Serikat).
PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia)
Akhir 1948 Belanda melakukan agresi militer kedua. Soekarno-Hatta mengirimkan
telegram berbunyi, "Kami, Presiden Repoeblik Indonesia memberitakan bahwa pada
hari Minggoe tanggal 19 Desember 1948 djam 6 pagi Belanda telah mulai
serangannja atas ibu kota Yogyakarta. Djika dalam keadaan Pemerintah tidak
dapat mendjalankan kewadjibannja lagi, kami mengoeasakan kepada Mr Sjafruddin
Prawiranegara, menteri kemakmoeran RI oentoek membentoek Pemerintahan Daroerat
di Soematera."
Telegram itu tidak sampai ke Bukittinggi saat itu, namun ternyata pada saat
bersamaan Sjafruddin Prawiranegara telah mengambil inisiatif yang senada. Dalam
rapat di sebuah rumah dekat ngarai Sianok, Bukittinggi, 19 Desember 1948, dia
mengusulkan pembentukan suatu pemerintah darurat (emergency government).
Gubernur Sumatera Mr T.M. Hasan menyetujui usul itu "demi menyelamatkan Negara
Republik Indonesia yang berada dalam bahaya, artinya kekosongan kepala
pemerintahan, yang menjadi syarat internasional untuk diakui sebagai negara."
PDRI dijuluki penyelamat republik. Dengan mengambil lokasi somewhere in the
jungle di daerah Sumatera Barat dibuktikan bahwa Republik Indonesia masih eksis
meskipun para pemimpin Indonesia seperti Soekarno-Hatta telah ditangkap Belanda
di Jogjakarta. Sjafruddin Prawiranegara menjadi ketua PDRI dan kabinetnya
terdiri atas beberapa menteri. Meskipun istilah yang digunakan waktu itu
"Ketua", kedudukannya sama dengan presiden.
Saat itu opsi berikutnya yang diberikan oleh Soekarno-Hatta adalah pembentukan
pemerintahan di luar negeri (dalam hal ini di India). Kalau itu terjadi,
mungkin dapat disebut sebagai government in exile. Tetapi, PDRI bukanlah
government in exile, melainkan kelanjutan dari Republik Indonesia yang presiden
dan wakil presidennya ditawan oleh Belanda.
Apakah Sjafruddin Prawiranegara dan Assaat bertindak sebagai kepala negara atau
kepala pemerintahan, itu dapat didiskusikan. Yang jelas, mereka berfungsi
sebagai presiden Republik Indonesia.
Sjafruddin menyerahkan mandatnya kepada Presiden Soekarno pada 13 Juli 1949 di
Jogjakarta. Dengan demikian berakhir riwayat PDRI yang selama kurang lebih
delapan bulan melanjutkan esksistensi Republik Indonesia sebagai negara bangsa
yang sedang mempertahankan kemerdekaan dari agresor Belanda yang ingin kembali
berkuasa.
RI Bagian RI Serikat
Dalam perjanjian KMB (Konferensi Meja Bundar) yang ditandatangani di Belanda 27
Desember 1949 diputuskan bahwa Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik
Indonesia Serikat (RIS). RIS terdiri atas 16 negara bagian yang salah satu di
antaranya Republik Indonesia. Negara bagian lain, misalnya, Negara Pasundan dan
Negara Indonesia Timur.
Karena Soekarno dan Hatta telah ditetapkan menjadi presiden dan perdana menteri
RIS, berarti terjadi kekosongan pimpinan pada Republik Indonesia. Assaat adalah
pemangku sementara jabatan Presiden RI. Peran Assaat sangat penting. Kalau
tidak ada RI saat itu, berarti ada kekosongan dalam sejarah Indonesia bahwa RI
pernah menghilang dan kemudian muncul lagi. Namun, dengan mengakui keberadaan
RI dalam RIS yang hanya beberapa bulan, tampak bahwa sejarah Republik Indonesia
sejak 1945 tidak pernah terputus sampai kini.
Kita ketahui bahwa kemudian RIS melebur menjadi Negara Kesatuan Republik
Indonesia pada 15 Agustus 1950. Itu berarti, Assaat pernah memangku jabatan
Presiden RI sekitar sembilan bulan.
Selama memangku jabatan, Assaat menandatangani statuta pendirian Universitas
Gadjah Mada di Jogjakarta. "Menghilangkan Assaat dari realitas sejarah
kepresidenan Republik Indonesia sama saja dengan tidak mengakui Universitas
Gadjah Mada sebagai universitas negeri pertama yang didirikan Republik
Indonesia," ujar Bambang Purwanto dalam pidato pengukuhan sebagai guru besar
UGM September 2004.
Jabatan Assaat sebagai pemangku jabatan presiden RI saat RI menjadi bagian dari
RIS jelas tidak sama dengan posisi acting presiden yang pernah dijabat oleh
Leimena beberapa waktu pada 1960-an ketika Presiden Soekarno melakukan
kunjungan ke luar negeri.
Sjafruddin Prawiranegara dan Assaat jelas menduduki posisi sebagai presiden
Republik Indonesia. Kalau tidak ada PDRI atau RI sewaktu jadi bagian dari RIS,
berarti dalam perjalanan sejarah, republik ini pernah menghilang (lalu muncul
lagi).
Dengan demikian, SBY adalah presiden ke-8 RI. Urutan presiden RI sebagai
berikut: Soekarno (diselingi Sjafruddin Prawiranegara dan Assaat), Soeharto,
B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang
Yudhoyono.
Menjelang 17 Agustus 2006 diharapkan sudah keluar keputusan presiden mengenai
urutan presiden-presiden Republik Indonesia.
Dr Asvi Warman Adam, ahli peneliti utama LIPI di Jakarta
Dedy Yusmen <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);}
st1\:*{behavior:url(#default#ieooui) } Kebetulan ada Uda Teguh
di Trans7, Salam Kenal...
Dengan Acaranya yang mulai mendidik dan mengagetkan bagaiman kalau Uda
usulkan satu Acara ke Trans7 yang berjudul 'TOKOH BANGSA' memuat Cerita
mengenai Pahlawan/Pendiri Bangsa yang merintis 'Indonesia' ini, tentu dengan
cerita seperti jalan-jalan bersama Dorce, atau dengan format wisata kuliner,
menampilkan sejarah hidup, pemikiran dan sepak tejang Sang TOKOH, kalu dapt
ditambah pula dengan sumber-sumber keluarga yang ada saat ini seperti
anak-cucu-piyut, dan tentang kehidupan mereka...,campuran antra entertaintment
dengan sejarah lah...tentu tujuannya untuk menarik para iklan supaya bisa
masuk...bisa juga ditambahkan dengan kuis...untuk sposnsornya say arasa Pak
Teguh pasti sudah punya ide...
Acara TOKOH BANGSA ini atau apapun namanya bertujuan untuk membangkitkna
kembali semangat juang pada generasi sekarang, yang dimana kita merasa telah
kehilangan arah, tapi entahlah....
Wassalam
Dedi Yusmen
-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of teguh
satyawan
Sent: Wednesday, February 27, 2008 2:35 PM
To: [email protected]
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Bio Data Mr. Assa'at, nan pernah jadi Presiden
(di) Indonesia
Tarimo kasih banyak ka sado dun sanak nan alah maagiah informasi soal Mr.
Asaat. Mudah2an kami di Trans7 lai bisa mambuek luruih sejarah. Mudah2an akan
ado pangakuan dari pemerintah, kalau presiden kaduo RI adolah Mr. Asaat. Alm
Soeharto adolah presiden katigo.
Salam,
Teguh Usis
ardian hamdani <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mudah2..an berguna
Salam
Dany
Berikut Bio data Mr. Assa'at:
BIODATA
Nama : Mr. Assaat
Lahir : Sumatera Barat, 18 September 1904
Wafat : Jakarta, 16 Juni 1976
Pendidikan :
· Sekolah Agama Adabiah di Padang
· MULO di Padang
· School tot Opleiding van Inlandsche Artsen di Jakarta
· AMS (SMA) di Jakarta
· Rechts Hoge School (Sekolah Hakim Tinggi) di Jakarta
Karir :
· Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dengan Badan Pekerja
(1946-1949)
· Pejabat Presiden Republik Indonesia di Yogyakarta (Desember 1949 -
Agustus 1950)
· Anggota Parlemen (Dewan Perwakilan Rakyat)
· Menteri Dalam Negeri Kabinet Natsir (September 1950 - Maret 1951)
BIOGRAFI
Mr. Assaat (Sumatera Barat, 18 September 1904 - Jakarta, 16 Juni 1976)
adalah tokoh pejuang Indonesia, ia pernah menjabat Presiden pada masa
pemerintahan Indonesia di Yogyakarta yang merupakan bagian dari Republik
Indonesia Serikat (RIS). Assaat mangawali pendidikannya di sekolah agama
"Adabiah" dan MULO Padang, selanjutnya ke "School tot Opleiding van Inlandsche
Artsen" Jakarta, kemudian ia melanjutkan ke AMS (SMA). Dari AMS, Assaat
meneruskan studinya ke "Rechts Hoge School" (Sekolah Hakim Tinggi) di Jakarta.
Ketika menjadi mahasiswa, Mr. Assaat mulai aktif pada gerakan pemuda dan
politik. Masa saat itu Assaat giat dalam organisasi pemuda "Jong Sumatranen
Bond". Karir politiknya semakin maju, Mr. Assaat berhasil menjadi anggota
Pengurus Besar dari "Perhimpunan Pemuda Indonesia". Mr. Assaat juga bergabung
dengan gerakan politik "Partai Indonesia" disingkat (Partindo). Mr. Assaat
memperoleh gelar "Meester in de Rechten" (Mr) atau Sarjana Hukum di Belanda.
Pada tahun 1939 Mr. Assaat pernah menjadi seorang advokat (pengacara) hingga
masuknya Jepang ke Indonesia pada tahun 1942.
Dalam sejarah perjuangannya, Mr. Assaat pada tahun 1946-1949 pernah
menjabat Ketua KNIP dengan Badan Pekerja. Desember 1949 hingga Agustus 1950
menjadi Pejabat Presiden Republik Indonesia di Yogyakarta. Setelah pindah ke
Jakarta, Mr. Assaat menjadi anggota parlemen (DPR) dan menjabat sebagai Menteri
Dalam Negeri pada Kabinet Natsir September 1950 - Maret 1951. Mr. Assaat
meninggal dunia Pada tanggal 16 Juni 1976 di Jakarta.
Retrieved from "http://www.ghabo.com/gpedia/index.php/Assaat"
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it
now.</a
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---