Untuak solusi pembenahan pendidikan di Sumbar dan di mana saja, kito
sadolahe..harus bacamin juo..alah serius dan profesional kah untuak mengelola
institusi pendidikan itu...
Iko kutipan tulisan ..mudah2 an baguno untuak angku guru, angku dosen dan
para pamarati pendidikan..dan untuak kito saluruhnyo..tamasuak politisi yang
parenah jadi dosen pajuangkanlah dalam mambuek kabijakan strategis untuak
pendidikan, dan angku dosen di Sumbar mudah2 a jadi dosen yg profesional bukan
manjadi dosen yg ka ba politik praktis...bisa mundur , dunia pendidikan kito
beko di Minang tuhhh...buklah survey..bara urang dosen2 di Sumbar itu nan alah
acok manulih buku..co cubo..pratian..
Januari 6, 2007...3:19 pm
Mencari Model Lembaga Pendidikan Modern Jump to Comments Oleh : Asep
Setiawan
I. Pengantar
Pakar manajemen Peter Drucker (1993) memberikan ilustrasi menarik tentang
pendidikan modern. Ia menulis, sebelum 1550, Cina dan Kekaisaran Ottoman -
lembaga politik Islam - telah menjadi "adidaya" tingkat dunia di berbagai
bidang, mulai dari politik, militer, ekonomi, sains dan budaya.
Sampai 1550, keduanya berkuasa. Mulai 1550 sampai selanjutnya, keduanya
stagnan. Keduanya juga menjadi sangat melihat kedalam (inward looking) dan
defensif. Sementara itu di Barat, tulis Drucker, sekolah dipandang
menjadi semacam lembaga "progresif" dan mesin dari kemajuan di segala bidang
seperti budaya, seni, literatur dan sains, di bidang ekonomi, politik dan
militer. Tak mengherankan saat ini dikenal dunia pendidikan disebut sebagai
agen perubahan.
Di dunia Islam dan Cina, sebaliknya, sekolah dipandang sebagai penghambat
utama terhadap kemajuan (progress), pemberontakan melawan sekolah merupakan
awal dari semua gerakan reformasi di dua peradaban ini.
Ulasan Drucker itu memperlihatkan bahwa dunia Islam umumnya, dan universitas
Islam khususnya telah tertinggal di segala bidang. Dengan kata lain, sekolah
atau perguruan tinggi tidak melahirkan kemajuan dalam berpikir malahan seperti
disebutkan tadi terkungkung alam pemikirannya dan mandek.
Artikel ini akan berusaha menyentuh beberapa satu aspek dari dari penelitian
tentang dinamika universitas. Pertama, akan dilihat karakter peradaban yang
dominan saat ini yang akan berpengaruh pada model pendidikan tinggi. Kedua,
artikel ini akan secara eksploratif melihat ciri-ciri universitas kontemporer
yang berhasil baik dari segi kualitas dan kuantitas.
II. Knowledge worker (pekerja pengetahuan)
Istilah knowledge worker saat ini termasuk populer untuk menggantikan
technical worker yang banyak mengandalkan kemampuan teknis seseorang untuk
dikatakan "berpendidikan" atau punya akses dalam dunia karir.
Atau dapat pula disebut sebagai perubahan dunia yang menekankan pada
comparative advantage (keuntungan komparatif) menjadi competitive advantage
(keuntungan kompetitif). Keunggulan komparatif sangat menekankan pada
keuntungan geostrategis terutama kaitannya dengan sumber daya alam. Sedangkan
keuntungan kompetitif bersandar pada penguasaan ilmu dan informasi.
Situasi ini memunculkan istilah knowledge society. Dalam buku The Age of
Discontinuity (1969) melukiskan perubahan itu dengan pekerjaan tukang ketik dan
pekerja yang menghadapi komputer. Menurut dia, seorang tukang ketik tinggal
menekan tuts mesin ketika maka yang ditekan akan keluar sesuai dengan huruf
yang diinginkan. Semuanya serba mekanis dan tidak memerlukan pemikiran yang
mendalam tentang cara mengoperasikan mesin ketika.
Namun ini berbeda dengan komputer. Apa yang ditekan memerlukan ilmu yang
padat di belakangnya. Demikian pula apa yang ditekan tidak selalu mengeluarkan
huruf yang dikehendaki. Bahkan untuk masuk dalam program menulis, misalnya,
seseorang perlu belajar bagaimana mengoperasikan komputer dan bagaimana pula
mengoperasikan perangkat lunak pemroses kata. Ini menunjukkan bahwa tuntutan
terhadap seseorang meningkat mulai dari hal sederhana kini menjadi rumit,
menjadi padat ilmu. Bahkan kalau kita lihat dalam kehidupan, setiap pekerjaan
saat ini - terutama yang nilai tambahnya tinggi - memerlukan pendidikan dan
pelatihan mendalam. Bahkan perlu bertahun-tahun untuk menguasai "ilmu" yang
dikehendaki. Namun demikian hasilnya pun akan terasa lebih daripada mereka yang
studi hanya masalah teknis.
Lingkungan pun ternyata membutuhkan perguruan yang bisa menghasilkan mereka
yang jadi pekerja otak, manusia yang mampu menggunakan akalnya. Tentu dalam
format Islam, pekerja otak ini dilengkapi dengan iman dan taqwa. Namun demikian
untuk menggabungkan dua kekuatan itu yakni menyerap kemajuan peradaban Barat
dan memanfaatkannya dengan peradaban Islam, diperlukan sebuah eksplorasi yang
inovatif.
Berdasarkan lingkungan yang berubah inilah kita melihat dalam alam pendidikan
Barat dan Timur terjadi interaksi. Drucker memberikan ciri-ciri bagaimana
perguruan yang diperlukan dalam alam sekarang:
- sekolah perlu menyediakan literacy universal dalam tingkat tinggi
melebihi arti literacy sekarang ini.
- lembaga pendidikan harus mendorong mahasiswa di semua tingkat
dan semua usia dengan motivasi untuk belajar dan disiplin pendidikan
berkelanjutan.
- Perguruan harus menjadi sistem terbuka, mampu diakses untuk
orang-orang terdidik dan mereka yang karena alasan apapun tak memiliki akses
untuk belajar lebih tinggi pada tahun-tahun sebelumnya.
- Perguruan itu harus mampu menanamkan pengetahuan baik sebagai
substansi maupun proses.
- Akhirnya sekolah bukan lagi monopoli lembaga pendidikan.
Pendidikan masa sekarang harus bermitra dengan para pekerja dan organisasi
lainnya.Pengetahuan pada zaman sekarang telah menjadi sumber kemajuan
masyarakat. Posisi sosial perguruan adalah menjadi "produser" dan "saluran
distributif" pengetahuan. Bahkan ada yang berani melukiskan bahwa sesungguhnya
modal pun sekarang bersifat intelektual bukan hanya material. Ini berarti bahwa
perguruan tinggi ditantang untuk memenuhi tuntutan masyarakat modern akan
lahirnya modal intelektual sebagai sumber kemajuan masyarakat.
III. Ciri Universitas
Seperti halnya nama yang disandang manusia ataupun benda-benda lainnya yang
diciptakan Allah SWT, pasti memiliki kekhasan yang membedakan satu sama lain.
Bahkan perbedaan itu jadi memperkaya khasanah peradaban. Keanekaragaman adalah
bagian dari Keagungan Maha Pencipta.
Hal ini kita lihat pula dalam lembaga pendidikan modern di mancanegara.
Universitas tingkat dunia seperti Harvard, Oxford, Cambridge, Al Azhar, London
School of Economics atau MIT, memiliki kekhasan dan keunggulan masing-masing.
Di Inggris, Universitas Edinburg dan Birmingham terkenal akan penelitian
eksakta. Oleh karena itu anggaran untuk penelitian menunjukkan ranking tinggi
dibandingkan Oxford dan Cambridge. Dua universitas tua ini juga memiliki ciri
tersendiri akan tradisi intelektual yang melahirkan para pemimpin dunia seperti
Thatcher atau Benazir Bhutto. Sedangkan London School banyak melahirkan
tokoh-tokoh teoritisi yang berpengaruh di tingkat internasional. Sementara
universitas tak terkenal seperti Warwick ternyata paling unggul di bidang
manajemen sehingga dengan satu fakultas saja namanya harum di manca negara.
Bristol terkenal dengan teknologi ruang angkasa sedangkan Edinburg University
sangat handal dalam kajian agama Islam.
Di Amerika Serikat, MIT terkenal dengan kajian teknologi terapan sehingga
banyak menyedot para ilmuwan dari mancanegara. John Hopkins University terkenal
dengan analisis internasional dan fakultas hukumnya. Berkeley University
dikenal di Indonesia karena banyak melahirkan teknokrat ekonomi yang membawa
Indonesia.
Demikian pula di Perancis, Jerman yang terkenal dengan teknologi, Cina,
Jepang dan negara-negara lainnya. Semua universitas unggul memiliki identitas
kelas dunia yang bisa diandalkan untuk mengangkat tidak hanya fakultas atau
jurusannya tetapi juga seluruh nama universitas.
Di Mesir, Universitas Al Azhar terkenal dengan kajian agamanya meskipun masih
cukup ortodoks untuk zaman sekarang. Namun demikian kebesaran namanya tak
menghalangi berbagai macam mahasiswa untuk mengikuti pendidikan di sana.
Dari ciri-ciri universitas yang muncul di manca negara, tampaknya ciri-ciri
dan kekhasan dalam keunggulan sebuah bidang dan jurusan digunakan sebagai bahan
promosi yang handal. Maka saat seorang calon mahasiswa bertanya pada dirinya
dimana ia masuk kedokteran, manajemen, teknik sipil, agama, politik atau hukum,
maka nama-nama tertentu akan jadi pilihan karena dikenal "kebesarannya" yang
melahirkan tokoh-tokoh unggulan dalam masyarakat, atau setidaknya alumninya
tidak tercemar dengan perbuatan tercela.
IV. Kesimpulan
Berdasarkan perkembangan masyarakat dimana pekerja otak dan inovatif lebih
dibutuhkan dalam masyarakat sekarang maka perguruan tinggi harus memacu para
mahasiswanya untuk kreatif, inovatif dan progresif sehingga bisa langsung
beradaptasi dengan lingkungan masyarakat.
Sebuah universitas yang sehat dari segi finansial mapun pengembangan
intelektual, tentunya memiliki daya tarik sehingga mahasiswa berbondong-bondong
mendaftarkan diri, bukan karena perhitungan terjangkau tetapi juga karena
kualitas yang dibutuhkan masyarakat. Daya tarik itu penting karena terlihat
seperti dari perkembangan universitas di manca negara bisa mendorong calon
mahasiswa mengayunkan langkah ke perguruan bersangkutan. Namun biasanya untuk
mengangkat daya tarik itu pada awalnya dibutuhkan energi besar dari segenap
civitas academic.
Daftar PustakaDrucker, Peter F., The Age of Discontinuity. New York, Harper
and Row Publishers, 1969.___________, Post-Capitalist Society. New York, Harper
Business, 1993.The Economist, March 29th 1997
0 Comments
Filed under Arsip
Ronal Chandra <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mak Boes Dan Dunsanak Beni,.
Ambo seratus persen sangat sangat se ide dengan masukan masukan nan berharga
iko. Ambo pun tipikal nan alergi dengan larang melarang atau batas membatasi
dalam hal nan sifatnya kompetensi atau kompetisi. Wakatu adik adik dari Unand
itu sangat takut mendekati stand Bank Mandiri saya justru penasaran untuk
menguak itu semua karena menurut saya jaman sekarang adalah era keterbukaan,
karena bagi saya tidak satupun manusia didunia ini yang bisa melarang atau
membatasi seseorang untuk maju.
Saya melihat dengan jelas bahwa sudah tidak benar mekanisme penerimaan pegawai
yang terjadi. Bayangkan Ijasah yang masuk ke setiap stand perusahaan dipisah
langsung mana yang pantas ikut test langsung dan mana yang tidak pantas didepan
para pelamar. Edan!!, anehnya ini dilakukan oleh Bank Bank lokal sedang bank
bank asing seperti ABN Amro, Citibank, Standart Charted sangat sangat
profesional menangani para pelamar ini dan mereka mempersilahkan semuanya
untuk ikut test .
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---