Wa'alaikumsalam Wr. Wb Mak St. Sinaro, 1. Maaf ambo baru sampek mengirimkan komentar samalam dek baru pulang menghadiri undangan Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
2. Istilah "Mak Kusie" nan disabuik Uni Hanifah (dan anggota penulis cerpen Antologi Ranah lain) itu konteksnyo untuk proyek penulisan cerpen sajo, Mak. Kalau untuak urusan agamo, ambo alun ado kapasitas untuak itu. Banyak para urang tuo awak di Palanta RN ko nan labiah sasuai sabagai "Mak Kusie" dek kamampuan agamo mereka nan tinggi. 3. Kalau tema Negara Islam ko amuah "dijambakan tali padati ko kama nan rancak, sehingga nampak jalan dek kabau padati", baa kalau manuruik Mak Sutan Sinaro awak mancaliek ka nan sudah, misalnyo DI (NII) Aceh nan diproklamirkan Teungku Daud Beureueh pado 20 September 1953 sebagai bahan diskusi awal? Meski DI Aceh ko awalnyo mengacu dan ingin menggandengkan diri dengan DI Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo di Jawa Barat yang dimulai empat tahun sebelumnya, pada 7 Agustus 1949 (meski akhirnya antara Abu Beureueh dan Krtosuwiryo juga pecah kongsi). Mengapa Abu Beureueh, sebagai Ketua PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh), ingin memisahkan diri dari Jakarta, dari Republik yang masih bayi, padahal pada 15 Oktober 1945 beliau bersama Teungku Ahmad Hasballah Indrapuri dan Teungku Hasan Krueng Kalee mengumumkan "Maklumat Ulama Seluruh Aceh" (lebih populer dengan sebutan "Maklumat Perang Sabil") yang isinya "Agar seluruh rakyat Aceh mendukung Maha Pemimpin Sukarno, untuk menunggu perintah dan kewajiban yang akan dijalankan". Lalu di bagian lain Maklumat itu, "... Jika ada rakyat Aceh yang terbunuh dalam rangka perjuangan menjaga proklamasi, maka berarti orang itu mati syahid, mati dalam perjuangan menegakkan agama Allah, sehingga sebagai ganjarannya akan langsung memasuki surga." Perhatikanlah Mak Sinaro redaksional Maklumat Perang Sabil itu dengan seksama, bagaimana tiga ulama besar dan karismatik Aceh, menyebut Bung Karno sebagai "Maha Pemimpin Sukarno". Itu sebuah sanjungan yang luar biasa tinggi dan tidak main-main, bukan? 15 Juni 1947, ribuan rakyat berkumpul di lapangan terbang Lhok Nga, Aceh Besar, menyambut kedatangan Sukarno. Presiden pertama itu (saat itu berusia 46 tahun) disambut Teungku Daud Beureueh yang ketika itu menjabat sebagai Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo. "Selamat datang di Serambi Mekkah, Paduka Yang Mulia Maha Pemimpin Presiden Republik Indonesia," sapa Abu Beureuh sambil membungkukkan badan. "Terima kasih Kakanda Gubernur Militer Teungku Daud Beureueh yang saya hormati," balas Sukarno juga sambil membungkukkan badan, sebelum keduanya berpelukan. (Bagian ini ambo nukil dari "Napoleon dari Tanah Rencong", Bab 12 "Lepasnya Tangkai Payung", novel sejarah terbaru ambo. Agak panjang kalau dikutip sasongko. Tapi kalau Mak Sinaro lai tinggal di Indonesia, bisa cari buku setebal 516 halaman ko di toko buku. Kalau Mak Sinaro tinggal di Indonesia bisa download versi digitalnyo dari gramediana.com atau amazon.com). Ambo sampaikan versi singkatnyo sajo: - Pada 1 Januari 1950 dibentuk Provinsi Otonomi Aceh dan Provinsi Sumatra Timur yang masing-masing dipimpin oleh Gubernur Beureueh dan Dr. F. L. Tobing. - Maret 1950 Mendagri Mr. Soesanto Tirtoprodjo datang ke Kutaraja (kini Banda Aceh), di antara rombongan adalah Rangkayo Rasuna Said. Ketika rombongan mengunjungi Lhok Seumawe dan bertemu dengan alim ulama dan tokoh setempat, terjadi insiden besar ketika Rasuna Said dengan lantang berujar, "Minggirlah wahai kaum tua dan kolot! Kalian laksana penarik gerobak sapi yang harus memberi jalan kepada anak-anak muda agar bisa maju lebih cepat." Ucapan Rasuna Said membuat seluruh orang Aceh dalam ruangan itu merah padam, dan memintanya menyampaikan permintaan maaf. Tapi permintaan itu tak ditanggapi Rasuna, yang terus menyampaikan pidatonya. Permintaan maaf baru muncul di akhir pertemuan, itu pun dari Mendagri Soesanto, bukan dari Rangkayo. - 15 Agustus 1950, dari ibukota Jogjakarta, Acting President Mr. Assaat mengumumkan PEMBUBARAN Provinsi Aceh, yang membuat keadaan di Serambi Mekkah kian panas, sehingga Bung Hatta diutus untuk menenangkan mereka pada Nov '50. Hasilnya? Terjadi baku argumentasi dalam pidato Bung Hatta dan Abu Beureueh, yang meski kedua pidato disampaikan dengan tenang, tapi saling tajam menusuk. (Kutipan pidato ado di novel ambo, hal. 237-238). - 23 Januari 1951, Perdana Menteri M. Natsir berpidato di RRI Kutaraja, mengumumkan sebuah pernyataan pendek bahwa mulai hari itu Aceh dan seluruh kabupatennya DIGABUNGKAN KE DALAM Provinsi Sumatra Utara. Sebagai konsekuensinya, jabatan Gubernur pun lepas dari Abu Beureueh, berpindah ke tangan Gubernur Sumatra Utara yang sedang dijabat Abdul Hakim, kebetulan juga tokoh Masyumi Sumatra Utara. (Mak Sinaro, ini kemudian menjadi topik bahasan sendiri selama bertahun-tahun kemudian, apa yang sesungguhnya menjadi latar belakang pemikiran Buya Natsir untuk menggabungkan Aceh dengan Sumut, dan terlebih menempatkan Aceh yang saat itu hampir seluruhnya Masyumi berada DI BAWAH Sumut yang anggota Masyuminya sedikit, dan bukan sebaliknya Sumut yang dilebur menjadi bagian dari Provinsi Aceh). Pidato pendek Buya Natsir itu sangat melukai harga diri rakyat Aceh, dan menjadi pemantik utama untuk kebencian yang kian besar terhadap Jakarta. Namun sejauh itu belum ada indikasi akan ada pemberontakan. Niat itu baru mengkristal setelah terjadi Muktamar Alim Ulama di Medan pada Mei 1953, yang juga dihadiri utusan DI/TII Jawa Barat bernama Mustafa. Empat bulan kemudian, September 1953, DI/TII Aceh meletus. Namun kekompakan para pemimpin DI/TII Aceh pun hanya berjalan 3-4 tahun, karena kemudian mereka terpecah dalam dua faksi. Faksi pertama adalah mereka yang melihat Aceh tak akan bisa menang melawan Jakarta, sehingga mulai membuka jalur negosiasi dengan pemerintahan PM Juanda. Tujuannya: agar Aceh kembali dijadikan satu provinsi mandiri bukan di bawah Sumut, dan mereka akan bersedia meletakkan senjata. Para motor kubu ini adalah Perdana Menteri DI/TII Hasan Aly, Wakil PM Ayah Gani (yang juga Mensos PRRI), Menteri Urusan Perang DI/TII Hasan Saleh, dan Ketua Majelis Syura DI/TII Amir Husin Almujahid. Keempatnya melihat penderitaan rakyat Aceh sudah bertambah-tambah, sementara kemenangan secara militer tak mungkin dicapai. (Hasan Saleh pernah bertugas sebagai Komandan Batalion 110 Seulawah Jantan di Sulawesi Selatan dan Pulau Seram untuk menghadapi Kahar Muzakkar dan RMS Dr. Soumokil, sehingga dia sangat ahli siasat militer, dan itulah yang menjadikan Abu Beureueh memilihnya sebagai Menteri Urusan Perang DI/TII. Di sisi lain, keempat tokoh DI/TII di atas berhadapan dengan - tak lain dan tak bukan - Teungku Daud Beureueh, Wali Negara DI/TII, inisiator gerakan itu, sekaligus guru agama mereka semua. Bagi Abu Beureueh, tak ada kata berunding lagi dengan Jakarta, dengan Sukarno-Hatta, kawan-kawan baik yang kini dilihatnya mengkhianatinya. Tercapainya provinsi Aceh yang mandiri, bukanlah tujuan yang ingin dicapai Abu, melainkan tegaknya Daulah Islamiyah yang betul-betul terpisah dari RI, dari NKRI yang diusulkan Buya Natsir dalam Mosi Integralnya. Singkat cerita, terjadi negosiasi alot antara kubu empat motor DI Aceh yang menyebut diri Dewan Revolusi dengan Kabinet Juanda dan kalangan militer yang diwakili A.H. Nasution. Kesepakatan dicapai: Jakarta bersedia mengembalikan status Aceh, bukan hanya sebagai provinsi biasa, melainkan sebagai Daerah Istimewa, asal para tentara DI (TII) bersedia kembali ke pangkuan Republik. Kesepakatan tercapai. 10.000 laskar DI/TII menyerahkan senjata di Glee Gapui, Pidie, di hadapan Nasution. Sebagai ganjarannya, Jakarta menepati janji. Provinsi Daerah Istimewa Aceh dinyatakan berdiri pada 26 Mei 1959 melalui pengumuman Wakil Perdana Menteri Mr. Hardi. Abu Beureueh dan para loyalisnya tak mengakui kesepakatan itu, dan memilih kembali naik gunung, melanjutkan gerakan, dan baru menyerah pada 1962. Ini baru satu kisah, sangat pendek, dari upaya mendirikan Negara Islam yang terjadi di Aceh, Mak Sinaro. Belum lagi kalau kita melihat DI/TII di Jawa Barat, yang juga menjadi ilham bagi upaya berdirinya DI/TII Ibnu Hadjar (Kalimantan Selatan), DI/TII Amir Fatah (Jawa Tengah), dan DI/TII Kahar Muzakkar (Sulawesi Selatan). Meski tujuan kelima gerakan ini sama, tapi pola dan dinamika internal mereka semuanya berbeda. Apakah ilustrasi DI/TII Aceh ini menjawab pertanyaan Mak Sinaro "dijambakan tali padati ko kama nan rancak, sehingga nampak jalan dek kabau padati"? Wallahua'lam. Sia yang lebih mulia niatnya: apakah Abu Beureueh atau Amir Husin Almujahid dkk? Wallahua'lam. Dari perspektif politik dan kekuasaannya, tentu tergantung pertimbangan masing-masing. Abu Beureueh ingin hukum Islam ditegakkan, melalui upaya memisahkan diri dengan mengobarkan perang terhadap Jakarta, setelah mengalami akumulasi berbagai peristiwa yang mengecewakannya bertahun-tahun, meski di awal kemerdekaan beliau justru menjadi inisiator Maklumat Perang Sabil untuk membela sampai mati tegaknya Republik Indonesia. Sementara Amir Husin Almujahid, Hasan Saleh dkk melihat tujuan gerakan DI Aceh pada awalnya adalah untuk mengembalikan marwah masyarakat Aceh yang dihina Jakarta, bukan untuk menegakkan Daulah Islamiyah seperti dalam bayangan Abu Beureueh. Sehingga setelah perang berjalan beberapa tahun dan terlihat rakyat Aceh menderita luar biasa akibat perang yang tak mungkin akan mereka menangkan, mereka (Dewan Revolusi) memilih jalan lain yang tidak konfrontatif. Pola kedua yang bisa kita diskusikan tentang Negara Islam, jika melihat pada contoh 5 (lima) DI/TII di atas (Kartosuwiryo, Daud Beureueh, Ibnu Hadjar, Amir Fatah, Kahar Muzakkar) di mana seluruh anggota eksekutif dan legislatif gerakan ybs semuanya berasal dari etnis/subetnis yang sama, bagaimana kita bisa membedakan ini sebuah "Negara Islam" atau hanya Gerakan Provinsialisme yang sedang membangkang terhadap Jakarta? Mengapa dalam struktur masing-masing Negara Islam itu tidak ada perwakilan dari etnis yang berbeda sehingga unsur "kenegaraan" dalam konteks masyarakat Indonesia yang heterogen lebih valid dan terwakili? Misalnya jika Wali Negara DI/TII Aceh adalah Abu Beureueh, maka (sebagai contoh) Perdana Menteri (eksekutif) adalah Tuan X dari Jawa, Wakil Ketua adalah Tuan Y dari Sulawesi, lalu Ketua Majelis Syura adalah Tuan Z dari Minang dan para menteri, paling tidak, mewakili suku-suku (muslim) yang ada di Indonesia? Bukankah co itu, Mak Sutan Sinaro? Wassalam, ANB 45, Cibubur Pada Kamis, 25 Juli 2013, Sutan Sinaro menulis: > Assalaamu'alaikum. w.w. > > Ma bung Akmal, > > Telaah bung Akmal iyo sangaik dalam. Jarang-jarang urang nan bisa tu > nyo. > Tapi dalam tulisan tu ambo lah duo kali mintak maaf ka pak Saaf, dan > baliau maklum > tantang itu. (Liek respon baliau sudah tu) . > Apo lai urusan ko indak kini se ko doh, alah bataun, baiak di siko ataupun > di FB. Dan rasonyo urang gaek kito tu lai pamaaf, dek karano indak sakali > ambo nan > talapeh, talongsong ka baliau ko doh. Dalam hal iko urusan kami pribadi, > indak ado nan > basalak tu doh, apo lai keinginan ambo basamo-samo baliau untuak > managakkan > ABS SBK, sarato keinginan untuak dapek duduak di Negara nan aman dan > makmur dan > diridhai Allah swt., alah sajak dari taun katumba, cuma sayang dek mancari > iduik kaniak > kanin juo ambo alun sempat basamo-samo jo baliau lai. > Tapi samantangpun baitu ambo puji bung Akmal di urusan ko, iyo paralu > banyak ambo > baraja bak kecek Imam Syafii, makin aku gali makin terasa jahilku. > Disikolah mungkin > bung Akmal bisa mambantu mangaluakan ide, dek karano rasonyo kaji ko lah > tibo di > kesimpulan baa mancapai tujuan ko, sarupo nan dikandaki dek urang tuo kito > kakanda > Asmardi Arbi, dengan komen taradok agree to disagree nyo dari pak Saf, > "Silahkan". > Taradok tantangan iko ambo masih bapikia panjang dan mancari-cari jalan > baa caronyo > sahinggo sampai ka tujuan. Dengan ketinggian ilmu dan keluasan pandangan > dan > ketajaman tela'ah bung Akmal, mungkin bisa mamunco, atau istilah > Inggerisnyo > men-"trigger" dan manjambakan tali padati ko kama nan rancak, sahinggo > nampak > jalan dek kabau padati. Kalau istilah "pak Kusir" nyo buk Hanifah > Damanhuri dipakai > di urusan ko, ambo sasuai bana. Baa agak ati bung ANB ?. > > Bilaahil hidayah wat taufiq > > Wassalam > > St. Sinaro > > *From:* Akmal Nasery Basral <[email protected] <javascript:_e({}, > 'cvml', '[email protected]');>> > *To:* "[email protected] <javascript:_e({}, 'cvml', > '[email protected]');>" > <[email protected]<javascript:_e({}, 'cvml', > '[email protected]');>> > > *Sent:* Thursday, 25 July 2013 1:11 AM > *Subject:* Re: 3 Re: Bls: [R@ntau-Net] Negara Islam seperti apa (Tayang > Ulang) dari Re : Pak Saaf dan Pak MN > ** > Mak St. Sinaro manulih: > > > > > > > > > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Grup Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke rantaunet+berhenti > [email protected]<javascript:_e({}, 'cvml', > '[email protected]');>. > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > > > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
