Uda Akmal dan sanak sapalanta, Detil saya sudah lupa karena ini diskusi dengan teman yang sedang PhD tentang study sejarah agama (kalau tidak salah) di Harvard, sewaktu kami di Boston dulu. Dia dibimbing langsung dengan orang-orang yang juga pernah menjadi pembimbing Salman Rushdie. Kemungkinan besar referensi yang dipakai sama. Tetapi setahu saya dia mencoba mengambil perspektif yang berbeda.
Yang saya ingat, itu memang di antara An Najm, ayat 19 dan 20. Di mana kalau tidak salah ayat yang dihilangkan itu adalah Rasulullah sempat terbetik di dalam hatinya menerima tawaran "berbagi Tuhan" dengan saudara-saudaranya dari Kafir Quraisy. Allah marah kepadanya sehingga Rasulullah menyadari dan memohonkan ampun lalu Allah mengabulkannya. Secara terpisah, saya pernah menghadiri pengajian yang ceramahnya berisi bahwa para rasul mencapai kesempurnaannya melalui sebuah kesalahan tertipu Iblis untuk dapat membedakan yang haq dan yang bathil. dengan mengalami yang Haq dan yang Bathil. Contoh yang diberikan pada waktu itu salah satunya adalah Nabi Yunus AS. yang meninggalkan kaumnya padahal Allah tidak memerintahkannya sehingga ia ditelan Ikan Paus dan dikembalikan Allah kepada kaumnya. Referensi ayatnya pada pengajian tsb. adalah sbb Al Anaam 112 Dan demikianlah kami jadikan tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah untuk menipu manusia. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka adakan. Teman di Harvard tersebut, mengacu pada manuscrip-manuscrip yang dimiliki Harvard yang ia tidak sebutkan. Menurutnya dalam catatan sejarah, selama 200 tahun setelah Rasulullah meninggal banyak hadits yang shahih dan qudsi dibakar karena mendukung ayat yang hilang tersebut. Teman lain yang studi di PhD di Hartford kebetulan riset PhD-nya tentang literature selama 200 tahun tersebut. Dia tidak spesifik bilang tentang hadits2 pendukung ayat yang hilang. Tetapi dia bilang kenapa dia tertarik pada literature tua itu pertama saat ini lebih banyak senang mempelajari literature Islam kontemporer sementara yang classic ahlinya sudah pada emeritus. Kedua, masa 200 tahun setelah Rasulullah wafat itu seperti Dark Ages banyak para hafidz meninggal karena tua atau mati syahid dalam perang. Literature yang terbakar karena perang atau karena perbedaan pendapat. Menurut hemat saya dari hasil diskusi-diskusi diberbagai tempat dengan beberapa nara sumber. Saya berkesimpulan, sangatlah mungkin bahwa ada ayat2 yang dihilangkan. Mengapa pula Usman memusnahkan semua kecuali satu? Apakah tidak mungkin salah satu yang dibakar adalah versinya Ali? Atau versi ayat yang hilang tersebut. Apakah Allah memberinya hak untuk menentukan mana Al Quran yang akan Allah jaga sepanjang jaman. Saya tetap percaya mushaf yang kita pegang hari ini berdasarkan pilihannya Usman. Bagi saya info tambahan bahwa bahkan Rasulullah pun pernah dibohongi Iblis adalah informasi penting buat saya utk tetap berpegangan bahwa saya yang dhaif ini pasti lebih mudah dibohongi. Pada saat2 saya mengalaminya saya yakin akan ada pertolongan bila saya meminta seperti yang Rasulullah contohkan dalam tidak hanya pada ayat yang hilang tersebut, tapi juga ayat2 yang lain sehingga Rasulullah dengan teguh berkata Lakumdinukumwaliyadin. Saya menggunakan mushaf ini untuk mencari cara menghidupkan Al Quran dalam diri yang In Syaa Allah lebih dijamin oleh Allah hingga akhir jaman walau saya tahu berat untuk mencari dan mempertahankannya bila kemudian hari saya mendapatkannya. Saya percaya Allah menjaga Al Quran meski semua hafidz terbunuh dalam perang, semua Al Quran. Hanya Islam yang punya sejarah muncul orang2 hafal Al Quran meski tidak belajar secara formal. Saya tidak pernah mendengar ada penghafal Injil, Veda, dll. apalagi yang tiba2 hafal Injil, Veda dll. secara tiba2. Terhadap literatur2 teman2 tersebut bagi saya urutannya tentu lebih rendah dari Al Quran, Sunnah Rasul dan Hadits. Hanya saja sejarah tidak sesempurna yang selama ini kita terima di bangku sekolah ada banyak kekerasan yang menghancurkan literatur. Jadi dengan apabila semua literatur yang ada tidak mampu membuat kita sepaham, saya mahfum dan maklum. Jangan sampai kita menjadi penyebab peperangan yang tidak perlu dan mengakibatkan lebih banyak lagi literatur terbakar. Uda Akmal, ditunggu penjelasan tentang Al Quran dalam diri dan di luar diri. Semoga bisa melengkapi atau paling tidak jika kita berbeda pendapat menambah library saya :) Rgds, Jaha Nababan Jatiasih, L40, Suku Jambak 2013/7/30 Akmal Nasery Basral <[email protected]> > Jaha Nababan menulis: > ---- > Menurut penelitian seorang teman, versi yang dipertahankan ini menghapus > satu ayat penting tentang Rasulullah yang terpedaya iblis. > ---- > > ANB: > > Lae, apakah ayat yang dimaksud itu lanjutan SETELAH ayat QS 53: 19-20 dan > SEBELUM QS 53: 21-22? Di mana (berhala-berhala) Lata, 'Uzza dan Manata > "adalah perantara-perantara agung, yang syafaatnya sungguh sangat > diharapkan". > > Kalau iya, berarti ini berasal dari sejarawan awal Islam, Al Waqidi > (748-822) yang juga dijadikan sumber referensi Salman Rushdie dalam menulis > novel "The Satanic Verses". Bagaimana reputasi Al Waqidi? Imam Ahmad bin > Hanbal menyebutnya "seorang pendusta." Sedangkan Imam Bukhari menilai karya > Al Waqidi "Narasinya tak bisa dipertahankan." > > Sekiranya "penelitian seorang teman" Lae Jaha itu bukan terhadap ayat di > atas, maka ayat hilang itu ada di surat apa? Dan seperti apa pula hasil > penelitiannya? > > Kalau soal "ayat hilang dari Qur'an", bahkan ada tudingan lebih jauh lagi > dari Ibnu Warraq (nama samaran), yang menyebut surat Al Ahzab di mushaf > sekarang sudah tidak asli karena kehilangan 127 ayat! Ibn Warraq, syahdan > dia pernah bekerja pada Salman Rushdie, menyebutkan hilangnya 127 ayat itu > berdasarkan perkataan Aisyah r.a. bahwa sebetulnya Al Azhab terdiri dari > 200 ayat, tapi setelah dikodifikasi Utsman bin Affan hanya tinggal 73 ayat. > ("Perkataan" Aisyah ini merupakan salah satu kutipan favorit para > misionaris sejak dulu). > > Namun menurut penelusuran Syaikh Muhammad Thahir Ibn Asyur, riwayat ini > cuma mencatut nama Aisyah dan karena itu "sanadnya lemah" (Tafsir "At > Tahrir Wat Tanwir" X/246). Sementara menurut Syaikh Muhammad Izzah Daruzah, > hadis ini dhaif karena tidak ada di kitab-kitab hadis shahih. > > Tentang "Al Qur'an di dalam diri" versus "mushaf yang kita pegang (Qur'an > di luar diri" nanti saya komentari di posting berbeda ya. (Ada yang harus > saya kerjakan dulu). > > Wassalam, > > ANB St. Sampono, suku Koto > 45, Cibubur > > > > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
