Tarimo kasi, Pak Herman. Sabagai panambah-nambah memori isi kapalo, tulisan dari Kang Awang Harun Satyana ko sabana boneh. "Banyak manfaaiknyo buek urang awak nan tahu dan mangarati".
Salam..................................., *mm**** Pada 30 Juli 2013 12.27, Herman Moechtar <[email protected]> menulis: > Tulisan di bawah ini ditulis oleh Pak Awang Harun Satyana, dan kiranya > perlu direnungkan. Wassalam dan selamat berpuasa. > > Wassalam, > > Herman Moechtar > > > ** > > ** > * > * > *Relasi S1 – S2 – S3 dan Publikasi* > > Oleh: Awang Harun Satyan > > Ini selingan saja, tak berhubungan dengan Geo-Histori, tetapi mungkin > berhubungan dengan julukan saya sebagai Kepala Sekolah GI, sebuah julukan > yang kurang pas sebenarnya sebab saya tidak “hobi” sekolah. Berikut tulisan > ringan saya, barangkali bermanfaat atau cukup menghentak, bahkan bisa > menyinggung banyak orang, namun fakta… Maaf. > Minggu lalu, dua teman datang ke kantor saya, mengobrol ke sana ke mari, > dan akhirnya bertanya pertanyaan yang seringkali diajukan kepada saya > mungkin sejak 10 tahun yang lalu: mengapa saya tak melanjutkan sekolah lagi > ke jenjang yang lebih tinggi (S2 dan S3). > Saya tak akan menulis jawaban atas pertanyaan itu sebab jawabannya terlalu > pribadi untuk diketahui umum, saya hanya tiba-tiba teringat kata-kata teman > senior saya di bawah ini. > Prof. (Ris.) Dr. Herman Moechtar, seorang geologist di Badan Geologi, pada > 17 September 2010 menulis e-mail di sebuah milis kami (Geo-Unpad) dalam > menyelamati seorang rekan alumni yang baru lulus sidang S2 dan > mengumumkannya di milis. > Pak Herman, saya izin kutip ya, menarik untuk diketahui banyak orang. > Berikut tulis Pak Herman. > “Mohon maaf saya tidak bermaksud ingin menyinggung siapapun. Bagi saya, S1 > adalah orang yang paham terhadap ilmunya, sedangkan S2 orang yang senang > pada ilmunya. Sebaliknya S3 adalah orang yang harus belajar ilmunya. > Artinya: buat saya seorang S1 akan menjadi handal apabila dia menyenangi > ilmunya hingga akhirnya mau belajar dibanding seorang S3 yang tidak mau > belajar. Di Indonesia banyak sekali orang pintar tapi sayang kalau sudah > sampai di puncak dia akan berhenti menekuni ilmu itu, dan beranggapan sudah > paham semuanya. Kasihan.” > Begitu tulis Pak Herman. Dan berikut adalah pengamatan saya. > • Sekarang terjadi kecenderungan lulusan S1 meneruskan ke S2, tetapi bukan > karena menyenangi ilmunya, sebab belum tentu S2-nya merupakan kelanjutan > S1-nya, tetapi lebih karena mengikuti arus teman atau kelompok, kecuali > kalau ada tuntutan pekerjaan yang mengharuskan dia minimal bergelar S2 > (misalnya dosen). > • Para S2 atau S3 di perguruan tinggi atau lembaga penelitian menulis > makalah ilmiah/paper/karya tulis untuk mengejar nilai yang dapat digunakan > untuk mengejar kepangkatan tertentu di lembaganya. Jarang sekali yang > menulis karena kegemaran atau hobi. Suatu waktu saya pernah mengelola > sebuah majalah organisasi profesi, karena langka artikel lalu saya meminta > teman-teman di perguruan tinggi atau lembaga penelitian untuk menulis. Yang > pertama kali ditanyakan adalah, bagaimana nilai akreditasi majalahnya sebab > akan memengaruhi nilai penulis untuk meraih posisi tertentu. Kalau tak ada > akreditasi atau nilai akreditasinya rendah, kami rugi menulis, begitulah > kira-kira jawabnya. Hm. > • Para S2 atau S3 di perusahaan ternyata juga tidak sering menulis > publikasi, mungkin terlalu sibuk dengan pekerjaannya. > • S2 menulis sebuah publikasi, biasanya merupakan versi pendek tesisnya, > setelah itu jarang lagi menulis. S3 pun banyak yang begitu. Setelah posisi > tertentu tercapai, saat tak butuh lagi perjuangan untuk meraihnya, tak > perlu lagi menulis publikasi-publikasi. Biasanya mereka ganti mengerjakan > projek-projek studi dari perusahaan-perusahaan atau lembaga-lembaga > (komersial), dan kalau pun mereka menulis makalah lagi biasanya merupakan > sebagian dari projek yang dikerjakannya. Jadi menulis makalah bukan karena > kegemaran atau hobi. > • Banyak S3 yang pekerjaan sehari-harinya tak berhubungan atau jauh sekali > dengan keahlian spesifik yang diperolehnya melalui S3, ini terutama terjadi > di kalangan pejabat-pejaba bergelar S3, entah pejabat di perguruan tinggi, > lembaga penelitian, lembaga-lembaga negara dan swasta, > perusahaan-perusahaan. Mungkin mereka diangkat jadi pejabat juga karena > S3-nya, tetapi pada saat yang sama pengangkatan itu menghentikan mereka > dari keahlian spesifiknya. Maka tulisan Pak Herman bahwa S3 adalah orang > yang harus belajar ilmunya menjadi tak cocok buat kalangan pejabat yang S3. > Jadi gelarnya hanya embel-embel ya, sebab mungkin keahliannya sudah luntur. > • Seorang S2 atau S3 yang dihadapkan ke pilihan tetap di jalur fungsional > sesuai keahliannya, atau di jalur struktural, ternyata banyak yang memilih > jalur struktural sebab jalur struktural lebih ‘ramai’ dan lebih banyak > fasilitasnya. Ini kesalahan organisasi kurang menghargai jalur fungsional. > > Demikian beberapa pengamatan saya, yang tentu saja bisa salah. Tentu tidak > semua S2 atau S3 baik yang saya kenal maupun tidak, tidak seperti yang saya > tulis di atas. Ada yang benar-benar punya kriteria seperti yang ditulis Pak > Herman, yaitu mengambil S2 karena ingin belajar lebih lanjut dan punya > gelar tambahan (sebab belajar itu tak harus selalu bersekolah kan, hanya > kalau ingin mendapatkan gelar akademik tambahan ya harus bersekolah), juga > ada S3 yang terus menggali ilmunya. > Ada kisah menarik diceritakan teman saya yang sedang bersekolah S2 di luar > negeri. Teman kuliahnya, seorang yang lebih senior dibanding teman-teman > sekelasnya, mengambil kuliah. Ketika semua kuliahnya sudah selesai, dia pun > keluar, tak meneruskan untuk mengerjakan tesis, sebab dia tak butuh gelar, > hanya butuh ilmu. Kan bisa belajar sendiri, mengapa mesti begitu. Dia bukan > tipe orang yang bisa belajar sendiri, dan ingin belajar juga dari > pengalaman guru-guru bagus yang memang mengajar di perguruan tinggi itu. > Ada tidak mahasiswa S2 seperti begitu di sekolah-sekolah S2 kita, mungkin > jarang ya… > Menutup tulisan ini, ada kisah lain yang saya pikir bagus buat > direnungkan. Seorang teman junior saya yang sudah selesai S2 (S2-nya > diambil langsung setelah S1) bercerita, dia menyesal dulu mengambil S2 > langsung setelah S1. Bagusnya, dia bekerja dulu paling tidak lima tahun > agar berpengalaman. Sebab menurutnya bekerjalah yang mematangkan > keahliannya (benar itu). Kalau dia ambil S2 setelah bekerja dulu lima > tahun, mestinya saat menjadi mahasiswa S2 dia sudah matang dan akan lebih > bermanfaat buat dirinya sebab kekritisannya dan penguasaannya sudah lebih > baik daripada seorang fresh graduate S1 yang langsung mengambil S2. > Begitulah, semoga bermanfaat, dan tak perlu tersinggung ya buat para S2 > dan S3 yang saya tulis seperti pengamatan saya tersebut sebab pengamatan > saya bisa salah, dan tentu tak semua S2 dan S3 begitu. Banyak yang baik, > sayangnya banyak juga yang asal-asalan saja S2 atau setelah S3 tak > menunjukkan prestasi apa pun. > Buat rekan-rekan atau adik-adik saya yang hendak meneruskan sekolah ke S2, > lanjutkanlah, semoga melanjutkannya bukan karena ikut-ikutan, tetapi karena > senang akan suatu ilmu. Untuk rekan-rekan atau adik-adik saya yang hendak > meneruskan sekolah ke S3, lanjutkanlah, semoga kelak bisa berkontribusi > banyak kepada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia untuk > keluhuran Indonesia dan kemakmuran bangsa sesuai bidang keahlian. > Secara nyata, tak sedikit S2 bahkan S3 yang sudah saya bimbing, entah > formal atau nonformal, saat para mahasiswa ini hendak mengajukan nama saya > ke perguruan tingginya untuk ditulis sebagai pembimbing ke-2 atau ke-3 > misalnya, oleh peraturan di perguruan tinggi itu saya ditolak sebab seorang > S1 konon tak boleh membimbing S2 apalagi S3. Si mahasiswa tak enak hati > kepada saya. Saya hanya tersenyum sambil berkata, tak perlu tak enak hati > dengan saya, saya sudah biasa menghadapi hal seperti itu, kalau mau tulis > nama saya di dalam tesis/disertasi, tulis saja nama saya di ucapan terima > kasih, aman kan… > Sebagai seorang S1 yang tak pernah bekerja di perguruan tinggi atau > lembaga penelitian, tetapi 10 tahun bekerja sebagai exploration geologist > dan 13 tahun berikutnya sebagai seorang birokrat, saya dalam 20 tahun > terakhir telah menghasilkan 312 publikasi (87 makalah ilmiah untuk berbagai > konferensi nasional/internasional, 54 artikel untuk berbagai jurnal, 6 bab > undangan untuk 6 buku, 92 bahan presentasi undangan/keynotes, 42 bahan > kuliah tamu/kuliah umum di berbagai perguruan tinggi, 31 manual kursus > dalam berbagai bidang geologi dengan satu manual setebal > 400 halaman). > Itu tidak termasuk artikel2 populer saya sekitar 400 artikel untuk diskusi > milis dan internet yang telah saya tulis sejak tahun 1998. Cukup banyak > yang telah saya tulis sebagai pertanggungjawaban saya sebagai seorang S1. > Saya menulisnya tak dalam 1-5 tahun, tetapi 20 tahun. Bukan waktu yang > singkat untuk sebuah konsistensi. > Semua publikasi saya tak dinilai untuk kenaikan pangkat, jadi saya menulis > dan menyiapkannya hanya karena saya harus menulis sebagai bagian kecintaan > saya kepada profesi yang saya tekuni: geologi. Passion. Itu saja > pendorongnya. > Jumlah publikasi saya itu saya tulis sebagai tantangan untuk dikejar dan > didahului oleh para S2 dan S3, sebab saya menulisnya sebagai seorang S1. > Ayo, banyaklah menulis, jangan kalah oleh saya. > “Saya cukup sebagai S1” (Awang Satyana, 1989). > > *Saya kutip juga beberapa komentar yang menyertai artikel ini.* > *Beberapa kata yang aslinya singkatan, saya panjangkan saja di sini.* > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Grup Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > > > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
