Assalamu'alaikum wr.wb.

Herannyo Pak Emil Salim sebagai salah satu orang yang cukup dekat
dengan Suharto dalam satu wawancara TV sangaik membela Berkleley mafia
ko.


Pak Harto Salah Pilih Tim Ekonomi dan Kebijakannya
Rabu, 27 Februari 08

Apakah Pak Harto mengambil kebijakan-kebijakan yang sangat salah
sehingga "keberhasilan" pembangunan ekonomi yang didengung-dengungkan
itu buat saya (dan saya yakin juga buat sangat banyak orang lainnya)
adalah semu atau palsu !

Sebagai Presiden dengan sistem presidensiil, tanggung jawab terakhir
memang ada pada pundak Presiden. Tetapi secara substantif Pak Harto
tidak paham tentang ekonomi. Karena itu yang menjadi krusial adalah
memilih orang-orang yang tepat. Tepatkah pilihan Pak Harto yang jatuh
pada para ekonom dari kelompok Berkeley Mafia ?

Menurut saya bukan hanya salah, inilah malapetaka yang paling besar.
Sri Sultan Hemengkubuwono IX dan Adam Malik yang mengawal mereka dalam
pertemuan pertama dengan kekuatan-kekuatan internasional, yaitu
pertemuan di Jenewa di bulan November tahun 1967 juga tidak bisa
disalahkan sepenuhnya atas dasar keawaman mereka dalam bidang ekonomi.

SEJARAH KEBIJAKAN EKONOMI OLEH BERKELEY MAFIA

Marilah sekarang kita telusuri bagaimana kronologi atau urut-urutan
kejadiannya? Yang saya kemukakan bukan temuan dan pendapat saya,
tetapi temuan dan pendapat orang-orang Inggris dan Amerika.
Ceriteranya adalah sebagai berikut.

Izinkan saya sekarang mengutip observasi dari seorang wartawan
terkemuka berkewarganegaraan Australia yang bermukim di Inggris, yaitu
John Pilger yang membuat film dokumenter tentang Indonesia dan juga
telah dibukukan dengan judul : "The New Rulers of the World". Dua
orang lainnya adalah Prof. Jeffrey Winters, guru besar di North
Western University, Chicago dan Dr. Bradley Simpson yang meraih gelar
Ph.D. dengan Prof. Jeffrey Winters sebagai promotornya. Yang satu
berkaitan dengan yang lainnya, karena beberapa bagian penting dari
buku John Pilger mengutip temuan-temuannya Jeffrey Winters dan Brad
Simpson.

Sebelum mengutip hal-hal yang berkaitan dengan Indonesia, saya kutip
pendapatnya John Pilger tentang Kartel Internasional dalam
penghisapannya terhadap negara-negara miskin.

Saya kutip :
"Dalam dunia ini, yang tidak dilihat oleh bagian terbesar dari kami
yang hidup di belahan utara dunia, cara perampokan yang canggih telah
memaksa lebih dari sembilan puluh negara masuk ke dalam program
penyesuaian struktural sejak tahun delapan puluhan, yang membuat
kesenjangan antara kaya dan miskin semakin menjadi lebar. Ini terkenal
dengan istilah "nation building" dan "good governance" oleh "empat
serangkai" yang mendominasi World Trade Organisation (Amerika Serikat,
Eropa, Canada dan Jepang), dan triumvirat Washington (Bank Dunia, IMF
dan Departemen Keuangan AS) yang mengendalikan setiap aspek detil dari
kebijakan pemerintah di negara-negara berkembang. Kekuasaan mereka
diperoleh dari utang yang belum terbayar, yang memaksa negara-negara
termiskin membayar $ 100 juta per hari kepada para kreditur barat.
Akibatnya adalah sebuah dunia, di mana elit yang lebih sedikit dari
satu milyar orang menguasai 80% dari kekayaan seluruh umat manusia."

Saya ulangi sekali lagi paragraf yang sangat relevan dan krusial,
yaitu yang berbunyi :

"Their power derives largely from an unrepayable debt that forces the
poorest countres...." atau "Kekuatan negara-negara penghisap
didasarkan atas utang besar yang tidak mampu dibayar oleh
negara-negara target penghisapan."

John Pilger mengutip temuan, pernyataan dan wawancara dengan Jeffrey
Winters maupun Brad Simpson. Jeffrey Winters dalam bukunya yang
berjudul "Power in Motion" dan Brad Simpson dalam disertasinya
mempelajari dokumen-dokumen tentang hubungan Indonesia dan dunia Barat
yang baru saja menjadi tidak rahasia, karena masa kerahasiaannya
menjadi kadaluwarsa.

Saya kutip halaman 37 yang mengatakan :
"Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya 'hadiah terbesar',
hasil tangkapannya dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori
konferensi istimewa di Jenewa yang dalam waktu tiga hari merancang
pengambil-alihan Indonesia. Para pesertanya meliputi para kapitalis
yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller.
Semua raksasa korporasi Barat diwakili : perusahaan-perusahaan minyak
dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British
Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens,
Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang
meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut
"ekonoom-ekonoom Indonesia yang top".

"Di Jenewa, Tim Sultan terkenal dengan sebutan 'the Berkeley Mafia',
karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah
Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley.
Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang
diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang
dijual dari negara dan bangsanya, Sultan menawarkan : …… buruh murah
yang melimpah….cadangan besar dari sumber daya alam ….. pasar yang
besar."

Di halaman 39 ditulis : "Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah
dibagi, sektor demi sektor. 'Ini dilakukan dengan cara yang
spektakuler' kata Jeffrey Winters, guru besar pada Northwestern
University, Chicago, yang dengan mahasiwanya yang sedang bekerja untuk
gelar doktornya, Brad Simpson telah mempelajari dokumen-dokumen
konperensi. 'Mereka membaginya ke dalam lima seksi : pertambangan di
satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar lain,
perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase
Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan
kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor
lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling
dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan : ini yang kami inginkan
: ini, ini dan ini, dan mereka pada dasarnya merancang infra struktur
hukum untuk berinvestasi di Indonesia. Saya tidak pernah mendengar
situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan para
wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan
merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam
negaranya sendiri.

Freeport mendapatkan bukit (mountain) dengan tembaga di Papua Barat
(Henry Kissinger duduk dalam board). Sebuah konsorsium Eropa mendapat
nikel Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapat bagian terbesar dari
bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang
dan Perancis mendapat hutan-hutan tropis di Sumatra, Papua Barat dan
Kalimantan. Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang
dengan buru-buru disodorkan kepada Soeharto membuat perampokan ini
bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Nyata dan secara rahasia,
kendali dari ekonomi Indonesia pergi ke Inter Governmental Group on
Indonesia (IGGI), yang anggota-anggota intinya adalah Amerika Serikat,
Canada, Eropa, Australia dan, yang terpenting, Dana Moneter
Internasional dan Bank Dunia."

John Perkins

Benarkah sinyalemen John Pilger, Joseph Stiglits dan masih banyak
ekonom AS kenamaan lainnya bahwa utanglah yang dijadikan instrumen
untuk mencengkeram Indonesia ?

Dalam rangka ini, izinkankanlah saya mengutip buku yang menggemparkan.
Buku ini ditulis oleh John Perkins dengan judul : "The Confessions of
an Economic Hitman", atau "Pengakuan Seorang Perusak Ekonomi". Buku
ini tercantum dalam New York Times bestseller list selama 7 minggu.
Saya kutip sambil menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia sebagai
berikut.

Halaman 12 : "Saya hanya mengetahui bahwa penugasan pertama saya di
Indonesia, dan saya salah seorang dari sebuah tim yang terdiri dari 11
orang yang dikirim untuk menciptakan cetak biru rencana pembangunan
pembangkit listrik buat pulau Jawa."
Halaman 13 : "Saya tahu bahwa saya harus menghasilkan model
ekonomterik untuk Indonesia dan Jawa. Saya mengetahui bahwa statistik
dapat dimanipulasi untuk menghasilkan banyak kesimpulan, termasuk apa
yang dikehendaki oleh analis atas dasar statistik yang dibuatnya."
Halaman 15 : "Pertama-tama saya harus memberikan pembenaran
(justification) untuk memberikan utang yang sangat besar jumlahnya
yang akan disalurkan kembali ke MAIN (perusahaan konsutan di mana John
Perkins bekerja) dan perusahan-perusahaan Amerika lainnya (seperti
Bechtel, Halliburton, Stone & Webster, dan Brown & Root) melalui
penjualan proyek-proyek raksasa dalam bidang rekayasa dan konstruksi.
Kedua, saya harus membangkrutkan negara yang menerima pinjaman
tersebut (tentunya setelah MAIN dan kontraktor Amerika lainnya telah
dibayar), agar negara target itu untuk selamanya tercengkeram oleh
kreditornya, sehingga negara pengutang (baca : Indonesia) menjadi
target yang empuk kalau kami membutuhkan favours, termasuk basis-basis
militer, suara di PBB, atau akses pada minyak dan sumber daya alam
lainnya."
Halaman 15-16 : "Aspek yang harus disembunyikan dari semua proyek
tersebut ialah membuat laba sangat besar buat para kontraktor, dan
membuat bahagia beberapa gelintir keluarga dari negara-negara penerima
utang yang sudah kaya dan berpengaruh di negaranya masing-masing.
Dengan demikian ketergantungan keuangan negara penerima utang menjadi
permanen sebagai instrumen untuk memperoleh kesetiaan dari
pemerintah-pemerintah penerima utang. Maka semakin besar jumlah utang
semakin baik. Kenyataan bahwa beban utang yang sangat besar
menyengsarakan bagian termiskin dari bangsanya dalam bidang kesehatan,
pendidikan dan jasa-jasa sosial lainnya selama berpuluh-puluh tahun
tidak perlu masuk dalam pertimbangan."
Halaman 15 : "Faktor yang paling menentukan adalah Pendapatan Domestik
Bruto (PDB). Proyek yang memberi kontribusi terbesar terhadap
pertumbuhan PDB harus dimenangkan. Walaupun hanya satu proyek yang
harus dimenangkan, saya harus menunjukkan bahwa membangun proyek yang
bersangkutan akan membawa manfaat yang unggul pada pertumbuhan PDB."
Halaman 16 : "Claudia dan saya mendiskusikan karakteristik dari PDB
yang menyesatkan. Misalnya pertumbuhan PDB bisa terjadi walaupun hanya
menguntungkan satu orang saja, yaitu yang memiliki perusahaan jasa
publik, dengan membebani utang yang sangat berat buat rakyatnya. Yang
kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin menjadi semakin miskin.
Statistik akan mencatatnya sebagai kemajuan ekonomi."
Halaman 19 : "Sangat menguntungkan buat para penyusun strategi karena
di tahun-tahun enam puluhan terjadi revolusi lainnya, yaitu
pemberdayaan perusahaan-perusahaan internasional dan
organisasi-organisasi multinasional seperti Bank Dunia dan IMF."

Bab tiga khusus tentang Indonesia dengan judul : "Indonesia, pelajaran
buat Penghancur Ekonomi".

Halaman 21 : "Prioritas dari kebijakan luar negeri Amerika Serikat
ialah supaya Suharto melayani Washington seperti yang dilakukan oleh
Shah Iran. AS juga mengharapkan bahwa Indonesia akan menjadi model
buat negara-negara di sekitarnya. Washington mendasarkan sebagian dari
strateginya pada asumsi bahwa manfaat yang diperoleh dari Indonesia
akan mempunyai dampak positif pada seluruh dunia Islam, terutama di
Timur Tengah yang eksplosif. Dan kalau itu tidak cukup, Indonesia
mempunyai minyak. Tidak seorangpun yang mengetahui dengan pasti
tentang besarnya dan kualitas dari cadangan minyaknya, tetapi para
akhli seismologi sangat antusias tentang kemungkinan -
kemungkinannya."
Halaman 28 : "Akhirnya kepada kami diberikan keanggotaan dari Bandung
Golf & Racket Club yang ekslusif, dan kami bekerja dalam kantor cabang
Bandung dari Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN), perusahaan listrik
yang dimiliki oleh pemerintah."

Dari sanalah John Perkins dengan Tim-nya beroperasi, yang didukung
sepenuhnya oleh para anak bangsa yang menjadi pengkhianat terhadap
rakyat dan bangsanya sendiri.

Oleh Kwik Kian Gie

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke