Assalamu'alaikum Wr. Wb dunsanak Palanta nan budiman,
selamat merayakan hari kedua Idul Fitri,
semoga masih sempat mendoakan pula para saudara kita di Mesir, Palestina,
Myanmar, Suriah, dan lain-lain tempat, yang menjalani hari pertama Ied
Mubarak dengan rasa waswas dan cemas.
Saya ingin berbagi sebuah catatan kecil berdasarkan pengalaman hari pertama
lebaran, baik berdasarkan pengalaman di dunia nyata maupun pemantauan di
dunia maya.

Salah satu dari sekian banyak kalimat Buya Hamka yang saya sukai adalah:
"tatkala engkau menjadi palu, beranilah memukul habis-habisan. Tiba jadi
landasan, tahanlah pukulan biar berlalu."

Palu adalah benda solid, kukuh, gagah, yang tak berarti apa-apa ketika dia
tergeletak. Namun di tangan yang ahli, palu menjadi alat yang bisa
membangun rumah, termasuk rumah singgah juga rumah ibadah. Palu lah
yang membuat paku dan kayu (atau tembok) bisa menyatu, bersanding, saling
menguatkan.

Dalam kehidupan nyata, palu adalah kekuasaan. Atau lebih tepatnya,
kekuasaan sementara yang dimiliki terkait sebuah jabatan. Seorang
legislator bisa menjadi palu karena berpotensi menyatukan berbagai elemen
"paku" dan "kayu/tembok" untuk membuat rumah bangsa yang kokoh, lewat
legislasi yang dihasilkan. Seorang jurnalis adalah palu yang mampu membuat
pelbagai unsur dalam masyarakat bersanding dan saling menguatkan, melalui
tulisan yang dipublikasikan. Jika legislator dan jurnalis bersanding, bukan
bersaing, bisa dibayangkan dahsyatnya palu yang tercipta dalam mempercepat
rumah idaman bagi seluruh masyarakat. Boleh jadi kekuatan palu mistikal
milik Thor, dewa petir dalam legenda Yunani, pun akan kehilangan tuahnya.

Tentu bukan hanya para legislator dan jurnalis yang menjadi palu dalam
kehidupan bermasyarakat. Begitu juga dengan profesi lain, bahkan termasuk
ibu rumah tangga, yang menjadi palu penting dalam membangun kekokohan rumah
(tangga) masing-masing.

Masalahnya, bagaimana jika palu yang sangat berguna itu hanya tergeletak
tak berdaya, atau lebih celaka lagi, digunakan untuk keperluan destruktif,
membongkar, menghancurkan. Sebab kekuasaan, meski kecil, juga bisa di
tangan Satpol PP, atau dalam bentuk kekuasaan besar di tangan para "The
Invisibles", penyelenggara negara dengan tugas resmi, namun dengan wewenang
tak resmi yang bisa membuat ciut nyali.

Salah satu ilustrasi yang bagus mengenai soal ini adalah film "The Bourne
Ultimatum", seri ketiga dari tetralogi film tentang Jason Bourne, seorang
psychogenic amnesia dengan kemampuan membunuh mencengangkan karena dilatih
langsung oleh CIA. Sejak seri pertama "The Bourne Identity" beredar pada
2002, kisah yang bersandar pada karya novelis Robert Ludlum ini langsung
membetot perhatian dunia, karena lebih realistik dibandingkan kisah agen
karismatik dan playbo

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke