Ondehhh

Di koran ma foto baralek mamak ko ?

salam

andiko

Pada Sabtu, 24 Agustus 2013 15:04:03 UTC+7, Muchwardi Muchtar menulis:
>
> *......"Kisah pernikahan ambo dan istri, ado di kumpulan cerpen "Kisah 
> Kasih Dari Negeri Pengantin" (2005) nan digagas Asma Nadia, salah seorang 
> motor Forum Lingkar Pena (adiak Helvy Tiana Rosa). Di dalam antologi tu, 
> ado kisah pernikahan sejumlah penulis lain seperti Gola Gong, Kurnia 
> Effendi, termasuk Asma sendiri, dll......" 
> *
>
> Ha ha ha......., mambaco kutipan kalimaik nan ambo ambiak dari sur-el 
> Kamanakanda ANB di ateh (ciguak : *Sumba : Tolong Sematkan Rinduku,* ANB 
> 23 Aug 2013 : 10.46, 22 jam yang lalu, ) mambuek ambo "baibo hati".  
>
> Ibo hati  nan partamo, karano ambo jo kawan-kawan  *"panulih angkatan 
> 80-an"*  (a.l : Firdaus Alamhudi, Yudhistira Ardi Nugraha  M. Massardi 
> d/h Yan Mulyana, Adri Darmadji Woko; Kurniawan Junaidhi, dll)  indak 
> saketek pun punyo pangana mambuek kumpulan cerpen saputa pernikahan 
> angkatan kami (nan rato-2 manikah di awal tahun 80-an kasadonyo)  sarupo 
> nan dibuek ANB jo kawan-kawannyo di tahun 2005...?
>
> Ibo hati nan kaduo, baa mangko ambo dilahiakan 14 tahun labiah dulu dari 
> ANB, yo? Saandainyo samo-samo saangkatan tantu labiah sero, karano kami 
> (mungkin) bisa saliang malengkapi dan saliang "cido mancido" di RN 
> ko.....   Ha ha ha ha......
>
> Meski pun baitu, untuak mahallo-halloan Sanak di komunitas r@ntaunet nan 
> suko mambaco cerpen, izinkanlah ambo mampelawakan ciek cerpen, dari >60-an 
> judul cerpen  ambo nan panah dimuek di barbagai media massa (koran 
> mingguan, majalah) ibukota era 1972-1984. Cerpen nan di bawah ko, bak kato 
> ANB dalam panjalehannyo di surel tadi, panulihnyo tainspirasi manjalang 
> ambo manggungguang anak gadih Minang nan ambo kenal di daerah Cipinangjaya 
> Jakarta Tmur,(kutiko tu Si m.m bakarajo di kapa tanker mambaok minyak dari 
> palabuahan ka palabuahan di DN atau LN).
>
> Salamaik manikmati "baju sampik" nan dipalewakan Si m.m dalam cerpen nan 
> bajudul *EPOLUSI CINTA*, he he he...... :
>
>
> *Cerpen :*
>
> *EPOLUSI CINTA*
>
> Oleh *Muchwardi Muchtar*
>
> TERNYATA hukum epolusi tetap berlaku terhadap cinta. Padahal sedari awal, 
> semenjak aku mulai mengenalnya, sedikit pun tidak ada perasaan 
> ketertarikanku terhadapnya. Tapi, kenyataannya sekarang, malah semakin 
> lengket. Aneh…!
>
> Gadis itu kukenal di saat hati ini lagi beku terhadap lingkungan sekitar. 
> Dan ternyata kedatangannya di momen yang tepat, berhasil mengisi kekosongan 
> hati seorang lelaki. Padahal tipe gadis itu, baik dilihat penampilan maupun 
> ditilik kecerdasan, jauh dari idolaku selama ini. Tokh, lama kelamaan 
> bertemu, berdialog, tukar pendapat dan tukar pengalaman, eh………., buntutnya 
> malah jadi serius. Edan!
>
> Ternyata untuk kali ini, Dewi Amor keliru mempertemukan dua anak muda yang 
> (mula-mulanya) terang-terangan saling tidak mencinta. Satu-satunya 
> persamaan yang ada pada kami, hanyalah menyangkut perjalanan hidup di 
> duniawi saja. Kami sama-sama pernah ditinggalkan orang yang dikasihi. 
> Punyanya meninggal dalam kecelakaan di Jalan Raya. Dan punyaku lenyap, 
> korban buasnya paham kuno, bahwa orang tua adalah penentu jodoh anaknya!
>
> Soal lain? Boleh dikatakan jauh berbeda!
>
> Tetapi siapa nyana, kalau dinginnya hati seorang lelaki normal bukanlah 
> keabadian bungkal-bungkal es di kutub sana?
>
> “Yakinlah, Edw! Suatu hari kelak kau akan menemui apa-apa yang diidamkan 
> itu”, demikian tempo hari Hearlin, dengan kesabaran seorang gadis, coba 
> menghiburku.
>
> Ya, aku tahu. Hearlin adalah gadis yang ke sekian ---termasuk penggemar 
> tulisanku yang fanatik---  yang coba-coba mendekatiku setelah mendengar 
> selentingan berita, bahwa Edward Tator gagal menyunting bunga-bunga hidup 
> tempo hari.
>
> Aku ingat, tidak berapa lama kemudian, setelah dia mengucapkan kata 
> hiburan seeprti itu, hubungan surat dan acara saling mengunjungi antara aku 
> dengan Hearlin semakin renggang. Akhirnya, dalam tempo yang relatif singkat 
> putus sama sekali. Sebab, seperti yang telah jadi ketentuan bagi 
> wanita-wanita berusia cukup, pasti ingin kata kepastian dari lelaki 
> menyangkut hubungan mereka. Sedangkan aku, baik terhadap Hearlin, Yulita, 
> Yanti, atau Venty, tidak pernah sekali pun mau menanggapi kalau gadis 
> baik-baik dan manis-manis itu mengajak bicara soal masa depan. Bahtera nan 
> indah…! Padahal hampir di setiap pelabuhan di tempat mana kapal-kapalku 
> merapat, selalu surat mereka datang. Dan setiap aku pulang ke Jakarta, 
> mereka pasti kukunjungi.
>
> Jika Hearlin minta ditemani menonton ---seizin Mamanya--- di hari pertama, 
> pasti hari ke dua buat Venty si mahasiswi IKIP, hari ke tiga bua buat 
> Yulita kasir bank, dan hari ke empat buat Yanti karyawati Biro Kunsultan 
> Pajak. Semua kusayangi. Semua akrab denganku. Semua mengetahui dan 
> mengenalku adalah gara-gara surat penggemar. Mereka ingin kenal dengan 
> pelaut dan penulis yang bernama Edward Tator. Duhh..! Pengen bertemu *face 
> to face*. Dan sebagaimana lazimnya dunia anak muda, tak kenal maka tak 
> sayang. Salahkah meraka, jika selama ini tergugah dengan kisah gombal 
> seorang pelaut melalui berbagai penerbitan, kalau kemudian menyatakan 
> simpatik? Undang-undang manakah yang melarang, bila seorang gadis 
> mengeluarkan *uneg-unegnya* setelah sekian kali bertemu dengan tokoh yang 
> dikaguminya?
>
> Di sinilah celakanya!
>
> Entah kenapa, setiap teman gadis tersebut mendesakku buat bertemu dan 
> berterus terang terhadap orangtua mereka, menyangkut hubungan kami, aku 
> selalu tertawa. Aku selalu menanggapi dengan canda. Sampai-sampai mereka 
> pun terbawa emosi. Biasa! Semua wanita ---setelah kuamati---  memang 
> cepat emosional. Sebegitu jauhnyakah dampak patah hati terhadap pelaut 
> semacam Edward Tator? Sebegitu jauhnyakah, wahai???
>
> “Mungkin kau itu abnormal, Edw”, serang Venty suatu malam ketika kami 
> mampir di Air Mancur Monas seusai nonton film di New International Theater.
>
> “Maksudmu?” ujarku sambil menatap bola mata matanya di keremangan lampu 
> Taman Monas.
>
> “Ya, aku kira kau itu ada kelainan, Edw”, ulangnya lagi dengan nada gondok.
>
> “Contohnya?” pancingku lagi, masih tetap meremas jari jemarinya.
>
> “Kau dingin. Nggak agresip!” bisik mahisiswi IKIP ini lagi.
>
> Dan aku tersentak. Kalau sudah menyangkut soal penilaian tentang 
> kelelakian, memang aku tidak bisa terima. Apalagi yang bicara di sampingku 
> adalah calon Pendidik. Lantas aku mencium bibirnya untuk yang ke sekian 
> puluh kalinya. Lama….., lama sekali! Persetan dengan lingkungan. Di 
> sela-sela napas kami yang *ngos-ngosan*, aku berbisik ke kupingnya:
>
> “Yang kita lakukan  pengisi pertemuan selama ini, apa itu tidak agresip, 
> Non? Kalau igin lebih jauh lagi, OK. Mari kita ke hotel sekarang juga. 
> Sembilan bulan sepuluh hari setelah malam ini, kalau Venty tidak resmi jadi 
> ibu, aku akan potong tanda kelelakianku ini….”
>
> Plllaaaaaaakkkk!!!!
>
> “Kau gila, Edw. Otak kotor!” maki gadis ini penuh emosi.
>
> “*Lho*, siapa yang memulai duluan?” protesku, seraya mengusap-usap bekas 
> telapak tangan Venty yang halus di pipiku.
>
> “Sudah! Memang dasar pelaut edan!”, kemudian ia berdiri. “Bagaimana 
> baiknya tadi kau mengambilku ke rumah, maka sekarang kembalikan aku secara 
> baik ke rumah orang tuaku”, lalu gadis modern ini mengayunkan langkah tanpa 
> mendengar lagi penjelasanku.
>
> Ternyata pertemuan malam itu adalah *ending*-nya sebuah persahabatan 
> indah antara seorang pelaut muda dengan teman gadisnya. Edan!
>
> Tapi anehnya, meski kami tidak lagi pernah saling mengunjungi yang namanya 
> surat menyurat, kadang-kadang masih juga berlangsung. Aku heran. 
> Persahabatan macam apa ini namanya? Kalau ada tulisanku dimuat di koran 
> atau majalah, selalu teman-teman tersebut ikut mengomentari. Inilah 
> gilanya. Dan ini pula yang membuat aku tidak bisa mendiamkan begitu saja 
> bila surat mereka mendarat via Agen perusahaan tempat aku bekerja. Edan!
>
> ***
>
> “AKU baca ceritanya di Mingguan Anu lho. Edw. *Koq* ente masih juga 
> seperti dulu? Kapan Edw? Ntar keburu qiamat lho, pelaut tegar!”
>
> Ini adalah teks yang tertera dalam kartu pos bergambar dari Hearlin, yang 
> sengaja dipakainya alamat pengirim via kantor suaminya. Maksudnya sudah 
> tentu secara tidak langsung memberi tahu, bahwa ia sudah berumah tangga. 
> Bahagikah dia? Ohho ohhoo! *What is bahagia*?
>
> ***
>
> “KOMENTARMU di harian Palmerah boleh juga ya, Edw!”, tulis Venty dalam 
> surat berwarna hijau muda. “Tapi aku *ngeri* sobat, membayangi koleksi 
> ‘foto-foto birumu’ seperti yang  kau tulis di koran tersebut. Kalau 
> begitu, Edward Tator sekarang sudah berbeda jauh sekali, ya?
>
> Aku sekarang mengajar di SMA Elite. Biar baru setahun ini *nyobain *gaji 
> gaji sendiri, tapi menggembirakan *lho*, Bung. Jalan-jalanlah ke rumah. 
> Putraku yang kami beri nama Edwardo, mirip nama tokoh pelaut gombalmu, 
> menunggu Edw sama Papanya”
>
> ***
>
> “ALAMATMU kudapat dari koran edisi pagi. Jangan kaget ya, Bung, kalau *
> tumbenan* aku menyuratimu. Maukah Edward menghadiri kenduri perkawinanku 
> di Wisma Elang, minggu kedua bulan depan? Undangannya kukirim ke alamat 
> Singapura atau langsung ke alamat rumahmu di Jakarta 13460? *Kasi* kabar 
> ya, Bung!”
>
> Ini adalah surat Yulita yang diketiknya rapi di atas kertas yang ada kop 
> bank tempat ia bekerja.
>
> Semua tetap akrab. Masih tetap ramah. Oohh, betapa ajaibnya sebuah 
> persahabatan. Betapa dungunya aku. Atau terlalu idealis?
>
> ***
>
> MENGINGAT kenangan indah yang begitu menyebalkan itu, akhirnya aku 
> mengalah. Memang, tidak selamanya cita-cita sejalan dengan kenyataan. 
> Betapa banyak di muka bumi ini anak manusia memasuki mahligai rumah tangga 
> tidak dengan modal cinta? Betapa banyak pula, yang kelihatanya bahagia dan 
> mesra dari luar itu, ternyata di dalamnya digerogoti kuman?
>
> “Idealis itu memang boleh, Nak,” tulis Ayahku dalam surat pertama dan 
> terakhirnya. “Tetapi, idealis dalam keadaan begini, sampai kapan kau akan 
> bertahan?”
>
> Kalau selama ini Ayah ---veteran perang yang sangat idelalis dalam hidup 
> itu--- jarang ikut campur menyangkut urusan pribadiku, tapi kali ini 
> sedikit *surprise*. Ayah sengaja menyuratiku ke Manila. Sudah tentu ini 
> termasuk luar biasa.
>
> “Ingat Edw. Usiamu kini sudah berapa?” tulis Ayah lagi penuh kasih. “Ayah 
> seusiamu ini dulu sudah punya anak  dua dari Ibumu. Dan Ayah menikah 
> dengan Ibumu, cuma kenal mengenal jalan tiga hari saja. Langsung Nenek dan 
> Kakekmu menggiring kami menghadap penghulu. Tidakkah kau kasihan kepada 
> Ibumu, Nak? Yang sudah berkali-kali mencalonkan gadis-gadis terpelajar, 
> selalu kamu tolak?
>
> Gadis model mana yang jadi idolamu itu, Nak? Yang cantik, cerdas dan 
> berkepribadian baik? Itu memang ada. Tapi, sadarkah kau Nak, bahwa kau 
> seorang pelaut yang sering-sering meninggalkan rumah serta anak istri 
> kelak? Mungkinkah gadis model idolamu itu bisa memahami, dan sanggup 
> menghadapi kenyataan untuk mendampingi selamanya?
>
> Ini adalah pandangan orangtuamu yang terakhir, Edw. Mungkin rasa-rasanya 
> tidak akan lama lagi kami ini hidup di dunia. Tidak sudikah kau Nak, 
> memberi kesempatan bagi kami berbahagia, melihat nanak bungsunya duduk 
> bersanding di pelaminan…..!”
>
> Jegreng.
>
> Pletok!
>
> Jadi, anak lelaki terakhir yang semenjak lepas dari es-el-a, dan keluar 
> dari perguruan tinggi sebelum waktunya tempo hari, yang sudah mengenyam 
> sukaduka kehidupan di tengah laut, masih juga menjadi pemikiran orangtua? 
> Percuma saja aku payah-payah semaksimal mungkin menggembirakan beliau, 
> kalau masih juga mereka mengatakan susah?
>
> Maka sebuah ketegaran pun tumbang.
>
> Pemuda yang selama ini sangat selektif memilih teman wanita, akhirnya 
> menyerah. Kegembiraan bisa datang bertubi-tubi, tetapi kebahagiaan 
> mungkinkah bisa terulang berkali-kali?
>
> Dan, masuklah gadis itu dalam kehidupan ini. Dan, mulailah tumbuh 
> benih-benih kasih. Meski tidak kukenal latar belakang keremajaannya, 
> kedewasaannya,  namun ia bukanlah gadis sembarangan. Inikah barangkali 
> pelabuhan teduh yang ditakdirkanNya itu?
>
> Maka berlakulah hukum epolusi itu. Meski hati ini sangsi, langgengkah 
> sebuah perkawinan ----zaman kini--- yang tidak didasarkan saling 
> mencinta?***
>
> Sembawang Shipyard, 1984.
>
> (Dimuat dalam *Buana Minggu*, 20 Mei 1984)
>
> Salam.................................,
> *mm****
> *NB :* Nah, karano ambo alah basusah payah mangetik ulang cerpen kuno 
> (dimuek 29 tahun nan lalu di koran), supayo awak baduo samo-samo panek 
> ---demi kepuasan pelanggan RN--- iyolah kami nanti cerpen ANB  *"Kisah 
> Kasih Dari Negeri Pengantin" *tu dalam palanta ko. Indak ka bisauk, duo 
> atau tigo hari lai masih ado ukatu kan, ANB?! He hehehe....
>
>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke