Mak MM*** n.a.h.

Maaf ambo salah tulih (alah ambo ralat juo sabalunnyo) soal "Kisah Kasih
Negeri Pengantin". Itu bukan kumpulan cerpen, tapi kumpulan tulisan
(non-cerpen). Penggagasnya bukan ambo, tapi Asma Nadia, salah seorang
penulis produktif dan motor Forum Lingkar Pena (FLP). Kalau indak salah
ingek, motif Asma adalah ingin mendorong agar para anggota FLP serius
menulis, sekaligus jangan ragu/menunda-nunda pernikahan, meski hidup
sebagai penulis sering dianggap orang (dan untuk sebagian besarnya memang
betul) adalah hidup yang berat.

Jadi motifnya bukan untuk sekadar mengabadikan sisi romantis pernikahan
para penulis, tapi justru bagaimana memperlihatkan bahwa pernikahan bagi
para penulis bisa menjadi sumber energi kreatif, yang tidak harus selalu
muncul dalam karya sang penulis.

Asma Nadia sendiri seorang yang inspiratif dengan produktivitas sangat
deras. Kalau tidak salah dia pernah bilang bahwa dia mengidap semacam
penyakit tertentu di kepalanya yang membuatnya "harus berkejaran dengan
waktu" agar hidupnya bisa lebih bermanfaat. Salah satu karyanya yang sudah
difilmkan adalah "Emak Ingin Naik Haji".

Wassalam,

ANB
Cibubur

PS: Tarimo kasih ateh cerpen Mak MM nan rancak ko. Untuak mambaleh kebaikan
hati Mak MM, dan juo sanak Andiko nan alah manulih catatan perjalanan di
Inggris, ambo sertakan cerpen ambo "Dilarang Bercanda Dengan Kenangan" yang
kebetulan inspirasinya muncul saat ambo di Inggris tahun 1997.

Cerpen ini muncul di koran Jurnal Nasional, Juli 2006, waktu itu atas
permintaan redaktur budaya Jurnas yang juga cerpenis Arie M.P. Tamba. Untuk
versi buku, cerpen ini bersifat "visual", misalnya di bagian saat sang
tokoh perempuan (Khaleeda Jderescu) memberikan kartu nama kepada sang tokoh
lelaki (Johan), gambar kartu nama itu ada.

Semoga berkenan bagi Mak MM, sanak Andiko dan dunsanak Palanta sebagai
bacaan ringan di awal pekan. Terutama bagi yang suka terhanyut dalam
kenangan masa silam. :)

* * *

*DILARANG BERCANDA DENGAN KENANGAN*
Akmal Nasery Basral


*Neuheun, Aceh, 2006*
* *
   BARAK-barak pengungsi itu berdiri kokoh menantang mentari. Angin luka
meski tak sebenar binasa. Masih tercium aroma asin menguar dari Calang,
menggarami berbulan-bulan derita tak kepalang. Dari sebuah belokan muncul
empat mobil, lalu berhenti di tanah lapang. Seorang wanita tua keluar. "Di
sini tempatnya?" Ia bertanya kepada perempuan lain yang mengiringi. Aku
maju membelah kerumunan wartawan sampai berhadapan dengan nenek gesit itu.
"Lewat
sebelah sini, Madame."
    Perempuan itu Anselma de Luca, pendiri perusahaan kosmetik raksasa
Inner Beauty Inc., akan meresmikan pusat kegiatan masyarakat senilai hampir
Rp 2 Miliar. Aku sudah di sini dari kemarin untuk memastikan semua acara
berlangsung lancar karena kantorku adalah perusahaan humas Inner Beauty di
Indonesia. Aku memandu jumpa pers yang berlangsung tak lebih dari 15 menit.
    Selanjutnya Anselma mengunjungi barak pengungsi yang berbentuk rumah
panggung. Seorang kolega menggantikan tugasku menjadi penerjemah. Dari
tempatku berdiri, terlihat wartawan televisi berebut mencari tempat terbaik
untuk mendapatkan gambar sang maharani industri kosmetika.
    "Apa kabar Johan?" Seorang perempuan berjilbab biru menyapaku. Wajahnya
cokelat terbakar matahari.
    "Kabar baik." Aku mencoba mengais arsip ingatan. "Maaf, apakah kita
pernah bertemu?"
    "Kamu lupa dengan saya?" Sinar matanya meredup. "Tak apa. Itu sudah
lama berlalu." Ia mengembuskan nafas. "Kamu masih ingat Kensington House?
Brookwood Cemetery?"
    "Astaga! Aida? Sejak kapan di Indonesia?" Tanyaku tak percaya.
    "15 bulan."
    "Serius?"
    "Aku termasuk gelombang ketiga sukarelawan yang terjun di Aceh."
    "Kamu baik sekali."
    "Tidak Jo. Niat awalku ke sini hanya berharap bertemu denganmu."
    Aida datang ke Indonesia untuk mencariku? Terik matahari Neuheun
berubah menjadi pendingin udara terbaik yang pernah diciptakan manusia.
Begitu sejuk.

*London, 1997*
* *
    AKU ternganga di halaman luar Istana Kensington. Ribuan kuntum bunga
membentuk samudera aroma bertabur cuplikan puisi, foto, kliping koran,
boneka, dan lilin-lilin yang menyala. Besok adalah hari  penguburan Lady
Diana Spencer yang tewas di terowongan Place de l'Alma, Paris, Minggu
sebelumnya. Malam semakin matang di cakrawala Britania. Kerumunan orang
terus berdatangan. Ada yang menyentuh bahuku.
   "Excuse me?"
   Aku menoleh. Seorang perempuan berambut pendek dengan warna tembaga
menyapa ramah. "Apakah aku mengganggumu? Namaku Khaleeda."
   "Johan." Aku menyambut uluran tangannya.
   "Malaysia?"
   "Bukan, Indonesia. Anda?"
   "Irak. Tapi aku bekerja sebagai wartawan koran Yordania. Aku sedang
mencari orang yang bersedia kuwawancarai."
   "Mengapa aku? Ada ratusan orang di sini."
   "Kamu berbeda. Maaf bukan maksudku rasialis. Lihatlah dirimu dengan
orang lain di sini."
   Tak ada alasan lagi untuk menolak. Aku mulai bercerita bahwa awalnya tak
tertarik dengan kejadian ini. Aku pendatang yang kuliah dan tinggal di
Leeds, tiga jam perjalanan kereta api dari London. Tapi melihat dunia larut
dalam tangis komunal akibat kematian Diana, aku tertarik menyaksikan
kesedihan ini langsung di jantungnya. Khaleeda mengangguk. "Bagaimana
menurutmu kisah cinta Diana-Dodi Al Fayed?"
   "Itu salah satu drama kehidupan paling tragis yang dialami manusia. Ada
lagikah yang lebih pahit dari cinta yang sepatutnya dirayakan berdua, tapi
justru
berbalik menjadi belenggu?"
   "Apakah cinta itu menurutmu Jo? Bisakah Diana yang Kristen bersatu
dengan Dodi yang muslim?"
   Aku memutuskan sudah saatnya lebih agresif. Maka kujawab pertanyaannya
dengan pertanyaan. "Bagaimana pendapatmu sendiri Aida? Boleh aku
memanggilmu Aida?"
   Malam itu kami berpindah ke sebuah pub terdekat dan bertukar komentar
tentang cinta sampai Aida melihat arlojinya. "Terima kasih Jo, kamu sudah
memberikan banyak bahan. Aku harus istirahat. Besok akan menjadi hari yang
melelahkan."
   Kami berjalan keluar. Di depan pintu Aida teringat sesuatu. "Kamu tidur
di mana malam ini?"
   "Belum tahu. Mungkin menunggu pagi saja di Kensington."
   "Semoga kau tidak keliru menilaiku jika aku tawarkan untuk menginap.
Kita bisa lanjutkan obrolan
tadi."
   Jelas sekali Aida bukan jenis perempuan yang pantang menyerah. Kami
berjalan kaki sekitar 25 menit sebelum sampai di depan Harrods, toko serba
ada milik keluarga Al Fayed. "Hotelku di belakang sana." Aida menunjuk ke
sebuah lokasi di kawasan Knightsbridge. Hotel mungil khas Inggris.
   Aida mengambil kamar single bed. Ia menguap panjang ketika meletakkan
ransel dan kameranya. Matanya merah. "Kamu tidak keberatan aku berbaring
sebentar, Jo?"
   Detik selanjutnya ia terlelap. Wajah pualamnya seperti dipahat
Michelangelo. Alis matanya bak
rombongan semut sedang karnaval. Hidungnya melengkung seperti elang gurun.
Pandangan mataku turun ke lehernya, lalu menyapu kedua bukit kewanitaannya
yang mencuat seperti gunung kembar Sundoro-Sumbing di desa kelahiranku,
Temanggung, Jawa Tengah.
   Darahku berdesir. Aku berjalan menuju satu-satunya sofa di kamar itu,
memutar posisinya menghadap jendela membelakangi Aida. Aku pejamkan mata,
mencoba melalui beberapa jam tersulit dalam hidupku sebagai lelaki. Wangi
lembut yang meruap dari tubuh Aida menari-nari di bawah hidungku.
   Ya Tuhan, bagaimanakah caranya Yusuf mengabaikan godaan Zulaikha?
   Tak berapa lama aku mencium wangi kopi yang membuatku terjaga. Aida
sudah rapi, Wajahnya segar.
   "Tidurmu pulas sekali, sehingga aku tidak tega membangunkan," katanya
lembut. "Aku harus ke Hyde Park untuk liputan."
   "Aku temani. Kapan lagi bisa melihat prosesi pemakaman seperti ini.
Setiap orang bisa ke London
setiap saat, tetapi tidak pada saat pemakaman Diana Spencer, bukan?"
    Aida mengangguk dan tersenyum ringan.
   Setelah rombongan kereta jenazah lewat di depan kami yang berdiri di
seberang Hyde Park menuju Gereja Westminster Abbey, Aida berkata. "Aku
harus ke Althorp, kediaman keluarga Spencer sebelum jenazah sampai di sana."
   "Aku ingin menemani tapi…" Aku ragu melanjutkan bahwa uangku tak cukup.
   "Kamu mau ikut?"
   "Ya dan tidak. Ya, karena ini peristiwa langka. Tidak, jika kau ingin
membayariku."
   "Kamu tega membiarkanku bekerja sendirian di Althorp?"
   Ya Tuhan, mengapa tiba-tiba matanya berubah menjadi anak kucing yang
manja? Alhasil siang itu aku berada dalam gerbong kereta yang sama dengan
Aida. Usai dari Althorp kami menuju Surrey, ke Pemakaman Brookwood tempat
Dodi Al Fayed dikuburkan.
   Kereta memasuki stasiun Brookwood persis ketika gelap mulai rata di
cakrawala. Stasiun kecil ini
berada di tengah-tengah lingkungan makam yang luas. Tak ada orang yang bisa
kami tanyai.
   Di sebuah tempat aku membaca nisan dengan nama muslim Ismailiyah. "Kita
pasti sudah dekat," Aku membesarkan harapan Aida.
   "Mudah-mudahan. Terus terang aku takut di sini," bisiknya.
   Aida merapatkan tubuhnya yang gemetar kepadaku. Aku peluk bahunya.
Akhirnya kami temukan juga makam Dodi berkat payung hijau Harrods yang
terkenal itu. Kembali menuju stasiun, Aida kembali gemetar karena harus
melalui jalan sepi. Sementara aku geletar harus mengalahkan lahar yang
menggelegak di kepala akibat dada kiri Aida yang lembut menempel erat pada
tubuhku.
Di Stasiun Brookwood tak ada penumpang lain selain kami berdua. Suasana
canggung menyergap.
   Keesokan hari Aida minta ditemani ke Madame Tussaud dan Istana
Buckingham. Rupanya relaksasi menikmati patung lilin figur-figur ternama
dan suasana romantis di depan Istana Buckingham berdampak pada keakraban
kami. Malam menjelang tidur, kami takluk pada
panggilan naluri. Kami berciuman selama beberapa detik yang bergelora,
saling menjelajahi. Tiba-tiba Aida menarik tubuhnya. "Jo, aku tak bisa
melanjutkan ini. Agama kita melarang."
   Pagi tiba. Tak kulihat lagi Aida yang kukenal dalam tiga hari terakhir.
Kata-katanya berubah formal.
"Johan, lebih cepat kita berpisah akan lebih baik bagi kita berdua. Aku
lebih tua darimu. Umurmu baru 24. *Well*, aku 29."
   Aku tahu bukan itu alasannya. Tapi aku pun tahu ia tak punya cara lain.
Haruskah kami melanjutkan keakraban yang aneh tak berpola ini? Aku cium
pipinya dengan cepat. Ia tak menghindar. Matanya memerah, gairahku patah.
Di kereta api menuju Leeds aku menangis untuk seorang gadis yang begitu
saja merobek hatiku. Mencabik hatinya sendiri.

*Neuheun, Aceh, 2006*
* *
   Kini melihat lagi Khaleeda, Aida-*ku*, membuat seluruh kenangan seperti
berebut kembali.
   "Jo," Suara Aida menyadarkanku. "Di kegelapan Brookwood aku merasa
tenang dalam pelukanmu. Aku tak sanggup membayangkan kembali ke Yordania
selesai liputan, berpisah denganmu. Aku memilih tidak mengakui putik cinta
yang mulai tumbuh di hati, meski ternyata membesar dan berbunga
bertahun-tahun kemudian. Lalu terjadilah tsunami yang melanda negerimu. Aku
berpikir
mungkin inilah jalan yang diberikan Allah untuk menemuimu, menemui jodohku.
Aku berjudi dengan sejuta kemungkinan. Aku tak tahu Indonesia, dan kamu pun
belum tentu di Aceh. Tapi aku harus mencoba."
   "Sekarang aku di depanmu Aida." Suaraku terlalu bersemangat. Aku sendiri
belum benar-benar bisa melupakan dirinya ternyata. "Barangkali kamu benar
bahwa kita ditakdirkan untuk bersatu. Aku tak keberatan kau lebih tua 5
tahun dariku." Aku mengguyurnya dengan kelakar."Kamu ingin punya anak
berapa Aida?"
   "Kalau saja kita bisa bercanda dengan kenangan." Setitik air mata
bergulir dengan cepat dari sudut
matanya. "Sayang kita tak bertemu lebih awal.”
    “Maksudmu?” tanyaku kebingungan.
    “Setelah berbulan-bulan aku tak menemukan jejakmu di sini, aku semakin
dekat dengan seorang aktivis LSM di Meulaboh. Bulan lalu kami ..." Aida
menggigit bibirnya. "Maaf Jo, kami bertunangan. Ternyata jodohku memang di
sini, dengan orang Indonesia. Tapi bukan denganmu. Dua bulan lagi kami
menikah, Johan," Air matanya runtuh dengan deras.
    Aku terpana. Luka yang telah mengering di hatiku hampir satu dekade
kembali mengelupas. Jauh lebih nyeri dibandingkan saat aku menangis dalam
perjalanan menuju Leeds.

Jakarta, 24 Juni 2006

* * *

Pada Sabtu, 24 Agustus 2013, Muchwardi Muchtar menulis:

> *......"Kisah pernikahan ambo dan istri, ado di kumpulan cerpen "Kisah
> Kasih Dari Negeri Pengantin" (2005) nan digagas Asma Nadia, salah seorang
> motor Forum Lingkar Pena (adiak Helvy Tiana Rosa). Di dalam antologi tu,
> ado kisah pernikahan sejumlah penulis lain seperti Gola Gong, Kurnia
> Effendi, termasuk Asma sendiri, dll......"
> *
>
> Ha ha ha......., mambaco kutipan kalimaik nan ambo ambiak dari sur-el
> Kamanakanda ANB di ateh (ciguak : *Sumba : Tolong Sematkan Rinduku,* ANB
> 23 Aug 2013 : 10.46, 22 jam yang lalu, ) mambuek ambo "baibo hati".
>
>
>
> Salam.................................,
> *mm****
> *NB :* Nah, karano ambo alah basusah payah mangetik ulang cerpen kuno
> (dimuek 29 tahun nan lalu di koran), supayo awak baduo samo-samo panek
> ---demi kepuasan pelanggan RN--- iyolah kami nanti cerpen ANB  *"Kisah
> Kasih Dari Negeri Pengantin" *tu dalam palanta ko. Indak ka bisauk, duo
> atau tigo hari lai masih ado ukatu kan, ANB?! He hehehe....
>
>
>  --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
> Grup Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke rantaunet+berhenti 
> [email protected]<javascript:_e({}, 'cvml', 
> '[email protected]');>.
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke