Sanak Palanta

Bagi yang mengenal beliau, mohon do'anyo


Guru Besar FISIP Unair Prof Soetandyo Wafat

http://nasional.inilah.com/read/detail/2025298/read/detail//#.UiQCZmQY045

Salam

Andiko Sutan Mancayo

____________________________

Kisah Prof Soetandyo, Hidup Sederhana & Tidak Berumah – Mobil
DESEMBER 20, 2009
tags: Komnas HAM, Soetandyo Wignyosoebroto, Universitas Airlangga
Banyak hal yang dapat dipetik dari hidup Prof Soetandyo Wignyosoebroto. 
Hidup sederhana, membesarkan anak untuk mengapai cita-cita, mengajar dan 
memberi ilmu hukum  tanpa mengenal usia, seraya memperjuangkan hak asasi 
manusia, keadilan, dan supremasi hukum di Indonesia.

Meskipun usia sudah senja (77 tahun), Guru besar emeritus Universitas 
Airlangga (Unair) Surabaya, Soetandyo Wignyosoebroto, seakan mematahkan 
pandangan orang tentang “orang sepuh” itu. Bukan hanya kondisi fisiknya 
yang masih terlihat bugar, tetapi yang lebih penting adalah semangatnya 
yang energik, serta gagasannya tentang demokrasi, keadilan, hukum, terus 
bergulir.


Bagi anggota Komnas HAM 1993-2002 ini,  yang pensiun sejak 10 tahun silam, 
tak lantas “berhenti berpikir”. “Kegiatan saya tidak ada, kecuali 
menyibukkan diri sendiri,” canda pria kelahiran 19 November 1932 ini. 
Tetapi faktanya, ketika banyak orang berpikir untuk istirahat di masa 
pensiun, guru besar sosiologi dan pakar administrasi pemerintahan ini malah 
disibukkan banyak kegiatan. Desember 2007, penulis sejumlah buku ini masih 
meluncurkan karya terbarunya, Hukum dalam Masyarakat.

Maret 2009 silam lalu, Pak Tandyo masih memberikan “kuliah umum” bagi 
korban lumpur Lapindo di tempat pengungsian di Pasar Baru Porong, Sidoarjo. 
Dalam kuliah yang digelar Fakultas Hukum Unair itu, Soetandyo menyoroti 
perjanjian jual-beli yang tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 
2007 yang dinilai melanggar hukum karena memaksakan kehendak kepada warga 
untuk menjual hak milik mereka kepada Lapindo Brantas Inc. Kuliah itu 
hendak menyadarkan pengungsi akan hak-hak mereka dan cara memperjuangkannya.

Keberpihakannya membela orang kecil juga dilakukan terhadap pedagang kaki 
lima (PKL) yang mangkal di dekat rumahnya di kawasan kampus Unair, Jalan 
Dharmawangsa, Surabaya. Ketika PKL itu digusur, ia malah membela PKL yang 
sebetulnya mengganggu lingkungan rumahnya itu. Sebaliknya, ia melarang 
petugas yang melakukan penertiban itu. Buat Soetandyo, gangguan PKL yang 
diterimanya itu belumlah apa-apa dibanding perjuangan PKL mencari makan 
demi hidup. Rasa kemanusiaannya mengalahkan gangguan yang dialaminya.

Sebagai profesor emeritus, hingga kini Soetandyo masih mengajar di sejumlah 
universitas seperti Universitas Surabaya dan Universitas Diponegoro 
(Semarang), menulis artikel, memberikan konsultasi pada mahasiswa termasuk 
menguji mahasiswa di Malaysia, berdiskusi dengan berbagai kalangan, memberi 
ceramah di sejumlah kota. Bahkan ia masih aktif di Huma, lembaga 
nonpemerintah yang bergerak masalah hukum berbasis ekologi.

Profesor yang Tidak Memiliki Rumah



Saat ini, Pak Tandyo tinggal di kompleks dosen Universitas Airlanggar 
Surabaya. Entah berapa lama lagi Prof Soetandyo akan bertahan di rumah 
dinas yang sudah dia huni sejak tahun 1958. Pihak Universitas Airlangga 
sudah mengeluarkan surat edaran meminta para dosen pensiunan segera 
meninggalkan rumahnya.

Menurut Prof Sutandyo, sebenarnya penghuni berhak membeli rumah itu setelah 
20 tahun menempati, tetapi ketika itu rektor meminta supaya tidak membeli 
karena dapat mengurangi lahan kampus. Kemudian dibuatlah  perjanjian bahwa 
rumah boleh dihuni istri sampai 1.000 hari setelah meninggalnya suami. 
“Tampaknya perjanjian itu telah dilupakan,” ujarnya.

Meski tak punya rumah pribadi, sebenarnya ia tidak keberatan meninggalkan 
rumah dinas itu. ”Saya bisa tinggal di paviliun rumah anak saya,” katanya, 
ringan. Namun, para penghuni yang lain meminta dia tinggal agar kekuatan 
perlawanan menolak surat edaran tidak berkurang.

Jalan Berbelok

Rumah itu meninggalkan kenangan yang nyaris sempurna; kehidupan berkeluarga 
yang penuh, sampai sang istri, Asminingsih, yang hidup bersamanya sejak 
tahun 1965, berpulang pada 8 Juni 2005. Selama sang istri sakit,  Pak 
Tandyo merawat dan mendampingi sang istri sepanjang perjuangannya melawan 
kanker. Rasa kehilangan itu masih tersirat cukup pekat sampai kini.

”Saya sekolah dengan beasiswa. Waktu anak kedua lahir, sempat jual kulkas. 
 Sekarang keadaan ekonomi sudah jauh lebih longgar, mestinya saya berbagi 
dengan istri. Dulu kami selalu pergi berdua,” ungkap Pak Tandyo.

Ia merasa menjadi guru adalah takdirnya setelah ayahnya mendorong dia 
berangkat ke Michigan, Amerika Serikat. Saat itu studinya di Fakultas Hukum 
Universitas Airlangga tinggal skripsi. Ternyata itulah jalan untuk belok. 
Dia tidak menjadi hakim, tetapi guru.

”Saya baru tahu setelah pengukuhan guru besar tahun 1987. Saya sowan ayah 
saya yang sedang sakit. Saat itu ayah memeluk saya dan menangis 
tersedu-sedu. Ia mengatakan, ’Aku dulu disuruh eyangmu jadi guru, tetapi 
tidak mau. Sekarang anak-anakku semua jadi guru’.”

Bersahaja dengan Bersepeda ( Tidak Memiliki Mobil)

Pak Tandyo dikenang banyak orang karena kebersahajaannya. Ketika menjadi 
anggota Komnas HAM, gajinya sejak tahun 1993 sampai 2002 adalah Rp 800.000 
ditambah uang transpor Rp 1 juta sebulan. Untuk mengirit uang transpor 
antarkota, dari bandara dia naik bus, namun disambung jalan kaki ke kantor 
Komnas HAM.

Pola hidup sederhana dan sehat dilakukan oleh Prof Tandyo dengan mengayuh 
sepeda ke kampus, ke bank, atau belanja ke mal. “Saya nggak punya mobil 
lagi, sudah diambil anak-anak. Saya suka bersepeda, saya kan sudah hidup 
sendiri, istri sudah pamit duluan (meninggal), anak-anak sudah mandiri 
semua, jadi apa pun saya kerjakan sendirian,” kata ayah tiga anak dan lima 
cucu ini.

Suatu hari Sabtu, ia berangkat ke kampus untuk menguji ujian akhir 
mahasiswa. Ketika selesai, sepedanya tak ada di tempat. Karena dicari tak 
ketemu, ia langsung pulang. ”Saya pikir, kalau sudah hilang, ya sudahlah.” 
Saat tidur siang, ia dibangunkan karena ada laki-laki muda mengantarkan 
sepedanya. ”Ia pikir sepeda itu milik cleaning service. Katanya, ia cuma 
pinjam sebentar.”

Menjelang magrib, ia kembali dikejutkan oleh antaran sepeda baru yang 
dibeli para mahasiswa atas usul sosiolog Dr Daniel Sparringa setelah 
mendengar kabar sepeda Pak Tandyo hilang. ”Sekarang saya punya dua sepeda 
he-he-he….”, ungkap pak Tua dengan penuh tawa.

Demokrasi di Keluarga

Salah satu rahasia “awet muda” (bersemangat) dari Pak Tandyo adalah kemauan 
untuk beradaptasi dengan kenyataan. “Kalau tidak, saya menjadi konservatif, 
menjadi orang tua yang tidak bisa menerima keadaan. Hidup ini harus selalu 
menyesuaikan. Ini kan termasuk dalam teori perubahan dan perkembangan. 
Hewan bisa survive kalau beradaptasi dengan lingkungan, begitu juga 
manusia, tidak hanya fisik, tapi juga kultural,” kata lelaki berdarah Sunda 
(ayah) dan Jawa (ibu) ini.



Sayangnya kemauan beradaptasi itu tak disadari banyak orang. Bagi anggota 
Dewan Juri Yap Thiam Hien Award (2002) ini, anak muda justru lebih adaptif. 
Sebaliknya orangtua malah minta diseragamkan. “Kalau menyimpang sedikit 
dianggap sesat, tidak nasionalis. Padahal nasionalisme sekarang sudah 
berganti pada humanisme, globalisme. Sekarang, kekuasaan nasional memang 
harus menghadapi pada situasi yang berbeda. Sekarang, semua pihak dan 
sektor menginginkan pembebasan,” ujarnya.

Boleh jadi faktor-faktor itu ikut memengaruhi karut-marut realitas sosial 
dan politik di negeri ini. Dalam kacamata Soetandyo, karut-marut di negeri 
ini akibat terlalu banyak yang mengurusi hal-hal besar saja. Mereka 
melupakan untuk memperbaiki hal-hal kecil. Padahal hal-hal kecil itulah 
yang bisa membangun hal-hal besar. Kuat-rapuhnya fondasi bangsa ini tak 
lepas dari fondasi yang ada di rumah setiap warga.

“Bagi saya, kita harus mulai dari yang kecil. Demokrasi misalnya, harus 
dimulai dari famili, democracy on the heart of the family. Apa yang saya 
lakukan, adalah menyelamatkan negaraku sendiri, negaraku itu bukan 
negaranya Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla (Boediono), tapi 
‘negaraku’ itu keluargaku,” kata peraih Master Public Administration di 
Michigan University, AS, tahun 1963 ini.

Karena itulah, Soetandyo mengajarkan, kalau kita tidak bisa memperbaiki 
pada tataran tinggi, maka bisa dilakukan pada tataran di mana kita memiliki 
otoritas. Katakanlah soal peredaran narkoba. Jika tidak bisa mengendalikan 
peredaran sabu-sabu itu, maka yang bisa dilakukan adalah menjaga agar 
orang-orang yang disayangi tidak terkena narkoba.

“Kalau Anda bisa mengelola sesuatu yang kecil maka akan bisa me-mengelola 
yang besar. Saya diilhami syair Khalil Gibran, ketika melihat dunia saat 
malam. Tuhan menciptakan malam, tapi saya bisa menyalakan lilin. Dunia 
boleh gelap, tapi lingkungan sekitar saya tetap terang. Dunia saya yang 
kecil tetap terselamatkan,” katanya.

Tetapi memulai sekaligus mengubah segalanya sangatlah tidak mudah. Terlebih 
lagi para pemimpin sekarang ini, bukan saja mewarisi kondisi yang sudah 
telanjur dari sistem lama, tetapi juga terjebak dalam permainan paradigma 
lama. Tak ada cara lain kecuali mengubah paradigma itu. Menurut Soetandyo, 
paradigma baru itu harus melompat, mengambil strategi yang benar-benar 
baru. Karena, problem tidak bisa dipecahkan dengan ilmu yang menyebabkan 
terjadinya problem tersebut.

***************

Selama berbulan-bulan,  media massa baik cetak maupun elektronik terus 
memberitakan kasus Prita Mulyasari. Dukungan moral pun terus bergulir 
setelah Prita didakwa harus menganti denda rugi sebesar Rp 204 juta dalam 
persidangan perdata. Aksi “Koin untuk Prita” mengalir, dari anak hingga 
orang tua, baik pria maupun wanita, dari masyarakat kaya hingga masyarakat 
miskin turut berpartisipasi. Sejak kasus Prita mencuat, saya tulis sebuah 
artikel pada Juni 2009. Artikel tersebut berjudul Prita Mulyasari, 
Indonesia Negara Hukum atau Negara Kekuasaan?.

Artikel tersebut saya tulis sebagai bentuk dukungan moral. Setelah itu, 
saya tidak begitu mengikuti kasus Prita lebih intens. Masih banyak kasus 
yang lebih kompleks dan mengharukan yang dialami oleh orang-orang yang 
kondisinya lebih buruk daripada Prita. Namun, kita menjadi lupa dan hanya 
fokus pada satu persoalan ini saja. Kita berteriak memberi dukungan untuk 
membela benar, namun disisi lain secara sengaja kita kita membuat kesalahan 
kecil yang menghianati kebenaran.  Ketika kita ikut-ikutan dalam “Koin 
untuk Prita”, disisi lain kita tidak begitu peduli dengan orang-orang 
disekitar kita yang mengalami ketidakadilan atau kesulitan hidup yang lebih 
buruk.

Ketika kita memberi dukungan kepada seorang sosok karena pemberitaan 
fenomenal dari media, disisi lain kita lupa bahwa ada orang-orang yang luar 
biasa, yang telah menyisihkan hidupnya untuk kemanusiaan dan kebenaran. 
Kita hanya berpikir tanpa memberi aksi nyata kepada Suster Apung yang 
berjuang menyeberang laut untuk suatu tugas mulia, ‘menyembuhkan yang 
sakit, menyelamatkan yang sekarat’. Ada begitu banyak orang yang mestinya 
kita beri apresiasi, namun kita terlupakan.

Dan salah satunya adalah Prof Tandyo yang telah berjuang dan menyisihkan 
sebagian besar hidupnya untuk kepentingan masyarakat luas, untuk membela 
keadilan dan supremasi hukum Indonesia, yang terus menyemai ilmu bagi 
generasi muda Indoensia.

Salam Nusantaraku,
ech-wan, 20 Desember 2009

Sumber 
:http://nusantaranews.wordpress.com/2009/12/20/kisah-prof-sutandyo-hidup-sederhana-tidak-memiliki-rumah/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke